Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Jangan menangis, Dita." Zaverio cepat menghapus air mata yang jatuh dari mata Anindita dengan ibu jarinya. "Kakek Darma menyiapkan semua ini untuk mu semalam. Kakak hanya membantunya. Kami ingin membuatmu tidak sedih lagi."
Bohong. Ini semua ide Zaverio. Darma bahkan tidak tahu Anindita sekarang ada di mana.
"Dan kalau kamu merindukan orangtuamu," lanjut Zaverio lembut, "kamu bisa datang ke sini. Sekarang rumah ini juga milikmu. Tempat di mana kamu bisa bicara dengan Mama dan Papamu kapanpun kamu mau."
"Terima kasih banyak, Kak..." Anindita memeluk Zaverio erat, menangis di dadanya—tapi kali ini bukan tangisan kesedihan. Ini tangisan kebahagiaan. "Terima kasih... terima kasih..."
Zaverio memeluknya kembali, tangannya mengusap punggung kecil Anindita dengan lembut.
Aku akan melindungimu, Dita. Aku berjanji. Tidak akan ada yang menyakitimu selama aku masih hidup.
"Kamu suka?" tanya Zaverio pelan.
Anindita melepaskan pelukan, menatap Zaverio dengan mata berbinar—senyum lebar pertama sejak ayahnya meninggal terukir di wajahnya.
"Sangat suka! Terima kasih banyak, Kak Zav! Ini... ini hadiah terbaik yang pernah aku terima!"
Dia berlari menuju foto-foto itu, menyentuh setiap foto dengan jemari kecilnya, seolah bisa merasakan kehangatan orangtuanya melalui gambar.
"Mama... Papa... lihat, aku di sini bersama kalian..." bisiknya pada foto-foto itu, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya.
Zaverio berdiri di belakang, mengamati dengan senyum tipis.
Tapi senyumnya memudar saat dia merasakan sesuatu—sensasi aneh, seperti ada yang mengamati mereka.
Dia menoleh cepat ke jendela.
Tidak ada siapa-siapa.
Tapi intuisinya—intuisi yang diasah selama dua kehidupan—berbisik bahwa mereka tidak sendirian.
Seseorang mengawasi kami.
...****************...
Yang Tidak Mereka Ketahui
Di luar rumah, tersembunyi di balik pohon besar di seberang jalan, seseorang berdiri dengan kamera di tangan—memotret setiap momen Zaverio dan Anindita.
KLIK. KLIK. KLIK.
Orang itu melihat hasil foto di kamera digital, senyum licik terukir di bibirnya.
"Sempurna," bisiknya pelan. "Zaverio Kusuma membawa Anindita Paramitha ke tempat yang tidak ada yang tahu. Tanpa penjagaan. Tanpa saksi."
Orang itu mengeluarkan ponsel, mengirim pesan ke nomor yang tidak tersimpan:
"Target found. Unguarded. Ready to execute?"
Beberapa detik kemudian, balasan masuk:
"Not yet. Let them bond. The deeper the attachment, the more painful the loss. We take her when the time is right. Make Zaverio watch. Make him suffer."
Orang itu tersenyum makin lebar, memasukkan kamera ke dalam tas.
"Oh, aku akan membuatnya menderita," bisiknya dengan suara yang penuh kebencian. "Aku akan mengambil segalanya darinya. Seperti keluarga mereka yang mengambil segalanya dari ibuku."
Dengan langkah ringan, orang itu menghilang di antara pepohonan—meninggalkan ancaman yang belum Zaverio sadari sepenuhnya.
...****************...
Mansion Paramitha - Waktu yang Bersamaan
"DIMANA CUCUKU?!"
Teriakan Darma Paramitha menggema di seluruh mansion, membuat semua pelayan dan bodyguard berlarian panik.
Pria tua itu berdiri di tengah ruang tamu dengan wajah pucat, tangan gemetar memegang tongkat—bukan karena dia butuh penyangga, tapi karena kakinya hampir tidak sanggup menopang tubuhnya karena panik.
"Kami... kami tidak menemukan Nona Muda, Tuan Besar..." Kepala bodyguard—Pak Joko—berlutut di hadapan Darma dengan wajah penuh rasa bersalah. "Kami sudah mencari di seluruh mansion, di taman, di rumah kaca, di mana-mana. Tidak ada yang melihat Nona Muda sejak pagi tadi."
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!" Darma berteriak, amarah dan ketakutan bercampur jadi satu. "KALIAN DIBAYAR UNTUK MENJAGA CUCUKU! DAN SEKARANG DIA HILANG?!"
"Maafkan kami, Tuan—"
"CEK CCTV! SEKARANG!" perintah Darma.
Pak Joko bangkit dengan cepat, berlari ke ruang kontrol. Lima menit kemudian, dia kembali dengan wajah lebih pucat.
"Tuan, kami sudah cek CCTV..." Pak Joko menelan ludah. "CCTV arah taman belakang... entah kenapa mati sejak semalam. Tapi kami menemukan rekaman di CCTV pintu samping. Ada mobil hitam Mercedes yang membawa Nona Muda pergi sekitar dua jam yang lalu."
