NovelToon NovelToon
Aku Memilih Diam

Aku Memilih Diam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.

On Going || Tayang setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Ketika Rahasia Menjadi Nyata

Ketukan di pintu terdengar lambat tapi pasti. Aruna berdiri dari kursi, dadanya berdebar lebih cepat dari biasanya. Di belakangnya, Calvin tetap tenang, tangannya di saku celana, ekspresi datar tapi matanya tak lepas dari pintu.

“Masuk,” kata Calvin dingin.

Pintu terbuka perlahan. Dan di baliknya, wajah yang muncul membuat Aruna menahan napas.

Hendra. Direktur operasional yang selama ini berada di balik semua kekacauan. Tapi bukan hanya wajahnya yang mengejutkan—tatapannya juga tenang, terlalu tenang, seperti orang yang tahu persis apa yang akan terjadi.

“Aruna,” katanya, nada lembut tapi menusuk. “Kita harus bicara.”

Aruna menatap Calvin sekilas. Sekali tatap, ia tahu—Calvin sudah mengantisipasi ini. Ia hanya menunggu sinyal. Dan sinyal itu sekarang diberikan.

“Duduklah,” Calvin menunjuk kursi di depan mejanya. Aruna tetap berdiri, tangan mengepal perlahan. Hendra tersenyum tipis, duduk santai, seolah tidak ada yang bisa menakutkan dirinya.

“Aku tahu kamu marah,” Hendra memulai, tatapannya tidak lepas dari Aruna. “Aku juga punya alasan. Semua ini… bukan karena aku ingin menghancurkanmu.”

Aruna menahan napas. “Jangan bermain kata-kata. Aku tahu akses ilegal itu dari akunmu. Semua bukti mengarah padamu.” Suaranya datar, tapi getarannya terdengar jelas di ruangan itu.

Hendra mengangkat bahu santai. “Itu… bukan kesalahanku sepenuhnya. Aku hanya… terjebak dalam sistem yang sudah terlalu kaku. Dan aku tidak ingin orang seperti kita yang kalah sebelum mencoba.”

Calvin memotong dengan nada dingin. “Berhenti bicara seperti itu. Aku di sini bukan untuk mendengar pembenaranmu. Aku di sini memastikan semua konsekuensi ditanggung.”

Hendra menatap Calvin sebentar, lalu mengalihkan pandangan ke Aruna. “Dan kamu… Aruna. Kamu terlihat tenang. Tapi aku tahu, kamu ingin melawan. Aku bisa merasakan itu.”

Aruna merasa dadanya sesak. Tapi ia tetap tegap. “Aku tidak takut. Aku hanya tidak akan membiarkan siapa pun menyeret orang lain ke masalah yang aku hadapi sendiri. Itu batas yang tidak akan aku lewati.”

Hendra tersenyum tipis lagi. “Itulah yang membuatmu berbeda, Aruna. Dan juga berbahaya.”

Ruang itu hening. Suara jarum jam terdengar terlalu jelas. Aruna memandang Calvin. Mata Calvin seolah memberi pesan: percaya diri, jangan bergerak sebelum aku bicara.

“Aku ingin perjanjian,” kata Hendra tiba-tiba. “Kita selesaikan ini tanpa kerusakan lebih jauh. Aku bisa membantu, tapi ada syaratnya.”

Aruna mengerutkan alis. “Syarat?”

“Semua dokumen yang aku manipulasi… aku tunjukkan ke kamu. Tapi kamu harus menjaga rahasia ini. Tidak ada bocoran, tidak ada pengumuman ke direksi dulu.” Hendra menatap tajam, memastikan Aruna memahami seriusnya permintaan itu.

Calvin menghela napas pelan. “Kamu sadar ini bisa membuat kita semua di posisi berbahaya, kan?”

Aruna menatap Hendra lagi. Napasnya tertahan. Ia tahu, menerima syarat itu berarti masuk lebih dalam ke permainan yang bisa membahayakan dirinya, reputasinya, bahkan orang-orang yang ia sayangi.

“Tapi kalau aku menolak,” lanjut Hendra, “kamu akan menghadapi lebih dari rumor atau ancaman anonim. Audit akan terus membuka setiap celah kecil yang bisa menjeratmu.”

Aruna menelan ludah. Ia menoleh sebentar ke Calvin. Tatapan Calvin… tegas, tapi ada sedikit sinyal setuju. Ia tahu Calvin siap menutup celah, tapi Aruna yang harus mengambil keputusan pertama kali.

Akhirnya, Aruna mengangguk pelan. “Aku menerima. Tapi satu hal—jika ada langkah yang menyasar orang lain di luar aku, aku berhenti. Tidak ada kompromi di situ.”

Hendra tersenyum puas. “Setuju.”

