Tokoh utama nya adalah pria bernama Reza (30 tahun) .Dia bukan Pahlawan, dia bukan orang kaya ,dia cuma pria yang merasa hidupnya sudah tamat karena hutang, patah hati, Dan Rasa bosan.
dia memutuskan untuk pergi secara terencana .dia sudah menjual semua barang nya , menulis surat perpisahan yang puitis, dan sudah memilih Gedung paling tinggi. tapi setiap kali ia mencoba selalu ada hal konyol yang menggagal kan nya , misalnya pas mau lompat tiba tiba ada kurir paket salah alamat yang maksa dia tanda tangan. Pas mau minum obat, eh ternyata obatnya kedaluwarsa dan cuma bikin dia mulas-mulas di toilet seharian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akar yang mencoba tumbuh
Bogor menyambut mereka dengan hujan rintik yang abadi. Di rumah ibu Budi, Reza belajar bahwa ketenangan bisa jadi lebih menakutkan daripada kebisingan bagi orang yang terbiasa lari. Sudah satu minggu mereka menetap di sana. Anya mulai terlihat lebih sehat, rona merah di pipinya kembali muncul berkat sayur-mayur segar dan udara pegunungan. Namun, Reza tetaplah Reza; pria yang merasa tidak berguna jika tidak memeras keringat.
"Kamu tidak bisa selamanya jadi kurir di Jakarta kalau tinggal di sini, Rez," kata Anya suatu sore, sambil membantu ibu Budi memetik cabai di kebun belakang.
Reza yang sedang memperbaiki pagar kayu yang mulai lapuk menoleh. "Aku tahu. Ongkos bensin dan waktu di jalan habis buat bolak-balik. Tapi di sini... aku mau kerja apa?"
"Ibu dengar pasar di bawah butuh orang buat urus logistik sayuran," sahut Ibu Budi tanpa menoleh. "Bukan pakai motor, tapi pakai truk kecil. Mereka butuh orang yang jujur. Zaman sekarang, cari orang jujur itu lebih susah daripada cari orang pintar."
Reza terdiam. Ia melihat tangannya yang kini kasar dan penuh kapalan. Dulu, tangan ini hanya menyentuh keyboard laptop mahal. Sekarang, tangan ini tahu cara memegang gergaji dan memanggul karung. Ia mulai menyukai versi dirinya yang sekarang.
Namun, ketenangan itu terusik saat sebuah mobil hitam mengkilap berhenti di depan jalan setapak menuju rumah. Itu bukan mobil polisi, bukan pula mobil Gery. Itu adalah mobil keluarga. Seorang pria tua dengan kemeja batik rapi keluar, diikuti oleh seorang wanita paruh baya yang wajahnya sangat mirip dengan Anya, namun dengan gurat kekecewaan yang mendalam.
Itu adalah orang tua Anya.
"Papa? Mama?" Anya menjatuhkan keranjang cabainya. Wajahnya pucat pasi.
Reza segera berdiri di depan Anya, insting protektifnya langsung menyala. Namun, ia tahu ini bukan preman penagih hutang. Ini adalah "akar" yang Anya coba hindari.
"Jadi di sini kamu bersembunyi? Bersama... pria ini lagi?" suara ayah Anya, Pak Broto, terdengar sangat dingin. Ia menatap Reza seolah-olah Reza adalah kotoran yang menempel di sepatunya.
"Pa, tolong... jangan di sini," bisik Anya.
"Kamu menghilang berbulan-bulan, Anya! Kami tahu soal kasus Gery dari berita. Kamu pikir kami tidak malu? Nama keluarga kita diseret-seret ke media karena kamu berhubungan dengan kriminal!" teriak ibunya, Bu Siska, sambil mulai menangis. "Dan sekarang kamu hamil? Tanpa suami? Dan malah tinggal dengan mantan suamimu yang bangkrut ini?"
Reza menarik napas panjang. Ia melangkah maju satu langkah. "Pak, Bu... saya tahu saya bukan menantu impian. Saya memang pernah gagal. Tapi di saat Anya tidak punya siapa-siapa, sayalah yang ada di sana. Bukan karena saya ingin kembali padanya, tapi karena dia manusia yang butuh perlindungan."
"Diam kamu!" Pak Broto menunjuk wajah Reza. "Kamu pikir kami tidak tahu rencana kalian? Kamu menggunakan Anya untuk menjatuhkan Gery supaya kamu terlihat seperti pahlawan, kan? Kamu cuma ingin memanfaatkan anak saya!"
Anya tiba-tiba melangkah keluar dari belakang punggung Reza. Ia berdiri tegak, memegang perutnya yang mulai membuncit. "Cukup, Pa! Reza tidak pernah minta apa-apa. Dia yang memberiku makan saat aku kelaparan. Dia yang mempertaruhkan nyawanya saat orang-orang Gery mengepung kami. Di mana Papa saat itu? Papa sibuk menjaga 'nama baik' keluarga, kan?"
Suasana menjadi hening, hanya suara gesekan daun bambu yang terdengar.
"Pulang sekarang, Anya. Kita akan urus anak itu di rumah. Kamu bisa bilang itu anak dari pernikahan siri atau apa pun. Tapi jangan tinggal di gubuk ini bersama pria ini," kata Bu Siska sambil mencoba menarik tangan Anya.
Anya melepaskan tangan ibunya perlahan. "Aku tidak akan pulang untuk menjadi pajangan yang Papa dan Mama sembunyikan karena malu. Aku akan tinggal di sini. Aku akan belajar hidup dari nol, seperti yang Reza lakukan."
Pak Broto menatap Reza dengan kebencian murni. "Kalau kamu tetap tinggal bersamanya, jangan harap satu rupiah pun dari harta keluarga akan sampai padamu. Kamu dianggap sudah mati bagi kami."
"Aku sudah terbiasa dengan kematian, Pa," jawab Anya tenang. "Tapi di sini, untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar hidup."
Orang tua Anya pergi dengan kemarahan yang meluap-luap. Mobil hitam itu meninggalkan debu yang mengepul di jalanan Bogor. Anya jatuh terduduk di bangku kayu, menangis dalam diam. Reza duduk di sampingnya, tidak mencoba untuk menenangkan dengan kata-kata manis, karena ia tahu kata-kata tidak akan membayar harga sebuah pemutusan hubungan keluarga.
"Kita benar-benar tidak punya siapa-siapa sekarang, Rez," bisik Anya.
Reza merangkul bahunya. "Salah. Kita punya satu sama lain. Dan kita punya Budi, ibu Budi, dan... kita punya masa depan yang tidak perlu kita curi dari siapa pun."
Reza mengeluarkan tali jemuran kuning dari sakunya—tali yang sudah ia potong pendek menjadi sebuah gelang kecil yang ia ikat di pergelangan tangannya. "Besok, aku akan ke pasar. Aku akan melamar jadi sopir truk sayur. Dan kamu... kamu akan belajar membuat sambal yang enak dari ibu Budi. Kita akan mulai dari sana."
Malam itu, di bawah atap kayu yang bocor di satu sudut, mereka berdua makan nasi dengan sambal dan tempe goreng. Tidak ada kemewahan, tidak ada nama besar keluarga. Hanya ada dua orang gagal yang sedang merajut kegagalan mereka menjadi sebuah kekuatan baru.
Reza menatap langit-langit. Ia menyadari bahwa rencananya untuk mati dulu adalah kesalahan besar. Ternyata, hidup yang paling pahit sekalipun jauh lebih menarik untuk dijalani daripada kegelapan yang tidak menawarkan apa-apa.
"Za, panggil Anya sebelum mereka tidur.
"Ya?"
"Terima kasih sudah tidak membiarkan aku pulang tadi."
"Terima kasih sudah memilih untuk tetap di gubuk ini, Anya."
