NovelToon NovelToon
Elora: My Little Princess

Elora: My Little Princess

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai / Angst / Kutukan / Romansa Fantasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: bwutami | studibivalvia

AKU baru saja pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan pihak musuh di genggaman tangan mendadak dikejutkan oleh kemunculan seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun dari dalam karung goni milik salah satu perompak yang menghalangi jalan. Rasa terkejutku bukan karena sosoknya yang tiba-tiba muncul melainkan perkataan anak itu yang memanggilku Ayah padahal aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Apakah ini salah satu trik konyol musuhku? Sebab anak itu sangat mirip denganku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bwutami | studibivalvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 32: the first snow [2]

DEMI menghemat [mana], aku menaiki kuda menuju wilayah Forsythia. Melewati ibukota yang masih sepi dan gelap, aku memacu kuda lebih cepat. Michael–kuda perangku– menerobos hutan wilayah Anemone dan melewati jalan tikus. Perjalanan menuju ke sana tidak memakan waktu lama karena kami pergi tanpa istirahat. Kepergianku yang mendadak ini pun hanya diketahui oleh beberapa orang, termasuk Hamon dan beberapa ksatria yang berada di bawah komandonya. Bahkan aku sengaja tidak memberi tahu Leocadio dan hanya menitip pesan pada ajudanku agar mengabari pria itu esok hari karena dia nantinya akan mengomeliku sebab pekerjaannya bertambah.

Michael–kuda perangku–melompati pohon tumbang, menerjang semak-semak belukar, dan menggilas daun kering yang menumpuk di tanah; kami melaju tanpa hambatan berarti. Ketika tiba di Forsythia, ayam mulai berkokok dan cahaya perlahan mulai muncul dari ufuk timur. Memasuki pedesaan, keadaan Forsythia sedikit lebih baik dari Petunia. Itu karena wilayah ini tidak terkena dampak yang terlalu parah saat banjir menerjang. 

Sipir penjara menunduk hormat ketika melihatku dari jarak yang lumayan dekat. Dia memakai seragam lengkap dan pedang yang disangkutkan di pinggang dan menyapa, “Silakan masuk, Yang Mulia.”

Tanpa menjawab sapaannya, aku melompat turun dari kuda. Memberikan tali kendali pada salah satu ksatria yang berjaga dan melangkah masuk ke dalam lorong yang hanya mendapat sedikit cahaya dari obor. Tangan kananku menengadah ke atas dan aura biru pekat muncul perlahan, mengelilingi tanganku sebelum pedang naga muncul.

Meski mengeluarkan pedang naga terlalu beresiko karena kekuatan kegelapan sedang tidak stabil, aku tetap nekat dan menerobos stamina diri–mengandalkan [mana] untuk mengontrol pedang naga. Semakin melangkah masuk lebih dalam lagi, keringat mulai mengucur di dahi dan membuatku refleks mempercepat langkah membuka gembok sel dengan tidak sabar.

Trang.

Suara pedang yang beradu dengan rantai kemudian disusul oleh ketakutan orang-orang yang terbangun karena mendengar keributan. Aku melangkah masuk dan memperpendek jarak dengan seorang pria yang bersembunyi di sudut sel yang tidak mendapat cukup penerangan. Melihat hal itu, adrenalinku seolah terpacu dan secara asal mengayunkan pedang hingga memutus lengan orang itu. Seketika itu juga, darah menyembur dan mengotori wajah dan pakaianku yang berwarna gelap.

Teriakan sertamerta memenuhi ruang penjara dari seluruh sel. Mereka menggoyangkan jeruji besi–memohon untuk diselamatkan. Namun, aku dengan fokus yang masih berada di sel pertama seolah tak mendengarnya karena asik membantai penghuni sel ini dengan leluasa.

“TOLONG SELAMATKAN SAYA!”

Semua orang nyaris meneriakkan kalimat yang sama. Namun, bagiku indra pendengaran ini sedang tidak berfungsi dan mereka hanya melakukan hal yang sia-sia. Meski demikian, aku menghormati tiap-tiap cara mereka menyelamatkan diri walaupun itu tidak akan pernah berhasil karena semua orang yang ada di sini telah ditakdirkan untuk mati di tanganku.

