Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Ketika Rahasia Menjadi Nyata
Ketukan di pintu terdengar lambat tapi pasti. Aruna berdiri dari kursi, dadanya berdebar lebih cepat dari biasanya. Di belakangnya, Calvin tetap tenang, tangannya di saku celana, ekspresi datar tapi matanya tak lepas dari pintu.
“Masuk,” kata Calvin dingin.
Pintu terbuka perlahan. Dan di baliknya, wajah yang muncul membuat Aruna menahan napas.
Hendra. Direktur operasional yang selama ini berada di balik semua kekacauan. Tapi bukan hanya wajahnya yang mengejutkan—tatapannya juga tenang, terlalu tenang, seperti orang yang tahu persis apa yang akan terjadi.
“Aruna,” katanya, nada lembut tapi menusuk. “Kita harus bicara.”
Aruna menatap Calvin sekilas. Sekali tatap, ia tahu—Calvin sudah mengantisipasi ini. Ia hanya menunggu sinyal. Dan sinyal itu sekarang diberikan.
“Duduklah,” Calvin menunjuk kursi di depan mejanya. Aruna tetap berdiri, tangan mengepal perlahan. Hendra tersenyum tipis, duduk santai, seolah tidak ada yang bisa menakutkan dirinya.
“Aku tahu kamu marah,” Hendra memulai, tatapannya tidak lepas dari Aruna. “Aku juga punya alasan. Semua ini… bukan karena aku ingin menghancurkanmu.”
Aruna menahan napas. “Jangan bermain kata-kata. Aku tahu akses ilegal itu dari akunmu. Semua bukti mengarah padamu.” Suaranya datar, tapi getarannya terdengar jelas di ruangan itu.
Hendra mengangkat bahu santai. “Itu… bukan kesalahanku sepenuhnya. Aku hanya… terjebak dalam sistem yang sudah terlalu kaku. Dan aku tidak ingin orang seperti kita yang kalah sebelum mencoba.”
Calvin memotong dengan nada dingin. “Berhenti bicara seperti itu. Aku di sini bukan untuk mendengar pembenaranmu. Aku di sini memastikan semua konsekuensi ditanggung.”
Hendra menatap Calvin sebentar, lalu mengalihkan pandangan ke Aruna. “Dan kamu… Aruna. Kamu terlihat tenang. Tapi aku tahu, kamu ingin melawan. Aku bisa merasakan itu.”
Aruna merasa dadanya sesak. Tapi ia tetap tegap. “Aku tidak takut. Aku hanya tidak akan membiarkan siapa pun menyeret orang lain ke masalah yang aku hadapi sendiri. Itu batas yang tidak akan aku lewati.”
Hendra tersenyum tipis lagi. “Itulah yang membuatmu berbeda, Aruna. Dan juga berbahaya.”
Ruang itu hening. Suara jarum jam terdengar terlalu jelas. Aruna memandang Calvin. Mata Calvin seolah memberi pesan: percaya diri, jangan bergerak sebelum aku bicara.
“Aku ingin perjanjian,” kata Hendra tiba-tiba. “Kita selesaikan ini tanpa kerusakan lebih jauh. Aku bisa membantu, tapi ada syaratnya.”
Aruna mengerutkan alis. “Syarat?”
“Semua dokumen yang aku manipulasi… aku tunjukkan ke kamu. Tapi kamu harus menjaga rahasia ini. Tidak ada bocoran, tidak ada pengumuman ke direksi dulu.” Hendra menatap tajam, memastikan Aruna memahami seriusnya permintaan itu.
Calvin menghela napas pelan. “Kamu sadar ini bisa membuat kita semua di posisi berbahaya, kan?”
Aruna menatap Hendra lagi. Napasnya tertahan. Ia tahu, menerima syarat itu berarti masuk lebih dalam ke permainan yang bisa membahayakan dirinya, reputasinya, bahkan orang-orang yang ia sayangi.
“Tapi kalau aku menolak,” lanjut Hendra, “kamu akan menghadapi lebih dari rumor atau ancaman anonim. Audit akan terus membuka setiap celah kecil yang bisa menjeratmu.”
Aruna menelan ludah. Ia menoleh sebentar ke Calvin. Tatapan Calvin… tegas, tapi ada sedikit sinyal setuju. Ia tahu Calvin siap menutup celah, tapi Aruna yang harus mengambil keputusan pertama kali.
