“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KI 17
"Raka!!!!" bentak Rani.
"Ada apa sih, Bu?" tanya Pak Budi, keluar dari kamar karena suara Rani yang sangat keras.
"Ini dia, si Raka, malah membela Miranda!" ujar Rani dengan nada penuh emosi.
Pak Budi melihat jam dinding.
"Raka, sudah jam 6! Kamu mandi dulu, nanti kesiangan masuk kerja," perintah Pak Budi.
Rani masih kesal dan ingin membentak Raka, tetapi Raka langsung masuk kamar untuk mandi.
"Ibu mau Raka dipecat?" Tatapan Pak Budi mengarah tajam pada Rani.
"Enggak," jawab Rani singkat.
"Kalau enggak, berhenti menekan Raka. Ibu tahu, dia pulang jam berapa? Sudah tanya dia makan apa belum? Dari semalam, kemarin dia enggak sarapan. Jangan-jangan dia malah nggak makan siang," ucap Pak Budi tegas.
Rasa bersalah menyergap Rani.
"Dia sudah besar, masa sampai lupa makan?" Rani mencoba menyangkal.
"Jangan bohongi diri sendiri, Ibu. Ibu yang lebih tahu bagaimana Raka. Dia bisa lupa segalanya kalau sedang ada masalah pekerjaan," Pak Budi menghela napas panjang.
"Oh, mungkin Ibu sudah lupa, karena selama 10 tahun ini Miranda yang selalu mengingatkan Raka untuk makan, sementara kita lebih sering mengingatkan dia untuk segera memberi uang," lanjut Pak Budi dengan nada datar.
Rani ingin membantah, namun Pak Budi sudah membalikkan badan.
"Lebih baik buatkan teh manis untuk Raka. Bapak beberapa kali mendengar Raka merasa mual," perintah Pak Budi tanpa menoleh.
Rani terdiam, berpikir dalam hati, Apa benar aku selama ini sudah lupa memperhatikan Raka?
"Aku harus membiasakan hidup tanpa Miranda," gumam Raka sambil memungut pakaian yang berserakan di lantai.
Raka memilih pakaian untuk kerja hari ini.
"Kusut sekali," pikirnya getir, melihat baju seragamnya yang lecek.
Rasa mual mendera. Hampir saja ia memanggil Miranda, tetapi ia urungkan.
Ia memukul kepalanya sendiri.
"Miranda lagi, Miranda lagi," gumamnya kesal.
Dia mencari obat maag dan meminumnya.
"Perutku mual... Sepertinya aku nggak bisa mandi," ucap Raka, merasa ada yang berbeda. Dulu, ia selalu merasa segar dan rapi sebelum bekerja, tapi kali ini ia merasa seperti bukan dirinya.
Raka mengelap wajahnya, lalu memakai seragam.
Melihat tampilan dirinya di cermin, ia berkomentar, "Aku seperti 10 tahun lebih tua..." sambil memegang bulu-bulu halus yang tumbuh di pipinya.
Ponselnya berdering, ada pesan yang masuk.
"Ah, sialan, kenapa tinggal 10%... kenapa aku lupa ngecas?" umpat Raka kesal, menatap layar ponselnya yang semakin redup.
Hampir saja ia memanggil Miranda.
"Miranda... Miranda, apakah aku sangat tergantung padamu?" ucap Raka kesal, melihat ponsel yang kini menjadi alat utama kerjanya.
Ponselnya bahkan hampir mati kemarin. Dua hari tanpa Miranda membuat Raka merasa kehilangan arah.
"Sialan, bisa kesulitan aku," keluh Raka setelah melihat jam dinding yang menandakan waktu semakin siang.
Dia keluar kamar dengan dandanan seadanya.
Baru saja keluar kamar, terdengar suara benturan piring, gelas, dan sendok beradu. Sepertinya Rani sedang mencuci piring.
"Mencuci piring apa lagi, tawuran?" gerutu Raka, kesal.
"Astaga, nggak ada sarapan?" ia menyuarakan kekesalannya setelah melihat meja makan yang kosong.
Ingin marah, tapi pada siapa?
Raka berdiri dan berniat keluar rumah.
"Raka!" ucap ibunya menghentikan langkahnya.
Raka menoleh, melihat raut wajah ibunya yang tampak kesal.
"Apa, Bu?" tanya Raka, suaranya terkesan datar.
"Cepat carikan pembantu! Rumah ini bisa hancur kalau begini terus!" ucap Rani, mukanya kusut.
"Baik, Bu... Aku akan carikan pembantu. Tapi uang jajan Lusi dan uang bulanan KA Lela akan aku potong, Bu," ucap Raka, sengaja meninggikan suara agar Lusi dan Lela dengar.
"Ga bisa gitu, dong, bang!" ucap Lusi yang keluar dari kamar, masih mengenakan baju tidur.
Lela juga keluar dengan muka kesal.
"Giliran dengar uang mau dipotong, aja bangun! Dari tadi gue gedor-gedorin pintu, nggak bangun-bangun!" bentak Rina pada anak bungsunya.
