NovelToon NovelToon
Dua Kesayangan CEO Dingin

Dua Kesayangan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ra za

Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.

Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Sama Saja

Arga memacu mobilnya menembus sunyi malam. Jalanan lengang membuatnya bisa melaju lebih cepat dari biasanya. Pikirannya masih dipenuhi bayangan serangan mendadak tadi. Sayatan kecil di tangan kirinya terasa perih, tetapi tidak seberapa dibandingkan rasa lega karena transaksi berjalan lancar. Dan ia dan anggotanya berhasil mengalahkan musuh.

Begitu mobil memasuki halaman rumah, napas Arga terasa lebih ringan.

Rumah itu kembali menyambutnya dengan keheningan.

Arga melangkah masuk dengan hati-hati. Ia mengintip ke kamar. Vara masih terlelap, wajahnya tampak damai di bawah cahaya lampu tidur yang redup.

Senyum tipis terukir di bibir Arga.

Ia tidak langsung masuk ke kamar. Arga memilih menuju kamar tamu untuk membersihkan diri. Luka kecil di tangannya ia bersihkan dengan antiseptik, lalu membalutnya rapi agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Setelah yakin tidak ada bekas yang mencolok, Arga kembali ke kamar. Ia berbaring perlahan di samping Vara, meraih tubuh istrinya ke dalam pelukannya seperti biasa. Arga ingin kembali memejamkan mata, sebelum fajar menyingsing.

Beberapa saat kemudian, Vara menggeliat pelan. Kelopak matanya terbuka perlahan.

Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Arga yang terlelap di sisinya. Lengan pria itu melingkar sempurna di pinggangnya, hangat dan menenangkan.

Vara tersenyum dan tanpa sadar. Tangannya terangkat, menyentuh rahang tegas Arga dengan lembut.

Kenapa dengan perasaanku ini? batinnya.

Apakah aku sudah mulai memiliki rasa padanya? Tapi… kenapa secepat ini?

Tatapannya tak lepas dari wajah suaminya. Ada ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Dengan hati-hati, Vara mengangkat lengan Arga dari pinggangnya agar tidak membangunkannya, lalu bangkit menuju kamar mandi.

Begitu pintu kamar mandi tertutup, Arga membuka matanya.

Ternyata sejak tadi ia sudah terjaga.

Senyumnya mengembang saat tangannya menyentuh rahang yang tadi dielus Vara.

“Jadi kamu mulai merasa sesuatu, ya…” gumamnya pelan.

Seperti biasa, setelah bersiap, Vara membantu menyiapkan keperluan Arga.

Arga sudah selesai mandi dan mengenakan setelan kerjanya yang rapi. Ia mengenakan pakaian dengan cepat, karena tidak ingin vara melihat goresan pada lengan nya. Kini tinggal satu hal yang selalu menjadi momen kecil diantara mereka, memakaikan dasi.

Vara berdiri di hadapan Arga, tangannya terampil merapikan simpul dasi.

“Sepertinya kamu sudah tidak gugup lagi,” ujar Arga sambil melingkarkan tangannya di pinggang Vara.

Vara mendongak, tersenyum tipis.

“Tentu. Ini sudah menjadi tugasku.”

“Benarkah hanya karena tugas?” bisik Arga pelan, membuat jantung Vara berdebar.

Vara pura-pura tidak mendengar. Ia merapikan kerah kemeja Arga.

“Sudah selesai. Ayo kita turun.”

Arga tersenyum kecil. Ia menikmati perubahan kecil pada istrinya, tidak lagi canggung, tidak lagi menjaga jarak sejauh dulu.

Seperti hari-hari sebelumnya mereka tiba di perusahaan bersama. Kini Vara sudah terbiasa dengan tatapan penasaran para karyawan. Ia berjalan dengan langkah tenang di samping Arga. Tidak ada lagi rasa kikuk seperti hari-hari awal kebersamaan mereka

“Pagi, Nita. Pagi semuanya,” sapa Vara ramah.

“Pagi, Vara,” jawab Nita dan beberapa karyawan lain serempak.

Nita memperhatikan wajah Vara dengan seksama.

“Kelihatannya pagi ini kamu bahagia sekali. Apa ada sesuatu, ya?” tanya Nita curiga.

Vara tersenyum ringan.

“Masa, sih? Rasanya biasa saja.”

Namun rona di pipinya berkata lain.

Saat Nita hendak bertanya lebih jauh, Vara cepat-cepat menyela.

“Aku mau langsung melanjutkan pekerjaan ku. Hari ini pekerjaanku banyak sekali.” Vara segera menyalakan komputer nya tanpa menoleh lagi pada Nita.

“Hmm… mencurigakan,” gumam Nita pelan sambil tersenyum jahil. Ia berusaha menahan rasa penasaran nya akibat perubahan sikap teman nya ini.

Saat sedang fokus bekerja, tiba-tiba Vara merasa perutnya tidak nyaman. Ia menghentikan ketikan tangannya.

“Aku ke toilet sebentar,” ucapnya singkat.

“Kamu mau ke mana, Ra?” tanya Nita yang tidak mendengar ucapan Vara tadi.

“Ke toilet,” jawab Vara tanpa menoleh,

Ia berjalan cepat menyusuri lorong kantor yang sepi karena sebagian karyawan masih berada di ruang kerja masing-masing. Suara langkah sepatunya menggema pelan di lantai marmer.

Vara masuk ke toilet wanita. Kosong. Tidak ada siapa pun di dalam. Ia menghela napas lega.

