Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.
Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.
Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.
Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.
Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Hari demi hari berlalu, dan Alice semakin tenggelam dalam keterpurukannya. Danzel benar-benar meninggalkannya sendirian.
Danzel kini memilih duduk di bangku lain, menjauh dari Alice seolah kehadirannya tak lagi berarti apa-apa. Di dalam kelas, dia bahkan tidak pernah lagi memandang ke arah Alice.
Setiap kali Danzel lewat di dekatnya, Alice bisa merasakan bagaimana dinginnya sikapnya. Alice mencoba menguatkan diri, meski pikirannya selalu terseret saat senyum dan perhatian Danzel masih bisa membuat Alice merasa berarti. Tapi sekarang, semua itu hanya tinggal bayangan yang memudar.
**
Di penghujung hari, ketika bel pulang berbunyi, Alice berjalan sendirian menyusuri koridor sekolah yang mulai lengang.
Langkah kakinya terdengar pelan, seirama dengan kepalanya yang tertunduk lesu.
Ketika ia sampai di ujung koridor, pandangannya terhenti. Di sana, sekumpulan siswa berandal berkumpul, bersandar di dinding sambil tertawa dan bercanda kasar satu sama lain.
Alice mengenal mereka—mereka adalah kelompok yang kerap menggangu nya dulu.
Alice menelan ludah. Mau tidak mau, dia harus melewati mereka.
Saat langkahnya mendekat, salah satu dari mereka
"Hei, lihat siapa yang lewat," ucapnya dengan nada mengejek, matanya menyipit licik.
Yang lainnya segera mengikuti arah pandangnya, mereka tertawa kecil, seolah menemukan hiburan baru.
"Alice?" ucap salah satu siswa yang lain, bersuara sinis.
"gadis yang ditinggal oleh Danzel. kasihan sekali."
Alice tidak menanggapi, dia berusaha menunduk lebih dalam dan melewati mereka. Tapi salah satu dari mereka berdiri tepat di hadapannya, menghalangi jalannya.
"Mau kemana? Jangan buru-buru, dong." Ucapnya sambil tersenyum sinis, menepuk bahu Alice dengan keras, membuatnya tersentak mundur.
"Jadi dia gadis yang hampir bikin Rachel jatuh dari atap? Hebat juga kau, Alice,"
Alice mencoba untuk berjalan melewati mereka, namun tangannya ditarik dengan kasar
"Eh, eh! Aku belum selesai ngomong, culun!" Siswa berandal itu menarik Alice lebih dekat, membuatnya terhuyung ke depan.
"Jangan sok hebat, setelah Danzel tidak ada di samping mu, kau sekarang cuma pecundang yang tidak ada gunanya,"ucap yang lain sambil tertawa.
Mereka mendorong-dorong Alice di antara mereka, seperti mainan yang tak berarti.
Tawa mereka memenuhi lorong, sementara Alice hanya bisa menahan diri, menatap lantai dengan perasaan tertekan.sekarang tidak ada seorang pun yang akan membelanya.
“Ternyata… tanpa Danzel di sampingku, aku kembali menjadi Alice yang dulu—Alice yang tidak berarti bagi siapapun.”ucap Alice dalam hati
Insiden yang dibuat Rachel telah menyebar dengan cepat ke seluruh sekolah, Dalam beberapa hari terakhir, Alice terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan.
Tidak hanya dari sekelompok siswa berandal, tapi juga dari banyak siswa lainnya yang memandangnya dengan tatapan sinis setiap kali ia melewati lorong atau duduk di kelas.
Nama Alice kini dikenal sebagai "pengganggu" hubungan Danzel dan Rachel, meski kenyataannya jauh dari apa yang dipikirkan mereka.
Sementara itu, di lain sisi
Danzel berdiri tak jauh dari sana, menyaksikan semua itu.
Alice, yang dulu selalu ia lindungi, kini dikelilingi oleh siswa-siswa yang mengejek dan menghina tanpa henti.
Danzel menelan ludah, tubuhnya seolah terpaku di tempat. Di satu sisi, masih ada rasa kecewa kepada Alice.
Tapi di sisi lain, jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasakan sesuatu yang bertentangan. Danzel sangat kasihan melihat Alice di berlakukan seperti itu.
Tanpa ia sadari, tubuhnya mulai bergerak. Kakinya perlahan melangkah ke arah Alice, langkah demi langkah, seolah-olah nalurinya untuk melindungi Alice kembali bangkit.
Namun sebelum ia bisa mendekat, sebuah suara yang dikenali memanggilnya.
"hai sayang..."sapa Rachel begitu mesra dan langsung bergelayut manja di lengan Danzel
"Kau pasti sedang menungguku keluar dari kelas kan?"tebak Rachel dengan percaya diri."Mari kita pulang bersama."ajaknya
Danzel tersenyum tipis membalas sapaan Rachel, akan tetapi sorot matanya masih mengarah kepada Alice.
Rachel yang menyadari hal itu, mendengus kesal."Sayang, apa yang sedang kau lihat? kau tidak mendengarkan ku?"
"aku mendengarmu, baiklah ayo kita pulang."ucap Danzel berusaha untuk tidak memperdulikan Alice lagi,
meskipun hatinya sedikit tidak tenang.Kenapa hatinya terasa sakit melihat Alice diperlakukan begitu? Bukankah dia sudah memutuskan untuk melepaskannya
***
Sementara itu, di sebuah trotoar di bawah kolong jembatan, Rey duduk sendirian, menikmati angin sore yang berhembus lembut.
