Novel ini mengisahkan hubungan antara seorang pria kristen bernama David Emmanuel Erlangga seorang pria yang terlahir dari keluarga yang begitu kental dalam menjalankan agama,anak dari seorang pendeta yang terkenal di negeri ini yang bertemu dan menjalin cinta dengan seorang muslimah yang taat serta merupakan anak salah seorang kyai terkemuka .
bagaimana kisah rumit mereka? dan akankah mereka mempertahankan hubungan yang penuh dengan penentangan dari kedua keluarga dan lingkungan?atau justru memilih berpisah demi bertahan dengan keyakinan masingmasing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Aisyah menarik napas dalam, jempolnya secara tidak sengaja menggosok layar ponsel yang masih menyimpan nomor David. "Aku tahu, May... Aku tahu betul bahwa hubungan ini begitu sulit untuk di satukan. Tapi siapa yang bisa menolak perasaan? aku mencintainya dan kami saling mencintai bukan waktu yang sebentar melalui nya. Aku sudah berusaha untuk melupakannya tapi apa daya ku . Jika akhirnya hanya untuk mengakhiri segalanya dengan benar, aku perlu tahu apa yang ada di pikirannya."
Tak lama kemudian, pintu cafe terbuka dan Michael masuk dengan wajah yang tampak serius. Ia langsung berjalan ke arah meja Aisyah dan Mayang, menyapa keduanya dengan senyum yang sedikit terpaksa.
"Maaf kalau membuat kamu menunggu, Syah," ujar Michael sambil duduk di depan mereka. "Aku memang perlu menyampaikan ini secara langsung agar tidak ada kesalahpahaman."
Aisyah terlihat tegang , sementara Mayang menjepit tangannya dengan lembut di bawah meja. "Apa yang ingin kamu sampaikan, Michael?" tanya Aisyah dengan suara yang tetap tenang meskipun hatinya berdebar kencang.
Michael mengambil gelas air dan meneguknya sebentar sebelum mulai berbicara. "Kamu tahu kan bahwa David akan kembali ke Indonesia untuk mengurus bisnis keluarga di Jakarta? Nah... sebenarnya ada hal lain yang membuatnya pulang dari Roma."
Ia menghentikan bicara nya sejenak, melihat wajah Aisyah yang penuh harap. "David bertemu dengan seorang wanita di Roma, seorang pengusaha muda yang bekerja sama dengan perusahaan keluarganya. Mereka sangat akrab dan bahkan sudah merencanakan untuk melanjutkan kerja sama bukan hanya di bidang bisnis..."
Aisyah merasa seperti ada batu berat yang menghantam hatinya. Wajahnya memucat, tapi ia tetap mencoba menjaga ekspresi agar tidak terlalu terlihat. "Apa maksudmu?" tanyanya dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Syah, mereka sedang menjalani hubungan yang serius dan bahkan sudah merencanakan pernikahan tahun depan," lanjut Michael dengan nada penuh rasa kasihan. "David memang ingin menghubungimu untuk memberitahukan ini secara langsung, tapi saat panggilan terputus kemarin, dia khawatir kamu akan salah paham jika dia menghubungi lagi. Dia meminta aku untuk menyampaikan maafnya dan harapannya agar kamu bisa menemukan kebahagiaan sendiri."
Air mata sudah mulai menggenang di sudut mata Aisyah. Ia menutup matanya sebentar, mencoba menahan emosi yang ingin meledak. Semua harapan yang baru saja ia bangun dengan susah payah seketika runtuh berkeping-keping.
" Apakah kepergiannya secara tiba-tiba itu sudah dia rencanakan jauh hari tanpa memberitahu ku? Kenapa dia tidak mengatakannya langsung padaku?," ujar Aisyah dengan suara yang bergetar. "Aku berhak tahu langsung dari dia bukan dari orang lain!"
"Karena dia tidak ingin melihatmu menangis lagi, Syah," ujar Michael dengan lembut. "Dia masih mencintaimu sebagai teman, tapi dia merasa sudah menemukan orang yang tepat untuk hidupnya selanjutnya. Dia juga tahu bahwa kamu baru saja mulai bangkit kembali dan tidak ingin membuatmu terpuruk lagi."
Aisyah terkekeh mendengarnya," Klasik..alasan klasik,jika dia tak ingin melihat ku sedih dan menangis lalu mengapa dia pergi begitu saja? Meninggalkan ku tanpa pesan apapun?"
Setelah Michael pergi, Aisyah tetap duduk tanpa berkata-kata, matanya menatap jauh ke arah danau buatan. Mayang tidak berani mengganggunya, hanya diam-diam memperhatikan sahabat baiknya itu.
