Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.
Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.
*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Pertama
Gerbang itu tinggi.
Sangat tinggi sampai Naura harus mendongak untuk melihat puncaknya. Besi tempa dengan ukiran rumit yang pasti harganya bisa buat bayar kos Naura setahun. Di belakang gerbang itu, mansion berdiri megah. Putih bersih dengan pilar pilar besar di depan. Seperti istana. Seperti tempat yang hanya ada di majalah atau drama televisi.
Bukan tempat untuk orang seperti Naura.
Taksi yang mengantarnya sudah pergi sepuluh menit lalu. Tapi Naura masih berdiri di luar gerbang. Kakinya terasa berat. Seperti ada yang mengikat pergelangan kakinya ke tanah. Seperti ada yang bisik bisik di telinganya: pulang saja, ini bukan tempatmu, kamu tidak pantas ada di sini.
Tapi kemana dia harus pulang?
Ke kos sempit dengan dinding penuh rembesan? Ke rumah sakit tempat ibu terbaring lemah menunggu uang operasi?
Naura sudah menjual dirinya.
Sudah menandatangani kontrak itu dengan air mata.
Tidak ada jalan mundur.
Tangannya gemetar saat menekan bel. Suara dering terdengar dari dalam. Naura menunggu sambil menggenggam tas kecilnya erat erat. Tas lusuh yang isinya cuma baju seadanya. Baju kos kosan yang pasti terlihat murahan di tempat semewah ini.
Gerbang terbuka otomatis.
Naura melangkah masuk. Setiap langkahnya terasa salah. Seperti dia sedang menginjak tempat suci dengan sepatu kotor. Taman di kanan kiri jalan setapak tertata rapi. Ada air mancur. Ada patung. Ada bunga bunga yang Naura bahkan tidak tahu namanya.
Pintu utama mansion terbuka sebelum Naura sempat mengetuk.
Seorang wanita paruh baya berdiri di sana. Seragamnya rapi. Rambutnya disanggul. Senyumnya hangat tapi Naura bisa melihat ada rasa penasaran di matanya. Penasaran sekaligus... bingung? Seperti bertanya: siapa gadis kampungan ini?
"Selamat datang Nona Naura. Saya Bi Ijah, pengurus rumah tangga keluarga Erlangga"
Nona.
Bukan Nyonya.
Karena Naura belum sah menikah. Masih tiga hari lagi. Masih tiga hari sebelum dia resmi jadi istri pria yang bahkan belum pernah dia lihat langsung.
"Silakan masuk. Tuan Muda dan Tuan Besar sudah menunggu di ruang tamu"
Tuan Muda.
Nathan.
Jantung Naura berdegup kencang. Kenapa dia nervous? Ini cuma pertemuan bisnis. Bukan pertemuan calon mempelai beneran yang sedang jatuh cinta. Ini kontrak. Cuma kontrak.
Tapi kenapa tangannya keringatan begini?
Ruang tamu mansion Erlangga lebih luas dari seluruh kamar kos yang pernah Naura tinggali digabung jadi satu. Langit langitnya tinggi dengan lampu kristal besar menggantung di tengah. Sofa sofa mewah tersusun rapi. Karpet tebal yang pasti empuk kalau diinjak. Lukisan lukisan besar di dinding yang kayaknya mahal banget.
Dan di tengah ruangan itu, dua orang pria berdiri membelakanginya.
Yang satu lebih tua. Rambut putih. Postur tegap meski sudah berumur. Jas hitamnya pas di badan. Auranya... berkuasa. Seperti orang yang terbiasa dihormati.
Yang satunya lagi...
Naura berhenti bernapas.
Nathan Erlangga berbalik.
