Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 03 Di Bawah Tatapan
Pagi itu, suasana kantor terasa berbeda.
Aruna bisa merasakannya bahkan sebelum ia duduk di meja kerjanya. Percakapan yang biasanya terdengar biasa kini berhenti terlalu cepat. Tatapan-tatapan yang biasanya netral berubah menjadi singkat dan hati-hati. Beberapa orang menunduk saat Aruna lewat, seolah keberadaannya tiba-tiba menjadi sesuatu yang harus dihindari.
Ia menyalakan komputernya, membuka email.
Satu undangan rapat internal.
Satu notifikasi audit lanjutan.
Dan satu pesan singkat dari divisi SDM.
Aruna membaca semuanya tanpa perubahan ekspresi. Namun dadanya terasa mengencang perlahan. Amplop cokelat dari Calvin tadi malam tergeletak di dalam tasnya—belum ia buka. Ia menundanya, seolah dengan begitu kenyataan bisa ikut tertunda.
“Aruna.”
Ia menoleh. Rina, rekan satu divisinya, berdiri ragu di samping meja.
“Kamu dipanggil Pak Calvin lagi?” tanya perempuan itu pelan, hampir berbisik.
Aruna menggeleng. “Tidak.”
“Oh.” Rina tersenyum tipis, canggung. “Soalnya… katanya kamu yang pegang investigasi.”
Kata katanya terdengar lebih berat dari seharusnya.
“Resmi belum diumumkan,” jawab Aruna singkat.
Rina mengangguk, lalu pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Dari sudut matanya, Aruna melihat dua orang lain saling pandang. Tidak lama kemudian, salah satu dari mereka membuka ponsel.
Berita selalu menyebar lebih cepat daripada kebenaran.
Saat jam makan siang tiba, Aruna memilih tetap di meja. Ia membuka amplop cokelat itu untuk pertama kalinya. Di dalamnya, ada dokumen penunjukan resmi dan daftar nama—orang-orang yang akan diperiksa dalam investigasi ini.
Nama pertama membuat napasnya tertahan.
Nama kedua membuat jemarinya mengeras.
Dan nama ketiga… membuatnya menutup map itu perlahan.
Ia mengenal mereka semua.
Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar. Nomor internal kantor.
“Aruna,” suara Calvin terdengar begitu ia mengangkatnya. “Naik ke ruanganku. Sekarang.”
Tidak ada nada mendesak, tapi Aruna tahu itu bukan permintaan.
Di ruang direktur, Calvin sudah menunggu. Kali ini ia tidak berdiri di dekat jendela. Ia duduk di balik meja, kedua tangannya terlipat, ekspresinya tak terbaca.
“Kau sudah membuka amplopnya,” katanya, bukan bertanya.
“Sudah.”
“Dan?”
Aruna menarik napas. “Nama-nama itu akan menimbulkan reaksi.”
“Reaksi memang diperlukan,” balas Calvin. “Aku ingin tahu siapa yang panik, siapa yang bertahan.”
“Kau menjadikanku umpan,” ucap Aruna pelan.
Calvin tidak menyangkalnya. “Aku menjadikanmu pusat.”
Sunyi kembali jatuh di antara mereka.
“Apa pun hasilnya,” lanjut Calvin, “posisimu akan berubah. Kau tidak lagi bisa berdiri di tengah.”
Aruna menatapnya. “Dan kalau aku jatuh?”
Tatapan Calvin mengeras sepersekian detik. “Itu risiko.”
Jawaban itu jujur. Dan justru karena itulah Aruna merasa tenggorokannya mengering.
Saat ia keluar dari ruangan itu, notifikasi ponselnya kembali berbunyi. Kali ini dari nomor yang tidak ia simpan.
Hentikan ini sebelum terlambat.
Aruna menatap layar cukup lama.
Aruna memasukkan ponselnya ke dalam tas, tapi langkahnya melambat. Di lorong menuju lift, ia merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia rasakan di kantor ini—rasa diawasi. Bukan satu pasang mata, melainkan banyak. Beberapa terbuka, beberapa tersembunyi.
Saat pintu lift menutup, bayangannya terpantul di dinding baja. Wajahnya tetap tenang, namun matanya tampak lebih gelap dari biasanya. Ia teringat ucapan Calvin di ruang direktur: kau tidak lagi bisa berdiri di tengah.
Mungkin benar.
Mungkin sejak ia memilih diam di ruang rapat itu, posisinya sudah bergeser—perlahan, tapi pasti. Dan sekarang, setiap langkah yang ia ambil akan dicatat, ditafsirkan, dan dipelintir oleh orang-orang yang tidak ragu melihatnya jatuh.
Ia tahu, sejak amplop itu dibuka, ia tidak lagi sekadar diam.
Ia sudah melangkah ke wilayah yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.
Dan untuk pertama kalinya, Aruna bertanya-tanya—
apakah orang yang memintanya diam… benar-benar akan membiarkannya jatuh sendirian.
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/