Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.
Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.
Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.
Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berhasil Kabur
Sunyi itu pecah oleh bunyi mesin dari kejauhan.
Bukan sirene. Bukan teriakan.
Mesin diesel tua, batuk-batuk, dinyalakan paksa.
Mika menempelkan telinga ke pintu besi. Getaran halus merambat lewat lantai. Pabrik itu tidak mati, ia hanya tidur, dan sekarang sedang terbangun dengan cara yang salah.
“Dengar,” bisik Pak Raka.
Mika mengangguk. Ia tahu suara itu. Kendaraan berat. Bukan untuk memadamkan api, untuk mengangkut sesuatu. Atau seseorang.
Langkah kaki kembali terdengar, tapi kali ini tidak tergesa. Teratur. Orang-orang yang sudah menemukan ritmenya lagi.
Api kecilnya berhasil memecah perhatian, tapi tidak cukup lama.
“Kita keluar sekarang,” bisik Mika. “Kalau menunggu, mereka akan menyisir.”
Pak Raka mengangguk. Kakinya gemetar, tapi kepalanya jernih. “Lewat mana?”Suara mesin kembali muncul.
Kali ini lebih dekat. Lebih yakin.
Bukan satu.
Dua kendaraan, bergerak memotong, bukan mengejar lurus. Orang-orang Levis mulai membaca medan.
Mika berhenti mendadak. Mengangkat tangan.
Pak Raka ikut berhenti, napasnya berat tapi terkendali.
“Dengar,” bisik Mika.
Mesin itu tidak datang dari belakang. Dari samping kanan. Jalan inspeksi lama, jalur yang hanya dipakai truk bata dulu. Artinya mereka mencoba menutup kemungkinan keluar, bukan sekadar mengejar.
“Kejarannya sudah berubah,” kata Pak Raka pelan.
Mika mengangguk. “Mereka tidak panik lagi.”
Dan itu lebih berbahaya.
Lampu menyapu kebun jeruk tua di kejauhan. Bayangan pohon bergerak patah-patah, seperti sosok yang berlari lebih dulu dari tubuhnya.
Mika menarik ayahnya ke parit kecil. Air setinggi betis, bau tanah dan daun busuk menampar hidung. Mereka berjalan menyamping, membiarkan arus kecil menghapus jejak.
Teriakan terdengar.
“Pisah! Dua orang ke sungai!”
Lampu berputar cepat.
Satu tembakan dilepas ke udara.
Bukan untuk mengenai, tapi peringatan. Tekanan.
Pak Raka tersentak. Mika menekan bahunya. “Jangan berhenti.”
Mereka keluar dari parit, menyeberang kebun, menunduk rendah. Lutut Pak Raka hampir menyerah, tapi ia memaksa langkahnya tetap ritmis. Orang pincang yang panik mudah dibaca. Orang pincang yang teratur, lebih sulit.
Senter menyapu terlalu dekat.
Mika melempar batu ke arah berlawanan. Batu itu menghantam seng tua dan terdengar nyaring.
“Di sana!” seseorang berteriak.
Lampu berpindah.
Mika tidak menunggu. Ia menarik Pak Raka, berlari menurun ke semak lebat. Duri mengoyak lengan, kain robek, tapi tidak ada waktu untuk rasa sakit.
Di balik semak, tanah berubah. Lebih keras. Jalan aspal tipis, batas area industri lama.
Pak Raka terhuyung. Mika menahan tubuhnya.
“Sedikit lagi,” bisiknya. “Lewat jalan ini, kita keluar wilayah mereka.”
Mesin meraung. Lampu besar menyorot lurus.
Terlambat.
Seseorang muncul dari sisi kiri. Senter langsung ke wajah Mika.
“Hent..."
Mika bergerak lebih cepat dari pikirannya. Ia mendorong Pak Raka ke balik truk tua yang terparkir, lalu mengambil batu besar dan melemparkannya ke lampu.
Praak!
Kaca pecah. Senter mati.
Tembakan balasan terdengar kali ini rendah, mengarah. Peluru menghantam bodi truk, logam menjerit.
Pak Raka merunduk. “Mika—!”
“Lari!” teriak Mika.
Mereka berlari menyeberangi aspal, masuk ke deretan gudang kecil yang sudah ditinggalkan. Tidak ada api. Tidak ada lampu. Hanya pintu-pintu berkarat dan bau tikus.
Teriakan semakin kacau.
“Jangan tembak sembarangan!”
“Ke kanan!”
“Dia pincang, potong depan!”
Mika melihat celah terakhir: pagar kawat yang roboh setengah. Di baliknya ada jalan menuju kabupaten. Lampu jauh. Kendaraan umum.
Area netral.
Mereka menerobos. Kawat menggores, tapi tidak menghentikan.
Begitu kaki mereka menginjak aspal jalan kabupaten, Mika tidak berhenti. Ia menyeret ayahnya hingga ke balik halte kecil yang gelap.
Mereka bersembunyi. Menunggu.
Satu kendaraan berhenti di tepi jalan industri, lampunya mati. Orang-orang Levis tidak turun. Mereka hanya menatap ke arah jalan kabupaten.
Tidak ada yang menyeberang.
Batas tak tertulis telah dilewati.
“Keluar area,” bisik Pak Raka, hampir tidak percaya.
Mika menempelkan punggung ke dinding halte. Dadanya naik turun keras. Tangannya gemetar baru sekarang, saat tubuhnya tahu mereka hidup.
