Raka adalah pria yang selalu menunda banyak hal dalam hidupnya pekerjaan, keputusan, bahkan perasaannya sendiri.
Bagi Raka, semua selalu bisa dilakukan nanti. Selalu ada waktu. Selalu ada alasan untuk berkata, “ya mungkin besok.”
Namun semuanya berubah ketika Lala, seorang perempuan yang sederhana, jujur, dan penuh keberanian, masuk ke dalam hidupnya. Lala bukan hanya membuat Raka tertawa, tapi juga perlahan memaksanya menghadapi hal yang selama ini ia hindari: keputusan tentang cinta dan masa depan.
Ketika masa lalu Raka kembali muncul dan keraguan mulai menguji hubungan mereka, Raka harus memilih—tetap menjadi orang yang selalu menunda, atau akhirnya berani mengatakan “hari ini.”
Sebuah kisah komedi romantis hangat tentang cinta, keraguan, dan keberanian untuk tidak lagi menunggu besok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Budiarto Consultant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan yang Tertunda Lagi
Pagi itu langit di Yogyakarta tampak cerah. Matahari bersinar lembut, tidak terlalu panas, seolah memberi kesempatan bagi siapa pun untuk memulai sesuatu yang baru.
Termasuk bagi Raka.
Atau… setidaknya mencoba.
Raka duduk di meja kerjanya di kantor PT Seribu Sungai Membangun, menatap layar laptop yang sebenarnya sudah ia buka sejak satu jam lalu. Tapi bukan pekerjaan yang ia pikirkan.
Melainkan Nadia.
Sudah beberapa hari sejak kejadian di taman kota waktu itu. Saat Nadia hampir mengatakan sesuatu… lalu mereka malah diganggu tukang balon yang menjual balon berbentuk dinosaurus.
Momen yang seharusnya romantis berubah jadi… absurd.
Raka menghela napas panjang.
"Kenapa sih setiap mau serius selalu ada gangguan?" gumamnya.
Di sebelahnya, Doni menoleh sambil menyeruput kopi.
"Apa lagi yang kau pikirkan? Dunia belum kiamat, kan?"
Raka menatapnya datar.
"Lebih parah."
"Apa?"
"Aku mau nembak Nadia."
Doni langsung tersedak kopi.
"BATUK! BATUK! Apa?!"
Beberapa orang di kantor menoleh.
Doni menatap Raka seperti melihat panda bisa nyetir motor.
"Kau? Nembak Nadia?"
"Kenapa? Aneh?"
"Sangat."
"Kenapa sangat?"
Doni menghela napas panjang.
"Karena kau orang paling suka menunda yang pernah aku kenal. Kau bahkan pernah menunda bayar parkir sampai petugasnya ganti shift."
"Itu strategi."
"Itu malas."
Raka bersandar di kursinya.
"Tapi kali ini serius."
Doni menyipitkan mata.
"Serius?"
"Iya."
"Kapan?"
Raka berpikir sebentar.
Lalu berkata dengan santai,
"Mungkin… besok."
Doni langsung menutup wajahnya dengan tangan.
"Ya Tuhan."
Sore harinya, Raka pulang kerja lebih awal. Entah kenapa ia merasa harus melakukan sesuatu hari ini.
Ia berjalan ke sebuah kafe kecil yang sering ia datangi.
Dan seperti takdir yang suka bercanda…
Nadia sudah ada di sana.
Duduk di dekat jendela.
Membaca buku.
Raka berhenti di pintu.
Deg.
Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
"Kenapa dia selalu kelihatan cantik ya…" gumamnya pelan.
Ia menarik napas.
"Oke Raka. Ini kesempatan."
Ia berjalan mendekat.
"Nadia."
Nadia menoleh.
Wajahnya langsung tersenyum.
"Eh. Raka."
"Sendiri?"
"Iya. Lagi baca."
Raka duduk di depannya.
Pelayan datang.
"Seperti biasa, Mas?"
Raka mengangguk.
"Iya."
Setelah pelayan pergi, mereka terdiam beberapa detik.
Lalu Nadia berkata,
"Kau kelihatan aneh."
"Kenapa?"
"Seperti orang yang mau ujian."
Raka tertawa gugup.
"Mungkin."
Nadia menutup bukunya.
"Ada yang mau kau katakan?"
Pertanyaan itu seperti menekan tombol merah di otak Raka.
Ini dia.
Momen itu.
Sekarang.
Bukan besok.
Bukan nanti.
Sekarang.
Raka menelan ludah.
"Aku sebenarnya…"
Tiba-tiba ponselnya bergetar.
Doni menelepon.
Raka menatap layar.
