NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Untukmu

Terlahir Kembali Untukmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Rebirth For Love / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami / Reinkarnasi
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Volis

Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.

Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.

Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.

Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.

Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.

Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?

Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Aurore

"Klik."

​Renan menyentuh layar dasbor, memutus sambungan telepon dengan Adrian. Keheningan segera menyergap kabin mobil, hanya menyisakan suara halus putaran ban di atas aspal.

Ayuna masih mematung, pandangannya terpaku pada profil samping wajah Renan yang tampak tenang, seolah ia tidak baru saja menentukan batas kehancuran hidup seseorang.

​"Kenapa?" tanya Renan tanpa menoleh, namun ia menyadari tatapan intens Ayuna. "Ada yang ingin kamu tanyakan tentang Shaila?"

Ayuna membuka mulut, namun lidahnya terasa kelu.

Pertanyaan tentang bagaimana Renan mendapatkan semua informasi Shaila yang tersebar secara online, atau seberapa jauh pria itu telah melangkah untuk membalas pengkhianatan "teman" dekatnya itu, tertahan di kerongkongan.

Sebelum ia sempat bersuara, mobil melambat dan berbelok memasuki sebuah area parkir yang sangat ia kenali.

Begitu mobil berhenti sempurna, Ayuna menoleh ke luar jendela. Matanya sedikit membelalak.

​"Aurore?" bisiknya.

​Di depannya berdiri bangunan dengan arsitektur klasik yang elegan—Aurore Resto. Restoran Rusia itu masih tampak sama seperti terakhir kali mereka ke sana; mewah, tenang, dan eksklusif.

Ini adalah tempat yang menyimpan banyak memori tentang masa-masa awal mereka, tempat yang dulu sering mereka kunjungi saat semuanya masih terasa sederhana, sebelum sikap Renan berubah dan rahasia tentang taruhan itu menghancurkan fondasi kepercayaan Ayuna.

"Kamu masih ingat tempat ini," ujar Renan, kali ini sambil menatap Ayuna dengan sorot mata yang sulit dibaca.

"Aku pikir tempat ini sudah tutup, atau kamu sudah

lupa," balas Ayuna pelan.

​Renan melepaskan sabuk pengamannya, lalu sedikit mendekat ke arah Ayuna. "Aku tidak pernah melupakan apa pun yang kita lalui di sini, Ayuna. Terutama tempat-tempat yang membuatmu tersenyum."

​Ayuna tertegun. Kalimat itu terdengar begitu tulus, namun di saat yang sama, ia teringat panggilan Adrian tadi. Renan adalah pria yang sanggup mengingat detail terkecil untuk membahagiakannya, namun juga pria yang sanggup mengingat setiap detail pengkhianatan orang lain untuk menghancurkan mereka.

​Renan turun lebih dulu dan memutari mobil. Saat ia membukakan pintu untuk Ayuna, ia mengulurkan tangannya.

"Ayo," ajak Renan lembut. "Tidak baik kalau bumil kelaparan." Renan melirik singkat ke arah perut Ayuna.

​Ayuna menyambut uluran tangan itu. Saat langkah mereka memasuki lobi restoran dan aroma khas masakan Rusia mulai tercium, Ayuna menyadari bahwa Renan sedang mencoba membawanya kembali ke titik awal.

Ia seolah ingin menghapus kenangan buruk dan luka masa lalu dengan cara kembali ke tempat di mana mereka dulu pernah merasa bahagia.

❀❀❀

Pelayan menyambut mereka dengan senyum profesional dan sedikit anggukan hormat yang mengenali.

“Selamat datang, Pak Renan. Meja yang sama?” tanyanya.

Renan mengangguk. “Ya. Meja dekat jendela.”

Ayuna tidak berkomentar. Ia membiarkan Renan memesan, membiarkan kebiasaan lama berjalan seperti alurnya sendiri. Meja itu, yang menghadap ke deretan pepohonan dan cahaya siang yang lembut pernah menjadi saksi tawa kecil, obrolan ringan, dan sentuhan-sentuhan tanpa beban.

