NovelToon NovelToon
BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34: Sinar yang Kembali Menyapa

BAB 34: Sinar yang Kembali Menyapa

Udara pagi di taman rehabilitasi khusus Rumah Sakit Adiguna terasa begitu segar. Wangi bunga lavender dan melati sengaja ditanam di sini untuk merangsang indra penciuman para pasien. Rangga berdiri di ujung lintasan kecil yang dilapisi rumput sintetis empuk. Ia merentangkan tangannya, matanya terpaku pada sosok wanita yang berdiri sekitar lima langkah di depannya.

Arini berdiri di sana. Ia tidak lagi hanya berbaring. Meski kakinya masih gemetar dan ia harus menggunakan bantuan walker besi, ia tegak. Kepalanya sedikit mendongak, seolah mencoba merasakan kehangatan matahari yang menerpa wajahnya.

"Satu langkah lagi, Rin. Pelan-pelan saja. Aku di sini," ujar Rangga dengan suara yang penuh dorongan semangat.

Arini menarik napas dalam-dalam. Fokusnya beralih pada otot pahanya yang dulu terasa mati. Dengan usaha yang sangat besar hingga keringat dingin membasahi pelipisnya, ia mengangkat kaki kanannya.

Tap.

Ujung kakinya menyentuh rumput. Ia bergoyang sedikit ke kiri, namun tangan Rangga dengan sigap menjaga pinggangnya tanpa menyentuh sepenuhnya, membiarkan Arini mencari keseimbangannya sendiri.

"Aku... aku melakukannya, Ga! Aku melangkah!" Arini berseru kecil, suaranya bergetar antara tawa dan tangis.

"Kamu luar biasa, Sayang. Satu lagi. Kamu pasti bisa," balas Rangga.

Setelah sesi latihan yang melelahkan namun membahagiakan itu, Rangga membawa Arini duduk di bangku taman yang teduh. Ia menyeka keringat di dahi istrinya dengan sapu tangan sutra. Arini tampak begitu cantik di bawah siraman cahaya pagi, meskipun matanya masih menatap kosong ke depan.

Namun, tiba-tiba Arini mengernyit. Ia mengangkat tangannya, mencoba menutupi matanya yang selama ini tidak pernah bereaksi terhadap apa pun.

"Ga... perih," bisik Arini.

Rangga langsung panik. "Apa yang perih, Rin? Matamu? Apa ada debu?"

"Bukan... rasanya seperti... seperti ada jarum cahaya yang menusuk-menusuk," Arini mengerjapkan matanya berulang kali. "Ga, aku tidak tahu ini apa, tapi di sisi kanan... duniaku tidak lagi hitam pekat. Ada sesuatu yang putih... remang-remang... seperti lampu yang sangat jauh."

Jantung Rangga seolah berhenti berdetak sesaat. Ia segera memanggil Dokter Bram yang sedang memantau dari kejauhan. Bram berlari menghampiri mereka dan segera melakukan tes senter kecil pada mata Arini.

"Rangga, pupilnya bereaksi!" seru Bram dengan nada tak percaya. "Meskipun sangat lambat, tapi ada kontraksi. Saraf optiknya tidak sepenuhnya mati! Tekanan tumor yang kita angkat tempo hari ternyata memberikan ruang bagi sarafnya untuk beregenerasi. Ini keajaiban medis yang sangat langka!"

Arini mulai menangis, namun kali ini ia tersenyum. "Aku bisa merasakan cahaya, Ga... Aku tidak lagi berada di ruang bawah tanah yang gelap."

Rangga memeluk Arini erat-erat. Keajaiban demi keajaiban mulai berdatangan setelah badai penculikan itu. Ia merasa seolah Tuhan sedang membayar lunas semua penderitaan yang dialami Arini selama sepuluh tahun terakhir.

Namun, di tengah kebahagiaan itu, sebuah bayangan masa lalu masih harus diselesaikan. Maya datang membawakan sebuah surat panggilan dari RS Polri. Ibu Sarah, sang ratu penguasa yang kini jatuh, ingin bertemu untuk terakhir kalinya.

"Pak, kondisi Ibu Sarah memburuk. Stroke kedua membuatnya lumpuh di sisi kanan tubuhnya dan ia kehilangan kemampuan bicaranya secara fungsional. Tim dokter di sana bilang, mungkin ini adalah hari-hari terakhirnya," lapor Maya dengan nada rendah.

Rangga terdiam. Ada pergolakan hebat di dadanya. Wanita itu adalah ibunya, tapi wanita itu juga yang mencoba membunuhnya dan istrinya. Kebencian dan ikatan darah berperang di dalam dirinya.

"Aku akan pergi," ujar Rangga akhirnya. "Aku harus menutup buku ini agar aku bisa memulai hidup baru dengan Arini tanpa beban."

Arini, yang mendengar percakapan itu, memegang tangan Rangga. "Pergilah, Ga. Jangan membawa dendam saat dia pergi. Maafkanlah dia, bukan karena dia pantas dimaafkan, tapi karena hatimu berhak untuk tenang."

