NovelToon NovelToon
Jerat Sentuhan Berbahaya

Jerat Sentuhan Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Harem
Popularitas:912
Nilai: 5
Nama Author: Lily Quinza

"Aku membencimu saat kau menyentuhku!"

"Benarkah? Tapi aku melihat bagaimana respon tubuhmu."

"Hentikan! Jangan sentuh aku!"

"Jika aku tak mau?"

"Kau tidak waras!"

Rodriguez De La Vega Navarro, CEO paling berkuasa di London, kehilangan satu hal yang tak bisa dibeli dengan uang Valeria De Luca.

Dua tahun setelah perpisahan tanpa penjelasan, takdir mempertemukan mereka kembali di toko kue milik Valeria. Satu tatapan cukup untuk membuka luka lama dan membangkitkan perasaan yang seharusnya telah mati.

Cinta berubah menjadi obsesi. Akankah Valeria bertahan.....
atau Rodrigo menghancurkan segalanya demi memilikinya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Dasar Egois!

Rodrigo menggeretakkan giginya keras. “Sialan....” desisnya pelan.

Pria di ambang pintu itu tersenyum tipis, seolah kata itu adalah salam yang sudah lama ia tunggu.

“Bahasa yang kasar untuk menyambut keluargamu sendiri,” ucap Paman William tenang.

Ruangan langsung terasa lebih dingin. Valeria menegang. Sera yang masih berdiri beberapa langkah dari mereka ikut menoleh. Bahkan Jared yang sejak tadi diam kini berdiri lebih tegak.

Rodrigo menatap pria itu tajam.

“Keluar dari sini!”

William tertawa pelan. Suaranya rendah dan dingin.

“Menarik. Kau sedang terluka, tapi masih punya tenaga untuk memerintahku!”

Ia akhirnya melangkah masuk. Sepatu kulitnya menyentuh lantai kayu toko dengan bunyi pelan yang terasa seperti ancaman. Tak satu pun dari mereka bergerak. Tatapan William menyapu ruangan. Berhenti sejenak pada cincin yang tergeletak di meja. Lalu pada wajah Sera yang pucat. Kemudian pada Valeria yang berdiri di belakang Rodrigo.

“Oh sekarang aku mengerti,” gumamnya.

Rodrigo mengeraskan rahangnya. “Jangan melibatkan mereka.”

William mengangkat alis. “Melibatkan?” ia tertawa kecil. “Rodrigo, seluruh masalah ini ada karena kau melibatkan mereka.”

Ia menunjuk meja dengan dagunya. “Pertunangan hancur. Aliansi keluarga rusak. Dan kau memilih perempuan dari toko roti kecil dibandingkan kesepakatan yang sudah kita bangun bertahun-tahun.”

Valeria menegang. Rodrigo langsung berdiri lebih tegak di depannya. “Jangan menyebutnya seperti itu!”

William menatapnya penuh minat. “Lihat dirimu.”

Ia melangkah sedikit lebih dekat. “Berdarah. Terluka. Tapi masih sok menjDi pahlawan untuk seorang wanita.”

Rodrigo tidak menjawab. William lalu menoleh pada Sera. Senyum tipisnya kembali muncul. “Dan kau,” katanya lembut. “Putri keluarga yang seharusnya menjadi pengikat aliansi.”

Sera menatapnya dingin. William justru tertawa.

“Ah. Setidaknya ada satu orang di ruangan ini yang masih punya harga diri.”

Rodrigo melangkah maju satu langkah. “Cukup!”

William berhenti. Tatapan mereka bertemu. Udara di antara keduanya terasa berat.

“Kau tahu kenapa aku datang?” tanya William santai.

Rodrigo tidak menjawab. William menghela napas pendek, lalu berkata pelan, “Karena kau kabur dari kesepakatan. Dan keluarga kita, tidak pernah membiarkan seseorang kabur begitu saja.”

Valeria merasakan jantungnya berdetak keras. Rodrigo hanya menatap pamannya tanpa gentar. “Kalau kau datang untuk membawaku pulang,” katanya rendah, “kau buang-buang waktu.”

William tersenyum. “Tidak.”

Ia memasukkan tangan ke dalam saku jasnya. “Aku datang untuk mengingatkanmu apa yang terjadi pada orang yang memilih cinta daripada keluarga.”

Sunyi jatuh seperti pisau. Rodrigo menyipitkan mata.

“Ancaman?”

William memiringkan kepala. “Bukan.”

Senyumnya melebar tipis. “Hanya konsekuensi!”

Tatapannya lalu beralih perlahan ke belakang Rodrigo.

Tepat pada Valeria.

“Jangan,” ucapnya tajam.

William tertawa pelan. “Oh, sekarang kau takut?”

Rodrigo melangkah maju, berdiri penuh di depan Valeria.

“Sentuh dia dan aku bersumpah!”

“Kau akan melakukan apa? Dasar bocah ingusan!” potong William santai.