Sekarang, semuanya terasa lebih sunyi.

Ayuna duduk perlahan. Kursi empuk menyambut tubuhnya, taplak putih bersih terhampar rapi. Aroma mentega, krim, dan rempah khas Rusia menyusup pelan ke inderanya, cukup untuk membangkitkan ingatan lama.

Renan menyerahkan menu padanya. “Pesan apa pun yang kamu mau.”

Ayuna membacanya sebentar, lalu berhenti di beberapa nama yang familiar.

Borscht. Beef stroganoff. Pelmeni.

“Aku mau ini,” katanya akhirnya, menunjuk hidangan yang selalu ia pesan dulu.

Renan menatapnya sejenak, lalu tersenyum kecil. “Aku tahu.”

Pelayan mencatat dan pergi.

Ayuna menyibukkan diri dengan melipat serbet, lalu meletakkannya di pangkuan. Gerakannya pelan, terkontrol.

Renan memperhatikannya tanpa menatap terlalu lama.

“Kalau capek, kita bisa pulang setelah ini,” kata Renan akhirnya. “Dokter bilang kamu perlu banyak istirahat.”

Ayuna mengangguk. “Aku baik-baik saja.”

Jawaban yang jujur, tapi tidak lengkap.

Hidangan datang satu per satu. Sup borscht diletakkan di depan Ayuna. Warna merahnya pekat, uap hangat naik perlahan. Ayuna mengambil sendok, mencicipi sedikit.

Rasanya masih sama, tapi hatinya tidak lagi sama.

Dan justru itu yang membuat dadanya terasa aneh.

“Kamu suka?” tanya Renan.

“Suka,” jawab Ayuna jujur. Ia menyendok lagi, kali ini lebih banyak. Tidak ada mual. Tidak ada rasa tidak enak. Tubuhnya menerimanya dengan baik.

Renan terlihat lega, meski ia tidak mengatakannya.

Mereka makan perlahan tanpa interaksi lain. Hanya bunyi sendok menyentuh piring dan musik lembut di latar.

Di tengah itu semua, bayangan wajah Shaila kembali menyusup ke pikiran Ayuna. Pesan yang belum ia balas. Nada putus asa di kalimat terakhirnya.

Ayuna meletakkan sendoknya.

“Renan,” panggilnya pelan.

Renan langsung menoleh. “Hm?”

“Aku… dapat pesan dari Shaila pagi ini.”

Gerakan Renan berhenti sejenak. Sangat singkat. Hampir tak terlihat. Lalu ia kembali menyandarkan punggung ke kursi, ekspresinya tetap tenang.

“Apa katanya?”

Ia tidak bertanya kenapa. Ia tidak menyangkal. Itu sendiri sudah menjadi jawaban.

“Dia minta aku bicara denganmu,” lanjut Ayuna. “Supaya kamu menghentikan semua yang terjadi.”

Renan menatap Ayuna lurus-lurus. Tidak tajam. Tidak defensif.

“Apakah kamu mau aku menghapus semua postingan itu juga?” tanyanya balik, datar.

Pertanyaan itu jatuh tepat di tengah dada Ayuna.

Ia terdiam. Sendok di tangannya terasa dingin. Untuk sesaat, ia hanya mendengar detak jantungnya sendiri, mengingatkannya pada suara kecil yang baru saja ia dengar di ruang periksa.

“Aku tidak tahu,” jawab Ayuna jujur. “Aku hanya ingin mengerti.”

Renan menghela napas pelan. “Aku tidak membuat hal-hal itu dari nol.”

Ia tidak berusaha membela diri secara emosional. Ia menjelaskan, singkat dan terkendali.

“Apa yang muncul ke publik adalah jejak yang memang ada. Aku hanya tidak menutupinya.”