Fotonya tidak memberinya keadilan. Sama sekali tidak. Di foto dia tampan. Tapi di kehidupan nyata? Dia seperti... seperti ada yang pahat wajahnya dari marmer. Sempurna tapi dingin. Sangat dingin. Tingginya hampir seratus delapan puluh sentimeter. Bahunya lebar. Jasnya hitam dengan kemeja putih di dalam, tanpa dasi. Kancing atas terbuka sedikit memperlihatkan leher yang... Naura langsung mengalihkan pandangan.
Tapi yang paling Naura ingat adalah matanya.
Hitam. Tajam. Kosong.
Menatap Naura seperti menatap... apa ya? Seperti menatap furniture baru yang baru dibeli mungkin? Seperti menatap barang. Bukan manusia.
Tidak ada kehangatan di sana.
Tidak ada ketertarikan.
Bahkan tidak ada rasa ingin tahu.
Hanya... datar.
"Jadi kamu Naura Davina"
Suaranya dalam. Berat. Seperti suara orang yang jarang tersenyum. Seperti suara yang terbiasa memberi perintah dan semua orang langsung nurut.
Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Naura mengangguk. Tenggorokannya kering. "I... iya"
Bodoh. Kenapa dia gagap?
Nathan berjalan mendekat. Setiap langkahnya terdengar di atas lantai marmer. Naura harus mendongak untuk melihat wajahnya. Dan saat mereka bertatapan langsung, Naura merasa seperti ada yang menelanjanginya. Bukan secara fisik. Tapi seperti Nathan bisa melihat sampai ke dalam jiwa. Bisa melihat betapa desperatenya Naura. Betapa rendahnya dia sampai mau menjual diri untuk uang.
"Duduk"
Perintah. Bukan ajakan.
Naura duduk di ujung sofa. Punggungnya kaku. Tangannya dilipat di pangkuan untuk menyembunyikan gemetar.
Pria tua itu tersenyum. Senyum yang lebih hangat dari Nathan. "Perkenalkan, saya Richard Erlangga. Ayah Nathan. Senang bertemu denganmu Naura"
Richard mengulurkan tangan. Naura menjabatnya cepat. Tangannya basah pasti. Memalukan.
"Te... terima kasih Pak"
Richard duduk di sofa seberang. Nathan masih berdiri. Berdiri dengan tangan dimasukkan ke saku celana. Posisi berdirinya aja udah terlihat angkuh.
"Aku harap Clara sudah menjelaskan semuanya" Richard membuka pembicaraan. Suaranya lembut. Terlalu lembut sampai Naura curiga ada sesuatu di baliknya.
"Sudah Pak. Sudah dijelaskan"
"Bagus. Jadi kamu paham ini hanya pernikahan kontrak dua tahun. Setelah itu kalian akan bercerai secara baik baik. Tidak ada tuntutan apapun dari kedua belah pihak"
Naura mengangguk lagi. Seperti boneka angguk angguk.
Richard menatap Nathan sebentar. Ada sesuatu di tatapan itu. Sesuatu yang Naura tidak mengerti. Seperti... permintaan maaf? Penyesalan?
"Nathan membutuhkan istri untuk mewarisi perusahaan. Itu syarat dari almarhum ibunya dalam surat wasiat. Nathan harus menikah sebelum usia tiga puluh tiga tahun atau saham perusahaan akan jatuh ke pihak lain"
Jadi itu alasannya.
Bukan karena Nathan kesepian. Bukan karena dia butuh pasangan hidup. Tapi karena dia butuh istri sebagai syarat warisan.
Dan Naura adalah istri yang dibeli untuk memenuhi syarat itu.
Naura entah kenapa merasa ada yang mencengkram dadanya. Sakit. Sakit meski dia tahu dari awal ini cuma kontrak. Sakit meski dia sendiri yang setuju. Tapi tetap saja... menyakitkan saat mendengarnya diucapkan terang terangan seperti ini.
"Apa... apa Nathan tidak bisa menikah dengan... dengan orang yang dia cintai?"
Pertanyaan itu keluar sebelum Naura bisa menahannya.