“ARGH!”

Teriakan itu kembali bergema ke seluruh penjara. Histeris, tangis, pekikan dari semua orang, serta suara jeruji besi yang beradu dengan goncangan yang berasal dari ketakutan mereka menjadi pemandangan yang memicu dopamine di tubuhku. Suasana semakin mencekam; membuat semua penghuni sel panik dan takut saat menyaksikan pembunuhan yang ada di depan mata.

Satu per satu manusia yang ada di dalam sel berubah menjadi mayat. Aku membunuh sesuka hati; membiarkan kegelapan menyerap saripati darah dengan leluasa. Waktu terus berlalu dan semakin banyak cairan kental yang memenuhi lantai–menyebabkan sepatuku terasa lengket. Sementara itu, pedang naga yang masih meneteskan darah kemudian mengering dengan sendirinya karena terserap oleh kegelapan.

“Tolong biarkan saya hidup sekali ini saja, Yang Mulia.”

Seorang pria muda kurang lebih berusia 30 tahun menatapku dengan ketakutan. Pupil matanya melebar sementara tubuhnya gemetaran; memohon sembari berlutut di lantai dengan sisa-sisa keberanian yang dia upayakan. Kedua tangannya saling terkatup sembari pandangan dan memohon,

“Saya masih mempunnyai anak dan istri, Yang Mulia. Tolong ampuni saya kali ini saja, saya mohon.”

Namun, telingaku saat ini seolah sedang tidak dapat mendengar perkataan putus asanya. Aku malah menyeringai dan mengayunkan pedang–hingga kepalanya terlempar dan menabrak dinding sel sebelum jatuh ke lantai. Bau amis yang menyeruak masuk ke dalam hidungku seolah memberiku napas segar dari kegelapan yang memuakkan. Setelah menghabisi setengah dari jumlah tahanan keseluruhan, aku akhirnya menarik napas lega, tetapi di waktu yang bersamaan aku masih ketakutan–sebab meski telah membunuh banyak manusia hari ini, aku kekuatanku malah seolah melemah, walaupun kegelapan telah mengisap banyak saripadati darah.

Aku mengatur napas yang tidak beraturan, melangkah keluar dari dalam sel yang semua penghuninya mati menuju sel lainnya. Sama seperti sebelumnya, ketakutan menjadi udara yang memenuhi penjara Forsythia hari ini. Namun, meski telah membunuh banyak nyawa, aku tidak sama sekali merasa bersalah–sebab yang kubunuh kebanyakan adalah hanya orang-orang yang melakukan pelanggaran di Adenium, seperti penipu, pelaku penggelapan pajak, orang yang memperkerjakan anak di bawah umur, dan pernikahan dini sebelum usia legal. Bagiku tidak ada yang namanya kesempatan kedua, sekali berbuat kesalahan, maka orang itu harus mati di tanganku.

Suara gembok dan rantai yang beradu dengan pedang naga kemudian terdengar kembali. Aku melangkah masuk setelah pintu yang dikunci itu terbuka paksa–menatap sekumpulan manusia yang menyudut dengan ketakutan yang luar biasa–tetapi tetap memaksakan diri menatapku.

“Yang Mulia, Anda tidak dapat melakukan ini kepada saya! Meskipun saya telah melakukan hal yang membuat Yang Mulia marah, saya tetaplah seorang Count! Bangsawan yang memerintah sebuah wilayah!”

“Aku tidak peduli.”

Aku mendekat sembari menyiapkan pedang naga–bersiap menggores dadanya dengan bilah tajam milikku.

“Tu-tunggu sebentar! Saya tahu Anda membutuhkan banyak darah!”

Aku menghentikan langkah dan terdiam–menarik sudut bibir ke atas, menyeringai. Secara perlahan memperpendek jarak dengannya dan berbisik di telinganya, “Darimana kau mendapatkan informasi itu? Kalau kau memberitahuku, maka akan kupikirkan nyawamu.”

