NovelToon NovelToon
Iman Yang Tak Terbeli

Iman Yang Tak Terbeli

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Malolo

seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27: Takhta yang Terlupakan

Pukul 08:00 pagi. Cahaya matahari yang menyelinap di balik gorden ruang kerja Dave terasa seperti sorotan lampu panggung yang menuntut jawaban. Di atas meja jati besarnya, dua hal kontras terletak berdampingan: surat suara dewan komisaris yang akan menentukan pemecatannya, dan sebuah pesan singkat di ponselnya yang dikirim oleh nomor tak dikenal.

"Adikmu punya jadwal les matematika pukul 14:00, tapi kurasa dia akan terlambat hari ini. Pilihlah, Dave: Takhtamu di Mahesa Group, atau masa depan adik sekretaris kesayanganmu?"

Dave memejamkan mata, memijat pangkal hidungnya. Detak jantungnya tidak lagi berpacu karena ketakutan akan kehilangan harta, melainkan karena bayangan wajah Shafira jika sesuatu yang buruk menimpa Farhan. Baginya, Shafira adalah satu-satunya alasan ia masih ingin melihat hari esok. Menyakiti Shafira berarti memadamkan cahaya yang baru saja ia temukan di tengah kegelapan jiwanya.

"Rio," suara Dave terdengar parau melalui telepon satelitnya. "Batalkan kehadiranku di pembukaan rapat komisaris. Alihkan perhatian Wijaya. Katakan aku sedang menyiapkan dokumen pengunduran diri di rumah. Dan satu lagi... lacak sinyal ponsel Farhan dalam tiga menit. Jika kau gagal, jangan pernah muncul di depanku lagi."

Di sisi lain kota, Shafira berdiri di depan rumah sakit dengan perasaan tidak menentu. Farhan tidak menjawab teleponnya sejak tadi pagi. Biasanya, adiknya itu selalu mengirim pesan "Sudah sampai sekolah, Kak" tepat pukul 07:15. Kegelisahan itu membawanya kembali ke satu nama: Dave Mahesa.

Baru saja ia hendak menghubungi Dave, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depannya. Kaca jendela terbuka perlahan, menampilkan wajah Dave yang tampak pucat namun tetap berusaha terlihat tenang. Ada guratan kelelahan yang nyata di bawah matanya, namun sorot matanya saat menatap Shafira tetap penuh dengan perlindungan yang elegan.

"Masuklah, Shafira," ujar Dave.

"Pak Dave, ada apa? Rapat komisaris dimulai satu jam lagi, kenapa Bapak di sini?" tanya Shafira, suaranya bergetar.

"Farhan sedang bersamaku... maksudku, dia sedang dalam pantauan timku," Dave berbohong demi menenangkan Shafira, meskipun tangannya yang memegang kemudi bergetar hebat.

"Naiklah. Aku butuh bantuanmu untuk memastikan satu hal."

Selama perjalanan, keheningan di dalam mobil terasa sangat menyesakkan. Dave tidak lagi bicara soal bisnis. Ia memutar rekaman murottal yang pernah Shafira berikan padanya—sebuah upaya halus untuk menenangkan detak jantungnya sendiri dan menunjukkan pada Shafira bahwa ia benar-benar mencoba menyelami dunianya.

"Bapak berbohong, kan?" bisik Shafira tiba-tiba. Air mata mulai menggenang di sudut matanya.

"Farhan hilang. Wijaya mengambilnya untuk mengancam Bapak."

Dave menginjak rem perlahan di bahu jalan yang sepi. Ia menoleh, menatap Shafira dengan tatapan paling jujur yang pernah ia miliki. Ia melepaskan ikat pinggang pengamannya, namun tetap menjaga jarak suci mereka.

"Dia mengambil Farhan karena dia tahu aku mencintaimu, Shafira," suara Dave rendah, bergetar oleh emosi yang tertahan. "Dia tahu bahwa satu-satunya cara untuk membuatku berlutut bukan dengan mengambil hartaku, tapi dengan melihatmu menderita. Aku bersumpah demi nyawaku, aku akan membawa Farhan kembali padamu sebelum jam menunjukkan pukul 13:30. Tapi aku mohon... jangan membenciku karena duniaku yang kotor ini menyeretmu masuk."

Shafira tertegun. Kata "cinta" yang keluar dari mulut Dave tidak terdengar seperti rayuan pria kaya, melainkan seperti pengakuan dosa seorang pria yang sedang bertaruh nyawa. "Saya tidak membenci Bapak. Saya hanya takut... takut jika Bapak kembali menjadi pria yang menghalalkan segala cara demi kemenangan ini."

