NovelToon NovelToon
Aku Memilih Diam

Aku Memilih Diam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.

On Going || Tayang setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 03 Di Bawah Tatapan

Pagi itu, suasana kantor terasa berbeda.

Aruna bisa merasakannya bahkan sebelum ia duduk di meja kerjanya. Percakapan yang biasanya terdengar biasa kini berhenti terlalu cepat. Tatapan-tatapan yang biasanya netral berubah menjadi singkat dan hati-hati. Beberapa orang menunduk saat Aruna lewat, seolah keberadaannya tiba-tiba menjadi sesuatu yang harus dihindari.

Ia menyalakan komputernya, membuka email.

Satu undangan rapat internal.

Satu notifikasi audit lanjutan.

Dan satu pesan singkat dari divisi SDM.

Aruna membaca semuanya tanpa perubahan ekspresi. Namun dadanya terasa mengencang perlahan. Amplop cokelat dari Calvin tadi malam tergeletak di dalam tasnya—belum ia buka. Ia menundanya, seolah dengan begitu kenyataan bisa ikut tertunda.

“Aruna.”

Ia menoleh. Rina, rekan satu divisinya, berdiri ragu di samping meja.

“Kamu dipanggil Pak Calvin lagi?” tanya perempuan itu pelan, hampir berbisik.

Aruna menggeleng. “Tidak.”

“Oh.” Rina tersenyum tipis, canggung. “Soalnya… katanya kamu yang pegang investigasi.”

Kata katanya terdengar lebih berat dari seharusnya.

“Resmi belum diumumkan,” jawab Aruna singkat.

Rina mengangguk, lalu pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Dari sudut matanya, Aruna melihat dua orang lain saling pandang. Tidak lama kemudian, salah satu dari mereka membuka ponsel.

Berita selalu menyebar lebih cepat daripada kebenaran.

Saat jam makan siang tiba, Aruna memilih tetap di meja. Ia membuka amplop cokelat itu untuk pertama kalinya. Di dalamnya, ada dokumen penunjukan resmi dan daftar nama—orang-orang yang akan diperiksa dalam investigasi ini.

Nama pertama membuat napasnya tertahan.

Nama kedua membuat jemarinya mengeras.

Dan nama ketiga… membuatnya menutup map itu perlahan.

Ia mengenal mereka semua.

Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar. Nomor internal kantor.

“Aruna,” suara Calvin terdengar begitu ia mengangkatnya. “Naik ke ruanganku. Sekarang.”

Tidak ada nada mendesak, tapi Aruna tahu itu bukan permintaan.

Di ruang direktur, Calvin sudah menunggu. Kali ini ia tidak berdiri di dekat jendela. Ia duduk di balik meja, kedua tangannya terlipat, ekspresinya tak terbaca.

“Kau sudah membuka amplopnya,” katanya, bukan bertanya.

“Sudah.”

“Dan?”

Aruna menarik napas. “Nama-nama itu akan menimbulkan reaksi.”

“Reaksi memang diperlukan,” balas Calvin. “Aku ingin tahu siapa yang panik, siapa yang bertahan.”

“Kau menjadikanku umpan,” ucap Aruna pelan.

Calvin tidak menyangkalnya. “Aku menjadikanmu pusat.”

Sunyi kembali jatuh di antara mereka.

“Apa pun hasilnya,” lanjut Calvin, “posisimu akan berubah. Kau tidak lagi bisa berdiri di tengah.”

Aruna menatapnya. “Dan kalau aku jatuh?”

Tatapan Calvin mengeras sepersekian detik. “Itu risiko.”

Jawaban itu jujur. Dan justru karena itulah Aruna merasa tenggorokannya mengering.

Saat ia keluar dari ruangan itu, notifikasi ponselnya kembali berbunyi. Kali ini dari nomor yang tidak ia simpan.

Hentikan ini sebelum terlambat.

Aruna menatap layar cukup lama.

Aruna memasukkan ponselnya ke dalam tas, tapi langkahnya melambat. Di lorong menuju lift, ia merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia rasakan di kantor ini—rasa diawasi. Bukan satu pasang mata, melainkan banyak. Beberapa terbuka, beberapa tersembunyi.

Saat pintu lift menutup, bayangannya terpantul di dinding baja. Wajahnya tetap tenang, namun matanya tampak lebih gelap dari biasanya. Ia teringat ucapan Calvin di ruang direktur: kau tidak lagi bisa berdiri di tengah.

Mungkin benar.

Mungkin sejak ia memilih diam di ruang rapat itu, posisinya sudah bergeser—perlahan, tapi pasti. Dan sekarang, setiap langkah yang ia ambil akan dicatat, ditafsirkan, dan dipelintir oleh orang-orang yang tidak ragu melihatnya jatuh.

Ia tahu, sejak amplop itu dibuka, ia tidak lagi sekadar diam.

Ia sudah melangkah ke wilayah yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.

Dan untuk pertama kalinya, Aruna bertanya-tanya—

apakah orang yang memintanya diam… benar-benar akan membiarkannya jatuh sendirian.