"Aku sudah merasa bahagia hanya bisa mendengar suaranya lagi, May," ujar Aisyah akhirnya, dengan suara yang tenang tapi penuh kesedihan. "Tapi rasanya seperti aku harus melepaskan semua harapan yang ku bangun ini. Mungkin kamu benar dari awal, kita memang tidak pernah bisa bersatu."
Mayang menarik Aisyah ke pelukan. "Tidak seperti itu, Syah. Cinta kamu pada David memang tulus, tapi kebahagiaan tidak selalu harus datang dari orang yang sama. Kamu sudah bangkit kembali, bukan? Cafe ini adalah buktinya bahwa kamu bisa hidup bahagia tanpa dirinya."
Aisyah mengangguk perlahan, meskipun rasa sakit masih terasa mendalam di hatinya. Ia melihat buku catatan ide-ide baru yang dibuat Mayang, lalu melihat dekorasi cafe yang pernah ia bangun dengan tangannya sendiri. Mungkin memang saatnya ia benar-benar melangkah maju, tanpa harus menunggu seseorang yang sudah memiliki jalan hidupnya sendiri.
"Sekarang aku mengerti mengapa Papa bilang jangan sampai usaha kita sia-sia," ujar Aisyah perlahan, mulai mengangkat wajahnya. "Cafe ini adalah bagian dari diriku, dan aku akan membuatnya lebih baik dari sebelumnya. Bukan untuk orang lain, tapi untuk diriku sendiri."
Mayang tersenyum hangat. "Itu yang kuharapkan dari kamu, Syah. Kita akan membuat cafe 'Warna Laut' menjadi tempat terbaik di kota ini, dengan menu Italia yang kamu inginkan dan banyak ide baru lainnya."
Saat mereka mulai membahas rencana renovasi dan menu baru, suara mesin kopi yang bekerja dan tawa pelanggan menjadi latar belakang. Aisyah masih merasakan rasa sakit di hatinya, tapi dia tahu bahwa waktu akan membantu menyembuhkannya. Dan siapa tahu, mungkin takdir akan memberikan sesuatu yang lebih baik untuknya di masa depan, saat dia sudah benar-benar siap.
Tiba-tiba, pintu cafe kembali terbuka. Suara langkah kaki yang kuat terdengar menghampiri meja mereka. Aisyah mengangkat kepalanya dan mata keduanya langsung saling bertemu dengan seorang pria yang mengenakan jas muda dengan wajah yang sudah familiar di matanya.
" Kak Rain?" ucap Aisyah dengan mata membesar tak percaya.
Rain berdiri di depan mereka dengan wajah yang penuh perhatian. "Maaf kalau mengganggu," ujarnya dengan suara yang lembut tapi jelas. " Kebetulan aku lewat jadi aku mampir sebentar." Lanjut Rain beralasan padahal tujuan nya memang ke cafe ini.
" Hai...tampan kita bertemu lagi." Sapa Mayang memecah keheningan. Ini kali kedua mereka bertemu.
" Hai...Mayang apa kabar?"
" Aku..." Mayang menunjuk dirinya sendiri " Baik-baik saja, tapi ada yang sedang tidak baik-baik saja." lanjutnya sembari melirik ke arah Aisyah yang terlihat jengah melihat tingkah konyol sahabat nya itu.
Rain mengikuti lirikan Mayang yang tertuju ke arah Aisyah ." Kamu sakit?"
" Tidak,aku baik-baik saja..Jangan dengarkan dia."
Mayang mengangkat bahu dengan nada canda, "Ya sudah, kalau kamu mau sok kuat aja deh Syah." Kemudian dia berdiri dengan cepat, "Aku ada urusan kecil di belakang sana ya, kalian duduk aja dulu." Tanpa menunggu tanggapan, dia langsung menghilang ke arah dapur cafe.
Aisyah menghela napas panjang, menatap Rain dengan tatapan bercampur antara kebingungan dan rasa ingin menghindar. "Maaf ya Kak Rain, dia suka sekali mengada-ada."
Rain hanya tersenyum lembut, lalu menarik kursi di sebelahnya dan duduk dengan hati-hati. "Tak apa, aku tahu dia cuma mau membantu kamu merasa lebih baik." Dia melihat sekeliling cafe dengan ekspresi kagum, "Cafe ini benar-benar bagus, Syah. Kamu benar-benar pintar menarik konsumen."
Aisyah mengikuti pandangannya, melihat setiap sudut cafe yang memang sudah jadi bagian dari hidupnya. "Terima kasih Kak Rain. Banyak hal yang telah terjadi sejak aku mulai membangunnya..." katanya dengan suara pelan, mata nya mulai menatap meja dengan luka yang masih jelas terlihat di dalamnya.