Percakapan dengan Gemini
Bisa bikin yang seperti animasi nggak juga segar

Yang terkait dong sama cerita ini jangan kek gini mirip plagiat ini

Hanya toko toko penting yang ada di gambar

Lanjutkan

Lanjut kan bab 3

Lanjutkan cerita novel ke bab 3
Terima kasih atas semangatnya! Mari kita jaga ritme ini. Ingat, target kita adalah 1.000 kata, alur yang to-the-point, dan kejujuran emosi yang tidak dibuat-buat.
RENCANA GAGAL MATI
Bab 3: Mencuri Harapan di Aspal Panas
Pagi itu, Jakarta tidak menyambut Reza dengan pelukan hangat. Kota ini justru menyapa dengan polusi yang menyesakkan paru-paru dan suara klakson yang saling bersahutan seperti hewan buas yang kelaparan. Reza berdiri di depan cermin kecil yang retak di kamar mandi, menempelkan plester cokelat lebar di lehernya. Ia harus menyembunyikan "jejak kuning" itu. Ia tidak ingin orang-orang melihatnya sebagai pria yang gagal mengakhiri hidup; ia lebih suka dianggap sebagai pria yang baru saja mengalami kecelakaan motor kecil.
Anya masih tertidur di lantai beralaskan jaket tebal milik Reza. Wajahnya saat tidur terlihat jauh lebih tenang, meskipun sisa-sisa air mata masih membekas di bantal daruratnya. Reza tidak tega membangunkan wanita itu. Ia meletakkan uang Rp 10.000 terakhirnya di atas lantai—cukup untuk membeli dua buah roti sobek di warung bawah—lalu ia melangkah keluar dengan sepatu kets yang solnya sudah mulai menganga.
Tujuannya hanya satu: mencari kurir ayam geprek kemarin.
Logikanya sederhana, namun sedikit putus asa. Jika seorang kurir bisa sangat gigih menggedor pintu orang yang mau bunuh diri demi sebuah foto bukti, maka perusahaan tempatnya bekerja pasti punya standar kegigihan yang luar biasa. Dan Reza, di titik ini, tidak punya apa-apa lagi selain sisa-sisa kegigihan untuk tidak mati kelaparan.
Setelah berjalan hampir empat puluh menit untuk menghemat ongkos, Reza sampai di sebuah gudang distribusi logistik di pinggiran kota. Baunya campuran antara asap knalpot, kardus basah, dan keringat manusia. Di sana, puluhan motor terparkir berjejalan. Orang-orang dengan jaket hijau dan orange hilir mudik membawa paket-paket besar seolah-olah hidup mereka bergantung pada kecepatan detik jam.
"Cari siapa, Mas?" tegur seorang pria paruh baya yang sedang merokok di depan gerbang. Seragamnya bertuliskan 'Koordinator Lapangan'.
"Saya cari kurir yang kemarin kirim ayam geprek ke Apartemen Cendana lantai empat. Namanya... kalau tidak salah di aplikasi tertulis 'Budi'," jawab Reza agak ragu.
Pria itu tertawa kecil, asap rokok keluar dari hidungnya. "Mas, di sini ada lima puluh orang namanya Budi. Mau Budi yang mana? Budi yang motornya mogok, Budi yang anaknya tiga, atau Budi yang habis ditabrak kucing?"
Reza terdiam. Ia baru sadar betapa konyolnya rencananya. Namun, keberuntungan—atau mungkin kesialan yang menyamar—datang. Sebuah motor bebek tua dengan knalpot berasap masuk ke area gudang. Pengendaranya turun sambil mengomel tentang alamat yang tidak ketemu. Itu dia. Pria muda dengan senyum menjengkelkan yang kemarin menginterupsi maut.
"Woi, Mas Drama!" teriak si kurir saat melihat Reza. "Gimana? Dramanya sukses? Atau butuh properti tali lagi?"
Reza mendekat, mengabaikan ejekan itu. "Namamu Budi?"
"Budi Santoso. Ada apa? Ayamnya kurang pedas? Atau mau kasih bintang satu?" Budi melepas helmnya, menatap plester di leher Reza dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku butuh kerjaan," kata Reza langsung. "Apa saja. Aku butuh uang hari ini juga."
Budi terdiam. Tawa di wajahnya hilang, digantikan oleh tatapan menilai yang tajam. Dia melihat sepatu Reza yang rusak, baju Reza yang kusam, dan getaran halus di tangan pria itu. Budi sudah sering melihat orang putus asa, tapi Reza punya jenis keputusasaan yang berbeda—keputusasaan orang yang sudah melihat "ujung jalan" tapi dipaksa berbalik arah.
"Sini," Budi memberi isyarat agar Reza mengikutinya ke belakang gudang.
Di sana, tumpukan kardus menumpuk hingga setinggi langit-langit. Budi menunjuk sebuah tumpukan paket yang ukurannya tidak beraturan. "Ada satu kurir yang mendadak berhenti tadi pagi karena motornya ditarik leasing. Ada sekitar tiga puluh paket yang harus sampai sebelum jam lima sore. Wilayahnya daerah padat, gang sempit, dan banyak anjing galak. Mas punya motor?"
Reza menggeleng. "Motor saya sudah dijual bulan lalu."
Budi menghela napas panjang. "Gila kamu ya. Mau jadi kurir tapi nggak punya motor itu sama saja mau perang tapi nggak punya kaki."
Namun, Budi terdiam sejenak. Ia melihat kunci motor bebek tuanya. "Dengar, aku mau istirahat makan siang dan tidur sebentar. Pakai motorku. Tapi kalau sampai motor ini lecet atau hilang, aku tidak akan lapor polisi. Aku sendiri yang akan gantung kamu pakai tali kuningmu itu. Paham?"
Reza tertegun. "Kenapa kamu menolongku?"
Budi mengangkat bahu. "Karena kemarin kamu pegang ayam geprek itu sambil nangis kayak orang kehilangan dunia. Orang yang bisa nangis gara-gara ayam geprek biasanya masih punya harapan, cuma lagi lupa saja taruhnya di mana. Sudah, sana jalan! Paket nomor empat itu alamatnya ibu-ibu galak, jangan telat!"
Reza memegang kunci motor itu seolah itu adalah benda paling berharga di alam semesta. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ia merasakan adrenalin yang bukan berasal dari rasa takut, melainkan dari tanggung jawab.
Selama enam jam berikutnya, Reza berubah menjadi hantu di jalanan Jakarta. Ia memacu motor tua Budi menembus kemacetan yang gila. Ia masuk ke gang-gang yang lebarnya hanya satu stang motor, menghindari jemuran warga, dan berteriak "PAKET!" hingga tenggorokannya sakit. Ia tidak sempat memikirkan Anya, tidak sempat memikirkan hutangnya, bahkan tidak sempat memikirkan lehernya yang perih.
Di paket terakhir, ia sampai di sebuah rumah mewah dengan pagar besi setinggi tiga meter. Penerimanya adalah seorang pria tua yang tampak sangat kesepian. Pria itu menerima paketnya—sebuah kotak kecil berisi obat-obatan—dan menatap Reza.
"Terima kasih, Nak. Kamu kurir paling cepat minggu ini," kata pria tua itu sambil menyelipkan selembar uang lima puluh ribu ke tangan Reza. "Buat minum kopi. Kamu kelihatan capek sekali."
Reza terpaku melihat uang itu. Itu bukan uang dari hasil menjual barang, bukan uang pinjaman, tapi uang hasil keringatnya sendiri.
Ia kembali ke gudang saat matahari sudah mulai tenggelam, mengubah langit Jakarta menjadi warna oranye kemerahan yang mirip dengan bumbu ayam geprek kemarin. Budi sedang duduk di bangku panjang, menunggunya.
"Nih," Reza menyerahkan kunci motor dan uang setoran hasil pengantaran.
Budi menghitung uangnya, lalu mengambil sebagian dan memberikannya kembali pada Reza. "Ini komisimu hari ini. Kurang dari standar karena kamu pakai motorku, tapi cukup buat beli susu dan makan malam yang layak."
Reza menerima uang itu. "Terima kasih, Bud. Serius."
