Pernikahan rahasia. Ciuman terlarang. CEO dingin yang jatuh pada gadis tomboy.
Benny, seorang CEO yang anti wanita dan memilih hidup sendiri, terpaksa menikah dengan Cessa—putri sahabatnya yang berusia delapan belas tahun. Pernikahan mereka dimulai sebagai kontrak penuh aturan: tanpa cinta, tanpa sentuhan, tanpa perasaan.
Namun satu ciuman menghancurkan segalanya.
Tinggal serumah membuat batasan runtuh, kecemburuan tumbuh, dan hasrat berubah menjadi dosa. Saat Cessa mencintai tanpa ragu, Benny justru berperang dengan prinsip, moral, dan ketakutan terbesarnya: jatuh cinta pada wanita yang seharusnya tak boleh ia miliki.
Ini bukan kisah cinta yang aman.
Ini kisah tentang memilih perasaan… atau menghancurkan hidup sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiisan kasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
“Bukti yang Tidak Bisa Disangkal”
Tiga hari setelah konferensi pers.
Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.
Bukan karena takut.
Bukan karena marah.
Tapi karena mereka berdua tahu—
ini belum selesai.
Cessa sedang membaca di ruang tengah ketika ponselnya bergetar.
Email masuk.
Subjeknya singkat.
Ini yang Terakhir.
Ia tidak langsung membuka.
Namun notifikasi kedua muncul hampir bersamaan di ponsel Benny.
Mereka saling menatap.
“Buka bareng,” kata Cessa pelan.
Benny mengangguk.
Mereka duduk berdampingan.
Klik.
File terbuka.
Sebuah rekaman CCTV dari hotel bisnis.
Tanggalnya… tiga bulan lalu.
Sebelum audit.
Setelah mereka resmi menikah.
Video memperlihatkan Benny masuk ke sebuah kamar hotel.
Sendiri.
Lima menit kemudian—
Diana terlihat keluar dari kamar yang sama.
Jantung Cessa terasa berhenti.
Video berhenti.
Tidak ada konteks.
Tidak ada suara.
Hanya gambar yang terlalu jelas untuk disalahartikan.
Benny membeku.
“Itu—” suaranya hilang.
Cessa tidak berbicara.
Ia memutar ulang.
Masuk.
Lima menit.
Diana keluar.
Benny keluar dua menit setelahnya.
Sunyi.
---
“Cessa,” Benny akhirnya bersuara, “aku bisa jelaskan.”
Cessa menatapnya.
“Jelaskan,” katanya pelan.
Benny menarik napas dalam.
“Itu pertemuan darurat,” katanya cepat. “Klien asing. Diana mediator. Mereka minta tempat privat.”
“Di kamar hotel?” tanya Cessa datar.
“Suite meeting,” jawab Benny. “Hotel itu tidak punya ruang kecil yang aman. Itu bukan—”
“Kenapa aku tidak tahu?” potong Cessa.
Benny terdiam.
“Karena aku tidak menganggapnya penting,” jawabnya jujur. “Itu hanya bisnis.”
Cessa berdiri perlahan.
“Lima menit,” katanya pelan. “Kenapa dia keluar duluan?”
Benny memijat pelipisnya.
“Karena klien datang terlambat. Dia keluar untuk telepon.”
“Dan kamu?”
“Aku tetap di dalam.”
Sunyi.
Cessa menatap layar lagi.
Video itu memang tidak menunjukkan apa pun yang eksplisit.
Tapi cukup untuk membuat orang percaya.
Pesan masuk menyusul.
> Kali ini bukan masa lalu.
Ini saat kamu sudah menikah.
Masih mau percaya?
Cessa memejamkan mata.
Ini bukan lagi soal dunia.
Ini soal hatinya.
“Tatap aku,” ucap Benny pelan.
Cessa menatapnya.
“Aku tidak menyentuhnya,” kata Benny tegas. “Aku tidak berselingkuh.”
