Bayangkan di sebuah kehidupan indah Bumi, terdapat teror yang di rahasiakan pemerintah semua umat manusia. Teror Iblis, siluman, dan Kaiju.
Umat manusia yang memiliki kekuatan khusus disebut Exorcist mampu melawan 3 musuh besar umat manusia. Tapi umat manusia tidak bisa selamanya menang atau di bilang selalu kalah.
Kekuatan Iblis jauh lebih kuat dari pada Exorcist disebabkan kasta Level, sehingga umat manusia hanya bisa menutupi kekalahan dari teror mengerikan.
Akan tetapi itu tidak selamanya, karena Reyhan seorang siswa SMA biasa di Jakarta mendapatkan sebuah Sistem Pembunuh Iblis. Tugas Sistem itu memberi Reyhan sebuah misi dan kekuatan untuk mengalahkan Iblis-iblis lawan manusia.
Akan tetapi saat Reyhan melangkah lebih jauh sebagai Exorcist, Reyhan semakin tahu bahwa kekuatannya bukan apa-apa untuk Iblis atau Exorcist lainnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacarealitas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Selamat datang di dunia baru
Pedang petir putih Reyhan bergetar di atas lantai lalu terbang ke udara, pedang itu menyerap energi petir dengan rakus.
Namun kejadian itu tidak menimbulkan suara keras dan bising sehingga tidak ada satupun orang yang mengetahui nya.
Reyhan menatap reaksi pedang itu dengan senyuman lebar. "Kemarilah dan biarkan aku memakaimu"
Pedang petir putih itu mendekat seolah-olah ingin seperti itu, namun saat Reyhan memegang gagang pedang.
Tubuhnya terasa kesemutan hebat, ia sampai kejang-kejang dan melempar pedang itu jauh.
Tubuhnya menabrak tembok dan muntah darah. "Uhak!" Ia muntah darah sekali lagu.
Asuna terkejut dan dengan cepat membantu Reyhan untuk berdiri. "Apa tuan tidak apa-apa?"
Reyhan menatap pedang petir itu tergeletak di lantai dihujani air hujan dan petir masih menyala di pedang itu.
Asuna juga menatap pedang itu dengan menantang. "Tuan, biarkan saya yang menyelesaikan ini" Asuna maju dengan tangannya membentuk cakar.
Reyhan terkejut lalu menarik mundur Asuna. "Tidak Asuna, dia adalah pedang yang memiliki kesadaran. Kamu bukan lawannya lagi pula ini urusanku"
Asuna mengigit bibirnya karena ragu, tapi karena ini perintah dia jadi tidak bisa apa-apa selain mundur.
Reyhan melangkah maju dengan memenangi perut bawahnya. "Pedang ini ber-energi petir yang sangat kuat, jika aku ingin mengendalikan ini maka aku harus jadi petir itu"
Reyhan memungut pedang itu dan dia merasakan rasa sakit luar bias yang sama. Ekspresi Reyhan menahan sakit dan memegang nya dengan kedua tangan agar tidak terpental.
"Ahhh!!" Teriak Reyhan lalu petir bergelombang keras di langit-langit.
Asuna melihat fenomena ini dengan gugup dan penuh harap Reyhan bisa berhasil.
"Sing!"
Pedang itu terangkat ke langit lalu guntur petir putih menyambat, Reyhan sudah merasa kewalahan tapi dia tidak berhenti.
"Bom!"
Satu petir lagi menghantam besi pedang untuk menambah kekuatan, Reyhan sudah tidak tahan lagi. Matanya seperti akan terpejam.
"Prang" pedang jatuh ke bawah, tubuh Reyhan jatuh. Asuna segera bergegas untuk membantu Reyhan.
Sebaliknya hujan dan petir tetap bergemuruh di langit untuk sementara waktu karena sisa ritual.
Asuna menatap pedanh petir di sebelah nya denga bengis, energi negatif kuatnya tertuju pada pedang itu.
"Jika tuan terjadi apa-apa maka aku akan melawanmu, hanya kau dan aku" saat selesai mengatakan itu, Asuna membawa Reyhan ke kamar untuk di rawat.
....
Namun di dalam alam kesadaran Reyhan, Reyhan melayang di ruang kekosongan dimana sekeliling nya hanya ruangan biru tua ke-abuan.
"Dimana ini? Bukankah sebelumnya aku berada di balkon untuk latihan?" Reyhan menatap sekelilingnya dengan bingung.
"Glurmm"
Suara ledakan petir pelan berasal dari suatu tempat terdengar seperti gerakan suatu entitas.
