Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.
Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.
Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Fajar yang Berbeda
Fajar menyelinap pelan di antara atap-atap istana.
Kabut tipis menggantung di taman batu, membuat paviliun tampak seperti lukisan yang belum selesai. Burung-burung mulai bersuara, lembut dan ragu, seolah ikut memastikan bahwa hari baru ini benar-benar nyata.
Song An sudah bangun sejak lama.
Ia duduk di tangga paviliunnya, memegang cangkir teh hangat tanpa benar-benar meminumnya. Tatapannya lurus ke arah langit yang berubah warna.
Semalam terasa seperti mimpi panjang.
Pelukan itu.
Air mata Kaisar.
Janji yang terucap tanpa upacara.
Ia menghembuskan napas pelan.
“Aku ini… benar-benar akan jadi permaisuri?” gumamnya sendiri, lalu menggeleng kecil. “Hidupku memang tidak pernah normal.”
Langkah kaki mendekat dari lorong.
Bukan langkah pengawal berat. Bukan langkah pelayan tergesa.
Langkah santai yang dikenalnya.
“Kau sudah bangun sepagi ini?” suara Kaisar Shen terdengar, masih serak oleh sisa malam.
Song An menoleh. “Aku bisa tanya hal yang sama.”
Kaisar duduk di sampingnya tanpa jarak resmi seperti biasanya. Tidak ada pengawal dekat. Tidak ada formalitas.
Hanya dua orang yang sama-sama belum terbiasa dengan ketenangan.
“Kau menyesal?” tanya Kaisar tiba-tiba.
Song An menatapnya. “Tentang apa?”
“Keputusanmu semalam.” ujar Kaisar Shen
Song An tersenyum tipis. “Yang Mulia menyesal?”
Kaisar menggeleng pelan. “Aku hanya takut kau berubah pikiran setelah matahari terbit.”
Song An menatap langit yang kini mulai biru. “Kalau aku tipe orang yang mudah berubah pikiran, istana ini sudah lama kutinggalkan,” katanya ringan.
Kaisar tertawa pelan, bahunya akhirnya terlihat lebih ringan dari hari-hari sebelumnya dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Mereka duduk tanpa membicarakan pengkhianatan, perang bayangan, atau siasat politik.
Hanya duduk. Diam. Bernapas di pagi yang damai dan itu terasa mewah.
-----
Kabar bahwa Selir Li dan Selir Zhang telah pulang secara terhormat sudah menyebar ke seluruh bagian dalam istana maupun luar istana. Pelayan-pelayan berbisik di sudut lorong.
“Benar-benar dipulangkan dengan hadiah tanah? Dan tanpa hukuman?” tanya salah satu pelayan
“Katanya karena membantu Kaisar…” jawab lainya
Tak ada lagi nada iri seperti dulu. Yang ada justru rasa kagum bercampur tidak percaya.
Istana yang dulu penuh kecemasan perlahan belajar bahwa perempuan tidak harus saling menjatuhkan untuk bertahan hidup.
Namun kabar terbesar belum diumumkan.
Hanya segelintir pejabat tinggi yang pagi itu dipanggil ke ruang dalam.
Mereka berdiri berjajar, wajah tegang.
Kaisar Shen duduk di kursi utamanya, Song An berdiri di samping agak belakang bukan sebagai selir, belum juga sebagai permaisuri, tapi jelas bukan posisi lama lagi.
“Mulai hari ini,” suara Kaisar tenang tapi tegas, “sistem harem kekaisaran dihentikan.”
Ruangan langsung sunyi seperti disambar petir.
Salah satu menteri tua hampir tersedak ludahnya sendiri. “Yang Mulia… maksudnya… dihentikan bagaimana?”
“Tidak ada lagi perekrutan selir baru. Tidak ada keluarga yang boleh mengirim putri mereka ke istana demi jabatan.” jawab Kaisar Shen dengan tegas
Beberapa wajah langsung pucat.“Itu… tradisi turun-temurun, Yang Mulia…”
Kaisar menatap mereka satu per satu. “Banyak tradisi dibuat untuk menjaga kekuasaan. Tapi jika tradisi itu menyakiti rakyat, maka tugas kaisar adalah mengubahnya.”
Tak ada yang berani membantah lebih jauh.
Lalu Kaisar melanjutkan,“Dan dalam waktu dekat, aku akan mengangkat permaisuri.”
Beberapa menteri langsung menoleh ke arah Song An tanpa sadar.
Ia balas menatap dengan ekspresi datar. "Jangan lihat aku seperti aku akan menggigit kalian," pikirnya dalam hati.
----
Siang itu, tumpukan gulungan kain, buku tata upacara, dan catatan protokol dikirim ke paviliun Song An.
Ia menatap semuanya seperti menatap gunung yang tiba-tiba tumbuh di ruang tamunya.
“Ini semua apa?” tanyanya pada kepala mei.