Calvin memotong cepat. “Baik. Tapi ingat, kita harus hati-hati. Setiap langkah mereka, setiap gerakan kita… tercatat. Tidak ada yang boleh salah.”

Aruna menarik napas panjang. Ia merasakan ketegangan menurun sedikit, tapi tidak hilang. Ruangan ini penuh dengan energi yang nyaris bisa diiris dengan pisau.

Hendra menatap Aruna sebentar lagi. “Kamu tahu… aku selalu menghargai keberanian. Dan kamu punya banyak itu. Tapi jangan salah. Keberanianmu juga bisa jadi jebakan.”

Aruna menatap balik. “Aku sudah terbiasa berdiri di tepi jurang.”

Mereka semua terdiam beberapa detik. Hendra bangkit, berjalan ke pintu. “Aku akan menyiapkan dokumen. Besok, kita mulai langkah selanjutnya. Tapi jangan salah paham—ini bukan kerja sama yang mudah. Ini… permainan.”

Pintu tertutup. Suara kliknya terdengar seperti palu di kepala Aruna.

Aruna menoleh ke Calvin. “Apa kau yakin kita bisa mempercayainya?”

Calvin tersenyum tipis, bukan senyum hangat. “Aku yakin kita tidak punya pilihan lain. Tapi ini langkah yang tepat. Sekarang kita punya arah, bukan sekadar menunggu serangan.”

Aruna menatap layar laptopnya. Pikiran berputar cepat. Dokumen yang akan datang dari Hendra bisa menjadi pedang bermata dua. Bisa menyelamatkan kasus Eastbay, tapi bisa juga menjerat mereka lebih dalam.

Ia menarik napas. “Kalau ini berhasil, kita bisa membersihkan segalanya. Tapi kalau gagal…” suaranya berhenti sejenak, menelan kata-kata yang terlalu keras untuk diucapkan.

Calvin menaruh tangan di bahunya, singkat tapi cukup untuk memberi dukungan. “Kita akan selesaikan. Bersama.”

Aruna mengangguk. Ada rasa aneh di dadanya. Tidak takut. Tidak lega. Hanya… kesiapan untuk apa pun yang akan datang.

Mata mereka bertemu. Tidak perlu kata-kata panjang. Dalam keheningan itu, mereka memahami satu hal: ini bukan lagi tentang hukum atau perusahaan. Ini tentang siapa yang mampu berdiri sampai akhir.

Dan besok, permainan benar-benar dimulai.

Di layar laptop, log akses muncul kembali. Detik demi detik, semuanya terekam. Aruna menatapnya. Jantungnya berdebar, tapi ia tersenyum tipis.

Aruna menghela napas panjang, tangannya menari di keyboard, membuka file demi file, memastikan setiap jejak dicatat. Ia tahu Hendra bukan satu-satunya yang bisa bergerak di belakang layar. Ada kemungkinan pihak lain—entah internal atau eksternal—sedang mengamati setiap langkahnya, menunggu kesalahan sekecil apa pun.

Ia menutup mata sejenak. Pikiran tentang ibunya muncul. Rumahnya, tempat yang seharusnya aman, kini terasa rapuh. Setiap langkah Aruna di kantor bisa saja menyentuh kehidupan orang yang ia cintai. Dan itu membuat setiap keputusan terasa jauh lebih berat.

Tapi di sisi lain, ada rasa bangga kecil yang aneh. Bahwa meski semua tekanan datang, ia masih bisa berdiri tegak, tetap menatap situasi dengan kepala dingin. Ia menyadari, setiap detik yang ia tahan, setiap kata yang ia pilih untuk tidak diucapkan, adalah kemenangan kecil dalam perang ini.

Aruna menarik napas lagi, menatap Calvin yang masih berdiri di dekat jendela. Tatapannya bertemu Calvin, dan untuk satu detik, ada pengertian yang tidak perlu kata-kata: mereka siap menghadapi badai yang akan datang, bersama.

Karena untuk pertama kalinya, ia merasa… siap.

Siap menghadapi siapa pun yang berani melintasi garisnya.

Dan siap menghadapi diri sendiri.