Reyhan berubah ke waspada dengan sekeliling nya, namun di belakangnya tepat.
Sosok naga panjang ber-elemen petir menggeram seperti melihat mangsa.
Reyhan terdiam di tempat lalu menoleh ke belakangnya. N-naga?!"
"Diamlah nak, jangan membuat berisik disini" ucap Naga itu.
Reyhan berkedip-kedip. "N-naga itu bisa bicara!"
Naga itu menghela nafas lalu menyembur pelan listirk hangat agar Reyhan tenang.
"Dengar, namaku Naga petir. Aku tinggal di pedang petir putih yang kau pegang di duniamu"
Reyhan tertegun. "Maksudmu pedang itu? Aku tidak tahu jika kau tinggal disitu"
Naga petir mengangguk lalu berenang di sekitar Reyhan. "Aku berterima kasih padamu karena telah memberiku energi listrik yang melimpah, sehingga lukaku bisa sembuh dan membuatku kuat seperti sedia kala"
Reyhan tersenyum, dia jadi sedikit santai karena naga ini baik. "Sebenarnya aku sedang belajar tentang perasaan petir agar aku bisa memakaimu" ucapnya serius.
Naga petir tertawa keras sebelum berhenti. "Memakaiku? Kau masih belum layak, tapi kau bisa memakai kekuatan di pedang ini sesuai pengakuan petir"
"Pengakuan petir?" Reyhan menaikan alisnya. "Aku tidak pernah dengar"
"Pengakuan petir adalah dimana petir akan menyambar ke pedang dan merasuk ke tubuhmu. Semakin banyak petir yang menyambar maka semakin kuat kamu" ucapnya dengan nada tak main-main.
Reyhan merasa familiar dengan apa yang di ucapan naga petir. "Tunggu dulu, apa jangan-jangan dua petir yang menyambar ku itu"
Naga petir mengangguk. "Ya, kau di akui dua petir dan kau mendapatkan energi tambahan dan kekuatanmu semakin kuat 2x lipat"
Reyhan tersenyum lebar lalu melihat kedua tangannya. "Ini sempurna!"
Naga petir menggeram. "Jangan puas dulu, kau masih harus belajar lagi agar kau bisa memakaiku dengan sempurna"
Reyhan tersenyum seringai. "Ya! Karena itu aku akan terus berlatih!"
....
Beberapa jam kemudian, cuaca buruk telah berakhir. Reyhan menggeram lalu akhirnya membuka matanya.
Pertama yang Reyhan lihat adalah ibunya, Alisa dengan mata berair memeluk Reyhan karena dia dengar dari Asuna Reyhan demam.
"Reyhan kenapa kau bisa demam? Apa kamu main hujan-hujanan?" Alisa menatap Reyhan dengan ekspresi khawatir.
Reyhan tersenyum tipis. "Ya, tapi memang badanku sedikit demam tapi aku masih baik-baik saja" Reyhan menatap Asuna di pintu.
"Asuna, terima kasih telah membantuku"
Asuna mengangguk. "Itu sudah tugas saya sebagai pembantu rumah ini, Reyhan" tersenyum namun aslinya dia juga khawatir.
"Maaf sudah membuat khawatir, aku akan menjaga diriku lebih baik kali ini"
Alisa menghela nafas lalu berdiri. "Baiklah Reyhan kamu istirahat saja aku dan Asuna akan buat bubur untukmu makan"
Reyhan mengangguk, setelah itu Alisa dan Asuna ke dapur untuk memasak.
....
Di dapur, Asuna memakai celemek sama seperti Alisa. Alisnya Asuna tidak bisa memasak tapi Alisa memaksa nya.
"Oke, Asuna tolong bantu aku oke?" Alisa tersenyum manis, bahkan Asuna juga tertegun karena Alisa seperti masih remaja dan muda meski umurnya sudah 30-an tahun.
"Ya nyonya" Asuna membantu sebisanya, bahkan saat Asuna memasak ayam dia terkena minyak panas dan berteriak dengan lucu.
Alisa tertawa keras dari bawah sampai Reyhan terdengar dari kamar. Reyhan menggeleng karena tingkah keduanya sangatlah lucu.
"Semoga ini bisa bertahan selamanya" Reyhan mengusap hidungnya, lalu memandang pedang petir putih di pojok kamarnya.
Reyhan jadi teringat tentang perkataan Naga petir soal pengakuan petir, Reyhan hanya diakui 2 petir saja.
"Sistem, menurutmu apa di akui 2 petir sangat membantuku jadi kuat?"
