Kejutan yang Freya siapkan untuk William berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki pria itu berselingkuh. Tanpa niat melabrak, Freya justru merekam pengkhianatan tersebut dan bersumpah akan membalasnya.
Namun, sebelum rencananya selesai, Freya diculik dan dipaksa menerima perjodohan dengan Steven, pria dingin dan berkuasa.
Menolak tunduk, Freya kabur dan menghancurkan karier William dengan menyebarkan video perselingkuhannya.
Tapi, masalah tidak berhenti di sana. Steven murka karena Freya melarikan diri. Ia mengerahkan anak buah untuk menangkap gadis itu, tanpa menyadari bahwa mereka akan bertemu dengan cara yang tak terduga, yang mana Freya menyamar sebagai laki-laki, dan menjadi bodyguard barunya dengan nama Boy.
Kedekatan mereka memicu konflik yang lebih berbahaya, saat Steven mulai merasakan perasaan terlarang pada sosok yang ia yakini sebagai seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Freya baru saja selesai mandi ketika tubuhnya jatuh ke atas tempat tidur yang empuk. Rambutnya masih lembap, dengan air yang di ujungnya.
"Hah... yang benar saja. Kenapa aku harus menenangkannya setiap kali dia mimpi buruk?" gumamnya kesal. "Lagipula, bagaimana caranya aku tahu kalau dia sedang mengalaminya atau tidak?"
Ia mendengus, lalu terdiam sejenak. "Tapi... " Freya bangkit, duduk tegak. Pandangannya beralih ke dinding yang menjadi pembatas antara kamarnya dan kamar Steven. Dengan langkah pelan, ia mendekat, lalu menempelkan telinganya ke permukaan dingin itu.
"Tidak terdengar suara sama sekali." Dia menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangan di depan dada. "Jadi, jangan salahkan aku kalau nanti, aku tidak tahu," gumamnya, lebih pada pembelaan diri.
Ia berbalik, berniat kembali merebahkan diri. Namun, langkahnya terhenti saat samar-samar terdengar suara gumaman tercekik.
" Ng? Suara apa itu?" Freya memicingkan mata, kembali menajamkan pendengarannya.
"Itu... jangan-jangan—" Matanya membelalak. Tanpa berpikir panjang, ia berlari ke pintu. Namun, baru beberapa langkah, ia tersentak, menyadari sesuatu.
"Astaga, Boy!" Ia buru-buru berbalik, masuk kembali ke kamar, meraih wig, lalu mengenakannya dengan tangan gemetar. Setelah itu, barulah ia keluar dan berdiri di depan pintu kamar Steven.
TOK! TOK! TOK!
"Tuan... Anda baik-baik saja?" tanyanya pelan sambil menempelkan telinga ke daun pintu.
Hening, tidak ada jawaban.
"Kenapa tidak ada suara? Padahal tadi jelas—" Kalimatnya terputus ketika gumaman itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas, bercampur napas berat dan nada tersiksa.
"Argh, sial!" Freya tidak bisa menunggu lebih lama. Ia langsung membuka pintunya.
Begitu pintu terbuka, ia melihat Steven terbaring di sofa, tubuhnya gelisah, alisnya berkerut dalam tidur yang tidak tenang.
"Tuan Steven!" Freya bergegas mendekat, jantungnya berdegup kencang. Namun, langkahnya terhenti sesaat. Ia berdiri kikuk di sisi sofa, bingung harus berbuat apa.
"Tuan, bangun!" Freya menggoyang lengan Steven pelan. Namun, pria itu terus bergumam tidak jelas. Kepalanya menggeleng lemah, napasnya memburu, sementara keringat membasahi dahinya.
"Aku harus bagaimana?" Freya berbisik panik.
"T-tidak! Jangan! Mama... Mama... "
Freya mengerutkan kening. Dia menunduk, mendekatkan telinganya.
"Mama, jangan pergi!" gumam Steven.
"Mama?" bisiknya lirih. "Jangan-jangan, dia bermimpi tentang ibunya saat meninggal."
"Tidaaak!! Jangan!!"
Freya menelan ludah, memberanikan diri. "Tuan, tenanglah. Tidak ada yang akan menyakiti Anda," ucapnya pelan, meski suaranya sedikit bergetar.
Namun, Steven justru menggeliat lebih kuat. Tangan pria itu tiba-tiba terulur, meraih pergelangan tangan Freya.
"Hah—?!"
Tarikan mendadak itu membuat Freya kehilangan keseimbangan. Ia terjatuh ke lantai, lalu dalam sekejap tubuhnya kembali ditarik hingga terperangkap dalam pelukan Steven.