1
bunga JK
semangat teruskah berkarya nya😊👍
Serena Khanza: iya kak 💪🏻💪🏻
semangat berkarya juga kak 😊💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
suka bab ini. semangat terus torr 💯
Serena Khanza: Terima kasih 🤍
total 1 replies
MARDONI
Hati jadi TEgang banget!! 😰✨ Aruna masuk kantor dan semua orang liatnya beda dari biasanya, langsung merasain tekanannya yang bikin napas jadi sesak! Dia dipanggil ke ruang rapat, ketemu Calvin sama manajemennya, ikutan deg-degan banget!! 😣 Aruna jawabnya cermat banget karena takut nyeret orang lain yang tidak bersalah, Calvin bilang butuh fakta bukan asumsi tapi malah jadi tertarik sama jawaban Aruna, SUPER PENASARAN NIH APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA!! 😱 Semoga Aruna bisa kuat dan menemukan jalan keluar ya authorrr!!
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia membaca ceritanya kak..
semangat aruna 💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
calvin kan ceo ya tor, kenapa dia gak cut aja aruna yg udah ketahuan gak netral?
maaf kalo aku salah tangkep 🙇‍♀️
Serena Khanza: iya gpp kak 😊
total 1 replies
PrettyDuck
orang2 takut di audit sama aruna /Facepalm/
MARDONI
Wahhh seru banget deh bab ini!!! 😍 Pas Aruna masuk kantor aja udah bisa rasain suasana yang aneh banget, semua orang nunjuk-nunjuk bahkan Rina juga canggung pas ngomongin investigasi. Trus pas dia buka amplop Calvin dan ketemu nama-nama orang yang dikenalnya langsung bikin deg-degan! Kalvin yang bilang menjadikannya pusat bukan umpan tuh bikin penasaran banget, apalagi pas dapet pesan ancaman dari nomor tidak dikenal dan rasanya diawasi banyak orang 😱 Akhirnya Aruna yang mulai mikir apakah orang yang suruh dia diam bakal biarin dia sendirian atau nggak... Aduh authorrr bikin aku suka banget, gak sabar tunggu bab selanjutnya deh!!! 💖
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak 🤩😊
total 1 replies
MARDONI
Ceritanya makin ke sini makin bikin penasaran! Alurnya rapi, konfliknya kuat, dan emosinya dapet banget. Setiap update selalu terasa berisi dan nggak asal. Salut sama author yang konsisten dan totalitas ngembangin cerita. Semangat terus ya, ditunggu kelanjutan ceritanya! 💪📖🔥
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak..
total 1 replies
MARDONI
Pas Aruna masuk ke ruangan Calvin dan suasana langsung jadi tegang banget, aku juga ikutan napasnya jadi pelan-pelan deh! Pas Calvin kasih laporan revisinya dan nanya ada yang janggal nggak, hati aku langsung berdebar-debar kayak Aruna juga 😰 Dan pas Calvin nanya tentang orang yang bakal kena akibatnya, padahal Aruna tahu cerita tentang anaknya yang sering sakit dan cicilan rumahnya... duh bikin hati jadi terasa sesak banget! Ternyata Calvin aja tahu ya kalau Aruna mungkin tahu lebih banyak dari yang dia tunjukin 😱 Pas dia kasih amplop danunjukin Aruna buat investigasi, aku juga ikutan bingung kayak Aruna—terima aja berarti harus hadapi kebohongan yang dia jaga, tapi nolak aja pasti jadi mencurigakan! Dan kalimat terakhir Calvin yang bilang "pastikan kau siap menanggungnya" tuh bikin merinding banget!! 😨 Dan akhirnya Aruna sadar kalau diamnya bukan lagi pilihan... tungguin kelanjutan banget deh author!! Semangat terus ya, cerita kamu bikin aku gabisa berhenti baca!! 🥰❤️
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak
total 1 replies
Serena Khanza
kadang diam bukan berarti lemah, dia sedang menghitung
PrettyDuck
bagus torrr.
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
PrettyDuck
terus kenapa dia memilih diam??
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
MARDONI
😣💔 sumpah aku ikut sesak duduk bareng Aruna di ruang rapat itu… dinginnya suasana, tatapan orang-orang, dan momen saat semua mata mengarah ke dia tuh bikin jantung deg-degan. Waktu Calvin ngumumin Proyek Eastbay dihentikan, rasanya sudah kebayang bakal ada satu orang yang dikorbankan, dan pas Aruna akhirnya bilang “tidak ada keberatan”… duh, itu bukan lega, itu perih 😭 dia tahu kebenaran tapi tetap memilih diam demi ibunya, demi bertahan. Dan tatapan Calvin setelah rapat itu, sunyi tapi berat apalagi pas dia manggil nama Aruna dan nyuruh masuk ke ruangannya, aku langsung ngerasa ini bukan sekadar urusan kerja lagi. Bagian Aruna sendirian di lift tuh bikin hati jatuh, kayak… satu keputusan kecil tapi dampaknya bakal panjang banget. Aku ikut takut, ikut tegang, dan nggak bisa berhenti mikir: diamnya Aruna hari ini pasti akan ditagih suatu saat nanti 🥀
Serena Khanza: Terima kasih sudah membaca 🤍 nikmati prosesnya pelan-pelan ya.. ke depannya akan semakin menegangkan lagi kak..
total 1 replies
PrettyDuck
kalo kata aku mah jujur aja arunaa.
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/
Serena Khanza: “tidak semua kebenaran perlu diucapkan oleh orang yang akan paling hancur karenanya.”
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!