“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.
"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.
"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."
Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.
"Ning, ayo nikah sama Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Drap
Drap
Drap
Suara langkah kaki menghantam lantai lorong kantor. Bastian membuka pintu dengan napas terengah.
"Gawat!"
"Apa sih? Kek dikejar setan aja lu," ucap Yuda setengah tertawa melihat sahabatnya ini tampak tegang.
"Mama lu!"
"Apa?"
"Mama lu ke kontrakan!"
"Apa?"
Seketika Yuda berdiri sampai kursi terjengkang.
“Orang suruhan sudah di sana. Mama lu sendiri yang datang.”
Darah Yuda seolah turun ke kaki. “Sial.”
Ia langsung menelepon Ning. Nada sambung. Satu kali. Dua kali. Tak diangkat.
“Ning, angkat…” gumamnya, jantung berdebar.
Ia meraih jas. “Bastian, kita berangkat sekarang.”
Mobil meluncur. Jalanan terasa terlalu panjang. Ponsel Yuda kembali diangkat—tetap tak ada jawaban.
“Yud, tenang dulu,” Bastian mencoba menahan. “Gantian lu yang malah kayak kesetanan sekarang.”
“Njir! Gimana mau tenang?” Yuda mengusap wajahnya kasar. “Mama ke sana. Ning sendirian.”
Mobil hampir sampai. Bastian melirik Yuda dari kaca spion. “Yud…”
“Apa lagi?”
“Lu masih pakai formal.”
Yuda terdiam setengah detik. “Astaga.”
Ia langsung membuka jas, melemparnya ke jok belakang, melepas dasi, membuka sepatu. “Barang-barang ngrepotin banget,” gerutunya.
“Lu serius nglepas sepatu juga?!”
"Lu mau dia curiga kenapa gua pakai sepatu mahal gini?"
"Emangnya dia tau barang mahal?"
Mobil berhenti tak jauh dari kontrakan. Yuda turun sebelum benar-benar berhenti, berlari menyusuri gang sempit—napasnya terengah, kaki telanjang menghantam aspal kasar.
Tepat saat itu, pintu kontrakan terbuka lebih lebar.
Ning berdiri di sana.
Dan Anggun di depannya.
"Ning?"
"Bu Anggun?"
Keduanya tampak terkejut.
"Ning!" seru Yuda dari halaman dengan panik.
Ning menoleh refleks. “Mas...?”
Yuda langsung berdiri di depan Ning, tubuhnya menjadi tameng.
Anggun terkejut setengah mati. “Kamu?!”
Pandangan Anggun turun—ke kaki Yuda yang telanjang. Ke kemeja yang kusut. Ke napas yang masih tersengal.
Ning memperhatikan Yuda lebih saksama. “Mas… kok napas Mas ngos-ngosan? Terus… sendalnya?”
Yuda cepat-cepat mengarang. “Mas baru ingat tadi, kamu pasti kesulitan kalau jalan pake kruk itu ke tempat kerja. Jadi, Mas mau anter kamu kerja. Tadi Mas buru-buru sampai lupa enggak pakai sendal.”
“Ya ampun, Mas. kamu ini ada-ada saja,” Ning menerima tanpa curiga. “Ning bisa sendiri kok.”
“Mas yang mau,” jawab Yuda cepat.
Anggun memandang Ning lagi. Ning yang menunduk sopan, tangannya satu memegang kruk dan satu di daun pintu.
“Kamu tinggal… di sini, Ning?” tanya Anggun, suaranya turun satu oktaf.
“Iya, Bu Anggun,” jawab Ning jujur.
Yuda melirik Ning, lalu kembali ke Anggun. “Apa ini? Kalian saling kenal?”
Anggun menyipitkan mata. “Aku ingat kamu,” katanya pada Ning, nada suaranya berubah lebih halus. “Kerjaan kamu bagus banget. Ibu suka.”
Ning tersenyum malu, “Ah, terima kasih, Bu.”
Yuda kini giliran bingung. Ia menoleh bolak-balik, mencoba menyusun kepingan yang tak ia sangka akan bertemu.
Ning lalu menoleh ke Anggun. “Bu Anggun… ada perlu apa bertamu ke sini?”
