Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.
Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Pelukan Hangat
Keesokan harinya, seperti yang telah Arga katakan, ia akan mencari cincin pernikahan bersama Vara.
Setelah selesai makan siang, Arga dan Vara segera menuju toko perhiasan ternama di pusat perbelanjaan paling eksklusif di kota itu.
Sebelum berangkat, Vara memilih menunggu Arga di luar gedung perusahaan. Ia tidak ingin menimbulkan kecurigaan di antara karyawan. Untung saja Nita tidak banyak bertanya pagi tadi, meskipun tatapannya jelas menyimpan rasa penasaran.
Mobil melaju membelah jalanan kota yang padat di siang hari. Matahari bersinar terik, memantulkan cahaya pada kaca-kaca gedung tinggi. Kendaraan berderet di lampu merah, suara klakson sesekali terdengar, dan pejalan kaki berlalu-lalang di trotoar dengan langkah tergesa.
Di dalam mobil, suasana terasa hening.
“Kamu kenapa? Seperti sedang memikirkan sesuatu,” tanya Arga tiba-tiba. “Apa kamu tidak yakin dengan pernikahan ini?”
Vara tersentak kecil. “Bukan begitu, Tuan. Saya hanya bingung harus berkata apa pada Nita. Sepertinya dia sudah mulai curiga.”
Arga menatap lurus ke depan. “Kalau begitu, kamu tidak usah masuk kerja dulu sampai pernikahan kita selesai.”
Vara terdiam, menimbang usul itu.
Benar juga… untuk sementara memang lebih baik aku tidak masuk kerja, batinnya.
“Setelah ini kita langsung pulang,” lanjut Arga tenang.
“Saya ikut Tuan saja,” jawab Vara akhirnya.
Tak lama kemudian mereka tiba di pusat perbelanjaan. Sebelum turun dari mobil, Arga mengenakan masker hitam yang biasa ia pakai jika berada di tempat umum.
Kenapa dia pakai masker? Apa dia malu terlihat berjalan denganku? pikir Vara sekilas.
“Ayo masuk,” ucap Arga.
Melihat ekspresi Vara, Arga menambahkan, “Aku memakai masker supaya kamu tidak dalam bahaya.”
Vara terdiam. Lalu mengangkat bahunya cepat.
Mereka masuk dan berjalan beriringan. Entah karena langkah Arga yang panjang atau karena ia terbiasa berjalan cepat, Vara harus sedikit berlari kecil agar tidak tertinggal.
“Tuan, jalannya bisa pelan sedikit tidak?” ucap Vara setelah berhasil menyamai langkahnya.
Arga memperlambat langkah.
“Nah, begini kan lebih baik,” gumam Vara pelan.
Arga menoleh sekilas dan tersenyum kecil.
Saat tiba di ditempat yang dituju. mereka disambut ramah oleh seorang pelayan.
“Ada yang bisa kami bantu, Tuan?” sapanya sopan.
“Saya ingin mengambil cincin pesanan saya beberapa hari lalu, atas nama Arga,” ujar Arga tenang.
“Baik, Tuan. Mohon tunggu sebentar,” jawab pelayan itu sebelum bergegas mengambil pesanan yang dimaksud.
Vara tertegun.
"Sudah dipesan sejak kapan?" batinnya. Tapi Vara tidak berniat untuk bertanya.
Tak lama kemudian, pelayan kembali sambil membawa sebuah kotak beludru mewah berwarna gelap.
“Ini pesanan Anda, Tuan,” ucapnya sopan sambil menyerahkan kotak tersebut.
Arga membukanya perlahan, memeriksa isinya sejenak, lalu memutar kotak itu menghadap Vara.
“Bagaimana? Kamu suka?” tanya Arga.
Mata Vara langsung membulat. Di dalam kotak itu terbaring sepasang cincin yang tampak sangat elegan. Desainnya sederhana namun berkelas. Cincin pria terbuat dari emas putih dengan garis tipis platinum di tengahnya, sementara cincin wanita dihiasi berlian kecil yang tersusun halus membentuk lambang hati.
