NovelToon NovelToon
Blood Of Sin - Tsumi No Chi

Blood Of Sin - Tsumi No Chi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: samSara

罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30 - Shizukesa part II

...**...

...継ぐ手...

...-Tsugu Te-...

...'Tangan yang mewarisi'...

...⛩️🏮⛩️...

..."Jika tidak bisa lari darinya... maka harus belajar berjalan bersamanya."...

...⛩️🏮⛩️...

Sekarang, di hadapannya anak yang dulu bahkan belum lahir, menyaksikan berbagai luka dalam keluarga ini dan menanggung beban yang sejak awal bukan miliknya. Bukan kesalahannya.

Kuroda menatap Noa dengan ekspresi yang tak bisa dibaca sepenuhnya.

"...Tapi justru tubuhmu yang cocok. Bukan karena asalmu, tapi karena kau apa adanya... dan cukup kuat."

"Kuraokami bukan memilih sembarang tubuh. Ia tidak bisa ditebak. Mungkin juga roh naga yang benci dengan rencana manusia."

Kuroda melipat lengan.

"Kau tahu kenapa saudara-saudara tirimu tidak terpilih?"

Noa menggeleng.

"Mungkin saja karena mereka terlalu sempurna. Terlalu 'dibentuk'. Seperti kendi dari tanah liat murni—rapuh jika terlalu panas. Tapi kau? Tanahmu masih kasar dan bebas. Justru itu membuatmu tahan banting."

Noa menunduk. Tubuhnya tahu, segel tahu.

Kuroda lebih lembut.

"Dan mungkin... Oyabun juga tahu—tidak semua kekuatan butuh pengakuan. Kadang, cukup tidak melenyapkanmu."

Noa tersenyum tipis. "Cara aneh untuk sebuah pengakuan?"

Kuroda tertawa. "Di klan ini, itu bentuk cinta terbesar."

Ia berdiri perlahan, meraih pintu geser.

"Jaga dirimu. Para tetua rapat tiap malam. Namamu sudah mulai disebut bukan sebagai anak haram... tapi penanda arus baru."

Kuroda berjalan, membuka pintu perlahan.

Noa mengangguk, berbaring kembali. Napasnya lebih tenang. Ia tak tahu apakah Kuraokami akan membunuhnya, menelannya, atau menjadikannya boneka.

Ia tetap duduk, membiarkan cahaya sore menyentuh wajahnya. Punggungnya hangat. Roh itu belum bicara. Tapi ia tahu...

Ia bukan pewaris sah.

Ia adalah yang tak pernah direncanakan.

Dan justru itu... yang membuatnya cukup berbahaya.

...⛩️🏮⛩️...

Langkah-langkah berat berdebum menyusuri koridor batu.

Kaede berjalan lurus menuju aula tengah, di mana para tetua telah berkumpul dalam lingkaran tak sempurna. Dinding kayu berumur puluhan tahun bergema samar oleh suara doa dan mantra yang dibacakan berulang, menciptakan atmosfer seperti ruang penghakiman.

Akiro sudah duduk di sisi kanan, jubah birunya berkilau lembut oleh cahaya lentera. Reiji berdiri bersandar di tiang kayu besar, tangan menyilang, matanya menatap kosong ke arah api pemurnian yang menyala kecil di tengah ruangan.

Di antara mereka, Oyabun Raizen berdiri tegak, tubuhnya bagai patung ukiran di masa lalu, tak tergoyahkan oleh waktu ataupun keputusan.

"Kaede-san," ucap salah satu tetua yang berjanggut putih. "Kau tahu kenapa kami memanggilmu?"

Kaede menunduk hormat, tapi tidak sepenuhnya merendah.

"Karena menjalin kontak dengan musuh."

"Kau yang membocorkan intervensi Nakamura kepada pihak musuh. Sebuah pelanggaran yang... hampir membuat musuh mencium adanya Kuraokami dan bisa membuat kita pada perang terbuka," sela Jin.

Kuroda menggeram pelan.

"Jika polisi datang lebih cepat, semua akan sia-sia dan merepotkan."

Kaede tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah api pemurnian yang menyala lembut dan dalam pantulannya... seperti membayangkan wajah Noa yang tidak ada di sana.

"Tidak ada yang tahu seperti apa kondisinya sekarang," gumam seorang tetua sekaligus pendeta Shinto. "Bahkan segel itu pun—kalau masih bekerja—tidak bisa membendung sesuatu yang telah memilih... bebas."

"Bagaimana dengan ritual pembuktian?" tanya Akiro. "Kita bisa menguji kekuatan roh itu. Jika masih bisa dikendalikan, kita..."

"Tidak," potong Raizen. "Kita tidak akan membangunkannya lagi hanya demi memuaskan rasa takut atau penasaran."

Semua terdiam. Sampai Kaede bersuara.

"Bukan rasa penasaran yang kami pertaruhkan, Otou-sama."

Raizen menatapnya tajam.

Kaede maju selangkah.

"Kita bertaruh pada tubuh yang belum siap. Pada seseorang yang bahkan tidak mengenal siapa dirinya sendiri dengan baik. Seseorang yang... bahkan bukan bagian dari silsilah utama."

