Yang Lily tahu selama ini Jeffrey sangat menyayanginya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan selalu ada untuknya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan mengutamakan dia diatas segalanya. Dan Lily menyukai Jeffrey karena itu semua.
Namun yang Lily tidak tahu, bahwa selama ini Jeffrey selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dia sayangi. Menganggapnya sebagi adik perempuan yang tidak akan bisa dia dapatkan dari ibunya. Menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dia jaga selamanya. Dan tidak pernah lebih dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanawf_98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20
Sarah menghela nafas pelan. Berusaha terlihat tenang. Sebuah senyuman ia paksa hadir meski kesulitan.
"Kamu tenang dulu yah Na. Semuanya baik-baik aja. Kamu nggak perlu khawatir. Rama sedang keluar, sedang ada urusan. Mungkin sebentar lagi pulang." Katanya.
Nyatanya kalimat itu tak menenangkan sama sekali. Malah membuat Mona semakin gelisah. Okeh, ia senang sang suami baik-baik saja. Tapi Jeffrey? Bagaimana menjelaskannya?
Seingatnya malam itu sang putra tak terluka. Bahkan ia masih menanyakan keadaannya. Menggenggam tangannya erat. Seolah semua akan baik-baik saja saat bersamanya. Kenapa sekarang jadi seperti ini?
Telunjuk Mona mengarah pada Jeffrey, namun netranya tak lepas dari sang sahabat. "Sebenarnya apa yang terjadi?? Kenapa Jeffrey bisa ada disini?"
"Dia..." Kata-kata Sarah menggantung di udara. Ia ragu untuk mengatakannya. Karena hal itu bisa saja mengganggu kesehatan Mona. Apalagi ia baru saja terbangun. Namun tatapan yang ditujukan untuknya begitu menuntut, begitu memaksa. Membuatnya tak tahu harus bagaimana.
Di bingkainya wajah sang sahabat dengan kedua tangan, lalu ia berujar pelan. "Na, tenang yah. Semuanya akan baik-baik saja. Nanti biar Rama yang jelasin ke kamu apa yang terjadi. Karena aku juga nggak tahu pasti." Katanya sekali lagi.
Tepat setelah itu pintu terbuka, Chandra datang setelah mengantar temannya pergi. Laporan yang diterimanya siang ini, tentang apa yang terjadi semalam, begitu menakutkan. Seseorang yang entah siapa, entah memiliki dendam apa, kembali berusaha untuk membunuh Jeffrey dan Mona dengan berpura-pura menjadi dokter.
Mereka hampir saja kecolongan karena orang itu berhasil menyuntikan sesuatu pada cairan infus yang tergantung. Untungnya, orang kepercayaannya segera menyadari keanehan itu dan menghentikan alirannya agar tak masuk ke dalam tubuh.
Polisi sedang menyelidiki kasus ini. Botol infus yang terkontaminasi telah di bawa oleh mereka untuk diteliti. Untuk mengetahui jenis cairan apa yang digunakan. Seragam medis yang dikenakan pelaku juga telah di temukan disalah satu tempat sampah dipojok rumah sakit. Sudut yang jarang terjamah orang lain.
Semakin dipikirkan, semakin merinding Chandra rasakan. Rencana pembunuh itu telah terorganisir dengan baik. Seperti dilakukan oleh pembunuh profesional. Tidak ada jejak yang tertinggal kecuali dua benda itu. Juga tidak ada sidik jari. Seolah-olah dilakukan oleh hantu.
Sementara dari pihak rumah sakit, cctv belum bisa diakses karena belum mendapatkan persetujuan dari direktur mereka yang saat ini sedang tidak berada di tempat. Pihak rumah sakit berkata harus menunggu beberapa hari lagi sampai sang direktur kembali.
Sarah menatap sang suami dengan wajah memelas, meminta pertolongan.
"Ada apa?" Tanya Chandra penasaran. Kakinya mendekat. Berdiri di samping sang istri. Ia menatap Mona lama, kemudian beralih pada Sarah, istrinya. Sementara alisnya terangkat satu.
Namun pertanyaan itu tak mendapat balasan. Hanya isakan yang terdengar. Yang semakin lama semakin keras dan menyayat hati.
Sarah memegang lengan suaminya. "Mas, kamu bisa hubungi Rama nggak? Dia belum kembali juga dari pagi." Kata Sarah lirih.
Chandra mengangguk dengan senyum yang menenangkan. Kemudian tatapnya beralih pada Mona. Ia menepuk bahunya pelan. Berusaha menguatkan. "Ya, dia lagi dalam perjalanan kesini. Kalian tenang aja, nggak ada yang perlu di khawatirkan."
