NovelToon NovelToon
Teluh Kiriman Tetangga

Teluh Kiriman Tetangga

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Dendam Kesumat
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: ummiqu

"Mulutmu harimaumu"

Demikian lah peribahasa sederhana yang seringkali kita dengar. Dijadikan pengingat agar kita berhati-hati dalam bertutur kata.

Sayangnya itu tak berlaku untuk seseorang di luar sana. Dengan ringan lisannya berucap tanpa peduli imbas negatif yang ditimbulkan.

Malam-malam yang tenang dalam sekejap berubah jadi menegangkan.

Hadirnya sosok tak kasat mata yang selalu mengawasi, tak hanya membawa rasa sakit tapi juga ketakutan.

Lalu siapa yang bisa bertahan sampai akhir, 'dia' atau mereka ...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Arwah Menangis

Dengan sigap suami Narti segera menghampiri istrinya yang terkapar di lantai. Kemudian dia membalikkan tubuh Narti perlahan dan terkejut mendapati wajah wanita yang dicintainya itu sudah tak lagi utuh karena koyak di beberapa bagian.

Meski wajah istrinya sudah jauh berbeda, tapi cinta pria itu tetap sama. Tanpa jijik dia mengusap darah yang membasahi wajah Narti dengan ujung kemejanya. Bahkan dia mengajak Narti untuk kembali merajut rumah tangga mereka yang sempat oleng diterjang badai.

Pria itu terus mengajak Narti bicara tanpa sadar nyawa wanita itu telah hengkang dari tubuhnya beberapa saat yang lalu.

"Subhanallah. Aku ga nyangka ternyata seberat ini hukuman yang harus kamu jalani Bu. Tapi gapapa, aku bakal terus ada di sisimu, menemani kamu sampe akhir seperti janjiku dulu. Bertobat lah selagi ada kesempatan Bu. Aku sudah memaafkanmu. Ayo kita lanjutkan rencana kita yang dulu. Kita antar anak-anak kita sampe dewasa, sampe mereka berkarir dan bertemu jodohnya masing-masing," bisik suami Narti sambil memeluk tubuh Narti yang mulai dingin itu dengan erat.

Di saat yang sama di ruang tengah terlihat ketiga anak Narti duduk menunggu dengan gelisah. Mereka khawatir terjadi sesuatu pada Narti. Apalagi mereka tak mendengar suara apa-apa setelah perdebatan kedua orangtuanya berakhir.

Karena si bungsu sudah berhenti menangis, kedua anak Narti yang lain memutuskan untuk mengajaknya menemui orangtua mereka.

Tapi langkah ketiganya terhenti di ambang pintu kamar. Mereka menyaksikan sang ayah duduk membelakangi pintu sambil memeluk tubuh ibu mereka yang berbaring di lantai. Di sekitarnya terlihat tetesan darah yang mulai mengering.

"Bapak, ibu kenapa Pak?" tanya anak kedua Narti dari ambang pintu.

Suami Narti menoleh lalu tersenyum.

"Sssttt ... jangan berisik ya. Ibu lagi tidur," kata suami Narti sambil menyilangkan jari telunjuk di bibirnya.

Curiga dengan ucapan sang ayah, anak sulung Narti menerobos masuk lalu menghambur kearah kedua orangtuanya itu. Dengan cekatan remaja berusia tiga belas tahun itu mengecek nadi sang ibu. Betapa terkejutnya remaja itu saat mengetahui sang ibu telah meninggal dunia.

"Pak. I-ini ... i-ibu udah ga ada Pak. Ibu udah meninggal," kata anak sulung Narti dengan suara bergetar.

Suami Narti tersentak mendengar ucapan anak sulungnya itu. Karena tak percaya, dia segera mengecek tubuh Narti.

Beberapa saat kemudian wajah pria itu terlihat memucat seolah dipaksa menerima kenyataan pahit. Narti, wanita yang sangat dicintainya itu ternyata telah pergi meninggalkannya untuk selamanya.

"Inna Lillahi wa inna ilaihi rojiun. I-ibu kalian memang udah meninggal Nak ...," kata suami Narti dengan suara parau.

Mendengar ucapan sang ayah kedua anak Narti sontak menjerit. Hanya si bungsu yang terlihat kebingungan. Meski bingung, tapi si bungsu megikuti kakaknya yang berlari menghambur memeluk tubuh Narti yang telah membeku itu. Bahkan dia sempat menyentuh darah yang membasahi wajah sang ibu dengan ujung jemarinya. Saat melihat ayah dan kedua kakaknya menangis, akhirnya si bungsu pun ikut menangis.

Malam yang dingin dan sunyi itu kembali terusik dengan suara jeritan. Tapi kali ini bukan jeritan Narti melainkan jerit tangis suami dan ketiga anak mereka.

