"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29 Di Antara Kebenaran dan Kebencian
Langit Jakarta mendung sejak pagi.
Seolah tahu bahwa sesuatu akan runtuh hari ini.
Ruang konferensi utama di lantai dua puluh tiga sudah dipenuhi orang sejak satu jam lalu. Investor duduk berderet, wajah mereka serius. Kuasa hukum berbisik pelan. Beberapa perwakilan regulator memeriksa dokumen dengan ekspresi dingin.
Dan di tengah semua itu, Arlan duduk tegak.
Setelan hitamnya rapi. Tatapannya tenang. Terlalu tenang.
Aira duduk dua kursi darinya.
Dekat secara jarak.
Jauh secara hati.
Mahendra berdiri di depan layar proyektor.
“Saya akan memutar bagian rekaman yang belum pernah dipublikasikan lima tahun lalu,” ucapnya.
Suasana berubah.
Beberapa investor langsung mengangkat kepala.
Arlan tidak bergerak.
Ia tahu bagian mana yang akan diputar.
Klik.
Gambar ruang rapat lima tahun lalu muncul di layar.
Suasana di video jauh lebih tegang. Grafik kerugian terpampang jelas. Angka-angka merah memenuhi layar.
“Kita tidak bisa menahan beban ini lebih dari dua kuartal,” suara CFO terdengar jelas.
“Kalau proyek ini jatuh, dua perusahaan bisa runtuh bersamaan.”
Lalu suara yang membuat jantung Aira berhenti berdetak—
Suara ayahnya.
“Kita tidak boleh biarkan itu terjadi.”
Di layar, Arlan versi lima tahun lalu terlihat lebih muda. Wajahnya lebih keras.
“Kita bisa memisahkan struktur risiko,” katanya. “Alihkan kepemilikan aset proyek ke perusahaan Anda. Tekanan hukum akan lebih terfokus.”
Bisikan mulai terdengar di ruang konferensi hari ini.
Itu bagian yang selama ini jadi tuduhan.
Bahwa Arlan memindahkan beban.
Di video, ayah Aira terdiam lama.
Semua orang di meja rapat menunggu jawabannya.
“Kalau itu cara satu perusahaan tetap berdiri,” katanya akhirnya, “lakukan.”
Napas Aira tercekat.
Mahendra menghentikan video.
“Itu yang menjadi dasar tuduhan lima tahun lalu,” ujarnya. “Tapi ada lanjutan yang tidak pernah ditampilkan.”
Klik.
Rekaman berjalan kembali.
Arlan berkata, “Keputusan ini akan membuat perusahaan Anda menanggung tekanan utama.”
“Aku tahu,” jawab ayah Aira.
“Reputasi Anda bisa hancur.”
“Aku tahu.”
“Kenapa Anda tetap setuju?”
Sunyi.
Lalu jawaban itu datang.
“Karena perusahaan saya lebih kecil. Kalau harus ada yang jatuh lebih dulu, biar saya saja. Perusahaan Anda mempekerjakan lebih banyak orang.”
Ruang konferensi hari ini membeku.
Tapi belum selesai.
Di video, ayah Aira menatap langsung ke arah Arlan.
“Dan jangan pernah ceritakan ini pada Aira.”
Jantung Aira seperti diremas.
“Dia tidak perlu tahu. Dia harus percaya ayahnya gagal karena keputusan sendiri, bukan karena menolong orang lain.”
Klik.
Video berhenti.
Keheningan terasa menekan dada.
Aira tidak sadar kapan air matanya jatuh.
Selama lima tahun…
Ia membenci Arlan.
Ia yakin ayahnya dihancurkan.
Ternyata ayahnya memilih.
Dan Arlan… menepati janjinya.
Bisikan mulai pecah di ruangan.
“Ini bisa saja direkayasa.”
“Kenapa baru sekarang diputar?”
“Kenapa selama ini disembunyikan?”
Seorang investor berdiri.
“Tuan Arlan, kalau ini benar, Anda tetap terlibat dalam pengambilan keputusan yang berisiko!”