"E-eh... A-apa yang Anda lakukan, Tuan?" Freya berusaha melepaskan diri tapi, pelukan Steven terlalu erat, membuat wajahnya memanas.
" T-tuan!" Freya menyingkirkan tangan Steven. Namun, ia memperhatikan Steven yang perlahan berhenti menggeliat. Napasnya mulai teratur, kerutan di dahinya mengendur, seolah pelukan itu menjadi jangkar yang menahannya dari mimpi buruk.
Freya menarik napas dalam-dalam, menenangkan dirinya sendiri. Perlahan, tangannya terangkat, mengusap rambut Steven dengan gerakan ragu, lalu semakin lembut.
"Tenang, jangan takut," bisiknya. "Ada kakak di sini," kekeh Freya
***
Pagi menjelang. Sinar matahari menyelinap masuk melalui celah tirai, jatuh tepat di wajah Steven, memaksanya terbangun dari tidur yang belum sepenuhnya pulih.
Ia menggerakkan tubuh, lalu mendadak membeku, saat merasa ada sesuatu yang menindih dadanya.
Keningnya berkerut. Perlahan, matanya terbuka dan napasnya tertahan ketika melihat kepala seseorang bersandar nyaman di dadanya, rambut hitamnya tergerai berantakan.
"Siapa kau?" tanyanya dengan suara serak, namun dingin.
Freya menggeliat pelan, lalu mengangkat kepalanya. Ia mengucek mata, meregangkan kedua lengannya, dan menguap lebar tanpa sedikit pun merasa bersalah.
"Huaaahhemm... sudah pagi," gumamnya.
Steven menatapnya tak percaya. "Boy?"
Freya menoleh, lalu tersenyum santai. "Oh, kau sudah bangun, ya?"
"Apa yang—"
Belum sempat Steven menyelesaikan kalimatnya, Freya sudah bangkit berdiri dan kembali meregangkan tubuhnya.
"Astaga, pinggangku," keluhnya sambil memijat bagian belakang tubuhnya. Tanpa menjelaskan apa pun, ia melangkah keluar kamar begitu saja, meninggalkan Steven yang masih duduk kaku di sofa dengan ekspresi bingung.
"Kenapa dia bisa tidur di sini?" gumamnya. "Dan... pinggangnya... "
Matanya menyipit tajam. "Apa yang sebenarnya terjadi?" gumamnya. "Semalam... " Steven terdiam, kepalanya menunduk, tangannya menyentuh dada. "Astaga, apa yang aku pikirkan?" Steven menggeleng cepat, membuang jauh pikirannya.
Ia lalu menurunkan kedua kakinya, bangkit dari sofa dan mulai membersihkan diri, bersiap untuk pergi ke kantor.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Steven kini sudah siap dengan setelan baju kerjanya. Ia menuruni anak tangga dengan langkah mantap. Di ujung tangga, Miko sudah berdiri tegak menunggunya.
Tatapan Steven sempat berkeliling, menyapu ruang utama, sebelum akhirnya kembali tertuju pada sang asisten.
"Di mana Boy?" tanyanya singkat.
"Boy sedang bersiap, Tuan," jawab Miko sopan.
Kening Steven langsung berkerut. "Sedang bersiap?" ulangnya dingin. "Apa kau belum memberitahu aturan di sini? Tentang jadwal, tentang tugasnya?"
"S-sudah, Tuan. Tapi semalam... "
"Semalam?" Steven mengulang pelan.
Sekilas bayangan muncul di benaknya, saat kepala Boy bersandar di dadanya, napas hangat yang teratur, dan pelukan yang entah bagaimana membuat tidurnya jauh lebih tenang dari biasanya.
Steven segera menggeleng cepat, seolah ingin mengusir ingatan itu.
"Lupakan," potongnya dingin. "Katakan padanya, kalau dia mengabaikan tugasnya lagi, gajinya akan aku potong." Ia langsung melangkah ke ruang makan, melewati Miko yang terdiam di tempat.
Miko menatap punggung Steven dengan raut ragu, lalu bergumam pelan, nyaris tidak terdengar.
"Padahal, Boy terlambat karena menjagamu semalaman, Tuan." Ia lalu menyusul Steven, menyampaikan kabar terbaru.
"Tuan, baru saja ada pesan dari tuan Denis. Beliau mengundang anda makan malam," ujar Miko.
Steven melirik Miko sekilas, melipat surat kabar dan meletakkannya kembali di meja. "Katakan padanya, aku akan datang."
"A-apa anda yakin, tuan?"
"Ya, aku sangat yakin." Steven tersenyum miring, sorot matanya menyiratkan sebuah rencana tersembunyi, yang ia siapkan untuk menguji seseorang.