Akhirnya, Aruna mengangguk pelan. “Aku menerima. Tapi satu hal—jika ada langkah yang menyasar orang lain di luar aku, aku berhenti. Tidak ada kompromi di situ.”
Hendra tersenyum puas. “Setuju.”
Calvin memotong cepat. “Baik. Tapi ingat, kita harus hati-hati. Setiap langkah mereka, setiap gerakan kita… tercatat. Tidak ada yang boleh salah.”
Aruna menarik napas panjang. Ia merasakan ketegangan menurun sedikit, tapi tidak hilang. Ruangan ini penuh dengan energi yang nyaris bisa diiris dengan pisau.
Hendra menatap Aruna sebentar lagi. “Kamu tahu… aku selalu menghargai keberanian. Dan kamu punya banyak itu. Tapi jangan salah. Keberanianmu juga bisa jadi jebakan.”
Aruna menatap balik. “Aku sudah terbiasa berdiri di tepi jurang.”
Mereka semua terdiam beberapa detik. Hendra bangkit, berjalan ke pintu. “Aku akan menyiapkan dokumen. Besok, kita mulai langkah selanjutnya. Tapi jangan salah paham—ini bukan kerja sama yang mudah. Ini… permainan.”
Pintu tertutup. Suara kliknya terdengar seperti palu di kepala Aruna.
Aruna menoleh ke Calvin. “Apa kau yakin kita bisa mempercayainya?”
Calvin tersenyum tipis, bukan senyum hangat. “Aku yakin kita tidak punya pilihan lain. Tapi ini langkah yang tepat. Sekarang kita punya arah, bukan sekadar menunggu serangan.”
Aruna menatap layar laptopnya. Pikiran berputar cepat. Dokumen yang akan datang dari Hendra bisa menjadi pedang bermata dua. Bisa menyelamatkan kasus Eastbay, tapi bisa juga menjerat mereka lebih dalam.
Ia menarik napas. “Kalau ini berhasil, kita bisa membersihkan segalanya. Tapi kalau gagal…” suaranya berhenti sejenak, menelan kata-kata yang terlalu keras untuk diucapkan.
Calvin menaruh tangan di bahunya, singkat tapi cukup untuk memberi dukungan. “Kita akan selesaikan. Bersama.”
Aruna mengangguk. Ada rasa aneh di dadanya. Tidak takut. Tidak lega. Hanya… kesiapan untuk apa pun yang akan datang.
Mata mereka bertemu. Tidak perlu kata-kata panjang. Dalam keheningan itu, mereka memahami satu hal: ini bukan lagi tentang hukum atau perusahaan. Ini tentang siapa yang mampu berdiri sampai akhir.
Dan besok, permainan benar-benar dimulai.
Di layar laptop, log akses muncul kembali. Detik demi detik, semuanya terekam. Aruna menatapnya. Jantungnya berdebar, tapi ia tersenyum tipis.
Aruna menghela napas panjang, tangannya menari di keyboard, membuka file demi file, memastikan setiap jejak dicatat. Ia tahu Hendra bukan satu-satunya yang bisa bergerak di belakang layar. Ada kemungkinan pihak lain—entah internal atau eksternal—sedang mengamati setiap langkahnya, menunggu kesalahan sekecil apa pun.
Ia menutup mata sejenak. Pikiran tentang ibunya muncul. Rumahnya, tempat yang seharusnya aman, kini terasa rapuh. Setiap langkah Aruna di kantor bisa saja menyentuh kehidupan orang yang ia cintai. Dan itu membuat setiap keputusan terasa jauh lebih berat.
Tapi di sisi lain, ada rasa bangga kecil yang aneh. Bahwa meski semua tekanan datang, ia masih bisa berdiri tegak, tetap menatap situasi dengan kepala dingin. Ia menyadari, setiap detik yang ia tahan, setiap kata yang ia pilih untuk tidak diucapkan, adalah kemenangan kecil dalam perang ini.
Aruna menarik napas lagi, menatap Calvin yang masih berdiri di dekat jendela. Tatapannya bertemu Calvin, dan untuk satu detik, ada pengertian yang tidak perlu kata-kata: mereka siap menghadapi badai yang akan datang, bersama.
Karena untuk pertama kalinya, ia merasa… siap.
Siap menghadapi siapa pun yang berani melintasi garisnya.
Dan siap menghadapi diri sendiri.
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/