"Jangan terima kasih padaku. Terima kasih pada ayam geprek itu," Budi nyengir. "Besok datang lagi jam tujuh pagi. Kalau kamu telat, kursinya aku ambil."
Reza berjalan pulang dengan kaki yang terasa seperti mau lepas. Tapi di sakunya, ada uang. Di kepalanya, ada rencana untuk besok. Dan di hatinya, ada sesuatu yang sedikit lebih terang dari kemarin.
Namun, saat ia sampai di depan pintu apartemennya, ia melihat pintu itu sedikit terbuka. Suara tawa pria terdengar dari dalam. Bukan tawa yang ramah, tapi tawa yang mengancam.
Reza membeku. Ia tahu suara itu. Itu adalah suara penagih hutang yang selama ini menghantuinya.
"Mana suamimu, manis? Kalau dia tidak ada, mungkin kamu bisa bayar pakai cara lain?"
Darah Reza mendidih. Rasa ingin mati yang tadinya menguasai dirinya kini berganti menjadi keinginan murni untuk melindungi. Ia merogoh tasnya, mencari benda apa pun yang bisa digunakan. Tangannya menyentuh gulungan tali jemuran kuning yang tadi pagi ia simpan di tasnya untuk dibuang.
Ternyata, tali itu memang punya kegunaan lain.
Analisis Bab 3:
Lugas: Langsung fokus pada perjuangan ekonomi Reza tanpa banyak keluhan batin yang bertele-tele.
Koneksi: Menghubungkan kembali dengan Budi si kurir sebagai "penyelamat" yang tidak sengaja.
Ketegangan: Mengakhiri bab dengan cliffhanger (kejutan) untuk memastikan pembaca ingin lanjut ke Bab 4.
Apakah Anda ingin saya lanjutkan ke Bab 4? Reza akan menghadapi penagih hutang itu, dan kita akan melihat bagaimana seorang pria yang "gagal mati" justru menjadi paling berbahaya saat miliknya diancam._**
Iya
Reza tidak pernah menyangka bahwa adrenalin karena amarah jauh lebih membakar daripada adrenalin karena rasa takut. Saat ia mendengar tawa menjijikkan dari dalam apartemennya, rasa lelah di kakinya hilang seketika. Ia mendorong pintu itu dengan satu hantaman keras.
RENCANA GAGAL MATI
Bab 4: Harga Sebuah Nyawa
Pemandangan di dalam ruangan itu membuat pandangan Reza memerah. Anya tersudut di pojok ruangan, duduk di atas lantai dengan kedua tangan melindungi perutnya. Di depannya, berdiri dua pria berjaket kulit hitam dengan aroma parfum murah yang menyengat. Salah satunya, pria berambut cepak yang dipanggil pengeran penagih hutang, sedang memainkan kunci motor di tangannya sambil menatap Anya dengan tatapan lapar.
"Oh, sang pahlawan sudah pulang," sindir pria cepak itu, menoleh ke arah Reza. "Gimana, Rez? Sudah dapat uangnya? Atau masih sibuk cari pohon yang pas buat gantung diri?"
Reza tidak menjawab. Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, dan menguncinya. Tangannya masih mencengkeram tas berisi gulungan tali kuning itu.
"Keluar dari sini," suara Reza rendah, bergetar karena emosi yang tertahan.
"Keluar? Hei, kami ke sini baik-baik, Rez. Bos sudah bosan dengar janji manismu. Utangmu itu sudah berbunga jadi tiga puluh juta. Kalau hari ini tidak ada lima juta saja, aku rasa wanita ini bisa ikut kami sebentar untuk... jaminan," pria itu tertawa, diikuti oleh temannya yang bertubuh lebih besar.
Anya gemetar hebat. "Rez, jangan..."
Reza maju satu langkah. "Dia tidak ada urusannya dengan ini. Dia bukan istriku lagi. Keluar."
Si pria cepak kehilangan kesabarannya. Ia mendorong dada Reza hingga punggung Reza menghantam pintu kayu yang rapuh. "Jangan belagu, sampah! Kamu itu cuma orang gagal yang bahkan mau mati saja tidak becus! Mana uangnya?!"
Di titik itu, sesuatu di dalam otak Reza "putus". Semua penghinaan yang ia terima selama setahun terakhir, semua rasa malu karena kemiskinan, dan semua keputusasaan tadi pagi berubah menjadi kekuatan fisik yang murni. Saat pria itu hendak melayangkan pukulan, Reza lebih cepat. Ia menghantamkan tasnya yang berisi botol minum berat tepat ke wajah si penagih hutang.
BUAK!
Hidung si pria cepak berdarah. Temannya yang besar langsung menerjang, tapi Reza yang selama berjam-jam tadi berkelahi dengan kemacetan Jakarta memiliki insting bertahan hidup yang sedang memuncak. Ia merunduk, mengambil kursi plastik biru yang kakinya goyang itu, dan menghantamkannya ke arah pria besar tersebut. Kursi itu pecah, tapi berhasil membuat lawan terhuyung.
Reza tidak berhenti. Ia mengeluarkan gulungan tali jemuran kuning dari tasnya. Dengan gerakan cepat yang bahkan ia sendiri tidak tahu dari mana asalnya, ia melilitkan tali itu ke pergelangan tangan si pria cepak yang masih memegangi hidungnya yang berdarah.
"Kau mau tahu rasanya tali ini, hah?!" teriak Reza. Ia menarik tali itu kencang, memiting lengan pria itu di belakang punggungnya. "Tali ini hampir membunuhku tadi pagi! Kau pikir aku takut padamu?! Aku sudah tidak takut mati, bodoh! Itu artinya aku tidak punya alasan untuk menahan diri!"
Mata Reza terlihat gila. Pria cepak itu ketakutan. Ada perbedaan besar antara berkelahi dengan orang yang ingin menang, dan berkelahi dengan orang yang merasa sudah tidak punya apa pun untuk dipertahankan. Orang seperti Reza adalah mimpi buruk bagi para preman pasar.
Pria besar yang satunya hendak maju lagi, tapi melihat Reza yang begitu beringas dan Anya yang mulai berteriak histeris, ia ragu.
"Pergi! Bawa temanmu ini atau aku akan memastikan polisi menemukan kalian di sini dengan leher terikat!" ancam Reza.
Ia melepaskan pitingannya dan mendorong si pria cepak ke arah temannya. Keduanya terengah-engah, menatap Reza seolah-olah mereka baru saja melihat setan. Tanpa sepatah kata lagi, mereka kabur keluar dari apartemen, menyumpah-nyumpah bahwa mereka akan kembali dengan orang yang lebih banyak.
Reza terengah-engah. Ia menjatuhkan tali kuning itu ke lantai. Tangannya bergetar hebat. Amarahnya surut, digantikan oleh rasa lemas yang luar biasa. Ia jatuh berlutut di tengah ruangan.
Anya berlari mendekat, langsung memeluknya dari samping. "Rez! Kau gila! Mereka bisa saja membunuhmu!"
"Aku sudah mati tadi pagi, Anya," bisik Reza, suaranya parau. "Sisanya hanyalah bonus."
Ia merogoh sakunya, mengeluarkan uang komisi dari Budi dan uang tips dari pria tua tadi. "Ini... hanya ada seratus ribu. Aku tahu ini tidak cukup untuk membayar mereka, tapi ini cukup untuk kita pergi dari sini malam ini."
"Pergi ke mana?"
"Ke mana saja. Hotel murah, terminal, rumah teman... yang penting jangan di sini. Mereka akan kembali," Reza menatap Anya dengan tulus. "Aku akan menjagamu. Aku berjanji. Bukan sebagai mantan suamimu, tapi sebagai manusia yang berhutang nyawa pada rasa lapar."