Tidak lama kemudian, dari kejauhan, Rania datang menghampirinya dengan langkah ringan, membawa sekeranjang bunga di tangannya.
Sejak beberapa hari terakhir, Rey mulai sering menghabiskan waktu bersamanya.
Awalnya, Rania selalu menjaga jarak, seolah tak mau repot berteman dengan Rey yang selalu ia anggap 'pria bermasalah'. Tapi Rey, dengan kegigihan yang tak pernah padam, terus mencoba mendekatinya.
"hai pria bermasalah..."sapa Rania dengan senyuman tipis
Rey mengangkat kepalanya dan menatapnya sambil tersenyum jahil. "Hei, penjual bunga favoritku! Bagaimana daganganmu hari ini?"
Rania menghela napas kecil, "Lumayan... sampai kau datang dan mengganggu waktu istirahatku!"
Rey tertawa kecil, menikmati cara Rania selalu merespon dengan kata-kata tajam tapi sebenarnya penuh kelembutan.
“Mengganggu? Oh, tidak, bukankah kau terlihat bahagia jika aku datang?”Rey bersandar di sepedanya, yang sudah menjadi 'kendaraan baru' favoritnya demi bisa selalu bersama Rania.
Rey juga sering membantu Rania menjual bunga dengan mengendarai sepeda bersama. biasanya Rey akan membantu Rania menjual bunga pada sesi kedua, yaitu sore hari setelah pulang dari sekolah.
"Bahagia? apakah kerutan di wajahku menunjukkan kebahagiaan? yang ada aku selalu tertekan dengan gangguan mu itu."balas Rania bermaksud bercanda
Rey terkekeh pelan, mendekatkan wajahnya seolah ingin memperhatikan kerutan yang dibicarakan Rania. "Kerutan? Mana ada kerutan? Yang kulihat hanya senyum cerah si 'Dewi Bunga'."
Rania menggigit bibir, menahan tawa. "Dewi Bunga? Hentikan, Rey, kau benar-benar harus berhenti memberiku nama panggilan aneh setiap kali kita bertemu."
"Tidak bisa," Rey menggeleng dengan ekspresi serius yang jelas-jelas dibuat-buat.
"Sebagai pelayan setia Dewi Bunga, aku harus terus memanggilmu dengan nama-nama indah. Itu tugasku sebagai ksatriamu."
Rania tak bisa menahan tawanya lebih lama, dan tawa itu pecah seketika, membuat suasana di antara mereka semakin hangat.
Rey, yang awalnya ikut tertawa, tiba-tiba teringat sesuatu.Senyumnya memudar, tergantikan oleh ekspresi sedih.
Rania menghentikan tawanya dan mengalihkan perhatian sepenuhnya kepada Rey. "Ada apa? Apa kau sedang ada masalah?"
Rey memandang jauh ke depan, seolah mencari jawaban di antara pemandangan senja yang mulai meredup. "Aku hanya teringat pada Alice."
"Ada apa dengannya?" tanya Rania, suaranya penuh kekhawatiran. "Apakah Alice baik-baik saja?"
Rey mengernyitkan dahi, sedikit terkejut dengan reaksinya. "Alice tidak bercerita kepadamu?"
Rania menggeleng pelan. "Tidak. Biasanya dia selalu menyembunyikan apa yang dia alami dariku. Aku bisa memaksanya untuk bercerita, tapi belakangan ini dia terlihat lebih tertutup. Jadi, aku memilih untuk tidak memaksanya."
Rey menarik napas dalam-dalam, jelas ada beban yang ia rasakan. "Dia sedang menghadapi sesuatu yang besar."
Rania menatap Rey dengan tatapan serius. "Bisa kau ceritakan padaku?"
Rey mulai menceritakan semuanya
Rania terdiam, wajahnya terlihat tegang saat mendengar cerita itu. dia mengepalkan tangannya, merasa geram mendengar perlakuan tidak adil yang diterima Alice.
Alice tiba-tiba muncul di kejauhan, melangkah pelan menuju ke Rania dan Rey dengan senyuman tipis yang terlukis di wajahnya.
Meski senyumnya terkesan ceria, mata Alice memancarkan kesedihan yang tak bisa sepenuhnya disembunyikan. Rania dan Rey terdiam sejenak, kaget melihat kehadiran Alice di tempat itu.
"Hai..." sapa Alice dengan suara pelan namun terdengar riang, seolah-olah ia tidak ingin membiarkan rasa sakitnya terlihat.
"kalian sedang apa?"
Rania tidak mengucapkan sepatah kata pun. Begitu melihat Alice, tanpa ragu-ragu ia langsung melangkah maju dan memeluknya erat. Alice terlihat kaget
Rania memeluk Alice seolah ingin menghapus setiap rasa sakit yang sahabatnya pendam selama ini. "Kau tidak perlu pura-pura bahagia. Aku tahu apa yang sudah terjadi."
Alice menggigit bibirnya, berusaha keras untuk tidak menangis. Ia menahan isakannya, menutup mata rapat-rapat di tengah pelukan Rania. sementara Rey memandang dengan tatapan penuh pengertian.
Setelah beberapa saat, Alice melepaskan pelukan Rania dan mengusap air mata yang akhirnya menetes di pipinya. "Terima kasih, sudah mengerti" bisiknya. "Aku... aku baik-baik saja, sungguh."
Rania mengangguk mengerti, kali ini dia memilih tidak mengatakan apapun lagi dan membiarkan Alice berdamai dengan rasa sakitnya