Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
Lalu datanglah Mori.
Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Bau keringat dan sisa energi dari lapangan basket tadi masih terasa saat anak-anak kelas 10-B berhamburan masuk ke kelas. Mori sudah rapi. Dia adalah orang pertama yang selesai ganti baju, rambut hitamnya sudah dikuncir kuda dengan pita biru yang baru, dan buku paket Fisika tebal sudah terbuka di atas mejanya.
Bagi Mori, Fisika adalah tempat perlindungan. Hukum alam itu pasti, tidak seperti perasaan atau kelakuan cowok red flag yang nggak bisa diprediksi. Dia suka rumus, dia suka logika, dan dia suka ketenangan saat Bu Lastri mulai menjelaskan tentang Hukum Newton.
Namun, ketenangannya hancur saat Lian masuk. Cowok itu nggak ganti baju olahraga secara lengkap; dia cuma memakai kemeja seragam yang nggak dikancing, memamerkan kaos dalam hitamnya yang masih sedikit lembap. Dia duduk di bangku belakang dengan gaya santai, kaki diselonjorkan ke depan, dan mata gelapnya langsung mengunci punggung Mori.
"Oke, semuanya perhatikan papan tulis," suara Bu Lastri yang melengking memecah suasana. "Siapa yang bisa mengerjakan soal resultan gaya di depan ini? Ini soal dasar, tapi butuh ketelitian."
Mori sebenarnya ingin maju, tapi dia menahan diri. Dia nggak mau terlihat terlalu ambisius di depan teman-temannya yang masih kecapekan.
"Lian! Dari tadi Ibu liat kamu senyum-senyum sendiri. Maju ke depan, kerjakan soal ini!" perintah Bu Lastri tegas.
Satu kelas langsung bersorak. "Mampus lo, Li!" teriak Jojo dari belakang.
Lian nggak panik. Dia justru berdiri dengan gaya cool, berjalan ke depan kelas dengan langkah santai yang bikin beberapa siswi menahan napas. Dia mengambil spidol dari tangan Bu Lastri, tapi bukannya melihat soal di papan tulis, dia malah menghadap ke arah bangku penonton—tepatnya ke arah Mori.
Lian menyandarkan pinggulnya di meja guru, melipat tangan di dada, lalu dengan sangat berani... dia mengedipkan satu matanya ke arah Mori sambil tersenyum miring.
"Bu, soalnya gampang banget. Tapi saya butuh 'inspirasi' biar otaknya jalan," kata Lian lantang, matanya nggak lepas dari Mori yang sekarang sudah memegang pulpennya erat-erat sampai jarinya memutih.
Mori bener-bener ingin tenggelam ke bawah lantai. Dia bisa merasakan hawa panas menjalar ke pipinya. Ini cowok bener-bener nggak punya urat malu ya?! pikir Mori emosi.
Aksi Lian barusan nggak cuma bikin Mori salah tingkah, tapi juga bikin suasana kelas jadi panas karena alasan lain. Di barisan pinggir, Alina menatap Mori dengan mata yang menyipit tajam. Tangannya sibuk memilin ujung rambutnya, tapi sorot matanya jelas menunjukkan rasa benci.
Alina nggak terima perhatian Lian teralihkan secara terang-terangan ke cewek lain, apalagi cewek "lempeng" kayak Mori. Dia menatap Mori dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan ekspresi menghina, seolah ingin bilang, "Lo nggak selevel sama gue, jangan kecentilan."
Mori sadar dia sedang dikuliti oleh tatapan Alina. Dia mendengus pelan, memilih untuk tetap menatap buku paketnya daripada meladeni drama yang nggak penting.
"Lian! Jangan main-main! Cepat kerjakan!" tegur Bu Lastri sambil memukul meja dengan penggaris kayu.
Lian tertawa kecil, dia membalik badan ke papan tulis, tapi cuma coret-coret nggak jelas. Bukannya nulis rumus, dia malah nulis nama "Mori" kecil di pojok papan tulis yang langsung dia hapus lagi pake tangan.
