Seri ke-satu
Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.
Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terimakasih Thalia
Clara dan Thalia menghabiskan waktu di taman bermain. Thalia yang penuh energi terus mengajak Clara berkeliling, menyeretnya dari satu permainan ke permainan lainnya. Tak pernah berhenti berbicara, energi Thalia seakan tak ada habisnya. Di sisi lain, Clara yang biasanya lebih pendiam, hanya mengikutinya, membiarkan dirinya terlarut dalam kegembiraan yang jarang ia rasakan. Tanpa sadar, Clara sejenak melupakan dunia kelamnya, larut dalam tawa dan keceriaan.
Namun, tiba-tiba suasana itu berubah saat Clara duduk diam di sebuah bangku, menatap kosong ke ruang terbuka di depannya. Kenangan lama datang kembali tanpa permisi dan merasuki pikirannya.
Kenangan itu muncul lagi, begitu jelas.
Noel berdiri di depannya, berdehem pelan sambil menunduk, tampak sedikit ragu.
Clara, yang berdiri di hadapannya, mengerutkan kening, merasa ada yang berbeda dengan sikap Noel kali ini.
“Ada apa? Ayo kita pulang, ini sudah terlalu larut,” ucap Clara dengan suara lembut, sedikit khawatir.
Noel menatapnya dalam-dalam, seolah ingin mengatakan sesuatu yang penting. Lalu, ia mengulurkan setangkai bunga lilac dengan hati-hati, menawarkan bunga itu seperti sebuah janji.
Clara tersenyum, menerima bunga itu. “Terima kasih,” ucapnya tulus.
Noel menatap Clara dengan penuh perasaan. “Clara,” ucapnya perlahan, suara serak. “Seperti bunga lilac yang aku berikan ini, kamu adalah cinta pertamaku. Aku ingin terus menjagamu, mencintaimu, dan menyayangimu. Kamu mau jadi pacarku?”
Clara tertegun, mulutnya terbuka sedikit, tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
“Apa pun jawabanmu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu,” Noel menambahkan dengan penuh keyakinan, menunggu respons Clara.
Clara hanya bisa mengangguk kecil. Tak tahu harus berkata apa, perasaannya pun bercampur aduk. Namun, saat itu juga, senyum tipis mulai terbentuk di wajahnya. Akhirnya, setelah beberapa detik hening, Clara mengangguk pelan.
“Iya, El, aku mau. Aku mau jadi pacarmu,” jawab Clara dengan tulus, senyum lebar terpancar di wajahnya.
Wajah Noel seketika berseri, matanya menyala dengan kebahagiaan yang tulus. Dia menggenggam tangan Clara, berjalan berdua menuju pintu keluar taman bermain, menghadap dunia yang penuh janji.
“Ayo, kita bersama sampai akhir,” ucap Noel, menggenggam tangan Clara dengan lembut.
Tanpa sadar, air mata mulai menetes di pipinya. Ia merasa seolah-olah sedang menyaksikan drama yang tak bisa ia hentikan.
Sudah bertahun-tahun berlalu, tapi rasa sakit hatinya tak pernah hilang, meskipun ia berusaha kuat. Clara tahu bahwa ia harus melanjutkan hidup, tapi luka lama itu terus mengganggunya.
Dari jarak tak terlalu jauh Thalia yang sedang membawa minuman melihat Clara duduk diam dengan tatapan kosong.
“Aku mungkin tidak tahu beban apa yang kau tanggung, tapi aku yakin kamu kuat, Clar,” batin Thalia, perasaan khawatir menggelayuti pikirannya.
Thalia menghampiri Clara setelah melihat Clara mengusap wajahnya dengan ujung lengan baju, mencoba menyembunyikan air mata yang jatuh. Thalia kemudian duduk di sampingnya dan menyerahkan minuman dingin rasa jeruk.
“Gila, antrianku tadi diserobot emak-emak" cerocos Thalia, mencoba mencairkan suasana dengan ceria.
Clara tersenyum kecil, merasa sedikit lebih ringan mendengar kelakarnya.
"Terus dia bilang anakku haus mbak" lanjut Thalia dengan mencontohkan gaya bicara emak-emak tadi.
“Terus, kamu kasih?” tanya Clara singkat, sedikit penasaran.
“Ya enggak lah! Tenggorokan ku udah jadi padang pasir gini,” jawab Thalia dengan gaya dramatis.
Clara hanya menanggapi dengan senyum tipis.
Clara melirik layar ponselnya “Sudah jam sembilan malam,”
Thalia yang melihat jam tangannya sedikit terkejut. “Wah iya, gak kerasa. Ayo kita pulang,” katanya, setengah terburu-buru.
Clara sebenarnya sudah berniat turun di halte terdekat karena rumah mereka berbeda arah, tetapi Thalia tetap ngotot ingin mengantarkannya sampai rumah.
“Ini Thal, uang tiket dan makanannya,” ucap Clara sambil menyerahkan dua lembar uang merah.
Thalia mengangkat alis, tidak terima. “Mana ada yang berulang tahun keluar duit! Udah simpan aja. Kapan-kapan traktir aku deh,” jawabnya dengan cemberut, mencoba bersikeras.
