5 perempuan dengan keturunan setengah Dewa Dewi yang sangat kuat dan darah mereka yang mengalir dengan kekuatan yang melumpuhkan dan petualangan yang akan mereka hadapi di negeri ajaib Euthopia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bsf10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Sejarah Rachel Brown
Rachel dibawa ke sebuah istana yang terletak di antara pertemuan samudera raksasa dan badai abadi.
Kerajaan Aquamarine-Aeolus
Kerajaan Aquamarine-Aeolus adalah sebuah konsep kerajaan yang menggabungkan dua elemen fundamental: Air (Aquamarine) dan Udara (Aeolus). Kerajaan ini biasanya disebut sebagai harmoni antara kedalaman samudra dan ketinggian langit, menciptakan ekosistem yang unik di mana batas antara laut dan cakrawala menjadi kabur.
Wilayah kerajaan ini tidak berpijak pada daratan padat, melainkan tersebar di antara kepulauan terapung dan kota bawah laut yang terhubung.
Dinding istana ini terbuat dari air laut yang dipadatkan hingga sekeras berlian namun tetap transparan. Di puncaknya, terdapat menara-menara perak yang menembus badai, di mana angin selalu berhembus menyanyikan lagu-lagu kuno.
Mereka tidak melihat air dan udara sebagai dua hal terpisah, melainkan satu kesatuan fluida.Keseimbangan adalah kunci. Jika air terlalu dominan, kerajaan akan tenggelam dalam kesunyian; jika udara terlalu kuat, mereka akan tercerai-berai dalam badai.
Rachel berdiri di balkon istana yang dindingnya terbuat dari air terjun yang mengalir ke atas. Di bawahnya, Samudera Aetheria membentang tanpa batas, sementara di atasnya, awan badai berputar dalam harmoni yang sempurna.
"Ibu... ini terlalu indah untuk menjadi nyata," bisik Rachel saat ia berjalan di atas air di dalam aula utamanya, sementara melihat lumba-lumba cahaya melompat di sela-sela pilar air yang mengalir.
Jesi Brown membelai rambut putrinya. "Dulu, saat kau masih kecil di Bumi dan kau sering menangis saat hujan badai, itu bukan karena kau takut, Rachel. Itu karena jiwamu merespons panggilan alam. Kau adalah keturunan Poseidon, penguasa kedalaman, dan Artemis, sang pemburu yang tak pernah meleset."
Ayah Rachel, Variz, melangkah "Dunia menganggap air itu lembut, Rachel. Tapi mereka lupa bahwa air bisa menghancurkan batu yang paling keras sekalipun. Dan angin? Angin adalah pembawa pesan sekaligus pembawa badai engkau mewarisi kemarahan badai dari Poseidon dan ketajaman insting berburu dari Artemis. Air dan angin adalah pelayanmu."
"Aku selalu merasa gelisah di Bumi, Pa," aku Rachel. "Seperti ada sesuatu yang selalu memanggilku dari balik horison."
"Itu adalah laut dalam dirimu," jawab Variz. "Sekarang, kau memiliki otoritas penuh. Kau bisa menenangkan badai dengan satu kata, atau memanggil ombak setinggi gunung untuk melindungi mereka yang kau cintai. Gunakan kekuatanmu dengan penuh belas kasih, seperti Artemis yang melindungi hutan, dan dengan kekuatan Poseidon yang menjaga samudera."
sebuah pusaran air kecil melayang secara vertikal, di dalamnya terdapat Trisula Perak yang mungil namun memancarkan aura luar biasa.
"Ambillah," ucap Jesi lembut. "Itu adalah identitasmu. Dengan itu, kau bisa memanggil hujan di padang pasir yang paling gersang atau membubarkan badai yang paling mematikan. Kau adalah Ratu dari Segala Cairan dan Udara."
Rachel mendekat. Saat jemarinya menyentuh pusaran air itu, air tersebut tidak membasahinya, melainkan menyatu ke dalam kulitnya. Ia merasakan kekuatan yang luar biasa—rasa dingin yang menyegarkan sekaligus dorongan angin yang kuat.
"Aku merasakannya, Pa, Ma," ucap Rachel dengan suara yang kini terdengar lebih berwibawa, namun tetap lembut. "Aku bukan lagi Rachel yang dulu takut akan petir. Aku adalah Rachel yang akan memeluk badai itu."
Variz sambil merangkul pundak putrinya. "Laut adalah suaramu, dan angin adalah nafasmu. Istana ini, dengan segala kemegahannya, hanyalah cangkang. Kekuatan yang sebenarnya ada pada dirimu yang mampu menyatukan dua elemen yang saling bertolak belakang."
Mereka memasuki Aula Utama yang disebut Hall of the Great Tides. Langit-langitnya tidak terbuat dari batu, melainkan pusaran air raksasa yang ditahan oleh sihir gravitasi, memperlihatkan ikan-ikan purba bersayap yang berenang di atas kepala mereka.
"Kau merasakan desiran di telingamu?" tanya ayahnya, Variz, yang berjalan di sampingnya dengan jubah perak yang berkibar ditiup angin abadi. "Itu adalah suara Aeolus, sang penguasa angin. Karena kau adalah keturunan Poseidon, laut akan menunduk padamu. Namun karena darah Artemis dan Aeolus yang mengalir di nadimu, angin akan menjadi sayapmu."
Rachel berjalan menuju balkon luas yang menghadap ke lembah. Ia mengangkat trisulanya ke arah langit, dan seketika itu juga, air terjun di bawahnya bersinar lebih terang, seolah-olah ikut merayakan kembalinya sang putri yang telah lama hilang.