[Jawabannya adalah ya, host dapat meningkatkan kekuatan, kecepatan, energi, bahkan mental]
[Karena host diakui 2 petir itu termasuk luar biasa, jadi atribut host meningkat 2x termasuk kecepatan petir, dan ledakan petir]
Reyhan tersenyum puas mendengar cerita bagus itu. "Aku hanya perlu mengetesnya pada Iblis yang akan kulawan"
Namun Reyhan tidak mengerti jika Iblis yang menjaga Gate atau iblis level 8 bernama Iblis ular Bencana menargetkan Reyhan, Asuna, dan Zahra.
Dari sudut pandang orang Exorcist mereka akan melihat ular sebesar bangunan bergerak melilit sekolah dengan kuat.
Terdapat dua tanduk, mata merah dan tubuhnya berbau darah pekat.
....
Sedangkan di rumah Flower, rumah yang begitu besar, mewah. Flower berdiri di kamarnya menghadap jendela.
Flower menatap dirinya di cermin yang memakai piyama. "Kenapa aku merasa rindu dengan Reyhan?"
Flower menekan dadanya yang terasa hangat saat memikirkan Reyhan. "Sebenarnya apa ini?"
Namun tiba-tiba pintu di ketuk. "Nona, tuan Daimen memberi saya kabar untuk di sampaikan pada nona"
Flower membuka matanya dan menarik tangannya dari sebelumnya. "Katakan saja"
"Baik, ada laporan Gate muncul di sekolah nona bersekolah, kita harus segera bertindak jika nona ingin aman" ucap orang di luar kamar.
Flower menggigit bibirnya lalu duduk di ranjang dengan frustasi. "Kirim orang saat hari Sabtu, kita akan selesaikan masalah ini saat sekolah libur"
"Baik nona!" Ucapnya sebelum pergi.
Flower berbaring menatap atap kamar nya dengan setengah wajah dengan lengannya. "Tidak akan kubiarkan Gate itu membahayakan nyawa Reyhan"
Sepetinya Flower sudah terobsesi dengan Reyhan saking pikiran dan hatinya hanya ada Reyhan.
....
Di penjara Jakarta Timur, Devan di penjara selama 1 bulan karena melakukan aksi kejahatan. Namun seperti orang yang ketahui jika waktu 1 bulan sangat singkat.
Namun itu bukan tanpa alasan, itu di sebabkan Devan adalah anak dari kepala sekolah terkenal dan top di Jakarta Timur. Jadi semua orang menghormati nya.
Kini Devan akan bertemu ayahnya di penjara, tak menunggu lama pintu terbuka dan sosok pria besar paruh baya dengan wajah kasar masuk. Devan langsung berdiri dengan gugup.
"Ayah, aku-
Plak!, suara tamparan keras terdengar dari dalam. Devan memegangi pipinya yang barusan di tampar dengan tak percaya. "Ayah maafkan aku, aku telah mempermalukan keluarga kita" ucapnya dengan kepala tertunduk.
Ayahnya hanya diam lalu berkata dengan dua tangan di belakang. "Jangan khawatir Devan, aku mantan jenderal militer Indonesia. Daniel Raymond tahu harus berbuat apa" matanya menyipit lalu kembali menunjuk Devan.
"Tapi ini semua tidak akan terjadi jika kau meniru perbuatan kakakmu!" Bentak Daniel.
Devan menggertakkan giginya. "Ya qyah, tapi aku sudah sudah kirim orang untuk balas dendam!"
Daniel mendengus sinis, ia keluar dari penjara. "Itu pun jika kau mampu, Devan" Daniel pergi dan pintu kembali di kunci.
Devan terdiam lalu memukul dinding dengan keras. "Orang itu selalubsaja membicarakan kakak, kenapa dia tak pernah membantuku!" Teriaknya. "Kenapa!" Teriaknya sekali lagi, namun matanya tiba-tiba memancarkan sinar merah dan pupil matanya berbentuk ular.
Ular besar di sekolah terbangun karena adanya reaksi dari wadahnya di tubuh manusia sekarang ular itu akan menunggu sampai Gate sempuna.
Pada keesokan harinya, Reyhan berangkat ke sekolah seperti biasa yaitu di antar Asuna dengan motor. Begitu tiba kelss sudah ramai seperti biasa, tapi Reyhan tidak menemukan Flower hanya ada Zahra.
Reyhan duduk di kursi lalu menatap sekeliling. "Jadi seperti ini jika seseorang uang yang dekat tiba-tiba tidak hadir membuat semuanya berubah"
[Sistem mendeteksi adanya ancaman iblis mendekat! Level iblis adalah level 5, harap host waspada]