Pernikahan yang diawali dengan perjodohan, tanpa adanya rasa cinta membuat Zayn dan Raras merasa kaku, bahkan terkesan formal layaknya rekan kerja. Tapi seiring berjalannya waktu, Raras mampu mencairkan gunung es dengan kesabarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Athariz271, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman masih menanti
Raras berdiri sedikit jauh dari suaminya, beberapa pasang mata anak remaja menatapnya aneh.
“Duh apaan sih, ngapain pada ngeliatin aku.” Gumam Raras merasa sebal.
“Ssstt, coba lihat yang pakai masker. Ganteng bangett..”
“Masa sih, mukanya aja gak keliatan.”
“Coba lihat aja, matanya aja udah cakep banget. Tinggi kekar, aku yakin dia ganteng persis oppa-oppa korea.”
“Hmm, masih jomblo gak ya?”
“Coba lu minta nomor whatsapp nya gih.”
“Yakin? Kalau udah nikah gimana?”
“Nggak lah, paling pacaran doang tuh sama cewek itu. Tadi gue liat mereka jalan bareng.”
“Serius? Cewekyang pakai jaket pink itu?”
“Iya. Tapi adiknya bukan sih?”
“Iya kayaknya, cocok mereka jadi adik kakak.”
Raras mendelik mendengar bisik-bisik anak remaja itu, “Emang beneran kayak adik kakak, yah?” gumamnya.
Saat istrinya asik menggerutu sendiri, diam-diam Zayn mengambil beberapa kotak balon pengaman dengan berbagai rasa.
“Hah? Kok beli balon sih.” teriak salah satu remaja mengejutkan Raras yang sedang melamun.
Raras langsung celingukan, hingga matanya membola melihat Zayn tengah memegang beberapa kotak balon.
“Rasa strawberry suka gak?” Tanya Zayn.
Raras gelagapan, wajahnya memerah. “Mas, apaan sih. Malu tau!”
“Di rumah tinggal dua lagi, cobain rasa baru mau gak?” tanya Zayn datar.
Raras memejamkan mata, “Kan gak gini juga mas, malu diliatin orang. Kalau mau ambil ya ambil aja.”
“Memangnya kenapa? Normal aja kok orang dewasa beli balon.” jawab Zayn cuek. “Yang gak normal itu anak dibawah umur udah tau balon.”
“Tapi mas, kan bisa beli online.” Bisik Raras.
Zayn menghela nafas. “Online butuh waktu lama, ini waktu mendesak.” Ucapnya mengambil enam kotak dan memberikannya pada kasir supermarket.
Raras memejamkan mata, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Terserahlah, aku pasrah!” Gumamnya.
“Memangnya harus gitu, gak usah berontak kan sama-sama enak.” Celetuk Zayn mengedipkan satu matanya genit.
Raras buru-buru memalingkan wajah yang memerah itu, rasanya dia ingin menghilang waktu itu juga. “Kesambet apa ya mas Zayn.”
“Waw.. Ternyata istrinya, so sweet banget.” teriak salah satu remaja yang sedari tadi memperhatikan interaksi Zayn dan Raras.
“Iya. Mas-masnya cool banget, dan istrinya yang pemalu.” lanjutnya.
“Haish gemes banget.”
“Aku juga pengen punya suami cool gitu ma..” Jeritnya.
Raras jadi tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah para remaja itu. Dan memang, Zayn malam ini sedikit berbeda dari biasanya.
“Ayo pergi, aku gak kuat lagi.” satu remaja berjalan lebih dulu mengajak teman-temannya.
“Kakak bahagia selalu ya, jangan sampai digondol pelakor mas-masnya.” teriak satu remaja melambaikan tangan ke arah Raras.
Raras tersenyum canggung, membalas lambaian tangan.
“Pasti.” Bisiknya pelan.
Zayn tersenyum tipis melihat istrinya yang malu-malu, itu sangat menggemaskan menurutnya.