Di bagian dalam masing-masing cincin terukir nama mereka, Arga dan Vara lengkap dengan tanggal pernikahan mereka.
“Tuan… ini pasti sangat mahal,” ucap Vara pelan. Ia cukup paham bahwa perhiasan seperti itu bukan barang sembarangan.
“Aku tidak bertanya soal harga,” jawab Arga. “Aku bertanya kamu suka atau tidak.”
Sebagai wanita, tentu saja Vara menyukainya. Cincin itu tidak berlebihan, tetapi memancarkan kesan mewah dan bermakna.
“Saya suka, Tuan,” jawab Vara lirih.
“Coba pakai,” ujar Arga.
Ia mengambil cincin wanita dan dengan tenang memasangkannya pada jari manis Vara.
Jantung Vara berdebar tak karuan saat cincin itu meluncur perlahan dan berhenti pas di jari manisnya. Seolah memang dibuat khusus untuknya.
“Pas,” ucap Arga singkat.
Vara hanya bisa menatap cincin itu dengan perasaan campur aduk takjub, gugup, dan tak percaya.
Setelah proses administrasi selesai, mereka sepakat untuk langsung pulang.
Namun tanpa mereka sadari, saat hendak keluar dari butik, dua pasang mata memperhatikan dari kejauhan.
“Itu kan Vara,” bisik Sisil.
“Mana?” tanya Kiran.
“Itu, yang barusan keluar dari toko perhiasan itu.”
Kiran menyipitkan mata, mencoba melihat lebih jelas. “Mana mungkin. Kamu salah lihat kali. Toko itu menjual perhiasan mahal, bukan sembarang orang bisa masuk. Tidak mungkin orang seperti Vara belanja di sana.”
Namun entah mengapa, hatinya merasa tidak tenang.
Jangan-jangan benar yang Sisil lihat tadi…
“Ayo pulang,” ucap Karin tiba-tiba.
“Loh? Katanya mau jalan. Kita baru saja sampai,” protes Sisil.
“Aku mau pulang. Kalau kalian masih mau jalan, silakan saja,” jawab Karin singkat.
Mood-nya sudah hancur sejak Sisil mengatakan melihat Vara keluar dari toko perhiasan itu. Meski Karin berusaha menyangkal, bayangan itu terus mengganggu pikirannya.
“Ya sudah, ayo kita pulang saja,” ujar Sisil akhirnya.
Kalau tahu begini, lebih baik aku diam tadi, batin Sisil menyesal.
“Kamu sih pakai bilang segala,” bisik Dinda pelan pada Sisil.
“Aku kan tidak tahu bakal jadi begini, Din,” jawab Sisil pelan.
Sepanjang perjalanan pulang, Karin lebih banyak diam. Begitu mobil berhenti di depan rumah, ia langsung turun dan masuk dengan wajah masam.
Serli yang sedang bersantai di ruang keluarga mengernyit melihat ekspresi putrinya. Ia segera menyusul Karin yang langsung masuk kamar.
“Karin, kamu kenapa, Sayang? Pulang-pulang kok cemberut. Kamu bertengkar dengan Jansen?” tanya Serli khawatir.
“Bukan, Ma. Tadi waktu aku dan teman-teman sampai di mal, Sisil bilang dia melihat Vara keluar dari toko perhiasan ternama,” ucap Karin kesal.
Serli terdiam, cukup terkejut.
“Ah, mungkin Sisil salah lihat. Mana mungkin Vara bisa masuk ke toko seperti itu?” Serli berusaha menenangkan.
“Aku juga berpikir begitu, Ma. Tapi tetap saja aku kepikiran. Kemarin waktu aku makan malam dengan Jansen, aku juga melihat wanita itu bersama temannya. Dia terlihat baik-baik saja… bahkan bahagia,” keluh Karin.
Serli menyipitkan mata, ia berpikir.
“Memangnya dia kerja apa sekarang sampai bisa hidup seperti itu? Tidak mungkin dia diterima di perusahaan. Siapa yang mau menerima dia?” ucap Serli sinis.
