"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.
Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.
Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua jalan
“Pilihan pertama,” suara makhluk itu bergema, bergetar di permukaan danau perak layaknya dentang lonceng katedral yang retak.
“Kau bisa menyelamatkan Seila. Ia akan bernapas kembali, jantungnya akan kembali memompa kehidupan. Namun, ada harga yang harus kau bayar dari kepingan jiwamu.
Gadis itu akan melupakanmu sepenuhnya. Eksistensimu akan dihapus dari memorinya seolah kau hanyalah debu yang tak pernah menyentuh kulitnya. Sama, seperti yang dahulu...
Dan sebagai, sebuah bayaran atas keseimbangan... Margarette harus lenyap. Bukan hanya mati, tapi namanya akan dihapus dari catatan dunia. Tak akan ada satu pun manusia yang mengingat dirinya pernah berpijak di bumi, bahkan kau pun akan kehilangan kenangan tentangnya.”
“Atau pilihan kedua,” lanjut makhluk itu. Matanya kini berkilat dengan cahaya yang mengerikan. Sebuah pendar yang mengingatkan pada api neraka yang membeku.
“Kau bisa menyelamatkan mereka berdua. Tapi, kau harus merangkak kembali ke dalam neraka ini. Sebuah neraka yang akan membuat hidupmu yang sekarang terlihat seperti surga yang indah dibandingkan apa yang menantimu.”
Makhluk itu terdiam sejenak, membiarkan angin danau yang sedingin es menerpa wajah Andersen yang kuyu, seolah ingin membekukan sisa air mata di sana.
“Titik kembalimu akan ditarik jauh ke belakang, memberimu kesempatan untuk mengubah segalanya."
"Namun ingat, kali ini penderitaan itu akan berlipat ganda. Batinmu akan disiksa oleh ingatan tentang kegagalan ini, dan ragamu akan merasakan perih yang tak akan pernah sembuh oleh waktu."
"Kau akan terjebak dalam siklus penderitaan yang mungkin tak memiliki ujung, sebuah tarian abadi di atas mata pisau.”
Keheningan kembali menyelimuti mereka, sebuah kesunyian yang begitu pekat hingga suara detak jantung Andersen yang lemah terdengar seperti dentum palu di ruang hampa.
Pasir putih di sekelilingnya seolah ikut membeku, menahan napas kolektifnya demi menunggu sebuah jawaban yang akan mengubah konstelasi takdir.
Pilihan itu bukan lagi tentang sekadar hidup atau mati. Hal ini adalah tentang seberapa dalam seorang pria sanggup menenggelamkan jiwanya ke dalam palung penderitaan demi menebus senyuman orang-orang yang ia sayangi.
“Apakah semua ini adalah salahku?” bisik Andersen. Suaranya parau, nyaris habis dimakan oleh keheningan dimensi yang rakus.
“Apa maksud dari semua ini?.. Mengapa kedua pilihanmu tetap bertujuan untuk menyiksa diriku? Mengapa tidak ada jalan yang menawarkan kedamaian tanpa syarat?...”
Ia mendongak, menatap kehampaan langit kelabu dengan mata yang memerah dan lebam oleh duka. Pandangannya mencari celah di cakrawala, namun ia hanya menemukan kekosongan yang dingin.
“Mengapa... aku tidak mengerti sama sekali. Apa dosaku hingga semesta begitu gemar melihatku hancur berkeping-keping, lalu memaksaku menyatukan kepingan itu hanya untuk dihancurkan kembali?...”
“Arghhhh! Apa yang sebenarnya bisa kulakukan!”
Teriakan itu pecah, namun Andersen segera menutup matanya rapat-rapat, seolah ingin menjahit kelopak matanya agar dunia luar tak lagi bisa masuk.
Ia berusaha keras mengusir bayangan raga Margarette yang hancur di bawah beban besi dan wajah Seila yang perlahan tertelan oleh putihnya kebekuan salju. Namun, memori bukanlah sesuatu yang bisa diusir dengan kegelapan.
Di balik kelopak matanya, kenangan itu justru memproyeksikan diri dengan lebih tajam. Sebuah layar bioskop pribadi yang terus memutar tragedi yang sama tanpa henti.
Andersen menyungkur, menjatuhkan harga dirinya ke atas Tempat yang asing. Ia membenamkan kedua telapak tangannya ke dalam pasir putih. Sensasi yang, seolah ingin menyerap sisa panas kehidupan dari tubuhnya.
“Apakah aku bisa tinggal di sini saja?” rintihnya pelan, suaranya kini tak lebih dari sebuah desis hampa.
“Aku tidak ingin kembali... Aku tidak ingin memilih.”
Ia memohon untuk sebuah keajaiban yang menyedihkan. keinginan untuk menghilang dalam keheningan danau ini, luruh menjadi butiran debu tak bernama yang tak perlu memikul beban takdir.
Baginya, keabadian dalam kehampaan jauh lebih manis daripada kembali ke dunia nyata untuk menjadi pion dalam permainan catur semesta yang ia sendiri tidak pernah mengerti aturannya.