1
bunga JK
semangat teruskah berkarya nya😊👍
Serena Khanza: iya kak 💪🏻💪🏻
semangat berkarya juga kak 😊💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
suka bab ini. semangat terus torr 💯
Serena Khanza: Terima kasih 🤍
total 1 replies
MARDONI
Hati jadi TEgang banget!! 😰✨ Aruna masuk kantor dan semua orang liatnya beda dari biasanya, langsung merasain tekanannya yang bikin napas jadi sesak! Dia dipanggil ke ruang rapat, ketemu Calvin sama manajemennya, ikutan deg-degan banget!! 😣 Aruna jawabnya cermat banget karena takut nyeret orang lain yang tidak bersalah, Calvin bilang butuh fakta bukan asumsi tapi malah jadi tertarik sama jawaban Aruna, SUPER PENASARAN NIH APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA!! 😱 Semoga Aruna bisa kuat dan menemukan jalan keluar ya authorrr!!
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia membaca ceritanya kak..
semangat aruna 💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
calvin kan ceo ya tor, kenapa dia gak cut aja aruna yg udah ketahuan gak netral?
maaf kalo aku salah tangkep 🙇‍♀️
Serena Khanza: iya gpp kak 😊
total 1 replies
PrettyDuck
orang2 takut di audit sama aruna /Facepalm/
MARDONI
Wahhh seru banget deh bab ini!!! 😍 Pas Aruna masuk kantor aja udah bisa rasain suasana yang aneh banget, semua orang nunjuk-nunjuk bahkan Rina juga canggung pas ngomongin investigasi. Trus pas dia buka amplop Calvin dan ketemu nama-nama orang yang dikenalnya langsung bikin deg-degan! Kalvin yang bilang menjadikannya pusat bukan umpan tuh bikin penasaran banget, apalagi pas dapet pesan ancaman dari nomor tidak dikenal dan rasanya diawasi banyak orang 😱 Akhirnya Aruna yang mulai mikir apakah orang yang suruh dia diam bakal biarin dia sendirian atau nggak... Aduh authorrr bikin aku suka banget, gak sabar tunggu bab selanjutnya deh!!! 💖
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak 🤩😊
total 1 replies
MARDONI
Ceritanya makin ke sini makin bikin penasaran! Alurnya rapi, konfliknya kuat, dan emosinya dapet banget. Setiap update selalu terasa berisi dan nggak asal. Salut sama author yang konsisten dan totalitas ngembangin cerita. Semangat terus ya, ditunggu kelanjutan ceritanya! 💪📖🔥
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak..
total 1 replies
MARDONI
Pas Aruna masuk ke ruangan Calvin dan suasana langsung jadi tegang banget, aku juga ikutan napasnya jadi pelan-pelan deh! Pas Calvin kasih laporan revisinya dan nanya ada yang janggal nggak, hati aku langsung berdebar-debar kayak Aruna juga 😰 Dan pas Calvin nanya tentang orang yang bakal kena akibatnya, padahal Aruna tahu cerita tentang anaknya yang sering sakit dan cicilan rumahnya... duh bikin hati jadi terasa sesak banget! Ternyata Calvin aja tahu ya kalau Aruna mungkin tahu lebih banyak dari yang dia tunjukin 😱 Pas dia kasih amplop danunjukin Aruna buat investigasi, aku juga ikutan bingung kayak Aruna—terima aja berarti harus hadapi kebohongan yang dia jaga, tapi nolak aja pasti jadi mencurigakan! Dan kalimat terakhir Calvin yang bilang "pastikan kau siap menanggungnya" tuh bikin merinding banget!! 😨 Dan akhirnya Aruna sadar kalau diamnya bukan lagi pilihan... tungguin kelanjutan banget deh author!! Semangat terus ya, cerita kamu bikin aku gabisa berhenti baca!! 🥰❤️
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak
total 1 replies
Serena Khanza
kadang diam bukan berarti lemah, dia sedang menghitung
PrettyDuck
bagus torrr.
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
PrettyDuck
terus kenapa dia memilih diam??
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
MARDONI
😣💔 sumpah aku ikut sesak duduk bareng Aruna di ruang rapat itu… dinginnya suasana, tatapan orang-orang, dan momen saat semua mata mengarah ke dia tuh bikin jantung deg-degan. Waktu Calvin ngumumin Proyek Eastbay dihentikan, rasanya sudah kebayang bakal ada satu orang yang dikorbankan, dan pas Aruna akhirnya bilang “tidak ada keberatan”… duh, itu bukan lega, itu perih 😭 dia tahu kebenaran tapi tetap memilih diam demi ibunya, demi bertahan. Dan tatapan Calvin setelah rapat itu, sunyi tapi berat apalagi pas dia manggil nama Aruna dan nyuruh masuk ke ruangannya, aku langsung ngerasa ini bukan sekadar urusan kerja lagi. Bagian Aruna sendirian di lift tuh bikin hati jatuh, kayak… satu keputusan kecil tapi dampaknya bakal panjang banget. Aku ikut takut, ikut tegang, dan nggak bisa berhenti mikir: diamnya Aruna hari ini pasti akan ditagih suatu saat nanti 🥀
Serena Khanza: Terima kasih sudah membaca 🤍 nikmati prosesnya pelan-pelan ya.. ke depannya akan semakin menegangkan lagi kak..
total 1 replies
PrettyDuck
kalo kata aku mah jujur aja arunaa.
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/
Serena Khanza: “tidak semua kebenaran perlu diucapkan oleh orang yang akan paling hancur karenanya.”
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!