Clara tidak enak, tapi mengingat sifat Thalia yang keras kepala, ia akhirnya mengurungkan niatnya untuk berdebat.
“Ini hadiah ulang tahun dariku,” kata Thalia sambil menyerahkan sebuah kado kecil yang dibungkus dengan kertas warna-warni.
Clara menghela napas, merasa sedikit bingung. Ia memandang kado itu, lalu dengan hati-hati menerima pemberian Thalia.
“Sudah, ambil aja,” Thalia memaksa dengan senyuman lebar.
“Terima kasih untuk hari ini, Thal,” ucap Clara tulus.
Thalia tersenyum lebar, matanya bersinar penuh perhatian. “Clar, kalau kamu punya cerita apapun itu, kamu bisa cerita sama aku. Kita sudah satu tahun berteman, dan aku ingin kamu tahu kalau aku di sini untuk kamu.”
Clara terdiam, terkejut dengan pernyataan Thalia yang serius. Thalia yang biasanya ceria kini terlihat begitu tulus dan peduli.
“Wah, tunggu... tunggu... kamu nganggep aku teman, kan?” dalam sekejap gaya bicara nya langsung berubah menjadi tengil, membuat Clara tertawa pelan.
Clara hanya bisa tersenyum melihat sikap Thalia yang penuh warna, seperti bunglon yang bisa berubah suasana hati dengan cepat.
Selepas kepulangan Thalia, Clara membersihkan dirinya, lalu kini duduk diam di meja belajarnya. Pandangannya tertuju pada kado pemberian Thalia yang sejak tadi tergeletak di sana. Ia menatapnya lama, seolah butuh waktu untuk mengumpulkan keberanian, sampai akhirnya tangannya terulur pelan.
Clara menarik pita yang membungkus kado itu dengan hati-hati. Kertas warna-warni terbuka perlahan, menampakkan sebuah kotak jam tangan bermerek. Ia membuka kotak tersebut. Sebuah jam tangan mewah berwarna krem terpasang rapi di dalamnya. Di samping jam itu, terselip sebuah surat kecil yang dilipat dengan sederhana.
Clara meletakkan kembali kotak jam itu di atas meja, lalu jemarinya beralih pada surat tersebut. Ia membukanya perlahan.
Hai Clara yang cantik meskipun masih cantikan aku hehe di tambah emoticon lucu membuat Clara terkekeh membayangkan wajah Thalia.
Selamat ulang tahun, kamu suka kan kado dariku? Awas ya kalo gak dipakai, aku bakalan ngambek tujuh hari tujuh malam!
Clara, aku sengaja memberikan kamu jam tangan agar kamu selalu ingat bahwa waktu akan terus berjalan bukan mundur ataupun berhenti. Aku juga ingin kamu menyadari bahwa dirimu sangat berharga disetiap detiknya, orangtuamu di surga pasti sangat ingin melihat dirimu bersemangat setiap memulai hari baru, sama halnya seperti mereka yang semangat saat menunggu kelahiranmu ke dunia ini.
Kamu harus tahu Clar, waktu tidak akan pernah menunggu siapapun. Bukan orang yang sedang sedih, bukan orang yang terluka, dan bahkan bukan orang yang sedang berusaha kuat.
Ia akan tetap berjalan, membawa hari baru, matahari baru, dan kemungkinan baru entah kamu siap atau tidak.
Aku nggak minta kamu melupakan masa lalu. Aku tahu itu bagian dari dirimu.
Tapi jangan biarkan masa lalu mengurungmu di satu titik yang sama, sementara hidup terus melangkah jauh di depan.
Jadi kalau suatu hari kamu merasa lelah...lihat jam ini.
Bukan untuk mengingat apa yang sudah hilang, tapi untuk mengingat bahwa kamu masih di sini, masih diberi waktu dan masih pantas untuk bahagia.
Dengan atau tanpa siapa pun.
Dan ingat, kamu nggak sendirian.
Kalau dunia terasa terlalu berat, aku ada di sini. Aku akan terus menjadi temanmu sampai kapanpun.
—Thalia
Hati Clara seolah remuk setelah membaca surat dari Thalia. Air matanya luruh tanpa bisa ditahan, mengalir deras membasahi pipinya. Tangisnya pecah, tertahan namun tergugu, sementara kedua lengannya memeluk surat itu erat-erat, seakan takut kehilangan kata-kata yang baru saja menyentuh bagian paling rapuh dalam dirinya.
Ia tak pernah menyangka, ketulusan sebesar itu datang dari seseorang yang selama ini hanya ia anggap sebagai teman biasa. Clara selalu menjaga jarak, hidup dalam dunianya sendiri, tanpa sadar ada seseorang yang memperhatikannya sedalam ini.
Isi surat itu, sedikit demi sedikit, mengguncang kesadarannya tentang hidup.
“Benar… apa kata kamu, Thal,” gumamnya lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh tangis. “Orang tuaku pasti akan sedih…”
Tangisnya semakin kencang ketika kalimat itu meluncur dari bibirnya.
“Mereka pasti kecewa meninggalkan anaknya yang terus terpuruk,” lanjutnya, suaranya pecah, dipenuhi rasa sesal yang selama ini ia pendam sendiri.