Sarah dapat bernafas lega sekarang. Bahunya yang tegang sedikit mengendur. Namun tangis Mona belum berhenti. Ia masih menatap Jeffrey dengan sedih.
"Kamu disini dulu, aku mau ke depan cari dokter." Ujar Chandra.
Sarah mengangguk. Ia melepaskan pegangannya pada lengan sang suami.
***
Di lorong rumah sakit, Chandra berpapasan dengan seorang perawat yang kebetulan lewat. Perawat yang wajahnya ia kenal dengan baik, yang biasa memeriksa kondisi Jeffrey dan Mona.
Ia memberitahu perawat itu bahwa Mona telah sadar. Ia juga memohon pada perawat itu untuk merahasiakan keadaan Mona yang sebenarnya untuk sementara waktu mengingat kondisi mentalnya yang sedang tidak baik-baik saja.
Perawat itu tak merespon untuk beberapa saat. Ia hanya menatap dengan pandangan kosong. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Membuat Chandra merasa kebingungan.
Kejadian itu berlangsung lama. Chandra yang tak sabar, menepuk bahunya untuk membantu perawat itu tetap sadar dan mengangguk setuju. Kini akhirnya ia bisa merasa lega.
Setelah mengucapkan terima kasih, Chandra kembali melanjutkan langkahnya. Tujuannya kali ini adalah lobi rumah sakit. Ia akan menunggu Rama disana. Karena ada beberapa hal yang harus ia tanyakan pada pria itu.
Matahari hampir terbenam menutupi bumi dengan lapisan cahaya orange yang menghangatkan hati. Sebagian orang telah pergi, sebagian lagi tetap tinggal dengan sebuah harapan. Rama tiba di rumah sakit sesaat setelah Chandra menelponnya. Tangannya mencengkram kuat pada lembaran kertas dalam genggaman. Sementara netranya berembun menatap nanar pada kenyataan yang ada.
Rama berdiri lama. Memandang jauh ke depan dengan tatapan sendu. Bangunan dengan struktur fisik kompleks itu membuatnya merasakan sakit, sesak dan juga trauma di saat yang bersamaan. Setiap tarikan nafasnya terasa berat dan panjang. Seolah dunia akan runtuh saat itu juga. Bahunya turun. Bahu yang biasanya kokoh itu tak lagi setegar karang. Langkahnya pelan, tapi pasti. Melewati pintu yang terbuka sendiri.
"Ram..."
Pria itu tersentak. Tersadar dari lamunan. Ia melirik tangannya yang dipegang kuat. Lalu menemukan Chandra disana.
"Kamu darimana aja? Mona dari tadi nyariin kamu, tahu nggak?!!" Kata Chandra penuh emosi.
Yang lebih membuat Chandra kesal adalah, ponsel Rama tak dapat di hubungi sejak siang. Membuatnya khawatir karena takut terjadi apa-apa pada pria itu.
"Maaf, aku..." Rama tak dapat melanjutkan ucapannya.
"Ini apa?" Tangan Chandra meraih map dalam genggaman Rama. Kemudian membukanya. Kata demi kata ia baca dengan teliti. Matanya terkadang menyipit, menunjukan ketertarikan dan konsentrasi tinggi. Sementara mulutnya diam, tak banyak bergerak, menunjukan ketenangan fisik.
Chandra menutup kasar map itu, kemudian mengembalikannya pada Rama. "Kamu butuh uang?" Tanyanya.
Rama diam saja. Ia mengalihkan pandangan. Menatap kemanapun asal tidak pada Chandra.
"Jawab!!!" Nada suaranya meninggi. Membuat orang-orang melihat kearahnya. Namun Chandra tak peduli.
Tak ada lagi yang bisa Rama sembunyikan. Ia mengangguk pasrah. "Ya, perusahaan sedang kekurangan uang karena para investor menarik pendanaan mereka. Perusahaan ku sedang di ujung tanduk sekarang."
Chandra mengusap wajahnya kasar. "Kenapa kamu nggak bilang pada kami??!! Apa kamu merasa kami miskin?? Nggak sanggup bantu?!"
Rama segera menggeleng. "Nggak, nggak gitu. Jangan salah paham. Aku hanya ngerasa nggak enak udah ngerepotin kamu dan Sarah selama ini."
"Kita udah kaya gini sejak dulu. Dan kamu masih mikir kaya gitu? Aku merasa nggak berguna sebagai teman Rama! Sarah juga pasti bakal sedih denger kamu ngomong kaya gini."