Di kejauhan, kendaraan Levis berputar balik. Mesin menjauh.
Tidak ada teriakan kemenangan. Tidak ada sumpah serapah.
Hanya mundur.
Pak Raka memejamkan mata. Lama. “Mereka akan melapor.”
Mika mengangguk. “Aku tahu.”
“Dan Levis...”
“Akan tahu kita lolos.”
Mika menatap jalan yang membentang ke desa lain. Lampu-lampu kecil seperti janji yang rapuh.
“Yang penting,” katanya pelan, “kita tidak mati di wilayahnya.”
.
Seorang anak buah berdiri di depan Levis, wajahnya tegang.
“Tuan… laporan terakhir, mereka berhasil lolos. Kami tidak menemukan mereka,” suara pria itu terdengar pelan, tetapi jelas, itu bukan kabar baik.
Levis tidak bergerak. Tatapan matanya tetap tajam, seperti orang yang sudah memprediksi ribuan kemungkinan dan hanya satu yang benar-benar penting.
“Biarkan,” katanya singkat. Suaranya datar seperti logika yang tidak bisa diganggu.
“Anggap ini sebagai bonus.”
Kesunyian sejenak menyambut ucapan itu.
Anak buahnya terdiam, bukan karena tidak percaya, tetapi karena mengerti bahwa Levis tidak sedang meremehkan, melainkan mengatur ulang medan perang secara sengaja.
Levis menoleh, memandang ke arah peta yang tergantung di dinding. Garis-garis rute, titik-titik kontak, semuanya tampak lebih hidup dalam pikirannya daripada di atas kertas.
“Satu hal yang kau pelajari tentang ancaman,” gumam Levis pelan, bukan untuk didengar orang lain, “adalah, mereka tetap hidup untuk kembali menghantui kita.”
.
Mobil itu melaju tanpa suara berlebih.
Kaca gelap. Tidak ada borgol. Tidak ada senjata yang ditodongkan ke kepalanya. Levis tidak butuh itu. Ia selalu percaya, seseorang yang tahu situasinya sudah kalah sebelum diikat.
Jovan duduk di kursi belakang, bahunya masih terasa panas di balik jas bersih yang dipaksakan padanya. Luka lama. Luka baru. Semua ditutup rapi, seperti kebohongan yang disiapkan dengan baik.
Jalanan desa sudah lama tertinggal.
Sekarang yang tersisa hanya aspal panjang dan lampu-lampu kota yang mulai muncul satu per satu, seperti ingatan yang kembali terlalu cepat.
“Kau selalu begini,” suara Levis terdengar dari kursi depan. Tenang. Hampir santai.
“Diam terlalu lama, lalu membuat orang lain salah mengira.”
Jovan tidak menjawab.
Ia menatap pantulan wajahnya di kaca jendela. Lebih tirus. Lebih asing. Seperti seseorang yang pernah ia tinggalkan.
“Kau tahu kenapa aku tidak membunuhmu di sana?” lanjut Levis.
“Karena desa itu bukan tempatmu mati.”
Mobil berbelok. Gerbang besi terbuka. Bukan markas utama. Bukan rumah keluarga. Tempat ini terlalu bersih untuk disebut persembunyian, terlalu sunyi untuk disebut penjara.
Rumah singgah.
Tempat orang dibongkar, bukan dibunuh.
Mobil berhenti.
Levis turun lebih dulu, membenarkan jasnya. Ia menoleh setengah badan.
“Ada kabar,” katanya ringan. “Orang tuamu, yang kau sebut Pak Raka, menghilang.”
Jovan akhirnya mengangkat wajah.
Levis tersenyum kecil. “Dan gadis desa itu… ternyata lebih berani dari yang kukira.”
Kalimat itu seperti pukulan tanpa suara.
Jovan tidak bereaksi besar. Tidak membentak. Tidak menantang. Ia hanya menarik napas pelan—terlalu pelan untuk seseorang yang baru saja diberi kabar buruk.
“Kalau kau menyentuh mereka...” ucapnya akhirnya.
Levis tertawa pendek. “Aku tidak perlu. Mereka sudah menyentuh dunia kita sendiri.”
Pintu rumah dibuka. Cahaya dalam ruangan menyambut dingin.
“Masuk,” kata Levis. “Kita bicara seperti keluarga.”
Jovan melangkah masuk.
Dan di saat itulah ia sadar, Levis tidak membawanya pulang untuk membunuhnya.
Levis membawanya pulang untuk menunjukkan: bahwa semua yang Jovan coba lindungi… kini berada dalam jangkauan.
Di desa, Mika menarik napas untuk pertama kalinya tanpa asap di paru-parunya.
Ia dan ayahnya bersembunyi di balik gelap yang tidak mengenal nama mereka. Pak Raka menutup matanya sebentar, lalu berkata lirih, “Jovan akan tahu.”
Mika tidak menjawab.
Tapi di dalam dadanya, ada keyakinan aneh yang tidak berasal dari harapan, melainkan dari seseorang yang ia tahu tidak akan diam.
Di kota, Jovan berdiri di depan jendela rumah singgah itu.
Lampu-lampu menyala di kejauhan. Dunia lama menunggu.
Dan untuk pertama kalinya sejak ia jatuh ke desa itu, satu keputusan terbentuk dengan jelas: Ia tidak akan lari lagi.
Bukan dari Levis. Bukan dari masa lalu. Dan bukan dari gadis desa yang telah mengajarinya arti pulang yang sebenarnya.