\=\=\=\=\=

Dalam waktu singkat rumah Narti dipadati tetangga yang datang setelah mendengar tangisan sang penghuni rumah. Mereka tak percaya Narti meninggal dunia karena beberapa saat sebelumnya mereka masih mendengar wanita itu menjerit kesakitan.

Tanpa membuang waktu semua orang mulai bergerak membantu. Setelah jasad Narti dipindahkan ke atas tempat tidur, dua tetangga wanita berinisiatif membantu membersihkan tubuh Narti dari darah yang mengering.

Awalnya suami Narti menolak karena khawatir aib istrinya terungkap. Tapi penjelasan sang tetangga membuatnya mengerti.

"Darah bisa bau kalo dibiarin kelamaan Mas. Apa kamu mau semua orang ga nyaman saat melayat dan mendoakan istrimu nanti. Lagian kami hanya bantu membersihkan darah dan mengganti pakaiannya aja. Urusan memandikan biar ustadzah yang melakukan nanti," kata kedua wanita itu.

"Maaf, saya ga bermaksud begitu tadi. Saya cuma ... " ucapan suami Narti terputus.

"Gapapa Mas, kami maklum kok. Mas pasti masih shock dengan kepergian istri yang mendadak begini," sahut kedua wanita itu sambil tersenyum.

Suami Narti pun menghela nafas lega. Setelahnya dia mempersilakan kedua wanita itu membersihkan tubuh dan pakaian Narti.

Di saat semua orang sibuk mengurus persiapan pemakaman Narti, anak-anak Narti hanya duduk menonton. Setelah mengganti pakaian yang terkena noda darah, mereka pun kembali duduk di samping jasad sang ibu. Sesekali isak tangis ketiganya terdengar memenuhi ruangan.

Tanpa semua orang sadari, diantara isak tangis anak-anak Narti, ada suara tangisan lain yang terdengar, begitu pilu dan menyayat hati.

Orang yang pertama kali menyadari suara tangis itu adalah ustadz Firman. Dia tahu suara tangis pilu itu adalah milik arwah Narti yang berdiri tak jauh dari jasadnya.

Sebelumnya ustadz Firman mendengar kabar kematian Narti sesaat menjelang Subuh. Dia memutuskan datang melayat bersama Rama, Danu dan warga desa setelah menunaikan sholat Subuh berjamaah di mushola tadi.

Melihat kehadiran ustadz Firman, arwah Narti segera melesat menghampiri.

"Kenapa jadi begini Ustadz. Kenapa saya mati?. Kalo gitu apa gunanya saya datang ke rumah Ustad dan minta bantuan sama Ustadz tadi?!" tanya arwah Narti gusar.

Ustadz Firman tak menggubris pertanyaan arwah Narti. Dia hanya berzikir dalam hati sambil mengamati sekelilingnya.

Mengetahui ustadz Firman mengabaikan pertanyaannya, arwah Narti terus mengejarnya.

"Kalo gitu bantu saya kembali ke tubuh saya ya Ustadz. Tolong, saya belum siap mati. Kasian anak-anak saya, mereka masih terlalu kecil untuk ditinggal. Saya ga tega ngeliat mereka menangis, apalagi si bungsu. Dia baru dua tahun dan masih butuh kasih sayang saya," kata arwah Narti menghiba.

Lagi-lagi ustadz Firman mengabaikan ucapan arwah Narti. Dia masuk ke dalam rumah lalu menghampiri suami Narti yang tersenyum menyambutnya. Ustadz Firman memeluk pria itu dengan erat sambil membisikkan kalimat yang menenangkan.

Suami Narti nampak tak kuasa menahan haru. Dia mengangguk beberapa kali sambil berusaha tersenyum.

"In syaa Allah saya kuat Ustadz. Terima kasih," kata suami Narti dengan mata berkaca-kaca.

Setelah menjabat tangan suami Narti, ustadz Firman duduk di samping jasad Narti. pria sepuh itu nampak tertegun sejenak melihat kain penutup wajah jasad Narti yang berwarna putih itu telah berubah kemerahan karena terkena darah dari wajah Narti yang terluka.

Ustadz Firman menoleh kearah suami Narti seolah meminta kepastian. Melihat pria itu mengangguk, ustadz Firman pun paham.

Tanpa membuka penutup wajah Narti, ustadz Firman memimpin warga yang bersamanya untuk berdoa.

Saat lantunan ayat-ayat suci dibaca, arwah Narti menjerit sekencang-kencangnya. Dia merasa kesakitan dan kepanasan seolah tubuhnya terbakar.

"Ampun ..., tolong berhenti Ustadz. Tolong jangan dibaca lagi. Saya ga kuat Ustadz. Ini sakit banget. Sakit ...!" jerit arwah Narti.

Suara arwah Narti yang melengking membuat ustadz Firman sedikit terganggu. Meski begitu ustadz Firman terus membaca doa hingga selesai.