Ya, Rama juga merasa bersalah. Namun ini masalahnya. Rasanya ia tidak bisa terus-terusan melibatkan Chandra dan keluarganya. Meskipun ia ingin menyangkal, tetapi perasaan tidak enak itu pasti ada dan tak dapat di hindari.
"Berapa uang yang kamu butuhkan?" Tanya Chandra tenang. Terlalu tenang seolah ia hanya menawarkan sebuah permen.
Mengabdikan diri pada negara adalah cita-citanya. Sementara penghasilan yang ia dapatkan sepenuhnya dari beberapa kebun anggur yang dikelola oleh orang kepercayaannya dan beberapa properti yang disewakan yang nilainya selalu naik setiap tahunnya.
Itu semua adalah peninggalan sang kakek yang di wariskan padanya. Dari situ jugalah ia akan menghidupi kedua anaknya hingga dewasa. Dan jangan lupakan restoran yang dibuka Sarah dua tahun ini, yang memiliki keuntungan cukup baik.
Rama membuka matanya lebar-lebar. Menatap Chandra lama untuk mencari kebohongan disana. Namun tak ada, hanya kesungguhan dan rasa tulus yang terlihat.
Sebuah nominal yang cukup fantastis keluar begitu saja dari mulut. Beserta detail lainnya. Rama menjelaskan apa yang sedang ia kerjakan dan bagaimana keuntungannya. Sama seperti saat ia menjelaskan pada para investor yang sejak pagi ia temui.
Chandra mendengarkannya dengan serius. Bukan karena tertarik, tetapi karena apa yang ia khawatirkan tidak pernah terjadi. Ia memindai tubuh Rama dari atas sampai bawah. Dan rasa syukur itu selalu terucap dalam hati karena pembunuh itu tidak menargetkannya hari ini.
"Baik, kamu bisa ambil uangnya dalam beberapa hari." Katanya.
Rama merasa lega. Seolah satu beban terangkat dari bahunya. Nafasnya tertarik panjang, otot yang tegang menjadi lebih rileks sekarang.
"Makasih, makasih banyak Chan. Aku janji..."
"Stop!!" Chandra mengangkat tangannya, menghentikan Rama yang akan berbicara omong kosong lagi.
"Ada hal yang lebih serius yang harus aku bicarakan dengan mu." Tambahnya.
Rama merasa tertarik. "Apa itu tentang Mona? Apa dia baik-baik aja?" Rasa senang tak dapat disembunyikan.
"Iya dan tidak. Bukan hanya soal Mona, tapi ini tentang mu juga. Apa akhir-akhir ini kamu pernah menyinggung seseorang?" Tanya Chandra hati-hati.
Rama melihat ke langit-langit. Mencoba berpikir. Dalam bisnis, tak ada yang benar-benar teman, juga tak banyak musuh yang terlihat. Semua hanya tentang keuntungan.
"Kayaknya nggak ada." Balasnya kemudian.
Itulah yang ia percayai sampai detik ini hingga... Sebuah ingatan muncul dalam kepala seperti sebuah film.
Tidak mungkin.
Ia sudah bertahun-tahun tidak bertemu dengan orang itu. Sudah tak ada komunikasi, sudah tak ada interaksi. Tetapi meski begitu, ia yakin rasa benci dan dendam pasti masih ada, mungkin saja masih tertinggal di dalam hati.
"Ada apa Chan? Apa terjadi sesuatu?" Rama bertanya dengan gugup.
Chandra menarik nafas panjang. Sebelum mengutarakan apa yang ia tahu. "Seseorang berusaha membunuh keluarga mu tadi malam."
Tubuh Rama membeku. Punggungnya terasa dingin seperti disiram air es. Semalam ia berada di kantor hingga menjelang pagi. Lalu ia pergi lagi hingga sekarang ini.
"Siapa orang itu? Kenapa dia tega?" Rama bertanya dengan terbata-bata.
"Kita belum tahu. Masalah ini masih dalam penyelidikan polisi. Ram, kamu harus hati-hati. Dia masih berkeliaran diluar sana. Semalam anak buah ku nggak berhasil nangkep orang itu."
Rasanya udara seperti tersedot habis dari paru-paru. Sakit, sesak. Membuat nafasnya menjadi pendek-pendek.
"Sejauh ini yang tahu cuma kita. Aku nggak kasih tahu siapapun lagi. Tapi aku harap Mona juga tahu tentang hal ini agar dia bisa lebih waspada. Tapi jangan sekarang, kondisinya lagi nggak memungkinkan. Dia masih syok."
"Okeh, aku ngerti. Makasih banyak udah bantu jagain dia."