Pria tua itu menatap luka di perut Rodrigo yang mulai merembes darah lagi. “Kau bahkan hampir tidak bisa berdiri.”

Rodrigo tidak mundur sedikit pun. “Coba saja.”

Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak.

Lalu William tersenyum lagi.

“Santai, Rodrigo.”

Ia mengangkat kedua tangannya seolah menyerah.

“Aku tidak datang untuk menyakiti siapa pun hari ini.”

William meliriknya sekilas. “Aku hanya datang membawa pesan.”

Rodrigo menyipitkan mata. “Pesan dari siapa?”

William menatapnya lama. Lalu berkata pelan, “Dari keluargamu.”

Ia menunjuk cincin di meja. “Besok malam.”

Semua orang terdiam. “Kau harus datang bersama Sera.”

Wajah Sera langsung berubah.

Rodrigo mengeraskan rahangnya. “Tidak.”

William mengabaikan kata itu. “Akan ada acara pertemuan keluarga!"

Sera menoleh tajam. “Apa?”

William tersenyum tipis. “Aliansi ini terlalu besar untuk dihancurkan oleh drama cinta anak muda.”

Rodrigo maju satu langkah lagi. “Aku bilang tidak.”

William menatapnya datar. “Kau tidak punya pilihan.”

Sunyi menggantung di ruangan.

Rodrigo perlahan berkata, “Aku sudah memilih.”

Ia menggenggam tangan Valeria. Semua orang melihatnya.

“Kalau begitu,” kata William dingin, “bersiaplah kehilangan segalanya.”

Ia berbalik menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh sedikit.

“Oh ya, Rodrigo.” Tatapannya tajam. “Luka di perutmu itu bukan kecelakaan.”

Rodrigo menegang. William tersenyum tipis. “Itu peringatan pertama.”

Bel pintu kembali berbunyi saat ia keluar.

Ting.

Dan ketika pintu tertutup, ruangan terasa jauh lebih sunyi. Namun jauh lebih berbahaya. Rodrigo masih berdiri memegang tangan Valeria.

Valeria menepis tangan Rodrigo dengan kasar. “Lepaskan aku,” desisnya tajam.

Rodrigo tetap menahannya beberapa detik, tatapannya dalam seolah tidak ingin membiarkan gadis itu pergi begitu saja. Namun kemarahan di mata Valeria membuatnya akhirnya mengendurkan genggamannya.

Valeria menarik lengannya dan mundur satu langkah.

“Cukup, Rodrigo,” katanya dingin. “Aku tidak ingin terlibat dalam drama kalian.”

Sera yang berdiri beberapa langkah dari mereka tersenyum tipis. Senyum yang penuh racun. “Drama?” katanya pelan namun terdengar jelas. “Kau menyebut merebut tunangan orang sebagai drama?”

Valeria menoleh tajam. “Aku tidak merebut siapa pun.”

“Benarkah?” balas Sera sinis. “Rodrigo sendiri baru saja mengatakan dia mencintaimu.”

Valeria menghela napas panjang, mencoba menahan emosinya. “Itu urusan kalian berdua. Jangan membawaku ke dalamnya.”

Rodrigo menatap Valeria lagi, tetapi gadis itu sudah tidak ingin melihatnya. Tanpa mengatakan apa pun lagi, Valeria berbalik dan berjalan ke kamarnya yang berada di lantai atas. Langkahnya cepat, penuh kesal.

Pintu tertutup keras di belakangnya. Beberapa detik ruangan itu hening. Lalu Sera tertawa kecil.

Rodrigo menoleh tajam. “Apa yang lucu?”

Sera menatapnya dengan mata dingin. “Kau baru saja mempermalukanku di depan semua orang.”

Rodrigo tidak menjawab. Sera mendekat perlahan.

“Karena wanita itu. Mantan kekasihmu!”

Rodrigo tetap diam. Namun ekspresinya mengeras.

Sera berhenti tepat di depannya.

“Baiklah,” katanya pelan. “Kalau kau memilih Valeria maka aku akan memastikan dia menyesali hari ketika kau mengatakan namanya.”

Rodrigo menyipitkan mata. “Jangan sentuh dia.”

Sera tersenyum. “Kau tidak bisa melindunginya selamanya.”

Sera lalu berbalik pergi dengan anggun, tetapi begitu keluar dari ruangan, wajahnya berubah dingin. Ia mengeluarkan ponsel dari tasnya.

Nomor seseorang segera ia tekan. Beberapa detik kemudian panggilannya terangkat.

“Ada apa sayang, Baby Girl?”

Sera berjalan menuju mobilnya sambil berkata pelan namun penuh niat jahat. “Aku ingin kau melakukan sesuatu.”

“Kau mau apa?”

Sera menatap ke arah jalan di depan, matanya penuh kebencian.

“Aku ingin membuat perhitungan pada gadis jalang itu sayang!”