Darma hampir jatuh. Pak Hendra—asisten pribadinya—cepat menopang.
"Siapa?! Siapa yang membawa cucuku?!" Suara Darma serak.
"Itu... yang anehnya, Tuan..." Pak Joko menunjukkan tablet dengan screenshot dari rekaman CCTV. "Yang membawa Nona Muda adalah... seorang anak kecil. Laki-laki. Usia sekitar 10-11 tahun."
Darma menatap gambar di tablet. Wajahnya blur, tapi postur tubuhnya jelas—anak kecil.
"Anak kecil?" Darma menatap tidak percaya. "Bagaimana mungkin anak kecil menculik Anindita dari mansion dengan penjagaan seketat ini?!"
"Kami tidak tahu, Tuan. Tapi kami sudah mengerahkan seluruh tim untuk mencari Nona Muda. Mereka sedang menyisir seluruh Jakarta. Kami akan menemukannya. Saya berjanji."
Darma duduk dengan berat di sofa, tangannya menutupi wajahnya. Tubuhnya gemetar hebat.
Tidak... tidak lagi... aku tidak bisa kehilangan Anindita juga... dia satu-satunya yang tersisa...
Pak Hendra berlutut di samping majikannya. "Tuan, Nona Anindita pasti baik-baik saja. Kalau ini penculikan, seharusnya sudah ada telepon untuk tebusan. Tapi tidak ada. Mungkin Nona Anindita hanya pergi dengan teman—"
"TEMAN?!" Darma menatap Pak Hendra dengan mata yang menyala. "Teman tidak membawa anak pergi tanpa izin! Teman tidak mematikan CCTV!"
Dia bangkit dengan tiba-tiba, determinasi mengeras di wajahnya walau ketakutan masih ada.
"Dengarkan aku baik-baik," katanya dengan suara yang dingin—dingin yang membuat semua orang di ruangan itu merinding. "Mulai sekarang, ke manapun Anindita pergi, kalian HARUS menjaganya. Langsung ataupun tidak langsung. Aku tidak peduli dia di sekolah, di kamar, bahkan di kamar mandi—harus selalu ada yang mengawasi."
"Kerahkan semua fokus kalian kepada Anindita. Tingkatkan keamanan mansion. Tambahkan CCTV ke SETIAP sudut—taman, kamar, koridor, SEMUA. Di kamar Anindita, pasang sistem keamanan berlapis. Bodyguard harus jaga 24/7 di luar kamarnya."
"Dan cari tahu siapa anak laki-laki yang membawa cucuku pergi. Aku ingin tahu identitasnya. Aku ingin tahu kenapa dia membawa Anindita tanpa izin."
"Baik, Tuan Besar!" Semua bodyguard membungkuk dalam.
Darma berbalik ke Pak Hendra. "Hubungi Arman. Beritahu dia Anindita hilang. Mungkin dia punya cara untuk menemukannya lebih cepat dengan jaringan Syailendra."
"Segera, Tuan."
Saat semua orang berlarian melaksanakan perintah, Darma berdiri sendirian di tengah ruang tamu yang megah tapi terasa sangat dingin.
Dia menatap foto besar di dinding—foto keluarga: dia, istrinya Dewi yang sedang hamil Aditya. Dan disebelahnya foto putra dan menantu perempuannya yang sedang hamil Anindita berusia 7 bulan.
"Dewi..." bisiknya pada foto istrinya. "Aku gagal menjaga anak kita. Maafkan aku. Tapi aku berjanji... aku akan melindungi, cucu kita. Anindita dengan nyawaku. Tidak akan ada yang menyakitinya selama aku masih bernafas."
Air matanya jatuh, tapi determinasinya mengeras.
Dia tidak tahu bahwa saat ini, Anindita sedang aman bersama Zaverio.
Dia tidak tahu bahwa ancaman yang sebenarnya sedang mengintai di luar sana—mengamati, menunggu, merencanakan.
Dia tidak tahu bahwa musuh 37 tahun lalu... sekarang kembali.
Dan kali ini, target mereka adalah Anindita.
...****************...
Kembali ke Rumah Peninggalan Mama Zaverio
Anindita masih berdiri di depan foto-foto, berbicara dengan gambar orangtuanya dengan senyum lebar.
"Mama, Papa, aku dan Vyan... kami adalah sahabat baik. Dan papa tau, kak Zaverio... dia sangat baik."
Zaverio tersenyum melihat itu, tapi matanya terus melirik ke jendela—was-was dengan sensasi diawasi yang masih terasa.
Ponselnya bergetar. Pesan masuk dari nomor tidak dikenal:
"Enjoying your time with Anindita? Make the most of it. Because soon, I'll take her away from you."
Darah Zaverio membeku.
Tangannya gemetar memegang ponsel.
Siapa ini? Bagaimana mereka tahu aku di sini bersama Anindita?
Dia menoleh ke jendela lagi—kali ini dengan tatapan yang lebih tajam, lebih waspada.
Ada yang mengawasi kami. Ada yang merencanakan sesuatu.
Tapi siapa? Dan kenapa?