Arlan berdiri perlahan.
“Saya tidak menyangkal itu.”
“Lalu kenapa Anda diam selama lima tahun?”
Tatapannya bergeser sebentar ke arah Aira.
“Karena saya diminta untuk diam.”
Ruangan semakin riuh.
“Diam bukan solusi!”
“Reputasi perusahaan hampir hancur karena narasi sepihak!”
Mahendra mencoba menenangkan suasana, tapi tekanan sudah terlanjur naik.
Pintu ruang konferensi tiba-tiba terbuka.
Seorang staf masuk dengan wajah tegang.
“Media sudah memenuhi lobi, Pak. Mereka tahu rekaman diputar.”
Tentu saja.
Berita seperti ini tidak mungkin diam.
Arlan menutup map dokumennya.
“Rapat ditunda satu jam. Kami akan memberikan pernyataan resmi.”
Investor masih berdebat ketika Arlan berjalan keluar.
Aira berdiri.
Kakinya terasa lemah.
Ia bisa saja pergi sekarang.
Masuk lift lain.
Menghindari semua ini.
Tapi ia tidak bergerak.
Lobi gedung sudah penuh kamera.
Lampu kilat menyala begitu Arlan muncul.
“Tuan Arlan! Apakah benar Anda menyembunyikan fakta selama lima tahun?”
“Apakah ini bentuk manipulasi publik?”
“Apakah Anda akan mundur?”
Pertanyaan datang tanpa jeda.
Arlan berdiri tegak.
Wajahnya tetap tenang, tapi rahangnya mengeras.
“Saya tidak pernah memanipulasi apa pun. Saya menghormati permintaan seseorang yang sudah tidak bisa membela dirinya sendiri.”
“Apakah itu alasan untuk membiarkan opini publik salah arah?”
Arlan terdiam.
Dan di saat itu, semua orang melihat Aira melangkah keluar dari pintu belakangnya.
Kamera langsung beralih.
“Nona Aira! Apa Anda merasa dikhianati lagi?”
“Apakah Anda akan menuntut?”
Semua menunggu satu hal.
Mereka menunggu Aira menjauh.
Menunggu ia berdiri di sisi berlawanan.
Aira berhenti.
Ia menatap Arlan.
Pria itu tidak memohon.
Tidak meminta dibela.
Tidak berkata apa pun.
Ia hanya berdiri.
Sendirian seperti lima tahun lalu.
Aira menarik napas panjang.
Lalu—
ia melangkah maju.
Bukan menjauh.
Ia berdiri tepat di samping Arlan.
Tidak menyentuhnya.
Tidak tersenyum.
Hanya berdiri.
Kamera menangkap semuanya.
Seorang reporter mendesak, “Apakah Anda membenarkan keputusan ayah Anda?”
Aira menatap lurus ke depan.
Suara dalam kepalanya bergetar.
Hatnya masih kacau.
Lukanya belum sembuh.
Tapi ia tahu satu hal.
“Ayah saya,” katanya pelan namun jelas, “tidak pernah lari dari pilihannya.”
Keheningan jatuh.
“Itu keputusan beliau.”
Ia menoleh sedikit ke arah Arlan.
“Dan saya menghormati itu.”
Tidak ada pembelaan dramatis.
Tidak ada pengakuan cinta.
Tidak ada permintaan maaf.
Tapi untuk pertama kalinya dalam lima tahun—
Aira tidak berdiri sebagai lawan.
Ia berdiri di sisi yang sama.
Lampu kamera terus menyala.
Narasi lama runtuh perlahan.
Dan di antara kebisingan itu, Arlan akhirnya mengerti satu hal—
Kepercayaan mungkin tidak kembali hari ini.
Tapi kebencian… sudah mulai retak.
Langit yang sejak pagi mendung, akhirnya menjatuhkan hujan tipis.
Bukan badai.
Hanya gerimis yang pelan.
Seperti hati Aira.
Belum sepenuhnya pulih.
Tapi tidak lagi membeku.
sangat seru