NovelToon NovelToon
Pernikahan Panas Sang Aktor

Pernikahan Panas Sang Aktor

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / CEO / Pengantin Pengganti Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:875
Nilai: 5
Nama Author: MissKay

Brian Aditama tidak pernah percaya pada komitmen, apalagi pernikahan. Baginya, janji suci di depan penghulu hanyalah omong kosong yang membuang waktu. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris kedua Imperium Aditama Group, dunia ada di bawah genggamannya sampai sebuah serangan jantung merenggut nyawa kakaknya secara mendadak.

Kini, Brian terjebak dalam wasiat yang gila. Ia dipaksa menikahi Arumi Safa, janda kakaknya sendiri. Wanita itu adalah satu-satunya orang yang tidak pernah gemetar melihat tatapan tajam Brian, dan kenyataan bahwa yang ia benci adalah kutukan terbesar dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissKay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Go Public

Arumi terbangun saat suara melengking dari ponsel memecah keheningan kamar. Di atas nakas, ponsel milik Brian terus bergetar. Dengan gerakan malas, Arumi meraih benda itu. Belum sempat ia menyentuh layar sebuah notifikasi pesan muncul.

"Brian, aku merindukanmu. Bisakah kau kembali padaku?"

"Cih, gatal sekali wanita ini," gumam Arumi sinis. Rasa panas menjalar di dadanya. Ia celingukan mencari keberadaan Brian, mencoba memanggil namanya, namun tak ada sahutan.

​Arumi bangkit, menyampirkan bathrobe sutra di tubuhnya, lalu berjalan ke arah jendela. Langit sudah berubah jingga kemerahan rupanya sudah petang. Mengingat kembali apa yang dilakukan Brian padanya beberapa jam lalu membuat wajah Arumi memanas. Ia segera melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum makan malam.

Di bawah kucuran shower, Arumi tertegun menatap pantulan dirinya di cermin. Tubuhnya dipenuhi tanda kemerahan yang ditinggalkan Brian. "Sialan, Brian kurang ajar," umpatnya lirih, meski ada senyum tipis di bibirnya. "Bisa-bisanya dia seliar itu. Apa dia juga melakukan ini pada artis-artis cantik itu?"

Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Brian berdiri di sana tanpa sehelai benang pun, melangkah mendekat dengan tatapan intens.

​"Please, Brian... aku lelah," rintih Arumi saat lengan kekar pria itu memeluknya dari belakang.

​"Aku sudah meminta pelayan menaruh makan malam di kamar. Kita tidak perlu keluar," bisik Brian, suaranya berat dan serak. Ia mengecup ceruk leher Arumi, menghisapnya hingga menimbulkan suara decapan yang membuat bulu kuduk Arumi meremang.

​"Tadi... ada pesan masuk di ponselmu," Arumi mencoba mengalihkan perhatian, suaranya sedikit bergetar.

​"Abaikan saja. Fokus padaku," balas Brian dingin namun posesif.

​Jari-jari panjang Brian mulai bermain, membuat pertahanan Arumi runtuh seketika. Tubuhnya bergetar hebat saat Brian membawanya menuju puncak. Tanpa rasa jijik. Brian memberikan perhatian pada setiap jengkal tubuh wanitanya sebelum akhirnya ia menyatukan tubuh mereka kembali. Arumi kewalahan namun ia tak bisa menolak bagaimana Brian mendominasinya dengan begitu liar.

​Setelah pergulatan panjang itu usai, Brian melarang Arumi mengenakan pakaian saat mereka makan malam di dalam kamar. Brian menatapnya dalam, seolah ingin menandai bahwa Arumi adalah miliknya sepenuhnya.

​"Malam ini belum berakhir, Arumi," ucap Brian sambil membelai pipinya. "Aku ingin kau terbiasa dengan kehadiranku. Sampai pagi, kau tidak akan kulepaskan."

...---...