"Aduh Bu, saya lupa rumusnya. Kayaknya otak saya cuma penuh sama variabel lain," kata Lian sambil kembali menoleh ke belakang. Dia terang-terangan menatap Mori yang sedang berusaha fokus mencatat.
Bu Lastri bukan guru kemarin sore. Beliau menyadari arah pandangan Lian yang terus-terusan mengarah ke satu titik. Beliau membetulkan letak kacamatanya, lalu mengikuti arah mata Lian.
"Mori," panggil Bu Lastri tiba-tiba.
Mori tersentak. "I-iya, Bu?"
"Ibu perhatikan dari tadi Lian ini sepertinya sangat terganggu dengan kehadiran kamu. Atau mungkin dia butuh bimbingan khusus dari ahlinya," Bu Lastri tersenyum penuh arti yang bikin satu kelas makin heboh. "Maju ke depan. Bantu Lian kerjakan soal ini. Kalau Lian nggak bisa jawab setelah kamu kasih tau caranya, Lian harus berdiri di depan kelas sampai jam pelajaran saya selesai."
Mori menghela napas pasrah. Dia berdiri, berjalan melewati barisan bangku dengan kepala tegak, mencoba mempertahankan harga dirinya. Saat dia sampai di depan papan tulis, dia berdiri di samping Lian.
Lian langsung mendekat, memperkecil jarak di antara mereka. Bau parfum maskulinnya kembali menyerang indra penciuman Mori.
"Gue sengaja biar lo maju," bisik Lian rendah, hanya bisa didengar oleh Mori. "Soalnya kalau lo duduk di sana, gue nggak bisa liat muka lo sedekat ini."
Mori nggak nengok. Dia mengambil spidol lain, lalu dengan gerakan cepat dan cerdas, dia menuliskan langkah-langkah pengerjaan soal itu dengan sangat rapi.
"Ini rumusnya. Lo tinggal masukin angka yang udah ada di soal. Jangan males," ketus Mori tanpa melihat Lian.
"Gue nggak males, Mor. Gue cuma lagi terdistraksi sama variabel X yang ada di sebelah gue sekarang," balas Lian sambil tersenyum tipis, kali ini senyumnya kelihatan lebih tulus, tapi tetep aja bikin Mori ilfeel.
"Selesaikan, atau lo berdiri di sini sampe jam istirahat," ancam Mori pelan sebelum dia berbalik untuk kembali ke bangkunya.
Saat Mori berjalan kembali ke mejanya, dia harus melewati meja Alina. Alina sengaja menjulurkan kakinya sedikit ke jalan, mencoba menjegal Mori. Tapi Mori yang punya radar tajam langsung menghindar dengan elegan, seolah dia sudah memprediksi hal itu.
Mori duduk di bangkunya, hatinya dongkol setengah mati. Pelajaran Fisika yang harusnya menyenangkan jadi berantakan gara-gara kelakuan Lian yang makin ugal-ugalan.
Di depan, Lian akhirnya mengerjakan soal itu (tentu saja dengan benar, karena sebenarnya dia pinter tapi cuma males aja). Begitu selesai, dia bukannya langsung duduk, tapi malah hormat ke arah Mori sebelum balik ke bangkunya di belakang.
"CIEEE! CIeee!" sorakan satu kelas pecah lagi.
Bu Lastri cuma geleng-geleng kepala. "Sudah, sudah! Lian, kamu duduk! Mori, terima kasih sudah membantu 'anak nakal' satu ini."
Mori cuma mengangguk kaku. Dia bisa merasakan tatapan Lian masih menempel di punggungnya, dan tatapan benci Alina masih menusuk dari samping.
"Gue harus bener-bener menjauh dari cowok ini," batin Mori. "Lian itu bukan cuma red flag, dia itu bencana alam buat ketenangan hidup gue."
Tapi di satu sisi, Mori nggak bisa bohong kalau kejadian di lapangan olahraga tadi dan jarak yang sangat dekat di depan kelas barusan, bikin jantungnya sedikit nggak sinkron dengan logikanya.