Aera, seorang anak perempuan yang kehilangan ibunya karena meninggal. Setelah ibu tirinya datang, hidup Aera berubah total. Ayahnya yang dulunya sangat mencintainya, kini tidak peduli lagi. Aera merasa sendirian dan terkucil, seperti bawang yang terlupakan. Aera hanya ingin satu hal: mengembalikan kasih sayang ayahnya. Tapi, dia menemukan kebenaran yang mengerikan: ibu tirinya lah yang membunuh ibu kandungnya. Aera merasa marah dan sedih, tapi dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Suatu hari, datanglah Leonar, seorang laki-laki muda. Dia ramah dan baik, serta peduli pada Aera. Aera merasa bahagia, tapi kebahagiaan itu tidak akan bertahan lama. Leonar membantu Aera untuk membongkar kasus meninggalnya ibu kandungnya, tapi mereka tidak tahu bahwa ibu tirinya akan melakukan apa saja untuk menyembunyikan kebenaran. Bagaimana Aera dan Leonar akan menghadapi bahaya yang mengancam mereka? Apakah mereka akan berhasil membongkar kebenaran dan mengembalikan kasih sayang ayah Aera? Ataukah mereka akan gagal, dan Aera akan tetap menjadi bawang yang terlupakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SellaAf., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi
Aera berada di taman yang sangat indah, di kejauhan ia melihat seorang wanita yang sedang duduk membelakangi nya.
Dengan langkah pasti, ia mendekat dan mendekap tubuh wanita itu dengan erat.
“Mah, Aera kangen,” bisiknya.
Wanita itu menoleh dan tersenyum kearahnya, “Sini duduk,” titahnya.
Dengan segera Aera mendudukkan dirinya di samping wanita itu.
“Mamah kemana aja? Aera nungguin mamah tiap malam tapi mamah nggak pernah nemuin Aera?” Tanyanya dengan suara getar.
“Mamah ada di dekat kamu.”
“Di dekat aku?”
Wanita itu mengangguk, “iya, mamah selalu ada disini,” tunjuknya tepat di dada Aera,
“Mamah selalu ada di hati kamu.”
Aera langsung memeluk erat tubuh wanita itu, “Aera sayang sama mamah, Aera pengen ikut sama mamah.”
“Belum saatnya sayang,” wanita itu mengelus rambut Aera dengan lembut, “Kamu masih harus menjemput kebahagiaan yang sebentar lagi akan datang dalam hidup kamu.”
Aera menggelengkan kepalanya, “Enggak! Di sini Aera sendirian, Aku takut, Mah.”
“Kamu nggak sendirian, kamu masih ada papah, sayang.”
Aera menggeleng keras, “Enggak! Dia laki-laki jahat, Aera gak suka!”
“Lihat mamah,” wanita itu memegang kedua pipi Aera, “Kamu nggak boleh benci sama papah, papah nggak sejahat itu sayang.” Jelasnya,
“Papah hanya sedang tersesat, Aera mau kan tuntun papah kembali ke jalan yang benar?”
“Tapi laki-laki itu selalu pukulin Aku, laki-laki itu seperti monster, Aera takut.”
“Jangan takut, mamah selalu lindungi kamu dari sini.” Tuturnya tersenyum.
Aera menangis dengan pilu, dadanya terasa sesak saat mengingat semua perlakuan yang laki-laki itu lakukan padanya.
“Jangan balas kejahatan dengan kejahatan juga, sayang.” Wanita itu mengelus air mata yang mengalir pada wajah Aera.
Aera hanya diam mendengarkan ucapan dari wanita di sampingnya.
“Pesan mamah cuman satu, lupakan semua dendam yang ada di hati kamu. Dendam hanya akan membuat hidup kamu tidak tenang,” pesannya, “buka lembaran baru dan sambut kebahagiaan yang sebentar lagi akan datang.”
“Mamah harus pergi, Aera jaga diri baik-baik yah,” pamitnya dengan tersenyum.