Tubuhnya bergetar hebat setelah mendengar kalimat terakhirku. Melihat hal tersebut, aku memundurkan wajah dan menatapnya tepat di netranya, memberikan rasa intimisasi yang kuat.

“Ramalan kakek itu telah terjadi! Putrimu adalah senjata!”

Sisi ujung pedangku sertamerta berada di lehernya, memandang Count yang tidak kukenal itu dengan tatapan membunuh. “Katakan dengan jelas, siapa informanmu?”

“Marquess of Matheo.”

Aku tersenyum dan menurunkan pedang. Perkataannya membuatku terdiam dengan beribu pertanyaan, tetapi rasa takutku seketika mendominasi. Pikiranku langsung tertuju pada Elora. 

“Dalam lima detik kau harus kabur dari sini.”

Dia segera berlari, tetapi baru sampai di depan sel, tubuhnya hancur dan meledak seperti bom. Darah dan potongan daging terlempar ke mana-mana, termasuk ke arah pakaianku yang berwarna gelap. Teriakan yang tertahan kembali masuk ke dalam telingaku, membuat saraf-saraf di tubuhku menegang sebelum memutuskan membunuh mereka semua secara membabi buta tanpa terkecuali. Hari itu, untuk kedua kali peristiwa berdarah kembali pecah di Adenium.[]

1
Sinchan Gabut
Jadi apa ad hub sama Permasuri yg dpenggal kah?

Putri Puding Coklat kenapa nangis sayang? 🤗🍮
Aruna02
di bawa terbang ini 😱😱
Aruna02
ya ampun asli nya pengen ketemu elola 😭😭😭
Sinchan Gabut
Baik-baiklah sama Putri Puding Coklat, Yang Mulia. Dia itu kunci dr segala kunci. Paham? 😏🍮
studibivalvia: betul lagi lah akak ini 🤣 emang paling joss komenmu kak wkwk
total 1 replies
Pengabdi Uji
Tau gk yg mulia ibu asli el itu saya lho🤭
Pengabdi Uji
Keknya elora itu bsa ngontrol bapaknya ya? Punya kekuatan sejenis apatuh
studibivalvia: nyembuhin lebih tepatnya kak 🤣 kekuatannya ntar dijelaskan di bab yg berikutnya tapi kayaknya masih agak lama ketahuan nya
total 1 replies
Alessandro
"hamon tidak mati kan?"
ya ampun.... elora
Alessandro
saripati darah dong, thor...
detil sekali penjelasannya
Laila Sarifah
Agak anomali Kaisar satu ini, masa anaknya disuruh lompat dari ketinggian😭
Alessandro: 🤣🤣🤣 aku jg gemes dr kmrn...
tp ya gmn lg terserah sang pemilik cerita 🤣
total 1 replies
Laila Sarifah
Mudahan dgn adanya Elora di samping Kaisar, hati Kaisar menjadi lebih lembut
Aruna02
😭😭sadis
Aruna02
iiiikh gumush bnget elola 🤣🤣
Sinchan Gabut
Lah... kmrin pingsan, skrg malah cengengesan liat bapaknya habis bantai penduduk desa. jd bokem kamu El? 🤔😆🤣
Sinchan Gabut
gemes bgt sama Elora... 😘
Pengabdi Uji
El apa dy calon calon bocil baddas nanti diajarin sma bapaknya?
Pengabdi Uji
Kan kata gua jg apa, ni bocil pasti dibawa org lucu bgini🤣🤣
Alessandro
agak lain bapak ini....
Alessandro
hati yang mulia keras juga ya.....
butuh siraman cinta agar lebih melunak
Laila Sarifah
Yang Mulia nggak mau kah cari siapa Ibu aslinya Elora😫
studibivalvia: nggak dong kak 😔
total 4 replies
Laila Sarifah
Ya jgn lah di bunuh anakmu sendiri Yang Mulia, nanti anda menyesal
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!