Setelah selesai, ia segera keluar untuk kembali bekerja.

Namun langkahnya terhenti.

Seorang pria berdiri tepat di depan pintu toilet.

Jantung Vara berdegup keras. Lorong itu sepi. Hanya ada dirinya dan pria tersebut.

“Pak Reza… kenapa Anda di sini? Bukankah ini area khusus wanita?” tanya Vara, berusaha tetap tenang meski rasa takut mulai merayapi dadanya.

Reza tersenyum miring. Tatapannya tidak seperti biasanya, tidak lagi sopan dan bersahabat. Ia melangkah mendekat perlahan.

“Kenapa, Vara? Kelihatannya kamu tidak nyaman,” ujarnya santai.

“Anda mau apa, Pak?” suara Vara mulai terdengar tegang.

“Kamu tidak perlu bersikap polos begitu. Aku tahu kamu dekat dengan Tuan Arga. Kau selalu bersamanya. Aku pikir kau berbeda dari gadis-gadis lain… ternyata sama saja.”

“Apa maksud Anda? Apa yang Anda katakan saya tidak mengerti,” tanya Vara berusaha tenang.

Reza tertawa pelan.

“Kau tidak mengerti?” Ia kembali melangkah mendekat. “Kau sama saja dengan wanita murahan yang menggoda atasan. Bedanya, kau mulai dari keponakannya dulu, lalu berhasil mendekati Tuan Arga.”

Wajah Vara memucat. “Pak Reza, itu tidak seperti yang Anda pikirkan. Saya tidak pernah menggoda Tuan Arga.”

“Kau pikir aku percaya? Aku melihat sendiri kalian datang dan pulang bersama. Makan siang bersama. Kau kira orang-orang tidak memperhatikan?” suara Reza semakin rendah, namun penuh tekanan.

Vara mundur selangkah demi selangkah. Punggungnya hampir menyentuh dinding.

“Kau tahu, Vara,” lanjut Reza, nada suaranya berubah lebih gelap, “aku menyukaimu. Aku ingin memilikimu. Tapi melihat kau begitu dekat dengan Tuan Arga… kau menghancurkan harapanku.”

Vara menelan ludah.

“Tapi tak apa,” lanjutnya lagi. “Aku yakin kau mendekati Tuan Arga hanya demi standar hidupmu. Dan aku juga bisa memberimu itu. Mungkin aku tidak sekaya dia… tapi aku jamin aku bisa memuaskanmu.”

Setiap kalimat yang Reza ucapkan menggema dalam kepala Vara. Ucapan Reza barusan membuat Vara merasa terhina.

“Aku bukan seperti wanita yang kau pikirkan, aku dekat dengan tuan Arga bukan berarti aku wanita murahan." Nafas Vara naik turun menahan amarahnya.

"Menarik, aku semakin ingin memiliki mu melihat mu seperti ini." Suara Reza terdengar menyeramkan ditelinga Vara.

Gila! Jangan mendekat, Pak! Saya akan berteriak!” ancam Vara dengan suara gemetar, tapi berusaha tegas.

Reza tersenyum mengejek. “Aku yakin kau tidak akan melakukannya. Karena kau juga menginginkannya, bukan?”

Rasa takut berubah menjadi marah. Vara tidak menyangka pria yang selama ini terlihat sopan ternyata menyimpan sisi seburuk ini.

Vara hendak membuka mulut untuk berteriak, melihat gelagat Vara Reza segera mengangkat tangan nya untuk membekap mulut gadis itu.

Namun sebelum tangan Reza menyentuhnya, sebuah tangan lain tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Reza dari belakang dengan sangat kuat.

“jauhkan tanganmu kotor mu itu.”

Suara itu terdengar rendah, dan dingin.

Reza membeku.

Perlahan ia menoleh. Seketika matanya membulat sempurna.

1
erviana erastus
akhirnya 🤭🤭🤭🤭🤭
erviana erastus
apakah itu ortunya julia? hhhhmmmmm 🤔🤔🤔🤔
erviana erastus
nggak lama giliran kalian 🤣 ganggu aza terus vara
erviana erastus
satu mslh selesai tinggal satu mslh dr pihak vara
erviana erastus
satu keluarga tolol pingin kaya dgn cara instan tinggal tunggu satu orang lg yg blm ditangkap 🤣
Evi Lusiana
kok mnggil suaminy lgsg nama,lbih baik lg klo ganti dgn mas,hubby,ato kak
Evi Lusiana
kok vara gk mint waktu tuk berpikir y lgsg iya in aj
Evi Lusiana
mampus kau julia
Evi Lusiana
💪vara
Evi Lusiana
emng d rmh arga gk da cctv
Evi Lusiana
emng rmhny gk ada cctv ny
erviana erastus
habis kali ini kau julia
erviana erastus
mampus kau julia 🤭
erviana erastus
julia lagi blm kapok kalo blm sekarat 😏😏😏😏
erviana erastus
lalat satu ini kapan dibasmix, arga apa kamu nunggu vara terluka dulu baru kamu bertindak
erviana erastus
cari mslh si reza jd orang tenang2 aza apa?
merry
ia pgl om ikutan pglnn Luna 😄😄😄 biasa knn bgtuu ibu iktinn ank ya pgl om kcuali dblkng ank br pgl nama 😄😄😄
Ranasela
seruu banget kakm😍
erviana erastus
pasti si julia
erviana erastus
batas cinta ya om 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!