Anya menangis, kali ini tangisan lega. Ia membantu Reza berdiri. Mereka mulai mengemasi sisa-sisa barang yang sangat sedikit ke dalam satu tas ransel. Reza mengambil tali kuning itu kembali, tapi kali ini ia tidak menyimpannya dengan niat buruk. Ia memasukkannya ke dalam tas sebagai pengingat—bahwa sesuatu yang bisa digunakan untuk mengakhiri hidup, juga bisa digunakan untuk mempertahankannya.
Malam itu, mereka keluar dari apartemen nomor 402 tanpa menoleh ke belakang. Di bawah lampu jalan yang remang-remang, Reza berjalan di depan, memimpin jalan bagi Anya. Di kepalanya, ia tidak lagi memikirkan font Times New Roman untuk surat perpisahan. Ia mulai memikirkan rute pengantaran paket untuk besok pagi.
Hidup ternyata masih sangat berisik, sangat mahal, dan sangat berbahaya. Tapi bagi Reza, selama ia masih bisa merasakan perih di lehernya dan berat tas di bahunya, itu artinya ia masih ada di dalam permainan.
"Rez," panggil Anya saat mereka sampai di halte bus.
"Ya?"
"Terima kasih sudah gagal tadi pagi."
Reza hanya tersenyum tipis, menatap bus yang datang dari kejauhan. "Sama-sama. Ayam gepreknya memang terlalu pedas untuk dilewatkan."
Analisis Bab 4:
Perubahan Karakter: Reza bertransformasi dari pasif-depresif menjadi protektif-aktif.
Simbolisme: Tali kuning berubah fungsi dari alat bunuh diri menjadi alat pertahanan.
Alur: Padat, ada aksi, dan penyelesaian konflik jangka pendek (kabur dari apartemen).
Bagaimana menurut Anda? Apakah adegan perkelahian dan kepindahan mereka ini cukup menarik?
Langkah selanjutnya: Bab 5 akan menceritakan bagaimana mereka bertahan hidup di "pelarian" dan bagaimana Reza mulai serius meniti karier sebagai kurir sementara Anya mulai berurusan dengan kehamilannya. Lanjut?
Lanjut
Reza dan Anya berakhir di sebuah losmen murah di daerah Senen. Kamarnya pengap, bau pembersih lantai murahan menyeruak dari balik sprei yang sudah mulai menipis warnanya. Di luar, suara kereta api yang melintas setiap beberapa menit menjadi pengantar tidur yang kasar. Namun, bagi Reza, lantai semen yang keras ini terasa lebih aman daripada apartemennya yang kosong.
RENCANA GAGAL MATI
Bab 5: Aspal yang Tak Pernah Tidur
Reza terbangun sebelum alarm di ponselnya berbunyi. Jam menunjukkan pukul 05.30 pagi. Badannya terasa pegal luar biasa; efek dari perkelahian semalam dan aktivitas maraton sebagai kurir dadakan. Ia menoleh ke samping, melihat Anya yang masih terlelap dengan tangan memeluk perutnya secara protektif. Dalam remang cahaya lampu jalan yang masuk lewat celah jendela, Anya terlihat sangat rapuh.
Reza bangkit perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara. Ia menghitung sisa uang di sakunya. Setelah membayar kamar losmen ini, uangnya hanya tersisa cukup untuk ongkos bus menuju gudang Budi dan membeli satu porsi bubur ayam tanpa sate-satean.
"Aku harus dapat lebih banyak hari ini," bisik Reza pada bayangannya di cermin buram.
Ia menulis pesan singkat di secarik kertas untuk Anya: 'Aku kerja. Jangan keluar kamar sampai aku pulang. Ada roti di meja.'
Perjalanan menuju gudang distribusi pagi itu terasa berbeda. Reza tidak lagi berjalan dengan kepala tertunduk. Ia berjalan dengan mata yang mengamati setiap rute, menghafal persimpangan, dan menandai jalan-jalan tikus yang kemarin ia lewati. Jika ia ingin bertahan hidup sebagai kurir, ia harus menjadi yang tercepat. Di dunia logistik, waktu bukan sekadar angka; waktu adalah uang sewa kamar dan biaya USG.
Sampai di gudang, Budi sudah berdiri di sana dengan kopi hitam di tangan kanan dan sebatang rokok di tangan kiri.
"Masih hidup ternyata," sapa Budi sambil melemparkan kunci motor bebek tuanya ke arah Reza. "Kulihat lehermu makin merah. Kena cakar kucing atau apa?"
"Kena cakar kenyataan, Bud," jawab Reza sambil menangkap kunci itu di udara. "Ada berapa paket hari ini?"
Budi menunjuk sebuah palet kayu yang penuh dengan barang. "Ada delapan puluh paket. Dua kali lipat dari kemarin. Sebagian besar barang elektronik kecil dan pakaian. Daerahnya lebih jauh ke pinggiran, banyak kompleks perumahan yang satpamnya rewel. Kamu sanggup?"
"Kasih saya seratus kalau ada," tantang Reza.
Budi terkekeh. "Jangan sombong, Mas Drama. Kecepatan itu penting, tapi keselamatan itu nomor satu. Kalau motor saya hancur, saya nggak punya cadangan buat narik sore."
Reza mulai memuat paket-paket itu ke dalam tas saddlebag besar yang dipasang di jok belakang. Ia menyusunnya berdasarkan rute: terjauh di paling bawah, terdekat di paling atas. Insting akuntannya dulu ternyata berguna untuk urusan logistik seperti ini. Efisiensi adalah segalanya.
Sepanjang hari itu, Reza menjadi bagian dari mesin besar Jakarta. Ia membelah kemacetan di bawah terik matahari yang mulai menyengat kulit. Keringat membasahi kaosnya, dan debu jalanan menempel di wajahnya yang lelah. Namun, setiap kali ia menyerahkan paket dan mendengar kata "terima kasih", ada rasa kepuasan kecil yang tumbuh. Dulu, saat ia bekerja di balik meja, ia tidak pernah merasa sehebat ini saat menyelesaikan laporan keuangan. Sekarang, melihat wajah lega seorang ibu yang menerima paket susu anaknya, atau seorang remaja yang menerima sepatu barunya, Reza merasa ia punya peran di dunia ini.
Namun, pekerjaan kurir bukan tanpa rintangan. Di tengah hari, saat ia sedang mencari sebuah alamat di gang sempit daerah Tambora, sebuah mobil mewah tiba-tiba mundur tanpa melihat spion.
BRAKK!
Stang motor Budi tersenggol hingga Reza terjatuh. Motor itu miring, paket-paket berserakan di jalanan yang becek. Reza meringis kesakitan, sikutnya terkelupas bersentuhan dengan aspal.
Seorang pria muda berpakaian rapi keluar dari mobil, wajahnya tampak kesal bukan karena menabrak orang, tapi karena bumper mobilnya sedikit lecet. "Woi! Kalau jalan pakai mata dong! Lihat nih mobil saya jadi lecet!"
Reza berdiri perlahan, memandangi motor Budi yang untungnya hanya lecet ringan di bagian sayap plastik. Ia menarik napas panjang, menahan amarah yang sempat meledak semalam. Ia teringat Anya di losmen. Ia teringat Budi yang sudah mempercayainya.
"Bapak yang mundur tanpa lampu sein," kata Reza dengan nada tenang tapi tegas. "Motor saya rusak sedikit, dan barang-barang pelanggan saya jatuh. Saya tidak butuh uang Bapak untuk sikut saya, tapi tolong minta maaf supaya saya bisa lanjut kerja."
"Minta maaf? Kamu tahu harga mobil ini berapa? Gaji kamu setahun juga nggak cukup buat cat ulang bumper ini!" pria itu mulai membentak.
Orang-orang di sekitar mulai berkerumun. Biasanya, dalam situasi seperti ini, kurir akan kalah suara karena status sosialnya. Namun, Reza tidak gentar. Ia mengeluarkan ponselnya, memotret plat nomor mobil itu dan posisi mobil yang melintang di jalan.