Selesai berbelanja, Zayn dan Raras pulang. Dalam mobil susana masih canggung, Raras teringat ucapan-ucapan para remaja tadi.
“Apa iya aku terlihat seperti adiknya mas Zayn ya?”
“Ah, mungkin karena hubungan ini kurang mesra. Jadi mereka yang lihat seperti itu.”
“Tapi malam ini, mas Zayn beda banget.”
Raras jadi tersenyum sendiri, membuat Zayn mengerutkan kening.
“Ada apa?”
“Eh.. Enggak kok.”
“Kita makan dulu ya.” Ucap Zayn membelokkan mobilnya ke restoran cepat saji.
Keduanya turun dan langsung memesan makan.
Setelah pesanan datang, mereka makan dengan tenang. Sesekali Raras mengulurkan pandangan ke arah Zayn yang sedang menikmati makanannya dengan tenang.
“Mas Zayn emang ganteng sih.”
Zayn yang merasa diawasi mendongakan kepala, “Ada apa?”
“Ng-nggak kok.” Sahut Raras memalingkan wajah.
Zayn mengerutkan kening lanjut menghabiskan makanannya.
Selesai membayar tagihan, Raras dan Zayn kembali masuk kedalam mobil. Jam menunjukan hampir pukul sebelas malam, tak terasa ternyata mereka menghabiskan waktu cukup lama untuk malam ini.
Karena merasa bosan, Raras meraih kantong belanjaan dan mengambil satu cemilan yang menurutnya enak. Tapi saat meraihnya tak sengaja satu kotak balon ikut terjatuh tepat diatas pangkuannya.
Raras jadi teringat lagi hal memalukan tadi. “Mas Zayn mau langsung pakai malam ini gak ya?” monolog Raras merasakan jantungnya berdebar semakin cepat.
“Kira-kira mau pakai berapa balon?” Lanjutnya membayangkan.
Zayn yang sedang menyesuaikan kursi dan menyetel AC mobil mendengar bisikan Raras yang hampir tak terdengar. Dia menoleh ke arah sang istri yang tengah menatap kotak balon di pangkuannya dengan wajah kemerahan.
"Kamu bicara apa, Ra?" tanya Zayn sambil melihat ke arah kotak itu.
Raras terkejut dan cepat-cepat menutupi kotaknya dengan kedua tangan. "T-tidak apa-apa mas! Cuma bicara sendiri aja!"
Zayn tersenyum, lalu melajukan mobil keluar dari area parkir restoran. "Kalau kamu mau coba malam ini juga tidak apa-apa kok. Kayaknya kamu udah gak sabar, ya?" Godanya sambil tetap fokus mengemudi.
“Hah? Nggak ya, aku gak gitu!” Jawab Raras penuh penekanan.
Zayn tersenyum miring, lalu membelokan mobilnya ke area hotel. “Ayo!”
Raras terkejut saat menatap sekitar, “Mas, ngapain kita kesini?”
“Tidur, saya udah capek sekali.” Alasan Zayn.
“Nggak, aku mau pulang, gak mau kesini.” Raras beneran takut dengan seringaian suaminya.
“Ayo.” Zayn tak menjawab, membuka pintu sebelah Raras dan mengajaknya keluar.
“Gak mau mas, aku tidur di mobil aja.” Tolak Raras.
“Saya bukan bajingan yang membiarkan istrinya tidur di dalam mobil, sementara di sampingnya ada hotel mewah.” balas Zayn panjang lebar.
Raras mencebik. “Tapi mas..”
“Ingat, hukuman masih menantimu, istriku!” Ucap Zayn lalu pergi lebih dulu.
Raras merengut, menghentak-hentakan kakinya lalu berjalan menyusul Zayn yang lebih dulu masuk.
“Menakutkan!” Jerit Raras bergidik.
Bersambung…