"Aku tidak akan menjadi pria itu lagi," janji Dave. "Karena pria itu tidak layak mendapatkan wanita sepertimu."

Pukul 11:45. Dave melacak keberadaan Farhan di sebuah gudang tua di pinggiran Jakarta Timur. Alih-alih membawa pasukan bersenjata, Dave datang sendiri dengan pengawalan Rio yang memantau dari jauh via drone. Ia masuk ke dalam gudang dengan langkah tegak, jas mahalnya yang basah karena keringat dingin tetap ia kenakan dengan rapi—sebuah simbol martabat yang tak tergoyahkan.

Di sana, Pak Wijaya duduk dengan santai di atas tumpukan peti kayu, sementara Farhan terikat di kursi di belakangnya.

"Kau terlambat untuk rapatmu, Dave," ejek Wijaya. "Para komisaris sedang menunggumu untuk menyerahkan mahkotamu."

"Ambil mahkota itu, Wijaya," sahut Dave dingin. Ia melemparkan sebuah tas berisi dokumen kepemilikan saham mayoritas pribadinya ke lantai. "Aku sudah menandatanganinya. Pindahkan semuanya ke namamu, tapi lepaskan anak itu sekarang."

Wijaya terkejut. Ia tidak menyangka Dave akan menyerahkan miliaran rupiah hanya untuk seorang remaja dari keluarga tukang kebun. "Kau gila? Hanya demi sekretaris itu? Kau bisa mendapatkan seribu wanita seperti dia dengan uang ini!"

"Kau salah," Dave melangkah maju, sorot matanya tajam seolah bisa menembus jantung Wijaya.

"Uang ini bisa dicari kembali, tapi martabatku sebagai pria yang melindungi orang yang dicintainya tidak akan pernah bisa dibeli. Kau menang secara finansial, tapi kau baru saja membuktikan bahwa kau adalah pecundang yang paling menyedihkan karena harus menggunakan anak kecil untuk melawan aku."

Saat Wijaya memeriksa dokumen tersebut, tim keamanan Dave yang sudah menyusup melalui atap bergerak cepat melumpuhkan anak buah Wijaya. Dalam hitungan detik, Farhan berhasil dibebaskan. Dave segera menghampiri Farhan, namun ia berhenti tepat sebelum menyentuh anak itu, membiarkan Rio yang melepaskan ikatannya. Dave tahu, ia harus menjaga trauma Farhan dan juga kehormatan keluarga Shafira.

"Bawa dia pulang ke kakaknya," perintah Dave pada Rio.

"Lalu Bapak? Rapat itu..."

"Aku akan kembali ke kantor. Bukan untuk mempertahankan takhta, tapi untuk menyelesaikan urusan dengan iblis ini," ujar Dave sambil menunjuk Wijaya yang kini pucat pasi karena menyadari bahwa dokumen yang dilempar Dave hanyalah dokumen pengalihan aset yang sudah dibekukan secara hukum sebelumnya.

Pukul 13:15. Gedung Mahesa Group tampak mencekam. Para komisaris sudah bersiap melakukan pemungutan suara terakhir. Pak Wijaya masuk dengan terengah-engah, mencoba mengklaim kemenangannya, namun ia tertegun melihat Dave sudah duduk di kursinya dengan wajah yang sangat bersih dan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.

Dave berdiri, menatap seluruh anggota dewan. "Sebelum kalian memberikan suara, silakan lihat layar ini."

Dave menampilkan rekaman CCTV dan audio penyanderaan Farhan yang dilakukan Wijaya. Ruangan itu mendadak riuh dengan kemarahan para pemilik saham. Integritas perusahaan adalah segalanya, dan apa yang dilakukan Wijaya adalah tindakan kriminal yang menjijikkan.

"Saya tidak peduli jika kalian ingin memecat saya karena masalah pribadi saya," suara Dave bergema dengan wibawa yang luar biasa. "Tapi saya tidak akan membiarkan perusahaan yang dibangun ayah saya dipimpin oleh seorang kriminal. Detik ini juga, polisi sedang menjemput Pak Wijaya di lobi."

Di tengah kekacauan itu, Dave melihat jam tangannya. 13:28.

Ia segera berlari keluar dari ruang rapat, mengabaikan teriakan para komisaris yang kini justru memohonnya untuk tetap menjabat. Dave menuruni tangga darurat karena lift terasa terlalu lambat. Ia harus menepati janjinya.

Pukul 13:30 tepat.