"Saya punya foto posisi mobil Bapak. Di sini ada saksi. Kalau Bapak mau saya panggil polisi, silakan. Tapi saya harus antar paket ini sekarang. Waktu saya berharga, Pak. Mungkin tidak seharga mobil Bapak, tapi nyawa yang bergantung pada obat di dalam paket ini tidak bisa menunggu Bapak selesai marah-marah," kata Reza sambil menunjuk sebuah paket berlogo apotek.
Mendengar kata "polisi" dan "obat", pria itu mendengus kasar. Ia merogoh dompetnya, melempar selembar uang seratus ribu ke arah Reza, lalu masuk kembali ke mobilnya dan tancap gas.
Reza tidak mengambil uang itu dengan sombong. Ia memungutnya, membersihkan debu di atasnya, lalu mulai merapikan paket-paket yang jatuh. Seorang tukang ojek pangkalan di dekat sana membantunya mendirikan motor.
"Sabar ya, Mas. Memang begitu orang-orang di sini," kata si tukang ojek.
"Nggak apa-apa, Pak. Yang penting motornya masih bisa jalan," jawab Reza tersenyum tipis.
Reza menyelesaikan paket terakhir tepat pukul 18.30 WIB. Badannya terasa remuk, tapi saku celananya penuh dengan komisi hari itu, ditambah uang "damai" dari pria sombong tadi. Ia kembali ke gudang, menyerahkan motor pada Budi, dan langsung menuju warung makan untuk membelikan Anya makanan yang bergizi.
Ia membeli ayam bakar, sup sayur (kali ini ia memastikan ada banyak sayur untuk kesehatan bayi Anya), dan dua botol susu kacang hijau.
Saat sampai di losmen, ia melihat Anya sedang duduk di depan jendela, menatap lampu-lampu kota.
"Sudah pulang?" tanya Anya, wajahnya terlihat lebih cerah saat melihat Reza membawa bungkusan makanan.
"Sudah. Maaf agak telat, tadi ada sedikit drama di jalan," Reza meletakkan makanan di atas meja kecil. Ia melepas plester di lehernya yang sudah mulai lepas karena keringat. Bekas merah itu kini berubah menjadi keunguan, memudar perlahan seperti sisa-sisa keinginan matinya.
"Rez, aku tadi berpikir," kata Anya sambil membuka bungkusan sup. "Aku tidak bisa hanya diam di sini menunggu kamu pulang setiap malam. Aku harus bantu. Tadi aku lihat di bawah ada lowongan cuci piring di warung sebelah. Mungkin aku bisa..."
"Jangan," potong Reza lembut. "Kesehatanmu dan bayimu nomor satu sekarang. Aku masih kuat. Jakarta masih luas, paket masih banyak. Kamu cukup pastikan kamar ini tetap hangat saat aku pulang."
Anya menatap Reza lama. "Kamu berubah, Rez. Dulu, kalau ada masalah sedikit saja, kamu akan mengurung diri di kamar dan mengeluh berhari-hari. Sekarang... kamu kayak batu karang."
Reza tertawa kecil, suara tawa yang tidak lagi mengandung kepahitan. "Mungkin karena aku sudah pernah mencoba untuk hancur, Anya. Dan ternyata, menjadi batu karang itu lebih tidak melelahkan daripada menjadi abu."
Malam itu, mereka makan bersama. Di luar, hujan mulai turun lagi, tapi kali ini suaranya tidak lagi terdengar seperti ejekan bagi Reza. Suara hujan itu terdengar seperti musik latar dari sebuah awal yang baru.
Reza tidak tahu apa yang akan terjadi di Bab 6 atau Bab 40 nanti. Tapi malam ini, ia tahu satu hal: ia sangat senang bahwa kurir ayam geprek itu datang ke pintunya tepat pada waktunya.
Analisis Bab 5:
Alur: Fokus pada kedewasaan Reza dalam menghadapi konflik sosial di jalanan.
Emosi: Membangun ikatan baru antara Reza dan Anya yang didasari rasa saling dukung, bukan sekadar cinta romantis yang klise.
Kejujuran: Menggambarkan realita kerasnya menjadi pekerja lapangan di kota besar tanpa dramatisasi berlebih.
Mau lanjut ke Bab 6? Kita akan melihat tantangan baru saat penagih hutang mulai melacak keberadaan mereka, dan rahasia tentang siapa sebenarnya ayah dari bayi Anya mulai terungkap. Lanjut?
Lanjut 1000 kata
Kehidupan di Senen punya aromanya sendiri: bau oli, asap bus antarkota, dan harapan yang digoreng dalam minyak panas. Bagi Reza, kebisingan terminal Senen yang tidak pernah tidur adalah jam alarm yang jauh lebih jujur daripada alarm di ponselnya. Ia menyadari satu hal penting: orang yang tidak punya tujuan akan merasa bising itu mengganggu, tapi bagi orang yang sedang berjuang, bising itu adalah bukti bahwa roda ekonomi masih berputar.
RENCANA GAGAL MATI
Bab 6: Rahasia di Balik Kabut Pagi
Reza terbangun dengan rasa sakit yang menjalar di punggungnya. Kasur losmen yang melandai di tengah itu sukses membuat tulang belakangnya terasa seperti dipelintir. Namun, begitu ia melihat Anya yang masih terlelap, rasa sakit itu mendadak jadi sekunder. Ia meraba sakunya, memastikan uang hasil kerja keras kemarin masih ada di sana. Aman.
Pagi ini, ia tidak langsung berangkat ke gudang. Ada satu hal yang mengganjal di kepalanya sejak semalam. Anya bilang pria yang menghamilinya pergi begitu saja, tapi ada sesuatu dalam nada bicara Anya yang terasa seperti dia sedang menyembunyikan sebuah ketakutan yang lebih besar daripada sekadar ditinggal pacar.
"Rez..." Anya terbangun, suaranya serak. Ia mengucek matanya dan melihat Reza sudah berpakaian rapi dengan jaket kurirnya. "Sudah mau berangkat?"
"Iya. Tapi sebelum itu, aku mau tanya sesuatu," Reza duduk di tepi tempat tidur, menatap Anya lurus-lurus. "Anya, pria itu... siapa dia sebenarnya? Maksudku, kenapa kamu sampai sekatakutan itu semalam sampai bilang tidak tahu harus lari ke mana lagi?"
Anya terdiam. Ia menarik selimutnya lebih tinggi, seolah benda tipis itu bisa melindunginya dari pertanyaan Reza. "Dia bukan orang baik, Rez. Namanya Gery. Dia punya banyak koneksi... orang-orang yang mirip dengan penagih hutang yang datang ke apartemenmu kemarin."
Reza mengernyit. "Maksudmu, dia terlibat dunia hitam?"
"Dia menjalankan bisnis pinjaman online ilegal, Rez. Dan yang lebih buruk, dia menggunakan namaku sebagai salah satu direktur fiktif di perusahaannya. Aku baru tahu itu setelah aku hamil dan dia memintaku untuk menggugurkannya. Saat aku menolak, dia mengancam akan menjebloskan aku ke penjara atas kasus penipuan perusahaan kalau aku berani menuntutnya soal anak ini."
Darah Reza seolah berhenti mengalir sejenak. Jadi, masalahnya bukan hanya soal mantan istri yang hamil, tapi soal konspirasi kriminal yang bisa menyeret Anya ke balik jeruji besi. Inilah alasan kenapa Anya tidak berani pulang ke rumah orang tuanya. Dia tidak hanya membawa aib, dia membawa bom waktu.
"Kenapa kamu tidak bilang dari awal?" tanya Reza, suaranya naik satu oktav.
"Karena aku takut kamu akan mengusirku! Kamu sendiri sudah punya masalah hutang yang menumpuk, aku tidak mau menambah bebanmu dengan urusan penjara," Anya mulai terisak.
Reza berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangan sempit itu. Ia merasa seperti baru saja keluar dari lubang buaya, hanya untuk masuk ke mulut singa. Tapi, setiap kali ia melihat perut Anya, ia teringat pada dirinya sendiri yang berdiri di atas kursi biru tempo hari. Dunia sudah cukup jahat pada mereka berdua. Jika mereka tidak saling melindungi, siapa lagi?