“MAH, JANGAN TINGGALIN AERA! TUNGGU MAH…”
Aera terus berlari mengejar wanita itu yang menghilang di antara kabut putih.
Tak lama muncul cahaya yang sangat terang, Aera sampai menyipitkan matanya,
Dengan cepat, Aera tertarik masuk ke dalam cahaya itu.
Aera mengerjapkan matanya perlahan, melihat langit-langit ruangan yang terasa berbeda dengan kamarnya.
Matanya melirik kearah samping dan di dapati pemuda yang tengah menatapnya dengan tangan yang menggenggam erat jari-jarinya.
Pemuda itu tersentak saat merasakan jemarinya bergerak.
Tatapannya yang semula kosong langsung dipenuhi lega.
“Aera… kamu sadar,” suaranya serak, seperti menahan sesuatu yang nyaris tumpah.
Aera mencoba bicara, tapi tenggorokannya terasa kering. Ia hanya mampu menatap wajah itu—wajah yang tampak lelah, dengan mata merah dan lingkar gelap yang tak bisa disembunyikan.
“Kenapa kamu di sini…?” gumam Aera pelan, hampir tak terdengar.
Pemuda itu menunduk, menggenggam jari Aera sedikit lebih erat, seolah takut gadis itu akan menghilang kalau dilepas. “Karena aku janji,” katanya lirih. “Aku bilang… selama kamu masih berjuang, Aku nggak bakal pergi.”
Aera menelan ludah. Ingatannya berputar pelan—rasa sakit, suara gaduh, lalu gelap. Dadanya terasa sesak, bukan karena luka, tapi karena perasaan bersalah yang tiba-tiba datang.
“Aku bikin kamu khawatir lagi ya…” ucapnya, matanya berkaca-kaca.
Pemuda itu menggeleng cepat. Tangannya terangkat, mengusap punggung tangan Aera dengan hati-hati.
“Jangan ngomong gitu,” katanya tegas tapi lembut. “Yang penting sekarang kamu di sini. Masih bernapas. Itu aja udah cukup.”
Aera mengalihkan pandangannya dari pemuda itu ke arah suara yang begitu ia kenal.
Stella berdiri di sisi ranjang, matanya sembab, jelas habis menangis. Senyum yang ia paksakan bergetar saat melihat Aera benar-benar membuka mata.
“Stel…” suara Aera lemah, tapi cukup membuat Stella langsung meraih tangannya.
“Jangan banyak ngomong dulu,” ucap Stella cepat, berusaha menahan air mata yang kembali menggenang. “Lo bikin gue takut setengah mati tau nggak.”
Di sebelahnya, Sheina menatap Aera dengan wajah penuh cemas. Gadis itu mendekat, suaranya lebih pelan namun sarat rasa khawatir.
“Ra, gue beneran kepikiran terus. Dari semalem gue nggak bisa tidur,” katanya jujur. “Tolong… lain kali kalau lo kenapa-kenapa, bilang ke kita.”
Aera terdiam. Dadanya menghangat, perasaan bersalah dan haru bercampur jadi satu.
Ia menatap satu per satu wajah di sekitarnya—orang-orang yang tetap bertahan, tetap peduli, bahkan saat dirinya sendiri hampir menyerah.
“Maaf…” ucapnya lirih, air mata perlahan jatuh di sudut matanya. “Gue nggak bermaksud bikin kalian takut.”
Stella menggeleng sambil tersenyum kecil, lalu mengusap pipi Aera hati-hati.
“Yang penting sekarang lo sadar,” katanya. “Soal yang lain, kita urus bareng-bareng.”
Sheina mengangguk setuju. “Iya, Ra. Lo nggak sendirian. Dari dulu juga nggak pernah sendirian.”
Aera memejamkan mata sejenak, membiarkan air matanya jatuh. Tapi kali ini, ia menangis bukan karena sakit—melainkan karena merasa dicintai.