Ayuna menatapnya. “Tapi kamu tahu dampaknya.”

“Aku tahu,” jawab Renan tanpa ragu. “Dan aku juga tahu jika aku tergoda olehnya, kamu yang akan hancur.”

Kalimat itu diucapkan dengan nada rendah dan kekhawatiran.

Ayuna menggenggam serbet di pangkuannya. Renan benar. Jika Renan berpaling ke Shaila, dia benar-benar akan hancur. “Itu pilihanmu. Aku tidak bisa mengontrolmu.”

“Ya. Karena itu sekarang kita masih bersama,” kata Renan. “Aku akan melakukan apa pun untuk mempertahankan kamu.”

Jawaban itu membuat napas Ayuna tertahan.

“Renan,” ucap Ayuna lagi, kali ini lebih pelan, “aku hamil.”

Renan tidak menjawab. Ia hanya menatap Ayuna lebih dalam.

“Dan aku tidak ingin anakku tumbuh dengan bayangan bahwa ayahnya menyelesaikan segalanya dengan menghancurkan orang lain.”

Keheningan jatuh.

Renan memalingkan pandangan ke jendela. Cahaya siang memantul di kaca, membentuk bayangan samar di wajahnya.

“Aku tidak bangga dengan caraku,” katanya akhirnya.

“Tapi aku tidak menyesal melindungi keluargaku.”

Keluarga.

Kata itu kembali muncul.

Ayuna menunduk, lalu mengusap perutnya pelan, hampir refleks. Gerakan kecil itu tidak luput dari mata Renan.

“Aku sudah menghentikannya,” lanjut Renan. “Tidak ada langkah berikutnya.”

Ia menatap Ayuna lagi. “Tapi aku juga tidak akan menarik apa yang sudah terjadi.”

Ayuna mengangguk perlahan.

Ia mengambil sendoknya kembali. Mencicipi makanan sekali lagi. Kali ini rasanya sedikit berbeda, bukan karena bumbu, melainkan karena kesadaran bahwa hidupnya sedang bergerak ke fase yang tidak bisa ditunda.

“Aku tidak minta kamu berubah seketika,” kata Ayuna lirih. “Aku hanya ingin kamu sadar bahwa sekarang, setiap keputusanmu bukan cuma tentang kamu.”

Renan menatap perut Ayuna, lalu kembali ke matanya. “Aku sadar.”

Untuk pertama kalinya, Ayuna percaya ia tidak sedang berkata kosong.

Mereka melanjutkan makan dalam diam yang lebih tenang dari sebelumnya. Tidak ada jawaban mutlak. Tidak ada penyelesaian instan.

Namun, di meja kecil di Aurore itu, di antara aroma sup hangat dan piring-piring yang mulai kosong, satu hal menjadi jelas.

Hubungan mereka tidak lagi tentang masa lalu yang ingin ditebus, melainkan tentang masa depan yang tidak boleh salah langkah lagi.

1
Anonymous
Halah ... cowok kek gitu gak usah dikasih kesempatan
Anonymous: oke lah tak apa.. menarik juga
total 8 replies
Aku Fujo
maantaapppp
Volis
Maaf, ya. Author ternyata salah update bab. Bab Tidak Semua Orang Tulus itu seharusnya bab 12 🤗
NOname 💝
Demnnnn
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻

Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta
Adel
bentar... ini dia mati beneran? Trus idup lagi? Gimana? Moga next chap ngejawab🙌
Adel
hm, ini si Renan tanggung jawab nggak lo👊
Adel
hm, mungkin dia mati suri
Indah MB
semoga keluarga renan baik dan kocak🤭
Indah MB
Renan jgn mengulangi kesalahan yg sama lagi ya
Indah MB
pantas di maafin g ya thor? soalnya belum tau 2 tahun lalu itu cerita mereka bagaimana..
Indah MB
syuka banget klo yg terlahir kembali gini hehehe ... 💪 thor ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!