"Dengar," Reza berlutut di depan Anya, memegang kedua tangannya. "Aku tidak akan mengusirmu. Aku sudah gagal mati sekali, artinya Tuhan—atau apa pun itu—sedang memberi aku pekerjaan rumah yang belum selesai. Dan mungkin pekerjaan rumahku adalah memastikan kamu dan anak itu aman."
"Tapi bagaimana dengan Gery? Dia orang kuat, Rez."
"Sekuat-kuatnya orang, dia tetap butuh makan dan tidur. Kita akan pikirkan itu nanti. Sekarang, fokusmu adalah tetap di sini. Jangan buka pintu untuk siapa pun kecuali aku. Aku akan cari uang sebanyak mungkin hari ini. Kita butuh tabungan untuk pindah keluar kota kalau keadaan makin panas."
Reza mengecup kening Anya singkat—sebuah gerakan yang terasa asing tapi alami—lalu ia bergegas keluar.
Di gudang Budi, suasana lebih kacau dari biasanya. Ada penggerebekan kecil dari dinas perhubungan terkait izin parkir motor di pinggir jalan, membuat para kurir berhamburan. Budi terlihat sedang berdebat dengan salah satu petugas saat Reza datang.
"Woi, Budi! Mana motormu?" teriak Reza di tengah keributan.
"Ambil saja di belakang! Kuncinya di pot bunga!" sahut Budi tanpa menoleh.
Reza segera memacu motor bebek tua itu. Hari ini, targetnya bukan lagi seratus paket, tapi seratus lima puluh. Ia bekerja seperti kesetanan. Ia mengambil rute-rute yang paling sulit karena komisi di sana biasanya lebih tinggi. Ia masuk ke kawasan pergudangan pelabuhan yang berdebu, di mana truk-truk kontainer raksasa bisa melindas motornya kapan saja jika ia tidak waspada.
Di tengah perjalanan, ponselnya bergetar hebat. Sebuah nomor tidak dikenal masuk. Reza menepi di bawah jembatan layang.
"Halo?"
"Reza Aditya. Lama tidak dengar suaramu," sebuah suara pria, berat dan sangat tenang, terdengar di ujung telepon.
Reza membeku. Ia mengenali suara itu. "Gery?"
"Wah, ingatanmu bagus juga untuk ukuran pecundang yang bangkrut. Aku dengar Anya ada bersamamu. Benar?"
"Dia tidak ada di sini. Jangan cari dia," jawab Reza, tangannya mencengkeram stang motor dengan kencang hingga buku jarinya memutih.
"Jangan bohong, Rez. Aku tahu kalian di daerah Senen. Losmen Melati, kan? Kamar 203?"
Jantung Reza seolah merosot ke perut. Bagaimana pria ini bisa tahu secepat itu?
"Dengar, Reza. Aku tidak butuh drama. Aku hanya ingin Anya menandatangani beberapa dokumen pelimpahan aset. Setelah itu, dia bebas mau melahirkan anak itu di kolong jembatan sekalipun, aku tidak peduli. Tapi kalau dia tidak kooperatif, aku bisa mengirim orang untuk menjemputnya... atau menjemputmu lebih dulu."
"Kalau kau menyentuhnya, aku bersumpah..."
"Bersumpah apa? Mau gantung diri lagi? Aku tahu semua ceritamu, Rez. Kamu itu bahan lelucon di kalangan teman-teman kita dulu. Si jenius startup yang gagal mati karena kurir ayam geprek. Lucu sekali."
Gery tertawa, suara tawa yang dingin dan merendahkan. "Aku beri waktu sampai besok sore. Bawa Anya ke alamat yang akan kukirimkan. Kalau tidak, jangan salahkan aku kalau losmen murah itu terbakar malam ini."
Telepon diputus.
Reza berdiri mematung di pinggir jalan yang bising. Ia merasa dunia kembali menyempit. Kemacetan di depannya seolah-olah menjadi tembok yang mengurungnya. Ia ingin marah, ingin berteriak, tapi ia tahu itu tidak akan membantu.
Ia melihat tas paketnya yang masih penuh. Ia melihat uang di sakunya yang baru terkumpul sedikit. Ia melihat tali jemuran kuning yang selalu ia bawa di dalam tasnya.
Tiba-tiba, ia teringat pada Budi. Budi bukan sekadar kurir; dia orang lapangan yang sudah puluhan tahun hidup di jalanan Jakarta. Budi pasti tahu cara menghadapi orang-orang seperti Gery.
Reza memacu motornya kembali ke gudang, mengabaikan paket-paket yang seharusnya ia antar. Persetan dengan komisi hari ini. Nyawa Anya jauh lebih penting.
Sampai di gudang, ia menarik Budi ke pojok. "Bud, aku butuh bantuanmu. Bukan bantuan uang. Aku butuh koneksi."
Budi melihat wajah Reza yang pucat pasi dan langsung mematikan rokoknya. "Ada apa? Penagih hutang semalam balik lagi?"
"Lebih buruk dari itu. Ini soal orang yang menghamili Anya. Dia mengancam akan membakar losmen kami kalau kami tidak datang menemuinya besok."
Budi terdiam lama, menatap jalanan. "Gery, ya? Si raja pinjol itu?"
Reza terbelalak. "Kamu kenal dia?"
"Semua kurir di Jakarta tahu siapa dia, Rez. Dia itu yang menguasai beberapa aplikasi pinjol yang sering kami antarkan dokumennya. Tapi dia punya satu kelemahan," Budi tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan rahasia jalanan. "Dia sangat takut pada publikasi. Dia orang yang ingin terlihat bersih di depan investor-investor asingnya."
"Apa maksudmu?"
"Kamu kurir, kan? Kamu punya akses ke ribuan rumah di kota ini. Dan aku... aku punya ribuan teman kurir yang tersebar di setiap sudut Jakarta. Kalau kita ingin menjatuhkan orang seperti dia, kita tidak pakai otot. Kita pakai sistem pengiriman."
Budi menepuk bahu Reza. "Pulanglah. Ambil Anya, bawa dia ke rumah ibuku di pinggiran Bogor malam ini. Biar aku yang urus sisanya di sini. Besok, kita akan kirim 'paket' spesial untuk Gery."
Reza menatap Budi dengan rasa haru yang tidak bisa ia lukiskan dengan kata-kata. Ternyata, di dunia yang ia kira sudah meninggalkannya, masih ada orang yang mau bertaruh untuknya.
Malam itu, dengan motor tua Budi, Reza membawa Anya keluar dari hiruk-pikuk Senen. Mereka menuju Bogor, menembus kabut malam yang dingin. Di belakangnya, Anya memeluk Reza erat, tidak bertanya ke mana mereka pergi, karena ia tahu bahwa selama ada Reza di depannya, jalanan yang gelap pun akan terasa seperti arah pulang.
Reza berjanji dalam hati: Bab 7 besok tidak akan menjadi hari di mana ia menyerah. Besok akan menjadi hari di mana ia melawan balik.
Analisis Bab 6:
Alur: Dinamis dan penuh tekanan (high stakes). Konflik meningkat dari masalah ekonomi ke masalah keselamatan nyawa.
Karakter: Memperkenalkan antagonis utama (Gery) dan memberikan kedalaman pada karakter Budi sebagai sekutu kunci.
Ketegangan: Cliffhanger di akhir bab yang menjanjikan perlawanan di bab berikutnya.
Bagaimana menurut Anda? Apakah strategi "perlawanan kurir" ini menarik untuk dilanjutkan ke Bab 7? Kita akan melihat bagaimana Reza dan ribuan kurir lainnya bersatu untuk menjatuhkan Gery tanpa satu peluru pun yang ditembakkan. Lanjut?