Setelah membaca doa ustadz Firman pun pamit.

"Saya pulang dulu sebentar, ada tamu yang mau berkunjung ke rumah. In syaa Allah saya balik lagi sebelum jasad istrimu dimakamkan," kata ustadz Firman.

"Baik Ustadz. Kami sekeluarga berencana memakamkan Narti setelah sholat Zuhur nanti, jadi Ustadz ga perlu buru-buru menjamu tamu," sahut suami Narti.

Ustadz Firman tersenyum. Setelahnya dia berjalan keluar diikuti Rama dan Danu.

Saat melintasi ambang pintu rumah Narti, ustadz Firman menoleh ke belakang tepatnya kearah jasad Narti yang terbaring dikelilingi ketiga anaknya.

Ustadz Firman nampak iba melihat arwah Narti yang masih menangis meratapi jasadnya yang sudah membeku itu. Melihat sikap sang guru tentu saja membuat Rama penasaran.

"Ada apa Ustadz. Apa Ustadz melihat sesuatu di sana?" tanya Rama.

"Ck, kenapa pake nanya segala sih Ram. Udah pasti ustadz ngeliat arwahnya bu Narti di sana lah," sela Danu.

"Emang iya Ustadz?. Kalo boleh tau, arwahnya bu Narti lagi ngapain Ustadz. Lagi tertawa atau lagi sedih?" tanya Rama.

"Kamu ga usah nanya. Kan kamu sendiri juga denger suara tangisannya saat dia berdiri di samping kamu tadi," sahut ustadz Firman sambil berlalu.

Tentu saja jawaban sang ustadz membuat Rama panik.

"Eh, maksudnya gimana Ustadz?. Mas Danu, gimana nih?" tanya Rama sambil menahan lengan Danu.

Alih-alih merespon pertanyaan Rama, Danu justru tertawa. Setelahnya dia bergegas mengejar ustadz Firman yang sudah berada jauh di depan sana.

Rama hanya bisa mendengus kesal melihat sikap Danu.

Tapi sesaat kemudian wajah Rama nampak menegang. Samar-samar dia mendengar suara rintihan disusul suara tangisan yang menyayat hati. Suara itu terdengar familiar dan membuat bulu kuduknya meremang seketika.

Rama pun menghela nafas dengan kasar karena yakin ini lah jawaban dari pertanyaan isengnya tadi.

\=\=\=\=\=

1
Nurr Tika
lanjut thor 💪
any Sulistiani: in syaa Allah siap 👌🏻😊
total 1 replies
Nurr Tika
dikasih suami baik mlh selingkuh
any Sulistiani: yup, begitu lah klo org krg bersyukur.

lanjut lg ya say, mksh 😘
total 1 replies
Nurr Tika
lanjut
any Sulistiani: Alhamdulillah.., mksh kak 🙏🏻😊
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅
ehh nemu bacaan yg baru
bru baca soalnya
💜⃞⃟𝓛 ☘𝓡𝓳❤️⃟Wᵃf•§͜¢•🍒⃞⃟🦅: iya kk tp maaf klo aq blm lanjut baca aoalnya aq ada kenadala kk di quota kadang ada kadang tidak
total 2 replies
Nurr Tika
pantesan ginah benci sma sartika ternya oh ternyata
any Sulistiani: betul. cinta masa lalu yg blm selesai berujung dendam yg ga berkesudahan 😖
total 1 replies
Nurr Tika
waktu hidup ngongnya nyinyir udah jdi pocong ja ngomongnya masih nyinyir ya ginah
any Sulistiani: he he 😄
total 1 replies
Nurr Tika
nyeselkan kamu ginah
Nurr Tika
sabar ya sastro
any Sulistiani: siaaapp 👌🏻
total 1 replies
Nurr Tika
somoga hubunganya langeng ya laras
any Sulistiani: aamiin ... mksh kak 🙏😊
total 1 replies
Nurr Tika
apa ginah kena santet
any Sulistiani: lanjut dulu ya kak ..
total 1 replies
Nurr Tika
kasiankan laras gara" kelakuan ibunya
Nurr Tika
mendinganurusin keluargamu sendiri drpada ngurusin hidup orang lain
any Sulistiani: yup, se7 kak 👍🏻
total 1 replies
Arlena Lena
cepet amat dibuat mati
Arlena Lena
si Ginah mirip si kokop kalo ngomong ta da remmm
any Sulistiani: in syaa Allah siaap KK 😊
total 3 replies
deepey
betul. ini tetangga julid satu ngajak gelud
any Sulistiani: he he ... iya KK 😄
total 1 replies
💎hart👑
dapet notif ada cerita baru dari ummibebs cus langsung baca...
any Sulistiani: Alhamdulillah.. mksh kak 🙏😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!