Pria di ujung telepon terdiam sejenak. Ia tersenyum tipis didalam mobil. “Setelah itu? Rodrigo memang bocah ingusan!”

Sera tersenyum tipis. “Buat kekacauan di sana.”

“Seberapa besar kekacauan yang kau inginkan?”

Sera masuk ke dalam mobilnya, lalu menjawab dengan nada dingin. “Cukup besar sampai dia tahu bahwa menyentuh milikku adalah kesalahan.”

"Jangan lupa, itu semua tidak gratis Baby Girl!"

"Aku tahu! Aku akan memberikan jatah seperti bias untukmu sayang!"

***

Rodrigo berjalan menaiki anak tangga, menghampiri Valeria sembari meringis pelan.

"Val, buka pintunya!"

Valeria memejamkan mata dibalik pintu kamar miliknya, gadis itu meneteskan air mata. Lalu mengusapnya dengan kasar. Ia berdiri dan membuka pintu untuk Rodrigo. Valeria menatap Rodrigo tajam. Rahangnya mengeras.

“Kenapa kau mengatakan itu?” suaranya rendah, tapi penuh tekanan.

Rodrigo tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Tatapan pria itu justru semakin dalam, seolah apa yang ia katakan tadi adalah kebenaran yang sudah lama ia tahan.

“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya!”

Valeria terkekeh kecil, tawa yang tidak mengandung sedikit pun rasa senang.

“Yang sebenarnya?” ulangnya sinis.

“Rodrigo, kau baru saja menghancurkan pertunanganmu sendiri di depan semua orang.” Valeria melangkah mendekat, matanya menyala. “Dan kau membawa namaku ke dalam kekacauan ini.”

Rodrigo tetap diam. Valeria mendorong dada pria itu dengan tangannya. “Aku tidak pernah meminta ini!” bentaknya. “Aku tidak pernah meminta kau mengatakan kau mencintaiku!”

Ruangan menjadi sunyi.

Rodrigo menatap Valeria tanpa ekspresi, tetapi rahangnya menegang. Tangan pria itu perlahan menggenggam pergelangan tangan Valeria yang masih menekan dadanya.

“Valeria!”

“Jangan sentuh aku!” Valeria menarik tangannya dengan kasar.

Matanya kini semakin memerah, bukan karena sedih melainkan kesal.

“Kau pikir dengan mengatakan itu semuanya akan menjadi lebih baik?” katanya tajam.

“Sekarang Sera akan menganggap aku perebut tunangannya.”

Rodrigo tidak peduli. Tatapannya tetap tertuju pada Valeria.

“Biarkan dia berpikir apa pun.”

Valeria menatapnya tidak percaya. “Kau benar-benar gila!”

Rodrigo mendekat satu langkah. “Tidak,” katanya pelan namun tegas. “Aku hanya berhenti berbohong.”

Valeria membeku sesaat, tetapi kemudian ia menggeleng kesal. “Kalau kau ingin jujur, lakukan itu pada dirimu sendiri. Bukan dengan menghancurkan hidup orang lain.”

Gadis itu berbalik hendak pergi. Namun sebelum ia sempat melangkah jauh, Rodrigo tiba-tiba meraih lengannya.

“Valeria.” Nada suaranya dalam dan penuh penahanan.

“Aku tidak peduli tentang pertunangan itu!”

Valeria menoleh dengan kesal. “Tapi aku peduli tentangmu.”

"Katakan kau mencintaiku!"

Deg!

Valeria menggeleng, matanya kini basah air mata mengalir membasahi pipinya. "TIDAK!"

"Katakan kau mencintaiku Val, besok kita akan menikah!"

Deg!

"Apa kau sudah gila, kau baru saja menghancurkan pertunanganmu dan kau menginginkan aku menikah denganmu. Apa kau merasa bahagia melihatku di hina oleh pamanmu! Lalu aku di sebut merebut tunangan orang lain!"

"Persetan dengan William, dia hanya menjadi benalu dalam keluarga! Dia merasa perbuatannya selama ini benar!" Rodrigo mengeraskan rahangnya.

"Besok kita akan menikah! Aku akan meminta Drake agar mengurus semuanya!" tekannya.

"Itu tidak benar!"

"Cukup! Aku tidak perduli!"

"Dasar Egois!"

Valeria menarik paksa lengannya. Entah apa yang sedang terjadi dalam kehidupannya, gadis itu menangis turun ke bawah dengan menghentak kasar setiap melewati anak tangga. Rodrigo benar-benar Egois, Valeria masih mencintai Rodrigo tapi bukan cara seperti ini yang Valeria inginkan. Gadis itu memejamkan mata berharap kekacauan ini hanyalah mimpi.

1
Agus Tina
mampir thor bagus kayaknya 😍
Lilyyy: halo say silahkan yah jangan lupa nanti rating 😍🙏
total 1 replies
Dewi wijayanti Ryan setiawan
lanjut thor😍
Lilyyy: ih makasih kak komentar kakak semangat aku 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!