Shafira berdiri di lobi yang luas itu, menggenggam tasbihnya dengan erat. Ia baru saja menerima telepon dari Farhan yang mengatakan bahwa ia sudah aman bersama Ibu di rumah sakit. Air mata syukur mengalir di pipinya. Namun, hatinya tetap tertuju pada pintu lift, menanti seorang pria yang telah mempertaruhkan segalanya demi adiknya.

Pintu tangga darurat terbuka. Dave muncul dengan napas tersengal-sengal. Jasnya sudah ia lepaskan, kemeja putihnya yang mahal tampak kusut dan basah oleh keringat. Ia berhenti tepat tiga langkah di hadapan Shafira. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini berantakan, namun di matanya, ada binar kemenangan yang jauh lebih indah daripada angka-angka saham.

"Aku... aku menepati janjiku," bisik Dave di tengah deru napasnya.

Shafira tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia melangkah maju satu langkah—sebuah langkah yang melanggar batasannya sendiri demi menunjukkan betapa berartinya tindakan Dave baginya.

"Pak Dave... Bapak terluka?" tanya Shafira sambil menatap goresan kecil di dahi Dave.

Dave tersenyum, sebuah senyum paling tulus yang pernah dilihat Shafira. "Luka ini adalah medali terbaik yang pernah aku miliki, Shafira. Hari ini aku kehilangan sebagian besar pengaruhku di dewan, aku mungkin bukan lagi CEO yang ditakuti semua orang..."

"Bapak adalah pahlawan bagi Farhan," potong Shafira lembut. "Dan bagi saya... Bapak adalah pria yang akhirnya menemukan jalan pulang ke hatinya sendiri."

Dave menatap Shafira dengan penuh kerinduan. Ia ingin sekali merengkuh wanita itu, namun ia tetap diam di tempatnya, menghormati kesucian hubungan yang sedang mereka bangun.

"Apakah ini artinya... aku boleh terus menunggumu di lobi setiap pukul 13:30?"

Shafira menunduk, pipinya merona merah. "Bapak tidak perlu menunggu di lobi lagi."

Jantung Dave seolah berhenti. "Maksudmu?"

"Temuilah Ayah saya di rumah sakit besok pagi," ujar Shafira pelan namun mantap. "Bicaralah padanya sebagai seorang pria, bukan sebagai CEO. Jika Ayah mengizinkan... maka jalan itu akan selalu terbuka untuk Bapak."

Dave merasa dunianya yang dulu runtuh kini digantikan oleh sebuah kerajaan baru yang jauh lebih megah: harapan. Di tengah hiruk pikuk lobi Mahesa Group, di tengah sisa-sisa badai pengkhianatan, dua jiwa itu berdiri saling menatap, menyadari bahwa perjuangan cinta mereka baru saja memasuki babak yang paling indah.

Namun, di balik pilar lobi, seorang pria misterius berpakaian serba hitam sedang mengambil foto mereka berdua. Ia mengirimkan foto itu kepada seseorang yang berada di dalam sel penjara.

Pesan terkirim: "Target sudah masuk dalam perangkap emosional. Rencana 'Pembersihan' dimulai besok."

1
Siti Naimah
gila si Dave..masak memanggil orang tua cuman sebut nama .moga aja segera bertobat tidak songong lagi
Novita Sari
saudara kembar bersatu....
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
semangat thor, tambah seru..
.
Meghawati: menegangkan
total 1 replies
Novita Sari
Alhamdulillah thor update banyak terimakasih thor n semangat 💪💪💪
Meghawati: selalu semangat
total 1 replies
Novita Sari
dave ada saudara, lanjut thor....
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
lanjut thor...
Meghawati: lanjuuut
total 1 replies
Novita Sari
astaghfirullah bu sarah udah mau mati gak sadar sadar..
Meghawati: hahaha belum dapat hidayah
total 1 replies
Novita Sari
jangan liat dari masa lalu safira 😭😭😭😭 Alhamdulillah update banyak terimakasih thor, semangat 💪💪💪💪
Meghawati: terimakasih supportnya
total 2 replies
Novita Sari
semangat dave safira
Meghawati: terimakasih
total 1 replies
Siti Naimah
keren Shafira 👍
Meghawati: matap
total 1 replies
Novita Sari
jangan jangan dave bukan anak kandung bu sarah
Meghawati: jahat banget
total 1 replies
Novita Sari
terus berjuang di jalan Allah Safira..
Meghawati: aamiin
total 1 replies
Novita Sari
tambah seru, ditunggu kebucinan dave sama safira thor
Meghawati: lanjut
total 1 replies
Novita Sari
terus berkarya thor, cerita nya bagus..
Novita Sari
cerita bagus,..
Meghawati: makasih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!