"Ibu, aku anak kuliahan, bagaimana bisa ibu menyuruhku cuci piring? Malu dong, Bu!" jawab Lusi marah.
"Pelankan suara kamu, Lusi!" bentak Raka, matanya menyala.
"Ini semua salah Miranda... Kenapa dia pergi?" teriak Lusi, tak terima dibentak Raka. Ia masuk kembali ke kamar dan membanting pintu kamar.
Raka marah, hendak mendobrak kamar Lusi, namun Pak Budi menghentikannya.
"Raka, sudah siang... nanti kamu terlambat," ucap Pak Budi, tenang.
Raka benar benar naik pitam, di tempat kerjaan banyak masalah,.murka melihat ibunya kerepotan sendiri di dapur dan sekarang adiknya menunjukan kemarahan pada dirinya
Dan malah menyalahkan Miranda padahal Lusi, ibunya Rani dan Lela orang paling ngotot Miranda keluar
Lantas apa setelah Miranda keluar rumah..mereka malah santai santai di dalam kamar sedangkan ibunya sibuk di dapur. Seolah menjadikan ibu Rani sebagai pembantu.
Tangan Raka mengepal keras. Mukanya merah
"Kemarin ngotot ngusir Miranda... Setelah Miranda pergi, ibu yang kalian jadikan pembantu... kalian memang biadab!" ucap Raka keras di depan pintu Lusi.
"Sudah, nak... sudah siang... nanti kamu terlambat kerja," Pak Budi memegang pundak Raka, berusaha menenangkan.
Kemarahan Raka belum usai, dia menatap Lela tajam.
"Bilang sama Andika buat ngirim kamu uang..." ucap Raka dengan nada tinggi.
Sontak saja Lela panik.
"Ga bisa, Raka. Ga bisa... Mas Andika lagi magister di Australia, tinggal 1 tahun lagi... aku nggak mau ganggu studi dia," ucap Lela setengah mengiba.
"Terus lu makan, belanja, perawatan ngandelin duit gua gitu... Pokoknya gua akan ngasih duit lu lagi, lu tanggung jawab suami lu, bukan gua!" ucap Raka dengan nada yang tegas.
Rani dan Pak Budi tertegun, baru kali ini mereka melihat Raka marah sama saudara-saudaranya.
"Sudah siang, Raka. Ayo nak, nanti kamu terlambat kerja," ucap Pak Budi sambil mengusap pundak Raka.
Sedangkan Rani hanya terdiam, ia juga shock melihat Raka yang biasanya pendiam, kini marah-marah.
"Sudah dua hari Miranda tidak ada, dan yang terjadi ribut terus-menerus," batin Pak Budi, merasa getir.
"Nanti aku akan carikan pembantu," ucap Raka, lalu keluar dari rumah diikuti Pak Budi.
Raka keluar rumah dan duduk di teras.
"Raka, bapak belikan nasi uduk dan teh hangat, kamu harus sarapan dulu. Ini tadi bapak beli di depan komplek," ucap Pak Budi sambil memperhatikan Raka.
Raka membuka nasi uduk itu, lalu memakannya. Walau mual, ia tahu harus makan, bukan saatnya sakit.
"Raka, ayah nggak maksa kamu menikah dengan Lina... Kalau bisa, kamu cari Miranda," ucap Pak Budi pelan.
Raka melihat Pak Budi heran.
Pak Budi segera berkata, "Jangan dipikirkan, sudah semakin siang... Nanti saja kalau ada waktu kita bicarakan ini."
Raka menyelesaikan sarapannya dengan cepat.
Pak Budi membuka gerbang.
"Bapak sudah bekerja keras dari muda, harusnya dia menikmati masa tuanya," pikir Raka.
Raka masuk ke mobil, menyalakan mesin, dan menunggu sebentar sambil menyalakan ponsel.
"Sial, sial... baterai tinggal 6%. Bisa dimarahi lagi sama Pak Riko. Mana sekarang akan ada zoom meeting... data-data semua ada di ponsel!" keluh Raka pada dirinya sendiri.
"Gila, masa aku harus rujuk sama Miranda gara-gara baterai?" ucap Raka kesal dalam hati.
Dengan tergesa, ia memundurkan mobil hingga bodi mobil tergores.
"Yah, mobil baru... ke gores... lecet deh," ucap Pak Budi sambil menggelengkan kepala, melihat Raka yang tidak tenang seperti saat ada Miranda.
Pak Budi menutup gerbang, lalu masuk ke rumah.
Semua masih berantakan, tapi rumah menjadi sunyi.
"Ribut doang, pekerjaan nggak ada yang beres," gerutu Pak Budi.
Ponsel Raka berdering, Pak Riko menelpon. Baru saja akan mengangkat telepon, dayanya habis.
Raka memukul setir, "Sial!" gerutunya, panik melanda.
Dia harus membeli charger untuk di mobil.
Pikiran Raka kacau.
gemes bgt baca ceeitanya