Lanjut
Rumah ibu Budi di pinggiran Bogor hanyalah sebuah bangunan kayu sederhana yang dikelilingi pohon bambu. Suasananya jauh dari kebisingan Senen, namun pikiran Reza tetap tidak bisa tenang. Setelah memastikan Anya aman di bawah penjagaan ibu Budi yang galak namun baik hati, Reza kembali ke Jakarta malam itu juga. Ia tidak bisa membiarkan Budi berjuang sendirian.
RENCANA GAGAL MATI
Bab 7: Paket Spesial untuk Sang Raja
Pukul 02.00 dini hari, gudang distribusi yang biasanya sepi di jam segini, justru terlihat berpendar. Bukan karena lampu operasional, melainkan karena puluhan lampu motor yang menyala redup di area parkir. Budi berdiri di tengah kerumunan pria-pria berjaket lusuh. Ada kurir logistik, ojek online, hingga pengantar koran.
"Ini orangnya," kata Budi saat melihat Reza datang. "Si kurir ayam geprek yang mau dikerjai sama si Gery."
Reza turun dari motor, merasa agak kikuk dilihat oleh begitu banyak pasang mata yang tampak sangar di bawah bayangan malam. Namun, saat ia mendekat, tidak ada intimidasi. Salah satu pria, yang badannya penuh tato di lengan, menepuk bahu Reza. "Gery pernah bikin motor adikku disita karena bunga pinjolnya yang nggak masuk akal. Kami nggak butuh alasan lagi buat bantu kamu, Mas."
Budi membentangkan sebuah peta besar di atas meja kayu. "Gery akan mengadakan konferensi pers besok jam sepuluh pagi di hotel bintang lima miliknya. Dia mau meluncurkan aplikasi baru untuk investor Singapura. Dia ingin terlihat seperti pahlawan ekonomi. Kita akan pastikan dia tidak mendapatkan apa yang dia mau."
"Apa rencananya, Bud?" tanya Reza.
"Kita akan kirim 'Paket Kejujuran'," Budi nyengir. "Reza, kamu bilang Anya punya akses ke data perusahaan sebagai direktur fiktif, kan? Dia sudah mengirimkan semua bukti transfer gelap dan data nasabah yang diancam Gery ke ponselmu lewat cloud. Tugas kita adalah menyebarkannya di saat yang tepat."
Rencananya sangat gila namun brilian. Budi telah mengumpulkan ratusan kurir. Di jam yang sama saat acara dimulai, mereka akan melakukan "Flash Mob Pengiriman". Bukan demo berteriak-teriak, melainkan mengirimkan ratusan amplop cokelat kepada setiap tamu undangan dan wartawan yang masuk ke hotel itu. Amplop itu berisi salinan bukti kejahatan Gery.
Pagi harinya, hotel Grand Mahkota terlihat sangat mewah. Mobil-mobil kelas atas berjejer. Gery berdiri di atas panggung dengan jas seharga puluhan juta, tersenyum lebar di depan kamera. Ia tidak tahu bahwa di radius satu kilometer dari hotel tersebut, "tentara jaket lusuh" sudah mengepung.
Reza berada di barisan paling depan. Ia tidak lagi memakai jaket kurir yang kotor. Budi meminjamkan sebuah kemeja putih dan celana kain agar Reza bisa masuk ke area lobi sebagai tamu atau vendor. Di tangannya, ada satu amplop paling penting: aslinya.
"Siap?" suara Budi terdengar lewat earphone yang terhubung ke panggilan grup.
"Siap," jawab Reza.
"Luncurkan!"
Seketika, puluhan motor kurir datang secara bergantian ke lobi hotel. Satpam mencoba menghalau, tapi para kurir ini sangat profesional. Mereka tidak berdebat. Mereka hanya turun, menyerahkan amplop kepada siapa pun yang mereka temui—tamu yang baru turun dari mobil, resepsionis, hingga wartawan yang sedang merokok di teras.
"Paket untuk Bapak," kata mereka serempak, lalu pergi secepat kilat agar tidak ditangkap.
Di dalam aula, saat Gery baru saja akan memulai presentasinya, suasana mulai gaduh. Orang-orang mulai membuka amplop itu. Bisikan-bisikan mulai menjalar seperti api di atas jerami kering. Beberapa wartawan mulai memeriksa ponsel mereka, di mana data digital yang disebar oleh rekan-rekan Budi di media sosial mulai viral dengan tagar #KeadilanUntukAnya dan #KedokGery.
Wajah Gery yang tadinya cerah berubah menjadi pucat saat seorang investor berdiri dan menunjukkan salinan dokumen transfer gelap yang baru saja ia terima. "Gery, apa maksud dari dokumen ini?"
Gery mencoba tertawa. "Itu hanya fitnah dari pesaing bisnis. Mohon tenang..."
Tiba-tiba, pintu aula terbuka lebar. Reza melangkah masuk. Ia tidak berteriak. Ia hanya berjalan perlahan menuju panggung di tengah ratusan mata yang menatapnya.
Gery melihatnya dan matanya membelalak penuh amarah sekaligus ketakutan. "Security! Usir orang ini!"
Reza berhenti di depan panggung, tepat di bawah sorot lampu. Ia mengangkat ponselnya yang sedang menyiarkan siaran langsung (Live) dengan jumlah penonton yang terus melonjak karena dibagikan oleh komunitas kurir se-Jakarta.
"Gery," suara Reza tenang namun menggema. "Aku orang yang kamu bilang pecundang karena gagal mati. Tapi hari ini, aku hidup hanya untuk satu hal: memastikan kamu tidak bisa merusak hidup orang lain lagi. Anya aman, dokumenmu sudah di tangan pihak berwajib, dan yang paling penting... semua orang di sini tahu siapa kamu sebenarnya."
Gery mencoba menerjang Reza, tapi dua orang pria besar yang ternyata adalah kurir yang menyamar sebagai pengawal hotel segera menahannya. Polisi yang sudah dikontak oleh Budi lewat jalur resmi (dengan bukti yang lengkap) masuk ke dalam aula.
Gery diseret keluar di depan kamera wartawan yang tadinya ia undang untuk memujinya.
Reza berdiri di sana, sendirian di panggung mewah itu sejenak. Ia melihat tali jemuran kuning yang sengaja ia lilitkan di pergelangan tangannya di balik lengan kemeja. Tali itu bukan lagi lambang keputusasaan. Itu adalah lambang pengikat antara dirinya dan kehidupan.
Setelah keributan mereda, Reza keluar dari hotel. Budi sudah menunggunya di atas motor bebek tuanya, sambil merokok dengan wajah puas.
"Gimana, Mas Drama? Puas?"
Reza menarik napas dalam, membiarkan udara Jakarta yang penuh polusi masuk ke paru-parunya. Kali ini, udara itu tidak terasa menyesakkan. "Puas, Bud. Tapi kita masih punya banyak paket yang belum diantar, kan?"
Budi tertawa keras. "Itu baru semangat! Ayo balik ke gudang. Komisi hari ini saya naikkan dua kali lipat!"
Reza memacu motornya mengikuti Budi. Di kepalanya, ia membayangkan Anya yang sedang menunggu di Bogor. Ia membayangkan masa depan yang mungkin masih sulit, tapi tidak lagi gelap. Hidup memang masih berantakan, tapi ia sadar bahwa ia adalah kurir bagi takdirnya sendiri.
Dan hari ini, ia berhasil mengantarkan paket paling penting: Harga Diri.
Analisis Bab 7:
Alur: Sangat cepat dan fokus pada resolusi konflik melawan antagonis utama (Gery).
Tema: Solidaritas kelas bawah (kurir) melawan penindasan kelas atas.
Transformasi: Reza benar-benar meninggalkan bayang-bayang pria yang ingin bunuh diri dan menjadi pria yang berani berdiri di depan publik.
Apakah Anda ingin saya lanjutkan ke Bab 8? Kita akan masuk ke babak baru di mana Reza dan Anya mulai menata hidup di Bogor, namun muncul masalah baru terkait keluarga besar Anya yang mulai mencium keberadaan mereka. Lanjut?