Keesokan harinya, matahari sudah tinggi, namun keduanya masih terlelap dalam balutan selimut. Tidur mereka terusik saat suara ketukan pintu terdengar beruntun.

"Tuan Muda... Tuan Reno ingin bertemu Anda di bawah," suara seorang pelayan terdengar dari balik pintu.

​Brian menggeram rendah, merasa terganggu. Ia bangkit dari tempat tidur, hanya mengenakan celana tidur panjang yang menggantung rendah di pinggangnya. Ia melangkah menuju pintu dan membukanya sedikit. Di sana, seorang pelayan perempuan berdiri menunduk dalam, tak berani menatap tubuh atletis majikannya yang tampak begitu menggoda di siang hari.

​"Aku akan turun sebentar lagi. Bilang padanya untuk menunggu," perintah Brian dengan suara serak khas bangun tidur.

"Baik, Tuan," sahut pelayan itu dengan sopan lalu segera bergegas pergi.

​Brian menutup pintu kembali. Ia mendapati Arumi sudah terbangun, duduk bersandar di dipan dengan rambut panjang yang acak-acakan. Wajah polosnya tanpa riasan justru memancarkan kecantikan yang natural, membuat Brian tak tahan untuk tidak tersenyum.

​"Morning. My wife," ucap Brian lembut. Ia menghampiri Arumi dan mengecup bibirnya singkat.

Arumi hanya diam membisu. Ia tak membalas, matanya menatap ke arah lain sebagai tanda bahwa ia masih menyimpan kekesalan akibat kejadian semalam.

​Brian terkekeh pelan melihat sikap dingin itu. "Pergilah belanja hari ini. Beli apa pun yang kamu suka bersama Tante," bujuk Brian mencoba mencairkan suasana.

​"Aku sedang tidak ingin ke mana-mana," sahut Arumi ketus dan malas.

Brian menumpu tangannya di sisi tubuh Arumi, mengurung wanita itu. "Kalau tidak mau belanja, lalu apa? Kamu mau kita lanjut bercinta lagi?" guraunya dengan nada menggoda.

​Mata Arumi membelalak. "Oh, jangan gila. Tuan Muda!" seru Arumi kesal, tak habis pikir dengan stamina Brian yang seolah tak punya batas.

​"Hahaha, baiklah. Kalau begitu bersiaplah, kita akan pergi setelah ini," ucap Brian sambil meraih atasan piyama. Setelah berpakaian seadanya, ia melangkah keluar kamar untuk menemui Reno yang sudah menunggunya di bawah.

...***...

​​

Brian menuruni tangga dengan langkah santai, menemui Reno yang sudah duduk nyaman di sofa ruang tamu. Reno, sang playboy kelas elit itu langsung bersiul saat melhat penampilan Brian, Rambut berantakan, piyama yang belum rapi. Ia berani bertaruh bahwa temannya itu baru saja keluar dari pergumulan panas dengan Arumi.

Reno melirik jam tangan mewahnya, lalu menyeringai. "Hey. Superstar! Sudah siap mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan pernikahanmu dengan... mantan kakak iparmu sendiri?" ejek Reno terang-terangan.

Brian hanya berdecak, tidak memedulikan sindiran itu. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa, tepat di di depan Reno. "Simpan ocehan mu. Mana pesananku? Apa kau sudah mendapatkannya?"

​"Tentu. Tapi ini masih berupa perkiraan dari anak buahku, kau bisa memeriksanya sendiri nanti," sahut Reno sambil menyodorkan sebuah amplop coklat tebal kepada Brian.

​Brian menerima amplop itu, menimbangnya sejenak dengan ekspresi puas. "Thanks, Bro."

​"Santai saja. Siapa yang berani menolak perintah seorang Superstar?" Reno terkekeh, namun sedetik kemudian ekspresinya berubah serius. "Tapi, ada satu hal yang kuinginkan darimu sebagai gantinya."

Brian menaikkan sebelah alisnya. "Katakan."

