Malam itu hujan turun dengan derasnya, membasahi setiap sudut desa yang sepi dan terpencil. Di tengah derasnya air yang menembus tanah, seseorang menulis nama-nama di tanah basah—tanpa sadar, setiap huruf yang terbentuk membawa kutukan yang mengerikan.
Rina, seorang wanita muda yang baru pindah ke desa itu, menemukan catatan-catatan aneh yang tertinggal di halaman rumah barunya. Setiap malam hujan, suara bisikan menakutkan mulai terdengar, bayangan misterius muncul, dan orang-orang di sekitarnya mulai mengalami kejadian-kejadian mengerikan yang seolah dipandu oleh tulisan-tulisan itu.
Ketika Rina mencoba mengungkap misteri di balik kutukan tersebut, ia sadar bahwa tulisan-tulisan itu bukan sekadar simbol, melainkan catatan dendam dari arwah yang tak pernah tenang. Semakin ia menggali, semakin kuat kutukan itu menghantuinya—hingga akhirnya, ia harus menghadapi keputusan paling mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Arwah Desa Tetangga
Ia tahu ini bukan arwah desa sendiri. Ini arwah dari desa tetangga—orang-orang yang selama puluhan tahun tidak dikuburkan dengan benar, yang hujannya tidak pernah berhenti di tanah mereka sendiri, dan yang kini mencari penulis baru untuk menenangkan mereka.
Bayangan itu maju perlahan, tanah basah di sekelilingnya beriak liar. Suara bisikan muncul di kepala Rina:
"Kami tidak menunggu lama… tuliskan kami… atau ikutlah dengan kami."
Rina menelan ludah. Ia tahu setiap nama yang ditulis bukan sekadar menenangkan arwah—setiap kesalahan berarti arwah itu akan bebas, dan desa-desa lain akan ikut terjebak hujan tanpa henti.
Ia membuka buku ritual. Halaman terakhir menulis sendiri, membentuk simbol lingkaran besar. Di tengahnya, muncul huruf-huruf samar—nama-nama baru dari desa tetangga. Tangannya gemetar saat ia menulis, simbol demi simbol, mengikuti cahaya yang terpancar dari tanah basah.
Namun saat ia menyelesaikan nama pertama, arwah itu menjerit, dan dari tanah muncul lebih banyak bayangan, lebih banyak wajah kosong, semua menatapnya dengan intens, menuntut perhatian. Hujan di luar terdengar seperti ribuan tetesan yang menembus atap, membanjiri seluruh desa.
Rina jatuh terduduk, napas tersengal. Ia sadar satu hal: kutukan ini tidak lagi hanya masalah desanya—ia kini penghubung antara banyak desa, dan setiap arwah yang tidak ditulis akan terus menulis hujan sendiri, membanjiri desa lain.
Bayangan itu menatap Rina, dan suara berat terdengar di kepalanya:
"Jika kau gagal… kami semua akan bangkit. Hujan tidak akan berhenti, tanah akan menelan hidupmu, dan nama-nama baru akan terus muncul… tanpa akhir."
Rina menatap tanah basah di depannya. Ia tahu malam ini adalah ujian terberatnya: menulis nama arwah desa tetangga berarti mempertaruhkan jiwanya sendiri, tapi menolak menulis berarti membiarkan kutukan menyebar tanpa batas.
Ia menarik napas dalam, memejamkan mata, dan mulai menulis—nama demi nama, simbol demi simbol, hati-hati seperti menyeimbangkan hidup dan mati di ujung pena.
Hujan tetap turun deras. Tanah beriak liar. Dan di kejauhan, dari arah desa tetangga, terdengar jeritan panjang—arwah baru sedang bangkit, menantang Rina untuk terus menulis atau ikut mereka selamanya.
Rina tersadar: perjuangan ini belum selesai. Ia bukan lagi hanya penulis desa sendiri—ia kini penulis yang menahan kutukan antar desa, penghubung antara hidup dan mati, dan penjaga hujan yang tidak pernah reda.
Baik… kita lanjut ke Bab 20 – Jejak Tanah Basah, di mana Rina mulai menemukan arsip kuno, rahasia desa lain, dan sejarah kutukan yang berlangsung berabad-abad.
Jejak Tanah Basah
Hujan tidak kunjung reda. Malam itu, Rina berjalan menuju gudang tua di tepi desa—tempat ia mendengar bisikan kuno mengatakan ada arsip desa yang terlupakan, buku-buku tua dan catatan ritual yang mungkin bisa menjelaskan asal muasal kutukan. Setiap langkahnya menimbulkan genangan air, dan tanah basah di bawahnya beriak seperti menyambut kedatangannya.
