Hidup bergelimang harta, tetapi tanpa kasih sayang seorang ibu, membuat Abiyan tumbuh menjadi sosok pemuda yang keras kepala dan pembangkang. Suatu hari dia melakukan kesalahan fatal dengan terlibat balapan liar yang mengakibatkan dirinya tertangkap polisi.
Akibat perbuatannya, Bastian sang ayah murka dan Abiyan harus menerima hukuman terberat: dia terbuang dari rumah yang selama ini menjadi istananya. Tanpa kemewahan, tanpa perlindungan, Abiyan terpaksa harus menghadapi dunia yang keras dan penuh tantangan seorang diri.
Mampukah Abiyan sang tuan muda yang terbuang, bertahan hidup dan belajar menjadi pribadi yang bertanggungjawab? Atau justru dia akan semakin terpuruk dalam kesengsaraan?
Ikuti kisahnya hanya di sini:
"Abiyan, Tuan Muda Terbuang" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27.
Naraya terpaku menatap Abiyan, bibirnya bergetar menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Entah dirinya harus senang atau justru merasa takut. Tak bisa dipungkiri, bahwa ia pun merasakan hal yang sama. Namun, ada begitu banyak hal yang membuatnya ragu.
"Bi..." ucapnya lirih, nyaris tak terdengar. Air mata mulai menetes jatuh pipinya.
Abiyan mengusap lembut pipi Naraya dengan tangannya yang bebas. "Jangan nangis, Ra. Aku nggak bermaksud membuat kamu bingung atau tertekan. Aku cuma pengen jujur sama perasaan aku," ucapnya lembut, matanya menatap Naraya dengan teduh.
Naraya menunduk, berusaha menyembunyikan air matanya. "Aku... aku nggak tahu harus jawab apa, Abi. Kamu tahu sendiri, aku... aku seorang janda, aku bahkan sedang mengandung anak dari mantan suamiku," ujarnya dengan suara tercekat.
Abiyan mengangkat dagu Naraya, memaksanya untuk menatap matanya. "Aku tahu, Ra. Tapi, itu nggak akan mengubah perasaanku sedikit pun. Aku cinta sama kamu apa adanya. Aku mencintaimu sekarang, dan untuk selamanya," ucapnya sungguh-sungguh.
Naraya terisak. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Dulu Farid juga mengatakan hal yang sama, akan mencintainya selamanya, tetapi yang ada justru meninggalkannya di saat dirinya sedang hamil.
Lalu sekarang ada Abiyan datang menawarkan cinta, bersedia menerima dirinya yang seorang janda dan sedang mengandung anak dari mantan suaminya, apakah ini sebanding? Ini seperti mimpi.
Abiyan mendekatkan wajahnya ke wajah Naraya, lalu mengecup lembut keningnya. "Berikan aku kesempatan, Ra. Biarkan aku membuktikan cintaku padamu. Biarkan aku menjadi bagian dari hidupmu dan anakmu," bisiknya di telinga Naraya.
Naraya memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut Abiyan. Hatinya bergejolak, antara ragu dan harapan. Perlahan, ia membuka matanya dan menatap Abiyan dengan sorot keraguan yang kentara.
"Beri aku waktu untuk memikirkannya, Bi," ucapnya kemudian. "Ini bukan keputusan yang mudah untukku."
"Tentu... Dan aku, akan setia menunggumu," jawab Abiyan tenang, menggenggam tangan Naraya semakin erat seolah meyakinkan wanita itu dengan kesungguhannya.
Sore itu mereka kembali berjalan menyusuri taman, sambil bergandengan tangan, seolah tak terjadi apa-apa. Namun, dalam hati masing-masing, pertanyaan besar masih menggantung.
.
Malam harinya Abiyan tampak gelisah tak bisa tidur. Dia membalik badannya ke kiri dan ke kanan, bahkan sampai tengkurap. Pikirannya terus melayang pada Naraya, pada pengakuannya tadi sore, dan pada Naraya yang meminta waktu untuk memikirkannya.
Aldo dan Benny tampak bingung melihat tingkah sahabatnya itu yang malam ini terlihat sangat berbeda.
"Kenapa lagi dia?" Aldo berbisik pada Benny.
"Mungkin cintanya ditolak barangkali?" jawab Benny asal, mencoba mencairkan suasana.
"Hahhh... Seorang Abiyan ditolak? Mana mungkin?" seru Aldo.
"Kalau yang seperti dia saja ditolak sama cewek, terus bagaimana dengan kita-kita ini?" Aldo tergelak pelan, tetapi kemudian menghentikan tawanya saat melihat Abiyan yang tiba-tiba bangun dan duduk bersandar pada tembok sambil menatap kedua sahabatnya itu.
"Gue nggak ditolak, cuma..." sahut Abiyan, membuat Aldo dan Benny terkejut.