Yuda menahan napas. Ia melirik mamanya, memberi kode dengan tatapan memohon.
Anggun menangkapnya. Ia menarik senyum tipis. “Saya… nyasar,” katanya akhirnya. “Dan kehausan.”
“Oh, masuk dulu, Bu,” Ning langsung membuka pintu lebih lebar. “Ning ambilin minum.”
Ning memberi isyarat Yuda agar mempersilahkan Anggun masuk. Yuda menurut saja.
“Aduh, maaf, ya Ning. Saya malah ngrepotin,” jawab Anggun, tapi kakinya tetap melangkah masuk.
"Ah, enggak kok, Bu. Ning malah senang, enggak nyangka bisa kedatangan Ibu di rumah kami."
Begitu Ning ke dapur, Anggun langsung menyenggol Yuda keras. “Apa ini?!”
“Mama kenal sama Ning?”
Anggun menjewer telinga Yuda pelan tapi menyakitkan. “Kamu serumah sama perempuan?”
“Ma, tolong,” bisik Yuda. “Nanti Yuda jelasin. Di rumah oke?”
Ning muncul membawa dua gelas air. “Silakan, Bu.”
Dalam sekejap, wajah Anggun kembali netral. “Terima kasih.”
Ia meneguk air itu, matanya tetap mengawasi Yuda dengan peringatan jelas. “Saya pamit. Ada urusan.”
“Baik, Bu,” jawab Ning ramah. “Hati-hati.”
Anggun berdiri. Sebelum keluar, ia menoleh ke Yuda. Tatapannya tajam—janji bahwa ini belum selesai.
Begitu pintu tertutup, Yuda menghembuskan napas panjang.
"Kenapa mas Yuda kayak tegang gitu?"
"Eh, masa sih?" Yuda mengusap belakang rambutnya. "Ini pasti karena Mas habis lari-lari tadi..."
"Mas pulang enggak bawa motor?" tanya Ning yang semakin bingung.
Mulut Yuda terbuka, baru menyadari telah melupakan hal penting karena terlalu panik tadi.
"Aahh, iya. Tadi... Motornya habis bensin," ujarnya memberi alasan.
"Terus... motornya Mas tinggal di mana?"
"Aahh, itu..." Yuda memutar otak nyari alasan. "Di depan, tadi Mas minta Bastian buat isiin. Mas terlalu kepikiran sama kamu, jadi... Enggak bisa nunggu bensin datang..."
Ning tersenyum, ucapan Yuda memang terdengar gombal banget.
"Ning belum selesai berberes, Mas."
"Ya udah, kamu beresin... Mas mau ambil motor dulu," kata Yuda ambil kesempatan.
"Iya, hati-hati, Mas."
Yuda pergi baru sampai ujung gang, Bastian sudah menunggu dengan motor Yuda.
"Lu! Lu... Penyelamat gua!"
Bastian terkekeh pelan, "Gua tau... Lu terlalu panik sampai lupa barang penting ini!" katanya sambil mengetok dasbor motor.
Yuda mengantar Ning ke salon setelanya. Di perjalanan, Ning bercerita ringan, tak menyadari badai yang sedang menunggu.
Setelah menurunkan Ning, Yuda berbelok arah. Dia harus ke kantor dulu menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda.
"Huufftt! Hari ini capek banget," keluhnya sambil melonggarkan dasinya.
"Lu enggak jadi ke rumah utama?" tanya Bastian yang berjalan di sisi kanannya.
"Nanti... Gua bakal cari waktu..."
Bastian hanya menggeleng pelan. Pintu ruangannya dibuka, dan Yuda langsung terlonjak.
"Mama!?"
Anggun sudah menunggu di sofa tamu. Duduk tegak. Tangan terlipat.
“Enggak ada gunanya Mama nunggu di rumah. Sekarang jelaskan,” kata Anggun dingin. “Kenapa kamu tinggal serumah sama Ning.”
Yuda menarik napas panjang. Ia memang tak bisa lari, tak ada maksud lari juga. “Karena Ning istri Yuda.”
Sunyi menghantam ruangan.
“Apa?”