Rangga mencium telapak tangan Arini, kagum akan kebesaran hati istrinya. Bagaimana mungkin wanita yang paling disakiti justru menjadi orang yang paling pertama menawarkan pengampunan?

RS Polri tampak suram dengan penjagaan ketat. Rangga melangkah menyusuri koridor bangsal tahanan hingga sampai di sebuah kamar isolasi. Di sana, di atas ranjang yang dikelilingi pagar besi, terbaring seorang wanita tua yang tampak sangat rapuh. Tidak ada lagi sisa-sisa keangkuhan Ibu Sarah yang dulu sangat ditakuti.

Wajahnya miring ke satu sisi, matanya sayu, dan napasnya terdengar berat dibantu selang oksigen. Saat melihat Rangga masuk, mata Sarah tampak bergerak liar, seolah ingin meneriakkan sesuatu namun suaranya hanya keluar sebagai geraman kecil yang tidak jelas.

Rangga duduk di kursi samping ranjang. Ia tidak memegang tangan ibunya. Ia hanya menatapnya dengan pandangan datar.

"Mama ingin bertemu aku?" tanya Rangga dingin.

Sarah mencoba menggerakkan tangan kirinya yang masih berfungsi sedikit. Ia menunjuk ke arah sebuah tas kecil di atas meja nakas. Rangga membukanya dan menemukan sebuah buku tabungan lama dan sebuah kunci kecil.

"Apa ini?"

Di balik buku tabungan itu, ada secarik kertas dengan tulisan yang sangat berantakan, mungkin ditulis dengan susah payah menggunakan tangan kiri sebelum kondisinya memburuk.

"Maafkan Mama... Simpanan rahasia... Untuk masa depanmu dan anakmu nanti. Semua bukti pembunuhan ayahmu... Mama yang lakukan... Jangan salahkan keluarga Arini lagi."

Rangga membaca tulisan itu dan merasakan sesak yang luar biasa. Pengakuan itu akhirnya datang. Ibunya mengakui semuanya di detik-detik terakhirnya. Kejahatan yang dilakukan demi ambisi dan kekuasaan, kini tidak ada artinya sama sekali di hadapan maut.

"Aku sudah tahu semuanya, Ma," ujar Rangga pelan. "Aku sudah memaafkan Mama, tapi Mama harus mempertanggungjawabkan semuanya di hadapan Tuhan. Aku tidak akan membenci Mama lagi, tapi aku juga tidak bisa kembali menjadi putra yang Mama kenal dulu. Rangga yang itu sudah mati saat Mama mencoba membunuh Arini."

Air mata mengalir dari sudut mata Sarah. Ia mengerang pelan, seolah-olah beban berat di pundaknya baru saja terangkat namun kesedihan yang lebih besar menggantikannya. Ia menyadari bahwa ia telah memenangkan dunia tapi kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.

Rangga keluar dari kamar itu dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Ia memberikan instruksi agar ibunya mendapatkan perawatan terbaik di sisa umurnya, meskipun tetap di bawah pengawasan kepolisian.

Saat ia kembali ke rumah sakit tempat Arini berada, malam sudah larut. Ia masuk ke kamar dan menemukan Arini sedang duduk di kursi roda dekat jendela, ditemani oleh Ibu Sarahwati.

"Rangga sudah pulang?" tanya Ibu Sarahwati.

"Sudah, Bu. Ibu istirahatlah di kamar sebelah, biar saya yang menjaga Arini malam ini," ujar Rangga lembut.

Setelah Ibu Sarahwati keluar, Rangga mendekati Arini. Ia memutar musik lembut dari piringan hitam di pojok ruangan. Lagu Lullaby yang klasik.

"Bagaimana pertemuannya, Ga?" tanya Arini tanpa menoleh.

"Semua sudah berakhir, Rin. Mama sudah mengakui semuanya. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi dendam yang harus kita bawa. Kita benar-benar bebas sekarang," Rangga memeluk Arini dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu istrinya.

Arini memegang tangan Rangga. "Ga... tadi sore, saat matahari terbenam, aku bisa melihat sedikit warna jingga. Hanya sekilas, lalu hilang lagi. Tapi itu cukup untuk membuatku percaya bahwa aku akan bisa melihat wajahmu lagi suatu hari nanti."

Rangga tersenyum, hatinya dipenuhi harapan yang meluap-luap. "Aku akan menunggumu, Rin. Seberapa lama pun itu. Kalaupun kamu tidak bisa melihat lagi, aku sudah belajar cara mendeskripsikan setiap inci dunia ini untukmu. Tapi jika kamu bisa melihat... aku ingin hal pertama yang kamu lihat adalah kebun bunga yang akan kita bangun di rumah kita nanti."

Dua minggu kemudian.