Di gudang tua itu, ia menemukan lemari kayu berdebu, penuh dengan gulungan kertas dan buku tua. Beberapa halaman retak, beberapa menghitam karena lembap, tapi satu gulungan menarik perhatiannya. Gulungan itu tertulis simbol yang sama dengan simbol tanah basah yang terus muncul di halaman rumahnya.
Rina membuka gulungan perlahan. Matahari tak pernah tampak di sini—hanya cahaya lilin yang bergetar, menimbulkan bayangan panjang di dinding. Di halaman pertama, tertulis catatan tua:
"Kutukan ini dimulai ketika hujan pertama menenggelamkan desa. Tanah basah menulis sendiri, arwah tidak dikubur, dan siapa pun yang mencoba menghentikannya akan terikat selamanya."
Rina menelan ludah. Ia menyadari kutukan ini bukan hal baru—ia berlangsung berabad-abad, melewati generasi, dan terus mencari penulis baru.
Ia membuka halaman berikutnya. Gambar-gambar kuburan lama, anak-anak hilang, dan tanah yang selalu basah memenuhi mata Rina. Di pojok halaman, ada simbol lingkaran yang sama dengan yang muncul di buku ritualnya—tanda bahwa desa lain juga menjadi bagian dari kutukan ini.
Suara hujan terdengar semakin keras. Rina menyadari satu hal menakutkan: tanah basah bukan hanya media bagi arwah—ia adalah arsip hidup dari semua arwah yang pernah tersesat, menuntut penulis untuk terus mencatat mereka.
Tiba-tiba gulungan di tangannya bergetar. Tulisan di kertas bergerak sendiri, membentuk kalimat baru:
"Siapa yang menulis akan memilih hidup dan mati. Siapa yang menunda akan menjadi bagian dari tanah."
Rina menatap tanah gudang yang mulai basah sendiri, lumpur perlahan muncul di lantai. Bayangan arwah kecil muncul dari tanah, tangan mereka memanjang, wajah mereka kosong, menatap Rina dengan intens.
Ia tahu malam ini, pengetahuan yang baru ia temukan adalah pedang bermata dua: arsip ini bisa memberinya cara menutup kutukan, tapi juga bisa menjadi perangkap yang menjerat jiwanya selamanya.
Di luar gudang, hujan tidak berhenti, dan dari arah desa tetangga terdengar jeritan panjang—jejak tanah basah terus menyebar, arwah baru terus muncul, dan tugas Rina sebagai penulis penghubung semakin berat.
Rina menutup gulungan, memeluknya erat, dan menatap tanah basah di sekelilingnya. Ia sadar satu hal: kutukan ini bukan hanya tentang desa sendiri, tapi tentang sejarah panjang arwah, tanah, dan hujan yang tidak pernah reda. Dan malam ini, ia harus memutus satu siklus agar arwah dapat benar-benar tenang.
Hujan turun tanpa henti, menutupi desa dengan tirai abu-abu yang tebal. Rina berdiri di tengah gudang tua, memeluk gulungan arsip kuno yang baru ia temukan. Tangannya basah, tetapi bukan hanya karena air hujan yang menetes dari atap yang bocor—tangan itu gemetar, penuh ketegangan, karena apa yang ia baca di arsip itu: simbol kuno yang terlarang.
Simbol itu, jika ditulis dengan benar, bisa menghentikan kutukan antar desa. Bisa menenangkan arwah yang tak terkubur, menghentikan hujan abadi, dan mengembalikan tanah basah menjadi tanah biasa. Tetapi risiko yang tertulis di arsip itu membuat Rina menelan ludah. siapa pun yang menulis simbol ini akan terikat jiwanya dengan tanah basah selamanya.
Rina menatap simbol itu di gulungan, mencoba memahaminya. Lingkaran yang rumit, garis-garis yang berputar, titik-titik yang tampak seperti mata, dan di tengahnya sebuah huruf kuno yang seakan hidup. Ia tahu, menulis simbol ini bukan hanya soal menyalin dari buku—ia harus memahami energi yang terkandung di dalamnya, energi yang telah terbentuk selama ratusan tahun oleh arwah-arwah yang tersisa.
💚💚💚
Hai, para pembaca! Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untuk membaca cerita ini hingga akhir. Kalian keren karena tetap setia, bahkan ketika aku membuat tokoh-tokoh kadang bikin pusing.
Setiap komentar, pesan, atau sekadar senyum karena membaca ceritaku, membuat penulis ini makin semangat menulis. Tanpa kalian, cerita ini tidak akan terasa hidup.
Semoga kalian menikmati setiap halaman, tertawa, sedih, atau terharu, sama seperti aku saat menulisnya. Jangan berhenti membaca, karena kalian adalah alasan aku terus berkarya!