​Reno memajukan tubuhnya, menatap Brian tajam. "Berikan kekasihmu itu untukku. Bukankah sekarang kau sudah punya Arumi?"

​Suasana sempat hening sejenak. Brian menatap Reno dalam waktu yang cukup lama, seolah sedang menimbang harga dari kesepakatan itu. Akhirnya, Brian mengangguk pelan tanpa keraguan.

​"Datanglah ke Prancis. Dia milikmu," ucap Brian dingin.

​Reno tersenyum smirk, merasa menang, ia segera memakai kacamata hitamnya. Lalu berdiri. "Deal!"

​Tanpa berkata apa-apa lagi, Reno melangkah lebar meninggalkan ruangan, meninggalkan Brian yang kini menatap amplop coklat di tangannya dengan tatapan yang sulit diartikan.

...***...

Brian melangkah kembali ke kamar dengan amplop cokelat ditangannya. Begitu pintu terbuka, ia mendapati Arumi sedang duduk di depan meja rias, memoles wajahnya dengan telaten.

"Apa kita jadi keluar?" tanya Arumi tanpa menoleh, masih fokus pada riasannya.

​"Ya," jawab Brian singkat. Ia berjalan mendekat dan berdiri tepat di belakang Arumi, menatap lekat pantulan wanita itu di cermin. Tatapan Brian mendadak menajam saat matanya tertuju pada leher Arumi. "Aku tidak suka kau memakai kalung itu."

​Arumi mengernyit, tangannya spontan menyentuh liontin perak di lehernya. "Kenapa? Ini kan..."

​Belum sempat Arumi menyelesaikan kalimatnya, tangan Brian sudah bergerak cepat membuka kaitan kalung tersebut dan melepaskannya dengan paksa.

​"Aku suamimu sekarang. Adrian sudah tiada, ingat itu!" desis Brian tajam. Suaranya pelan namun penuh penekanan yang mengintimidasi. Setelah itu, ia melempar kalung tersebut ke meja rias dan melenggang masuk ke kamar mandi tanpa dosa.

​"Oh astaga... kenapa dia sangat menyebalkan!" umpat Arumi kesal, meremas sisa keberaniannya.

​Beberapa saat kemudian, mereka turun bersama. Tangan Brian melingkar posesif di pinggang Arumi, memastikan tidak ada celah di antara mereka. Mereka masuk ke dalam mobil sport milik Brian yang sudah menunggu di luar.

​Tujuan mereka adalah sebuah restoran mewah di pusat kota. Sepanjang jalan hingga tiba di lokasi, pandangan orang-orang tak lepas dari mereka. Beberapa penggemar bahkan berteriak histeris memanggil nama Brian sang aktor papan atas yang ketampanannya dianggap tanpa celah. Brian terlihat sangat keren dengan kacamata hitam dan gaya yang tenang membuat siapa pun yang melihat mereka merasa iri.

​Kejutan belum berakhir. Saat memasuki restoran. Brian dengan lembut menarik kursi untuk Arumi. Sebelum duduk, ia menunduk dan mengecup rambut arumi dengan mesra di depan kerumunan orang. Suara jepretan kamera paparazi terdengar bersahutan.

​"Brian! Apa yang kau lakukan?" bisik Arumi gemas sekaligus panik. Ia tidak siap menjadi pusat perhatian dunia hari ini.

"Makanlah.Jangan khawatirkan mereka, ada pengawal yang menjaga kita," jawab Brian tenang dengan senyum tipis yang sulit diartikan, seolah ia memang sengaja ingin memamerkan bahwa Arumi kini miliknya.

1
Miss Kay
Hi, reader ku tercinta. Terima kasih sudah mengikuti, membaca, dan menyukai cerita ini. Dukung terus cerita ini ya, agar aku semangat update. Berikan like, masukkan ke perpustakaan kalian, dan jangan lupa vote nya. 🤭🙏😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!