"Tapi ia yang terpilih," balas Raizen pelan.

"Atau dikutuk," tukas Kaede dengan tajam.

Sunyi.

Kaede menunduk. Dari dalam lengan bajunya, ia mengeluarkan sebilah tantō pendek.

Ia berlutut di depan altar dengan bilah di hadapannya.

Suasana aula sunyi. Nafas tertahan.

Ia menggulung lengan kirinya, meletakkan tangan di atas kain putih, lalu menggenggam pisau.

Tapi sebelum bilah itu menyentuh kulitnya, suara Oyabun menghentikan segalanya.

Datar. Dalam. Tapi membuat setiap orang terpaku di tempat.

"Letakkan pisaumu, Kaede."

Kaede berhenti bergerak.

Raizen melangkah perlahan mendekat, suara langkahnya nyaris tak terdengar di atas tatami.

"Yubitsume hanya berarti jika disertai penyesalan," ucapnya tenang,

"Kau bisa memotong satu jari... bahkan seluruh tanganmu... tapi aku tahu, kau tetap tidak menyesal."

Sorot mata Kaede tak berkedip. Tapi pisau di tangannya mulai goyah.

"Jadi katakan padaku, Kaede... bukan apa yang ingin kau bayar, tapi apa yang ingin kau balaskan?"

Kaede mengangkat kepalanya. Napasnya berat.

"Aku ingin bertarung dengannya."

"Dengan Nakamura?"

"Dan dengan roh itu. Dengan segala yang kalian pilih untuk mempertaruhkan sejarah keluarga kita."

"Kaede..." Raizen memperingatkan.

"Aku tidak akan membunuhnya. Tapi kita bisa melihat dan menilai apa yang akan terjadi," ucap Kaede mantap. "Antara ia menjadi naga... atau tetap menjadi manusia."

"Dan kalau dia memilih menjadi naga."

Kaede tersenyum miring. "Maka aku dan harusnya kita semua akan menganggapnya sebagai ancaman."

"Dan jika kau kalah, Kaede? Apa kau bersedia memberikan nyawamu dengan percuma" Ucap Kuroda dingin.

Desis lirih terdengar dari beberapa tetua dan anggota klan. Nama Kaede tidak disebut-sebut secara langsung sebelumnya. Tapi sekarang... tak ada lagi yang bisa disembunyikan.

Kaede menelan ludah. Tapi ia menjawab tegas, meski tangannya sedikit gemetar.

"Jika aku kalah, maka aku mati dengan cara terhormat, dengan caraku."

Ia menoleh pada para tetua.

"Dan biarkan aku membersihkan namaku dengan pedang atas nama ibuku."

Para tetua mulai bergumam pelan.

Jin menyipitkan mata, nadanya berat tapi tetap terkendali.

"Kau berani mengucapkannya di hadapan kami... Kaede. Ingat, pedangmu bukan hanya milikmu, tapi juga harga diri klan ini."

Torao hanya mendengus kasar, wajahnya menegang.

Akiro dan Reiji saling pandang.

Reiji menghela napas, senyum tipis muncul meski matanya penuh keraguan. "Kaede... aku tidak tahu apakah aku harus menyebutmu bodoh atau gila."

Raizen menutup mata. Menimbang.

Ia tahu ini tidak bisa diredam lagi.

...⛩️🏮⛩️...

Sementara Itu, Di Paviliun Barat.

Langit telah berwarna merah tua saat Noa duduk di beranda paviliun kosong, memandangi taman batu yang belum tersentuh. Hening, tapi tidak damai. Di balik angin sore, ia bisa mendengar bisik-bisik dari roh-roh kecil yang menjaga halaman.

Sejak ia bangun, dunia menjadi lebih sunyi—tapi juga lebih keras di sisi-sisi yang tak terlihat.

Ada getaran aneh di tanah saat ia melangkah. Ada tatapan aneh dari hewan-hewan kecil yang melintas. Bahkan burung-burung gagak di puncak atap tak lagi menghindar darinya—seakan mereka mengenal aroma yang ia bawa.

Dan di malam hari... ia mendengar suara air.

Suara derasnya hujan yang tidak turun.

Suara laut yang tidak ada.

Dan di antaranya, suara yang sering menyebut namanya.

Kuraokami.

Noa menutup mata.

Dalam kegelapan pikirannya, ia melihat sekilas: mata biru yang menyala seperti magma beku. Sisik putih keperakan. Nafas beracun yang menembus mimpi.

Sosok itu belum berbicara lagi.

Tapi ia menunggu.

...⛩️🏮⛩️...

Langkah-langkah kaki menghampiri Noa. Kaede berdiri di balik cahaya lentera taman, wajahnya setengah tersembunyi dalam bayangan.

Mata Kaede menyipit.

"Aku ingin menantangmu duel, Nakamura."

Noa menoleh sekarang, mata hitamnya memantulkan cahaya kecil lentera. "Kalau aku tidak mau?"

Kaede tersenyum tipis, lalu berbisik nyaring.

