NovelToon NovelToon
Jerat Sentuhan Berbahaya

Jerat Sentuhan Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Harem
Popularitas:908
Nilai: 5
Nama Author: Lily Quinza

"Aku membencimu saat kau menyentuhku!"

"Benarkah? Tapi aku melihat bagaimana respon tubuhmu."

"Hentikan! Jangan sentuh aku!"

"Jika aku tak mau?"

"Kau tidak waras!"

Rodriguez De La Vega Navarro, CEO paling berkuasa di London, kehilangan satu hal yang tak bisa dibeli dengan uang Valeria De Luca.

Dua tahun setelah perpisahan tanpa penjelasan, takdir mempertemukan mereka kembali di toko kue milik Valeria. Satu tatapan cukup untuk membuka luka lama dan membangkitkan perasaan yang seharusnya telah mati.

Cinta berubah menjadi obsesi. Akankah Valeria bertahan.....
atau Rodrigo menghancurkan segalanya demi memilikinya kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Reaksi

Malam merambat perlahan, menyisakan cahaya senja orange di langit yang indah. Valeria hendak menutup tokonya.ia mematikan lampu toko lalu naik ke atas kamarnya.

Hari ini cukup melelahkan, bahkan sangat melelahkan. Sejak perseteruannya dengan Rodrig tidak membuat pikirannya berhenti untuk memikirkan pria itu. Semakin ia mencoba melupakan, bayangan manis itu semakin terlihat jelas.

Masalalu menghantui pikirannya. Membuat gadis itu selalu merasa gelisa saat hendak melakukan aktifitasnya.

Ia menelan ludah susah payah. Berusaha selalu terlihat tegar padahal ia begitu rapuh dan lemah.

"Aku memang terlalu sok kuat saat berada di hadapanmu Rodrig," gumamnya pelan.

Setelah ia menyelesaikan mandinya dengan cepat, tangannya dengan cekatan menggosok rambutnya yang basah dengan handuk kering.

"Rambutku terlalu panjang, lih ini sangat menyebalkan."

Tangannya meraih hairdrayer. Ia menancapkan colokan kabel itu, sebelum mesin berdengung menyala. Ia duduk, menatap pantulan wajahnya di cermin.

Suara itu memenuhi ruangan. Valeria mulai mengeringkan rambutnya, ia menghadap cermin kaca di hadapannya. Saat ia sedang melamun bayangan hitam itu muncul. Sosok tinggi tegap, menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Valeria tersentak. Matanya membulat.

"B....bagaimana kau bisa berada disini?" ujarnya terbata-bata. Tubuhnya menegang hebat.

Bayangan Rodrig hanya diam. Menatapnya di kaca tanpa senyuman.

Setelah beberapa saat Valeria tersadar. Gadis itu menggeleng pelan. Ia menatap pantulan dirinya di cermin.

"Tidak, tidak mungkin kau disini!"

"Itu mungkin!" sahut seorang pria yang berjalan mendekat.

Valeria berbalik, tubuhnya menegang, ia membenci itu semua. Gadis itu memejamkan mata.

"Kau! Apa kau sudah tidak waras...bagaimana bisa kau berada dikamarku!" triak Valeria.

Gadis itu sontak berdiri, mesin itu masih berdengung. Ia mundur perlahan, Rodrig mendekat, langkahnya pelan namun tubuh Valeria merespon lebih cepat. Ia sangat benci dengan itu semua.

Gadis itu terkejut ketika punggungnya menyentuh meja rias, dingin dan keras, seolah mengingatkannya bahwa ia tak lagi sendirian.

"Jangan bergerak," bisik Rodrigo.

Tubuhnya sudah terlalu dekat. Pinggul Valeria terperangkap, sementara Rodrigo mencondongkan badan, mengurungnya tanpa benar-benar menyentuh. Napas pria itu menghembus hangat tepat di wajahnya, terlalu dekat, terlalu intim.

"Bagaimana kau bisa masuk ke kamarku?" suara Valeria bergetar, bukan karena takut semata, melainkan karena amarah yang bercampur kegelisahan dengan kerinduan yang tak terucapkan.

Rodrigo tersenyum tipis. Tatapannya gelap, penuh obsesi yang tak lagi ia sembunyikan.

"Kota ini terlalu luas untuk bersembunyi dariku, Valeria."

Ia mengangkat tangan, meletakkannya di sisi meja rias, mengunci ruang gerak Valeria. Bukan sentuhan yang membuat jantungnya berdebar, melainkan jarak yang nyaris tak ada.

"Aku mencoba melupakanmu," ucap Valeria lirih, menantang sekaligus rapuh.

Rodrigo tertawa pelan. "Kau boleh berbohong pada dunia. Tapi tubuhmu," ia berhenti sejenak, menikmati reaksi Valeria, "Masih sama seperti dulu"

Hujan di luar jendela London jatuh perlahan, memantulkan cahaya lampu kota ke dalam kamar.

Di antara napas yang saling bertaut dan keheningan yang menyesakkan, obsesi Rodrigo menggantung di udara, berbahaya, tak terelakkan.

"Aku tidak akan menyentuhmu malam ini," bisiknya dekat telinga Valeria. "Karena aku ingin kau sadar, betapa kau tak pernah benar-benar bebas dariku."

Rodrigo mundur satu langkah, meninggalkan Valeria dengan jantung berdebar dan perasaan yang lebih kacau daripada saat ia datang.

Tapi beberapa saat kemudian, Rodrigo kembali mendekat, kali ini tatapannya tak lagi menyisakan senyum. Rahangnya mengeras, sorot matanya menuntut.

"Kau belum menjawabku," ucapnya rendah, penuh tekanan. "Kenapa kau meninggalkanku, Valeria?"