Hening.
Richard menatap Nathan lagi. Nathan masih berdiri di sana seperti patung es. Wajahnya tidak berubah. Tapi Naura melihat rahangnya mengeras sedikit.
"Orang yang Nathan cintai... tidak bisa menjadi istrinya" Richard menjawab pelan. "Jadi kami butuh kamu Naura. Setelah dua tahun, Nathan akan bebas menikah dengan siapapun yang dia mau. Dan kamu akan mendapat uang yang sudah dijanjikan. Semua orang menang"
Semua orang menang.
Tapi kenapa terdengar seperti semua orang kalah?
Nathan tiba tiba berbicara. Suaranya memecah keheningan seperti es yang retak.
"Ini hanya bisnis. Jangan pernah berharap lebih"
Dingin.
Sedingin salju di puncak gunung.
Naura mendongak menatapnya. Nathan membalas tatapan itu dengan wajah tanpa ekspresi.
"Kita akan tinggal serumah karena harus terlihat seperti pasangan beneran di depan publik. Tapi itu hanya di luar. Di dalam rumah, kita asing. Kamu tinggal di kamarmu. Aku tinggal di kamarku. Kita tidak perlu bicara kalau tidak perlu. Tidak perlu berpura pura akrab kalau tidak ada orang lain"
Setiap katanya seperti tamparan.
"Jangan sentuh barang barangku. Jangan masuk ke ruang kerjaku. Jangan tanya tanya tentang pekerjaanku atau kehidupan pribadiku. Kamu di sini cuma untuk jadi istriku di atas kertas. Tidak lebih"
Naura menggigit bibir bawahnya. Mata sudah mulai panas. Jangan menangis. Jangan menangis di depan mereka. Jangan terlihat lemah.
Tapi air mata itu keras kepala. Satu tetes jatuh ke punggung tangannya.
Nathan melihatnya. Naura tahu Nathan melihatnya. Tapi pria itu tidak berkata apa apa. Bahkan tidak terlihat merasa bersalah.
"Kamu mengerti?" Nathan bertanya. Atau lebih tepatnya, memastikan.
Naura mengangguk. Suaranya hilang. Tenggorokannya tercekat.
"Bagus"
Nathan berbalik dan berjalan keluar ruangan. Pintu ditutup dengan suara pelan tapi terasa seperti dibanting.
Naura duduk di sana dengan tangan gemetar dan air mata yang terus mengalir. Richard menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Kasihan? Atau penyesalan?
"Maafkan Nathan. Dia... dia pernah terluka sangat dalam. Sampai sekarang lukanya belum sembuh"
Terluka oleh siapa?
Oleh wanita yang dia cintai itu?
Wanita yang tidak bisa jadi istrinya?
Tapi Naura tidak bertanya. Bukan urusannya. Ini kontrak. Cuma kontrak.
"Bi Ijah akan mengantarmu ke kamarmu. Istirahatlah. Tiga hari lagi akad nikah. Setelah itu kamu resmi tinggal di sini"
Naura berdiri dengan kaki lemas. Bi Ijah sudah menunggu di pintu. Wanita itu tersenyum lembut. Senyum yang membuat Naura hampir menangis lagi karena itu satu satunya kehangatan yang dia terima sejak masuk rumah ini.
Kamar tamu di lantai dua.
Bi Ijah membuka pintu dan Naura hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Kamar ini lebih luas dari apartemen studio yang pernah Naura lihat di iklan. Ranjang king size dengan sprei putih bersih. Lemari besar. Meja rias. Sofa di sudut. Bahkan ada balkon pribadi dengan pemandangan taman belakang.
"Ini kamarmu untuk tiga hari ini Nona. Setelah menikah, Nona akan pindah ke kamar utama di sayap kanan bersama Tuan Muda"
Sekamar dengan Nathan?
Jantung Naura berdebar. "Tapi... tapi Tuan Nathan bilang kami akan tidur terpisah..."