Iya
Setelah badai di hotel mewah itu mereda, dunia tidak lantas menjadi pelangi. Gery memang sudah diangkut mobil polisi, namun hidup bukan sinetron yang selesai saat antagonisnya tertangkap. Bagi Reza dan Anya, tantangan yang lebih nyata justru baru saja dimulai: bagaimana cara hidup sebagai dua orang manusia yang sama-sama punya masa lalu berantakan di sebuah kota kecil yang tenang.
RENCANA GAGAL MATI
Bab 8: Akar yang Mencoba Tumbuh
Bogor menyambut mereka dengan hujan rintik yang abadi. Di rumah ibu Budi, Reza belajar bahwa ketenangan bisa jadi lebih menakutkan daripada kebisingan bagi orang yang terbiasa lari. Sudah satu minggu mereka menetap di sana. Anya mulai terlihat lebih sehat, rona merah di pipinya kembali muncul berkat sayur-mayur segar dan udara pegunungan. Namun, Reza tetaplah Reza; pria yang merasa tidak berguna jika tidak memeras keringat.
"Kamu tidak bisa selamanya jadi kurir di Jakarta kalau tinggal di sini, Rez," kata Anya suatu sore, sambil membantu ibu Budi memetik cabai di kebun belakang.
Reza yang sedang memperbaiki pagar kayu yang mulai lapuk menoleh. "Aku tahu. Ongkos bensin dan waktu di jalan habis buat bolak-balik. Tapi di sini... aku mau kerja apa?"
"Ibu dengar pasar di bawah butuh orang buat urus logistik sayuran," sahut Ibu Budi tanpa menoleh. "Bukan pakai motor, tapi pakai truk kecil. Mereka butuh orang yang jujur. Zaman sekarang, cari orang jujur itu lebih susah daripada cari orang pintar."
Reza terdiam. Ia melihat tangannya yang kini kasar dan penuh kapalan. Dulu, tangan ini hanya menyentuh keyboard laptop mahal. Sekarang, tangan ini tahu cara memegang gergaji dan memanggul karung. Ia mulai menyukai versi dirinya yang sekarang.
Namun, ketenangan itu terusik saat sebuah mobil hitam mengkilap berhenti di depan jalan setapak menuju rumah. Itu bukan mobil polisi, bukan pula mobil Gery. Itu adalah mobil keluarga. Seorang pria tua dengan kemeja batik rapi keluar, diikuti oleh seorang wanita paruh baya yang wajahnya sangat mirip dengan Anya, namun dengan gurat kekecewaan yang mendalam.
Itu adalah orang tua Anya.
"Papa? Mama?" Anya menjatuhkan keranjang cabainya. Wajahnya pucat pasi.
Reza segera berdiri di depan Anya, insting protektifnya langsung menyala. Namun, ia tahu ini bukan preman penagih hutang. Ini adalah "akar" yang Anya coba hindari.
"Jadi di sini kamu bersembunyi? Bersama... pria ini lagi?" suara ayah Anya, Pak Broto, terdengar sangat dingin. Ia menatap Reza seolah-olah Reza adalah kotoran yang menempel di sepatunya.
"Pa, tolong... jangan di sini," bisik Anya.
"Kamu menghilang berbulan-bulan, Anya! Kami tahu soal kasus Gery dari berita. Kamu pikir kami tidak malu? Nama keluarga kita diseret-seret ke media karena kamu berhubungan dengan kriminal!" teriak ibunya, Bu Siska, sambil mulai menangis. "Dan sekarang kamu hamil? Tanpa suami? Dan malah tinggal dengan mantan suamimu yang bangkrut ini?"
Reza menarik napas panjang. Ia melangkah maju satu langkah. "Pak, Bu... saya tahu saya bukan menantu impian. Saya memang pernah gagal. Tapi di saat Anya tidak punya siapa-siapa, sayalah yang ada di sana. Bukan karena saya ingin kembali padanya, tapi karena dia manusia yang butuh perlindungan."
"Diam kamu!" Pak Broto menunjuk wajah Reza. "Kamu pikir kami tidak tahu rencana kalian? Kamu menggunakan Anya untuk menjatuhkan Gery supaya kamu terlihat seperti pahlawan, kan? Kamu cuma ingin memanfaatkan anak saya!"
Anya tiba-tiba melangkah keluar dari belakang punggung Reza. Ia berdiri tegak, memegang perutnya yang mulai membuncit. "Cukup, Pa! Reza tidak pernah minta apa-apa. Dia yang memberiku makan saat aku kelaparan. Dia yang mempertaruhkan nyawanya saat orang-orang Gery mengepung kami. Di mana Papa saat itu? Papa sibuk menjaga 'nama baik' keluarga, kan?"
Suasana menjadi hening, hanya suara gesekan daun bambu yang terdengar.
"Pulang sekarang, Anya. Kita akan urus anak itu di rumah. Kamu bisa bilang itu anak dari pernikahan siri atau apa pun. Tapi jangan tinggal di gubuk ini bersama pria ini," kata Bu Siska sambil mencoba menarik tangan Anya.
Anya melepaskan tangan ibunya perlahan. "Aku tidak akan pulang untuk menjadi pajangan yang Papa dan Mama sembunyikan karena malu. Aku akan tinggal di sini. Aku akan belajar hidup dari nol, seperti yang Reza lakukan."
Pak Broto menatap Reza dengan kebencian murni. "Kalau kamu tetap tinggal bersamanya, jangan harap satu rupiah pun dari harta keluarga akan sampai padamu. Kamu dianggap sudah mati bagi kami."
"Aku sudah terbiasa dengan kematian, Pa," jawab Anya tenang. "Tapi di sini, untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar hidup."
Orang tua Anya pergi dengan kemarahan yang meluap-luap. Mobil hitam itu meninggalkan debu yang mengepul di jalanan Bogor. Anya jatuh terduduk di bangku kayu, menangis dalam diam. Reza duduk di sampingnya, tidak mencoba untuk menenangkan dengan kata-kata manis, karena ia tahu kata-kata tidak akan membayar harga sebuah pemutusan hubungan keluarga.
"Kita benar-benar tidak punya siapa-siapa sekarang, Rez," bisik Anya.
Reza merangkul bahunya. "Salah. Kita punya satu sama lain. Dan kita punya Budi, ibu Budi, dan... kita punya masa depan yang tidak perlu kita curi dari siapa pun."
Reza mengeluarkan tali jemuran kuning dari sakunya—tali yang sudah ia potong pendek menjadi sebuah gelang kecil yang ia ikat di pergelangan tangannya. "Besok, aku akan ke pasar. Aku akan melamar jadi sopir truk sayur. Dan kamu... kamu akan belajar membuat sambal yang enak dari ibu Budi. Kita akan mulai dari sana."
Malam itu, di bawah atap kayu yang bocor di satu sudut, mereka berdua makan nasi dengan sambal dan tempe goreng. Tidak ada kemewahan, tidak ada nama besar keluarga. Hanya ada dua orang gagal yang sedang merajut kegagalan mereka menjadi sebuah kekuatan baru.
Reza menatap langit-langit. Ia menyadari bahwa rencananya untuk mati dulu adalah kesalahan besar. Ternyata, hidup yang paling pahit sekalipun jauh lebih menarik untuk dijalani daripada kegelapan yang tidak menawarkan apa-apa.
"Rez," panggil Anya sebelum mereka tidur.
"Ya?"
"Terima kasih sudah tidak membiarkan aku pulang tadi."
"Terima kasih sudah memilih untuk tetap di gubuk ini, Anya."
Pasar Induk Bogor pukul tiga pagi adalah sebuah orkestra kekacauan. Bau tanah, kubis busuk, dan asap solar bercampur menjadi satu, menciptakan atmosfer yang memaksa siapapun untuk terjaga. Di sini, tidak ada yang peduli apakah kamu mantan direktur atau mantan narapidana; yang mereka peduli hanyalah seberapa cepat kamu bisa memindahkan muatan dari truk ke bak pengecer.