“Kenapa kamu tidak pernah bilang ada pertemuan di hotel?” tanya Cessa.
“Karena itu tidak berarti apa-apa.”
“Itu berarti bagiku,” jawab Cessa lirih.
Benny terdiam.
Dan di situlah letak jarak yang belum sepenuhnya hilang.
Benny sudah berubah.
Tapi ia masih belajar transparansi.
“Kalau aku tidak dapat video ini,” kata Cessa pelan, “aku tidak akan pernah tahu.”
Benny menunduk.
“Aku salah karena menganggap itu tidak penting,” katanya.
“Bukan karena kamu pergi ke hotel,” lanjut Cessa. “Tapi karena kamu memilih tidak cerita.”
Benny mengangguk pelan.
“Aku takut kamu salah paham.”
“Aku lebih takut dibohongi lewat diam,” jawab Cessa.
Sunyi panjang.
Di luar rumah, suara mobil wartawan mulai terdengar lagi.
Video itu sudah bocor ke forum gosip.
Narasi mulai terbentuk:
CEO dan Mantan Tunangan di Hotel Setelah Menikah
Cessa melihat notifikasi media sosialnya meledak.
Benny berdiri, rahangnya mengeras.
“Aku akan rilis rekaman penuh CCTV,” katanya.
“Kalau ada,” jawab Cessa.
Benny terdiam.
Itulah masalahnya.
Rekaman hanya dari lorong.
Tidak ada dari dalam.
“Kalau dunia percaya kamu berselingkuh?” tanya Cessa pelan.
Benny menatapnya.
“Aku hanya peduli apakah kamu percaya,” jawabnya.
Cessa terdiam.
Ia ingin percaya.
Ia tahu versi Benny sekarang berbeda.
Tapi gambar itu nyata.
Dan luka lama tentang tameng belum sepenuhnya sembuh.
Ponsel Cessa bergetar lagi.
Pesan terakhir hari itu.
> Cinta tidak hancur karena dunia.
Cinta hancur karena ragu.
Dan ragu sudah masuk ke matamu.
Cessa menatap layar—lalu menatap Benny.
Ada sesuatu di dadanya.
Bukan kebencian.
Bukan juga kehilangan cinta.
Tapi… kelelahan.
“Aku tidak mau mengambil keputusan saat aku goyah,” ucap Cessa pelan.
Benny menahan napas.
“Aku butuh satu hal darimu,” lanjut Cessa.
“Apa saja,” jawab Benny cepat.
“Jangan defensif. Jangan marah. Jangan menuduh.”
Benny mengangguk.
“Aku ingin kamu jujur sampai titik paling tidak nyaman,” kata Cessa.
Benny mendekat satu langkah.
“Waktu itu,” katanya pelan, “aku memang masih belum sepenuhnya lepas dari cara lamaku menutup hal-hal kecil.”
Cessa terdiam.
“Tapi aku tidak mengkhianatimu,” lanjut Benny. “Aku tidak pernah menyentuhnya lagi sejak kita menikah.”
Cessa menatapnya lama.
Ia tidak melihat kepanikan.
Ia tidak melihat kebohongan.
Ia melihat… ketakutan kehilangan.
“Kalau aku butuh waktu lagi?” tanya Cessa pelan.
Benny menelan ludah.
“Aku tetap di sini,” jawabnya.
Cessa mengangguk.
Bukan pergi.
Bukan tinggal dengan penuh keyakinan.
Tapi berdiri di tengah.
Dan kali ini… jaraknya terasa nyata.
Di sisi lain kota, pelaku anonim tersenyum.
“Sekarang kita lihat,” gumamnya, “apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan keraguan.”
Folder kosong.
Semua kartu sudah dimainkan.
Yang tersisa… hanya pilihan.
Video hotel bocor.
Bukan masa lalu—tapi setelah menikah.
Cessa belum pergi.
Namun untuk pertama kalinya… ragu benar-benar hidup di antara mereka.*