"Aku akan menganggapmu takut. Atau lebih buruk lagi... bahwa kau bukan siapa-siapa di klan ini."

Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan nada lebih tajam, menusuk.

"Seperti ibumu... yang hanya pelacur jalanan. Mungkin darahmu memang tak pernah pantas ada di sini."

Suara itu menyulut api dalam diri Noa. Ia terdiam sepersekian detik, rahangnya mengeras. Ia sudah cukup sabar—tapi ucapan Kaede terlampau jauh.

Tiba-tiba Noa melompat, serangan cepat dengan kepalan tangan diarahkan ke wajah Kaede. Kaede lebih sigap, menghindar dengan miring tipis, menangkis gerakan berikutnya seakan sudah hafal irama Noa.

Noa menyerang lagi, serangkaian hantaman yang meledak-ledak. Kaede tetap tak membalas, hanya berputar dan menepis, bibirnya tersenyum tipis seakan menikmati amarah itu.

Tangan Noa terhenti mendadak. Bukan karena Kaede, melainkan karena genggaman keras di pergelangan. Jin berdiri di antara mereka, matanya dingin.

"Hentikan." Suaranya berat, nada otoriter. "Simpan tenaga kalian. Jika nanti oyabun telah memutuskan, kalian bisa saling serang dengan cara terhormat."

Keheningan jatuh di taman batu. Hanya suara air yang menetes dari pancuran kecil.

Kaede melepaskan senyumnya perlahan, lalu berbalik. Sebelum menghilang dalam bayangan, ia sempat menoleh sekali lagi.

"Aku ingin tahu... apakah tubuhmu benar-benar milikmu. Atau kau hanya boneka yang belum sadar."

...—つづく—...

1
Faeyza Al-Farizi
kamu seneng, kok aku justru ketar ketir Noa 😭😭😭
Faeyza Al-Farizi
makanya jangan disakitin 🫵
Faeyza Al-Farizi
aaaah.... sama 😌😌, ini di sini kamu kelihatan baik, nggak cuma kelihatan kan? emang asli baik?
Faeyza Al-Farizi
Kimura sama Hane sama?
Faeyza Al-Farizi
itulah tantangan jadi pedagang, yang di stok bukan cuma barang tapi sabar dan senyuman, kalau enggak pelanggan bakal 😌
Faeyza Al-Farizi
Tetap aja Nak... bocil macam kamu tuh justru banyak di titeni
Faeyza Al-Farizi
Hadeh akang Hane... tolong ya Kak Author perjelas statusnya, biar aku bisa jelass harus dukung atau demo ke si akang Hane ini
Faeyza Al-Farizi
aku harap seenggaknya kamu simpati lah 🥴
Faeyza Al-Farizi
lebih manfaat kalau hidupmu bikin orang lain nyaman, tentram, sehat 🥲
Faeyza Al-Farizi
Halah Hane... milikilah hati sedikit, atasanmu gak bakal tau kalau kamu kasih dia soklat barang sebatang... apalagi kalau coklatnya cuma bungkusnya dalemnya emas 😌😌, tapi ini kayaknya cuma hayalan pembaca yang kepalanya udah berat sama rasa kasihan sama Noa.
Faeyza Al-Farizi
ini pak Tadashi siapanya Noa? ayahnya ? ngapain ngawasin dari jauh kalau emang kau ayahnya. datengin kek. minimal kalau gak mau ngakuin santunin, berobatin ibunya, jangan cuma kirim mata-mata, gak guna
Faeyza Al-Farizi
Udah capek, mana pake ada bau kejahatan pula ini, heran masih ada yang doyan nambahin deritanya 🥴
Faeyza Al-Farizi
NAK... kamu juga harus bantu dirimu 😭😭😭, ish kenapa takdirnya timpang banget begini
Faeyza Al-Farizi
😭😭😭😭 semudah itu harus banting tulang, tolong yang bikin dia lahir dengan nitipin benih ke ibu Noa, tanggung jawab woy 🫵
Bis Mika
Ceritanya keren sekali, aku suka ritme yang diatur author
Selens ana
🔥🔥🔥🔥
Bis Mika
Keren banget thor gimana km segitu niatnya bikin cerita yg atmosferik kayak gini🥹🔥
Bis Mika
huhuuu kasihan sekali baby merah itu, kenapa teganya ada manusia yang mau memalsukan kondisinya saat lahir 😔
Een Nuraeni
Kisah perempuan yang bahkan harus menyembunyikan kelahiran bayinya, mengganti identitas dan pergi sejauh mungkin untuk melindungi si bayi.

Dia bukan istri, bukan selir, cuma perempuan yang di takdirkan untuk melahirkan seorang bayi yang mungkin bisa saja menjadi ancaman untuk klan di masa depan.

prolog aja udah di suguhi cerita yang wah banget, penasaran sama kehidupan Rin dan bayinya nanti.
Een Nuraeni
Sesuatu yang di tutupi pada akhirnya emang bakal ketauan juga, tapi... tapi.... kalau sampai Rin dan bayinya ketemu, kira-kira apa yang bakal terjadi ya?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!