Valeria menelan ludah. Tangannya mengepal di sisi tubuh, berusaha menegakkan diri meski jantungnya berdegup liar.

"Karena aku lelah," jawabnya akhirnya.

"Lelah menjadi sesuatu yang kau miliki, bukan yang kau cintai."

Rodrigo menggeleng pelan, seolah tak menerima jawaban itu. "Aku memberimu segalanya."

"Tidak," potong Valeria, suaranya bergetar namun tegas. "Kau memberiku ketakutan. Kau mengurungku dengan obsesi, bukan menjaga dengan cinta."

Keheningan menggantung. Hujan di luar semakin deras, seakan ikut menjadi saksi perdebatan yang tak pernah selesai.

"Aku terobsesi karena aku mencintaimu," ujar Rodrigo lirih, tapi nadanya tajam. "Kau milikku."

Valeria mendongak, menatapnya lurus. "Itulah sebabnya aku pergi. Cinta tidak menuntut kepemilikan. Cinta memberi ruang untuk bernapas."

Rodrigo tertawa pendek, pahit. "Dan kau pikir kau bisa bernapas tanpaku?"

"Aku harus," jawab Valeria. "Jika tidak, aku akan kehilangan diriku sendiri."

Rodrigo terdiam. Untuk sesaat, amarah di wajahnya retak, digantikan sesuatu yang lebih berbahaya, rasa kehilangan yang berubah menjadi obsesi.

"Kau boleh pergi," katanya pelan. "Tapi jangan pernah berpikir aku berhenti mencarimu."

Valeria memalingkan wajah, menahan air mata. Ia tahu, malam itu bukanlah akhir, melainkan awal dari bayang-bayang yang akan terus mengikutinya.

"Kau tidak waras," ucap Valeria tajam, dadanya naik turun menahan emosi. "Kau sudah akan menikah dengan Seraphine!"

Nama itu menggantung di udara seperti pisau. Rodrigo tersenyum kecil, dingin, tanpa rasa bersalah.

"Menikah," ulangnya pelan. "Itu hanya kesepakatan."

"Kesepakatan?" Valeria tertawa getir. "Lalu aku apa bagimu, Rodrigo? Bayangan yang kau datangi diam-diam di malam hari?"

Rodrigo mendekat setengah langkah. "Kau satu-satunya yang nyata."

"Kau berbohong," bisik Valeria. "Jika aku nyata, kau tak akan datang dengan cara seperti ini. Kau tak akan menyembunyikanku."

Rodrigo terdiam sesaat, lalu suaranya merendah, sarat obsesi.

"Aku tak menyembunyikanmu. Aku melindungimu."

"Dari apa?" Valeria menantang. "Dari dunia, atau dari dirimu sendiri?"

Sorot mata Rodrigo menggelap.

"Seraphine tidak mengenalku. Kau yang mengenalku. Kau yang membuatku seperti ini!"

Valeria menggeleng, air mata menggenang. "Jangan letakkan kesalahanmu padaku."

Rodrigo mendekat lagi, terlalu dekat untuk dihindari.

"Aku bisa menjalani hidup apa pun," katanya lirih, "selama aku tahu kau masih ada di dunia yang sama denganku."

"Itu bukan cinta," suara Valeria pecah. "Itu penjara."

Rodrigo tersenyum tipis, senyum yang tak menyentuh mata.

"Jika itu penjara," katanya, "maka kau adalah satu-satunya tempat aku rela terkurung."

Keheningan kembali jatuh. Di luar, London terus bernapas, tak peduli pada dua jiwa yang terjerat dalam obsesi yang belum menemukan akhirnya.

"Pergilah," ucap Valeria dengan suara bergetar namun tegas. "Pikirkan pernikahanmu, Rodrigo. Jangan pernah memikirkanku lagi."

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada tamparan. Rodrigo menegang. Sorot matanya berubah gelap, bukan marah semata, melainkan terluka dan kehilangan kendali.

"Kau terlalu banyak bicara," gumamnya rendah.

Sebelum Valeria sempat menghindar, Rodrigo sudah bergerak. Ia menangkup wajah Valeria dengan genggaman gemas, seolah ingin membungkam semua penolakan yang keluar dari bibir itu.

Ciumannya turun tiba-tiba,bukan lembut, melainkan sarat emosi yang terpendam, campuran rindu, amarah, dan obsesi yang tak tersalurkan.

Valeria terdiam, napasnya tertahan. Dunia seakan menyempit dalam satu detik yang menyesakkan.

Rodrigo menarik diri lebih dulu. Dahinya hampir menyentuh dahi Valeria, napas mereka saling bersinggungan.

"Jangan pernah mengatakan itu lagi," bisiknya. "Karena aku tak pernah berhenti memikirkanmu. Dan kau tahu itu."

Valeria menatapnya, mata berkaca-kaca. Namun, penuh perlawanan.

"Justru karena itu aku memintamu pergi," katanya lirih. "Sebelum obsesi ini menghancurkan kita berdua."

Rodrigo terdiam. Untuk pertama kalinya malam itu, ia melangkah mundur, meninggalkan Valeria dengan bibir bergetar dan hati yang tak lagi utuh.

Di luar, lampu kota memantulkan cahayanya. Tapi di dalam kamar itu, sesuatu telah retak, dan tak akan pernah kembali sama.

1
Agus Tina
mampir thor bagus kayaknya 😍
Lilyyy: halo say silahkan yah jangan lupa nanti rating 😍🙏
total 1 replies
Dewi wijayanti Ryan setiawan
lanjut thor😍
Lilyyy: ih makasih kak komentar kakak semangat aku 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!