Menghela napas.
Ia menolak panggilan itu.
"Kau tadi mau bilang apa?" tanya Nadia.
Raka membuka mulut.
"Aku sebenarnya sudah lama…"
TIBA-TIBA—
Pintu kafe terbuka keras.
"RAKA!"
Seorang pria masuk dengan wajah panik.
Itu Bayu.
Teman lama mereka.
Raka menatapnya bingung.
"Bayu?"
Bayu berlari mendekat.
"Kalian di sini!"
Nadia mengerutkan dahi.
"Ada apa?"
Bayu langsung duduk di kursi kosong.
"Aku dalam masalah besar."
Raka memijat pelipisnya.
"Tolong jangan sekarang."
Bayu menatap mereka berdua.
"Lho? Kalian lagi kencan?"
Raka menjawab cepat,
"TIDAK."
Nadia menjawab bersamaan,
"Mungkin."
Mereka saling menatap.
Hening.
Bayu mengangkat alis.
"Oke ini aneh."
Raka menghela napas.
"Ada apa?"
Bayu terlihat panik.
"Aku dijodohkan."
Raka berkedip.
"...itu masalah?"
"Iya!"
"Kenapa?"
"Karena orang tuaku bilang aku harus menikah tahun ini!"
Nadia tertawa kecil.
"Masalah klasik."
Bayu menunjuk mereka.
"Kalian harus bantu aku."
Raka menyipitkan mata.
"Bantu apa?"
Bayu menarik napas.
"Jadi… aku bilang ke orang tuaku kalau aku sudah punya pasangan."
Raka mulai curiga.
"Lalu?"
Bayu menunjuk Nadia.
"Dan aku bilang… pacarku Nadia."
Hening.
Sunyi.
Bahkan mesin kopi kafe terdengar lebih keras dari biasanya.
Raka perlahan menoleh ke Nadia.
Nadia menatap Bayu.
Lalu berkata dengan suara sangat tenang,
"Apa?"
Bayu menelan ludah.
"Maaf."
Raka menatap langit-langit.
"Kenapa hidupku selalu jadi sinetron?"
Nadia menyilangkan tangan.
"Kau bercanda?"
Bayu menggeleng cepat.
"Orang tuaku akan datang ke kota ini… besok."
Raka langsung tertawa.
"Bagus."
Bayu mengangguk.
"Iya bagus—"
Raka menunjuk Nadia.
"Dan kau pikir dia akan pura-pura jadi pacarmu?"
Bayu menatap Nadia dengan mata memohon.
"Sebentar saja."
Nadia menatapnya.
Kemudian menoleh ke Raka.
"Menurutmu?"
Raka langsung menjawab,
"JANGAN."
Bayu langsung memohon lagi.
"Tolong."
Nadia tampak berpikir.
Beberapa detik.
Lalu ia berkata,
"...baiklah."
Raka hampir jatuh dari kursinya.
"Apa?!"
Nadia tersenyum santai.
"Ini menarik."
Raka menatapnya tidak percaya.
"Menarik?!"
Bayu langsung bersinar seperti lampu 1000 watt.
"TERIMA KASIH!"
Raka menunjuk dirinya sendiri.
"Lalu aku apa?"
Nadia menatapnya dengan senyum kecil.
"Kau?"
"Iya aku."
"Kau bisa jadi… pengamat."
Raka menutup wajahnya.
"Ini mimpi buruk."
Nadia tertawa.
"Tenang saja."
Raka menatapnya.
"Tenang bagaimana?"
Nadia berkata pelan,
"Ini cuma pura-pura."
Raka menatapnya lama.
Entah kenapa… ada sesuatu yang terasa aneh di dadanya.
Seperti ada sesuatu yang tidak ia sukai dari rencana ini.
Tapi ia tidak tahu apa.
Atau mungkin…
Ia sebenarnya tahu.
Dan takut mengakuinya.
Raka akhirnya menghela napas panjang.
"Lakukan saja."
Nadia tersenyum.
"Makasih."
Bayu berdiri.
"Oke! Kita harus latihan!"
Raka menatapnya.
"Latihan apa lagi?"
Bayu menjawab serius,
"Latihan jadi pasangan."
Raka memijat pelipisnya lagi.
"Saya resign saja."
Malam itu, Raka pulang ke rumah dengan perasaan yang aneh.
Ia duduk di balkon kosnya.
Menatap lampu-lampu kota.
Lalu bergumam pelan.
"Aku harusnya bilang tadi."
Ia menghela napas.
"Ya mungkin…"
Ia menatap langit.
"...besok."
Padahal…
Besok justru akan membuat semuanya jauh lebih rumit.
.