Keduanya terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
“Atau jangan-jangan…” ucap Karin pelan.
Serli menoleh. Tatapan mereka bertemu. Pikiran mereka sama.
“Jangan-jangan dia jadi wanita simpanan,” lanjut Karin.
“Bisa jadi,” sahut Serli membenarkan.
“Sudahlah, biarkan saja. Yang penting dia sudah tidak di sini lagi,” lanjut Serli malas membahasnya. “Kamu jaga baik-baik hubunganmu dengan Jansen. Jangan sampai dia bertemu Vara. Bisa-bisa dia tergoda.”
Karin mengangkat dagu. “Mama tenang saja. Tidak akan aku biarkan hal itu terjadi.”
Namun jauh di dalam hatinya, ada rasa tidak nyaman yang sulit ia abaikan.
---
Sementara itu, suasana di rumah Arga jauh berbeda.
Vara sedang menemani Luna mengerjakan tugas sekolah. Hari ini Luna mendapat tugas menempel potongan kertas sesuai warna dan gambar.
“Yeay, sudah selesai!” seru Vara ceria. “Luna pintar sekali.”
“Iya dong, Tante. Apalagi yang ngajarin Tante,” jawab Luna bangga.
Vara tersenyum lalu mengelus rambut Luna. “Sekarang dibereskan, setelah itu tidur ya.”
“Iya, Tante. Luna juga sudah ngantuk,” jawab Luna sambil merapikan alat tulisnya.
Tak lama kemudian Melani menghampiri mereka.
“Luna, malam ini tidur dengan Bi Rina ya. Nenek mau bicara dengan Tante Vara sebentar,” ucap Melani lembut.
Luna mengangguk patuh.
“Selamat malam, Nek,” ucap Luna sambil memeluk Melani.
“Selamat malam, Sayang. Jangan begadang,” balas Melani.
Luna lalu memeluk Vara. “Selamat malam, Tante. Jangan ke mana-mana ya.”
Vara tersenyum hangat. “Selamat malam, Luna. Tidur yang nyenyak.”
Setelah Luna pergi, suasana menjadi hening sejenak.
Melani duduk lebih dekat pada Vara.
“Vara, apa kamu sudah memberi tahu keluarga bibimu tentang pernikahan ini?” tanya Melani pelan.
Vara menggeleng. “Belum, Ma.”
Melani tersenyum lembut, lalu menggenggam tangan calon menantunya.
“Tidak apa-apa, Sayang. Mama mengerti. Ada atau tidaknya keluarga bibimu, kamu tetap menjadi menantu Mama. Mulai sekarang kamu punya kamu punya kami. Kamu tidak sendiri, dan jangan pernah bersedih lagi.”
Ucapan itu menghantam pertahanan hati Vara.
Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan.
“Ma… Vara boleh peluk?” ucapnya lirih.
“Tentu saja, Sayang.”
Melani langsung memeluk Vara erat, mengusap punggungnya dengan lembut. Pelukan itu hangat, pelukan yang selama ini tidak pernah Vara rasakan.
Melani membiarkan Vara menangis sampai hatinya lebih tenang.
Beberapa saat kemudian, tangis Vara mereda.
“Terima kasih, Ma… sudah mau menerima Vara.”
“Sama-sama, Sayang. Mulai sekarang kamu anak Mama. Mama jamin, tidak ada satu pun yang boleh menyakiti kamu lagi.”
Vara mengangguk pelan.
Ia memang sengaja tidak memberi tahu keluarga bibinya. Ia tahu betul seperti apa sifat mereka. Jika sampai tahu, bukan tidak mungkin mereka akan datang membuat masalah, bahkan mencoba memanfaatkan keadaan untuk mendekati keluarga Arga.
Tidak.
Kali ini Vara bertekad ia tidak akan membiarkan masa lalunya merusak kebahagiaannya, dan akan mempertahankan milikinya. Sudah cukup lama ia mengalah.