David lah yang begitu berperan dalam pembangunan cafe ini. Saat David mengetahui bakat memasak Aisyah dengan makanan,kue ,bahkan minuman yang tak pernah gagal jika ia membuat nya. David akhirnya memberikan ide agar Aisyah membuka cafe untuk menuangkan bakatnya dalam dunia kuliner. David begitu antusias saat Aisyah akhirnya setuju untuk membuka cafe ini. Banyak kenangan mereka di cafe ini,sebuah kenangan yang tak akan mudah bagi Aisyah untuk melupakannya.
Rain mengambil gelas air yang ada di atas meja dan mendekatkannya ke arah Aisyah, "Kamu perlu minum sedikit, Syah?" Setelah Aisyah menerima dengan senyum kecil yang terpaksa, dia melanjutkan, "Aku sebenarnya tidak hanya lewat begitu saja, aku ingin mengundang mu untuk datang ke acara amal tahunan perusahaan ku."
Aisyah terkejut, wajahnya sedikit memucat lagi. " Kak Rain tidak salah?" Aisyah merasa tidak punya kepentingan dan hubungan yang membuat nya di undang ke acara tersebut.
" Tentu saja tidak, aku tidak punya seseorang yang menemani ku,jadi ku pikir lebih baik aku mengajak mu sebagai pendamping ku. Kamu tahu sendiri acara-acara seperti itu akan di jadikan ajang pencarian jodoh .Aku tidak ingin menjadi korban mereka nanti jika melihat ku datang sendiri."
Aisyah terkekeh mendengar nya,ia kemudian mengangguk pelan memahami maksud ucapan Rain .
"Tapi tunggu dulu Kak Rain," ujar Aisyah dengan nada sedikit ragu, "Aku kan tidak tahu cara berpakaian atau berperilaku di acara semacam itu. Takutnya aku akan membuatmu malu."
Rain menggeleng perlahan dengan senyum hangat, "Jangan khawatir, Syah. Cukup pakai yang nyaman saja, atau kalau kamu mau, aku bisa membantu kamu memilih pakaiannya. Yang penting kamu merasa nyaman dan tidak dipaksa." Dia melihat ke arah dapur di mana Mayang sedang sibuk, lalu kembali ke Aisyah, "Selain itu, acara ini juga akan dihadiri oleh banyak pengusaha kuliner dari berbagai kota. Mungkin kamu bisa mendapatkan inspirasi baru untuk cafe 'Warna Laut', atau bahkan menemukan mitra kerja sama yang cocok untuk menu baru yang kamu rencanakan."
Aisyah terlihat berfikir. Ide untuk bertemu dengan sesama pengusaha kuliner memang cukup menarik baginya. "Kalau begitu... aku terima undangannya ya Kak Rain. Tapi janji ya jangan marah kalau aku bingung dan salah tingkah sana-sini," katanya dengan suara yang sedikit lebih ringan.
"Janji," jawab Rain dengan penuh semangat. "Kita bisa berangkat bersama aja ya besok sore. Aku akan jemput kamu dari rumah sekitar pukul empat. Boleh kan?"
Aisyah mengangguk, rasa sakit di hatinya mulai sedikit sirna digantikan oleh rasa penasaran tentang acara tersebut. Saat itu juga Mayang muncul kembali dengan membawa dua gelas kopi baru, "Udah selesai bicara nya? Aku sudah dengar kamu mau ikut acara bareng Kak Rain!"
" Dasar suka nguping aja kamu" ucap Aisyah dengan sedikit malu, mengambil gelas kopi yang diberikan sahabatnya.
"Kan aku cuma mau pastiin kamu tidak menolak kesempatan baik ini," jawab Mayang sambil menatap Rain dengan tatapan yang penuh makna. "Jangan sampai kamu menyia-nyiakan kesempatan ini ya Syah. Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan baru, kan Kak Rain?"
Rain hanya tersenyum dan mengangguk, "Tentu saja. Aisyah adalah orang yang luar biasa, dia pantas mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya."
Aisyah merasa wajahnya sedikit memerah mendengar kata-kata mereka. Meskipun rasa rindu pada David masih ada, tapi untuk pertama kalinya setelah mengetahui berita tentang pernikahannya, dia merasa ada sedikit cahaya harapan yang muncul dalam hatinya. Mungkin memang saatnya dia mulai menerima bahwa hidupnya tidak hanya berputar di sekitar David saja.
"Sekarang kita fokus aja pada persiapan acara dan juga rencana renovasi cafe ya," ujar Aisyah dengan suara yang lebih tegas, matanya mulai bersinar kembali dengan semangat. "Kita butuh membuat daftar bahan yang perlu dicari untuk menu Italia, dan juga merencanakan dekorasi baru untuk bagian teras cafe."
Mayang tersenyum lebar, senang melihat sahabatnya mulai kembali seperti dulu. Sementara Rain hanya diam dan melihat mereka berdua dengan ekspresi yang penuh kagum dan perhatian yang mendalam.