“Panduan tugas permaisuri, Yang Mulia… eh… maksud hamba… ”ujat mei bingung sendiri
Song An mengusap pelipisnya. “Panggil aku Song An saja dulu sebelum aku pingsan.”
Ia membuka salah satu buku.
Bab pertama saja sudah penuh daftar aturan, yaitu cara duduk, cara berbicara di depan delegasi asing, urutan menyapa bangsawan, sampai sudut kemiringan kepala yang dianggap “anggun”.
Song An menutup buku perlahan.“Aku bisa membantu menjatuhkan jaringan pengkhianat,” gumamnya, “tapi melawan buku setebal ini rasanya lebih menakutkan.”
Suara tawa tertahan terdengar dari pintu.
Kaisar Shen bersandar santai di sana.“Aku dengar keluhan sampai ke halaman luar.”
Song An menunjuk tumpukan itu. “Ini lebih berbahaya dari musuh bersenjata.”
Kaisar masuk dan duduk di seberangnya. “Tak perlu kau ikuti semuanya.”
“Bagus. Jadi aku boleh menyapa duta besar sambil duduk selonjoran?” ujar Song An
Kaisar tertawa. “Itu mungkin sedikit berlebihan.”
Song An menghela napas dramatis. “Baiklah. Aku akan belajar. Tapi kalau suatu hari aku salah etika, kau yang menanggung malu bersamaku.”
“Dengan senang hati,” jawab Kaisar ringan.
Mereka saling pandang, lalu tertawa kecil, hubungan mereka berubah, tapi tidak menjadi kaku dan itu membuat istana terasa… manusiawi.
----
Meski kedamaian mulai terasa, urusan negara belum sepenuhnya bersih.
Gu Wei dan Luo Han sudah ditahan. Jaringan dalam negeri runtuh. Tapi hubungan mereka dengan kekuatan asing masih diselidiki.
Di ruang strategi, peta besar terbentang.
“Kekaisaran utara menyangkal keterlibatan,” lapor seorang jenderal.
“Tentu saja,” sahut Song An yang kini diizinkan ikut rapat terbatas.
Kaisar meliriknya. “Pendapatmu?”
“Mereka tidak akan mengaku tanpa bukti terbuka,” jawab Song An. “Tapi mereka juga tidak akan bergerak sembarangan sekarang. Jaringan mereka di sini sudah putus.”
Jenderal mengangguk. “Perbatasan relatif tenang.”
“Berarti untuk pertama kalinya,” Kaisar berkata pelan, “kita punya waktu membangun, bukan hanya bertahan.”
Song An menatap peta negeri itu, dulu ia hanya ingin hidup tenang tapi sekarang… ia ingin negeri ini benar-benar kuat, supaya tak ada lagi perempuan dipaksa masuk istana demi aliansi rapuh.
-----
Malam turun lagi, tapi berbeda dari malam-malam sebelumnya, kaisar tidak sendirian di balkon dan Song An duduk di kursi rendah sambil membaca laporan rakyat dari daerah selatan.
“Banjir di sana mulai surut,” katanya. “Tapi sawah rusak. Mereka butuh benih baru.”
Kaisar mencatat. “Kirim dari gudang pusat. Tanpa pajak tambahan.”
Song An mengangguk puas. “Bagus. Permaisuri masa depan menyetujui keputusan ini.”
Kaisar tersenyum. “Oh, jadi sekarang kau sudah menerima gelar itu?”
“Belum resmi,” jawab Song An cepat, “tapi aku sedang pemanasan.”
Angin malam berembus lembut.
Tidak ada lagi jarak canggung di antara mereka.
Hanya dua orang yang sama-sama lelah berperang dalam bayangan, akhirnya bisa berbicara tentang masa depan tanpa bisik-bisik.
“Kau tahu,” kata Kaisar pelan, “istana ini dulu terasa seperti sangkar emas.”
Song An menatap langit. “Sekarang?”
“Sekarang terasa seperti rumah yang sedang direnovasi besar-besaran.” jawab Kaisar Shen
Song An tertawa kecil. “Banyak debu, berisik, dan orang-orang bingung ke mana harus jalan.”
“Tapi akhirnya akan nyaman,” lanjut Kaisar.
Song An menoleh padanya. “Kita pastikan begitu.”
Mereka duduk berdampingan sampai lampu minyak mengecil.
Tidak ada janji manis berlebihan malam itu, tidak ada kata-kata besar yang ada hanya kebersamaan yang tenang, yang justru terasa paling kuat dan di atas istana yang perlahan berubah, bulan menggantung bulat dan utuh, seolah menyaksikan bahwa setelah badai panjang.
Akhirnya bukan hanya negeri yang menemukan cahaya, dua hati yang sama-sama pernah kesepian juga menemukan tempat untuk pulang.
Bersambung
kalau begini kapan babby launching nya.....