Proses rehabilitasi Arini berjalan dengan sangat pesat. Dokter Bram menyebutnya sebagai fenomena neuroplasticity yang luar biasa. Arini kini sudah bisa berjalan dengan kruk tanpa bantuan walker. Dan yang paling mengejutkan, penglihatannya mulai pulih di bagian tengah. Ia mulai bisa melihat bentuk-bentuk kasar, meskipun masih sangat buram.

"Ga, coba berdiri di sana," perintah Arini saat mereka berada di dalam kamar.

Rangga berdiri sekitar dua meter di depan Arini. "Sudah. Kamu lihat apa?"

Arini menyipitkan matanya, berkonsentrasi penuh pada bayangan di depannya. "Aku melihat... seseorang yang sangat tinggi. Bahunya lebar. Memakai kemeja... biru?"

Rangga tertegun. Ia memang memakai kemeja biru muda. "Benar, Rin! Apa lagi?"

"Dan... rambutnya sedikit berantakan di bagian depan," Arini tertawa kecil, air mata mulai menggenang lagi. "Dan dia punya senyum yang paling hangat yang pernah aku rasakan, meskipun aku belum bisa melihat detail wajahnya."

Rangga berlari ke arah Arini dan memeluknya, mengangkat tubuh istrinya dan berputar-putar di tengah kamar. Mereka tertawa bersama, tawa yang murni tanpa ada bayang-bayang ketakutan lagi.

Namun, kebahagiaan itu sedikit terusik oleh berita bisnis. Maya mengabarkan bahwa meskipun musuh-musuh internal sudah hancur, Grup Adiguna mengalami penurunan nilai pasar yang signifikan akibat skandal tersebut. Beberapa investor asing mulai menarik diri karena mereka menganggap kepemimpinan Rangga terlalu emosional dan fokus pada urusan pribadi.

"Pak Rangga, dewan direksi meminta Anda untuk segera kembali ke Jakarta dan memberikan pidato di depan para pemangku kepentingan untuk menstabilkan harga saham," ujar Maya melalui telepon.

Rangga menatap Arini yang sedang berlatih membaca huruf Braille di atas ranjang.

"Katakan pada mereka, aku akan kembali jika aku siap," jawab Rangga tegas. "Dan sampaikan pada mereka, jika mereka ingin pemimpin yang hanya peduli pada angka, mereka bisa mencari orang lain. Tapi jika mereka ingin pemimpin yang tahu cara membangun kembali sesuatu dari abu kehancuran, mereka harus menunggu aku menyelesaikan urusanku dengan istriku."

Arini mendengarnya dan tersenyum. "Pergilah, Ga. Aku sudah jauh lebih kuat sekarang. Kamu tidak bisa terus bersembunyi di sini. Adiguna adalah warisan ayahmu. Jangan biarkan apa yang dia bangun hancur karena ego orang lain."

"Tapi aku tidak mau meninggalkanmu sendirian lagi, Rin. Trauma malam itu masih menghantuiku," aku Rangga jujur.

"Aku tidak sendirian. Aku punya Ibu, punya tim medis, dan aku punya doa-doamu," Arini meraih wajah Rangga, ujung jarinya meraba bibir suaminya. "Pulanglah ke Jakarta sebagai Singa Adiguna yang sebenarnya. Tunjukkan pada mereka bahwa cinta tidak membuatmu lemah, tapi justru membuatmu tak terkalahkan."

Keesokan harinya, Rangga bersiap berangkat. Kali ini, ia mengenakan setelan jas paling mewahnya. Ia terlihat seperti Rangga Adiguna yang dulu, namun dengan tatapan mata yang jauh lebih bijaksana dan tenang.

Sebelum masuk ke helikopter yang mendarat di area rumah sakit, ia berbalik melihat ke arah balkon lantai 4. Di sana, Arini berdiri dengan bantuan kruknya, didampingi oleh Ibu Sarahwati. Arini melambaikan tangannya ke arah suara deru helikopter.

Rangga memberikan hormat dengan tangannya, sebuah janji bahwa ia akan segera kembali setelah ia membereskan semua "sampah" di Jakarta.

Di dalam helikopter, Rangga membuka tabletnya. Ia tidak melihat laporan keuangan. Ia melihat foto pernikahannya dengan Arini yang diambil secara sederhana oleh Maya.

"Tunggu aku, Rin. Aku akan merapikan dunia ini untukmu, agar saat matamu benar-benar pulih nanti, tidak ada lagi hal buruk yang akan kamu lihat," gumam Rangga.

Helikopter itu terbang membelah awan, menuju Jakarta yang sibuk. Rangga Adiguna telah kembali, bukan untuk mencari kekuasaan, tapi untuk melindungi keajaiban yang telah ia temukan di tengah kerapuhan.

1
falea sezi
ya uda end aja
falea sezi
lanjut
falea sezi
berasa baca trailer
falea sezi
astaga/Sob//Sob//Scowl//Scowl/ Thor g da apa keajaiban misal arini pindah jiwa ke tubuh lain
falea sezi
nyesek baca kisah ini beri keajaiban donk thor/Sob//Sob//Sob//Sob/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!