"Terus kenapa loe gelisah gitu, kalau emang nggak ditolak?" tanya Benny penasaran.
Abiyan menghela napas panjang. "Cuma...dia minta waktu buat mikir," jawabnya jujur.
Aldo dan Benny saling bertukar pandang. Mereka tahu, ini bukan masalah sepele. Apalagi jika Naraya tahu siapa Abiyan sebenarnya, mungkin dia akan merasa tidak pantas.
Aldo menepuk pundak Abiyan. "Loe yang sabar ya, Bi," katanya. "Kalau emang loe serius sama dia, tunjukkan cinta tulus loe padanya, bahwa dia adalah wanita yang istimewa buat loe."
.
Di kamarnya, Naraya juga merasakan hal yang sama. Ia berbaring di atas kasur yang tipis, menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran berkecamuk. Pengakuan Abiyan sore tadi terus terngiang di telinganya.
Hatinya berdebar-debar setiap kali mengingat tatapan Abiyan yang teduh penuh cinta. Ia tak bisa memungkiri, ada perasaan bahagia yang menyelimuti hatinya. Namun, ada juga keraguan dan ketakutan tak kasat mata yang menghantuinya.
"Kenapa kamu hadir di saat seperti ini, Bi?" gumamnya pelan. "Apakah aku pantas untukmu? Bagaimana dengan keluargamu, apa mereka bisa menerima?"
Naraya memeluk erat bantalnya, berusaha meredakan gejolak di hatinya. Bayangan masa lalu kelam kembali menghantuinya. Tentang dirinya yang dianggap sebagai sebuah malapetaka oleh keluarga ayahnya karena terlahir sebagai anak perempuan. Lalu, ibunya yang memilih pergi meninggalkannya demi menikah dengan pria dari keluarga kaya dan mengasuh anak suami barunya. Ditambah pula, sosok suami yang ia harapkan menjadi tempatnya bersandar, justru melakukan hal yang sama: meninggalkannya, bahkan mencapnya sebagai pembawa sial. Luka-luka lama itu kembali menganga, membuatnya semakin takut untuk membuka hatinya pada siapa pun.
Ia takut akan merasakan sakit yang sama seperti dulu. Ia tak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
Namun, ia juga tak bisa menolak perasaannya pada Abiyan. Ia merasakan ketulusan cinta Abiyan, dan yakin bahwa Abiyan adalah pria yang baik.
"Ya Allah, berikanlah aku petunjuk," bisiknya dalam hati, berharap mendapatkan jawaban yang terbaik untuk dirinya dan untuk anaknya.
.
.
.
Siang itu, kafe penuh sesak oleh pengunjung. Suara obrolan, dentingan cangkir, dan alunan musik jazz bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang riuh. Naraya, yang melihat rekan-rekannya kewalahan melayani pelanggan yang terus berdatangan berinisiatif untuk membantu. Ia mengambil nampan menuju meja dan memunguti piring dan gelas kotor bekas pelanggan. Ia berusaha bekerja dengan profesional meski pikirannya tak menentu. Namun, di tengah keramaian itu, kecerobohan tetap saja tak bisa dihindari.
Saat berbalik dengan membawa nampan berisi piring dan gelas kotor, Naraya tak sengaja menabrak seorang pemuda yang baru saja memasuki kafe. Minuman itu tumpah, membasahi kemeja mahal yang dikenakan pemuda itu.
"Astaga!" seru Naraya terkejut, dengan mulut terganga dan mata membelalak.
Pemuda itu menatap kemejanya yang basah dengan tatapan marah. "Loe nggak punya mata, ya! Loe tahu nggak, kemeja ini harganya berapa, hahhh!" bentaknya dengan nada tinggi, menarik perhatian pengunjung lain.
Naraya semakin panik. "Ma-maaf, Mas. Saya nggak sengaja. Saya akan mencucinya," ucapnya dengan suara bergetar.
"Mencucinya?" Pemuda itu menatap Naraya remeh. "Loe pikir dengan mencucinya bisa balikin kemeja gue seperti semula? Dasar, pelayan nggak becus!" bentak pemuda itu lagi, semakin emosi.
Naraya semakin menunduk, tak berani menatap wajah pemuda itu. Ia merasa sangat bersalah dan malu.
Tiba-tiba, sebuah suara lembut memecah ketegangan. "Sayang, sudah ya, jangan dibesar-besarkan. Ini hanya kecelakaan kecil."
"Suara itu..." Naraya memberanikan diri mengangkat wajahnya. Matanya terpaku pada sosok yang saat ini berdiri di belakang pemuda itu. Tubuhnya membeku, jantungnya berdebar tak karuan, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Sosok itu tersenyum tipis, senyum yang sangat familiar.
Terus pemuda itu anak tirinya. Nggak punya sopan santun banget ....