Bi Ijah tersenyum pahit. "Itu kamar utama untuk tuan dan nyonya rumah. Tapi di dalam ada dua kamar tidur terpisah dengan pintu penghubung. Jadi Nona tetap punya privacy"
Oh.
Tentu saja.
Bahkan untuk tidur pun Nathan tidak mau sekamar dengannya.
"Terima kasih Bi Ijah"
Setelah Bi Ijah pergi, Naura jatuh terduduk di ranjang empuk itu. Terlalu empuk. Terlalu mewah. Terlalu segalanya untuk orang seperti dia.
Air matanya pecah.
Menangis sejadi jadinya sampai bantal putih itu basah. Sampai matanya bengkak. Sampai napasnya sesak.
Kenapa sakit sekali?
Kenapa meski dia tahu ini kontrak, meski dia tahu Nathan tidak mencintainya, tapi kata kata dingin itu tetap menusuk seperti pisau?
Naura meraih ponselnya. Membuka galeri. Menatap foto ibu yang tersenyum di sana. Foto terakhir mereka berdua sebelum ibu sakit.
"Maafin Naura Bu..." bisiknya pada foto itu. "Naura gabisa jadi anak yang ibu banggakan... Naura jual diri buat uang... tapi Naura gabisa kehilangan ibu... Naura cuma punya ibu..."
Tangisnya makin keras.
Untung kamarnya kedap suara.
Untung tidak ada yang dengar betapa hancurnya dia sekarang.
Malam itu Naura tidak bisa tidur.
Ranjang terlalu empuk tapi tubuhnya tidak bisa rileks. Terlalu sunyi tapi kepalanya berisik. Jam menunjukkan pukul sebelas malam saat Naura memutuskan jalan jalan ke balkon.
Udara malam sejuk. Naura memeluk dirinya sendiri sambil menatap taman luas di bawah.
Dari balkon ini, dia bisa melihat sebagian rumah. Ada cahaya dari salah satu jendela di sayap kiri. Kamar Nathan mungkin?
Dan saat itulah Naura mendengarnya.
Suara Nathan.
Berbicara di telepon.
Suaranya terdengar dari jendela yang sedikit terbuka di bawah balkon kamar Naura.
"Aku tahu ini sulit untukmu... tapi percayalah aku melakukan ini demi kita..."
Hening sebentar. Nathan mendengarkan orang di seberang.
"Dua tahun. Hanya dua tahun Mahira. Setelah itu aku akan bebas dan kita bisa bersama. Aku janji"
Mahira.
Nama itu terdengar seperti doa di bibir Nathan.
Lembut. Hangat. Penuh kerinduan.
Sangat berbeda dari nada dingin saat dia bicara sama Naura tadi.
"Aku mencintaimu. Hanya kamu. Jangan pernah ragu tentang itu. Gadis ini... dia bukan siapa siapa. Hanya kontrak. Hanya formalitas. Hatiku, seluruh hidupku, hanya untukmu"
Naura bersandar ke dinding balkon.
Dadanya sakit.
Sakit sekali.
Padahal dia sudah tahu kan? Sudah tahu ini kontrak. Sudah tahu Nathan mencintai orang lain. Kenapa masih sakit mendengarnya diucapkan langsung seperti ini?
"Tunggu aku Mahira. Aku akan kembali padamu. Aku janji"
Telepon ditutup.
Naura berdiri di balkon dengan air mata mengalir diam diam.
Mahira.
Wanita yang dicintai Nathan.
Wanita yang akan dia nikahi setelah bercerai dari Naura.
Wanita yang punya hati Nathan.
Sementara Naura?
Naura hanya boneka. Hanya alat. Hanya istri kontrak yang bahkan tidak layak ditatap dengan hangat.
Naura kembali ke kamar dan meringkuk di ranjang.
Tiga hari lagi dia akan menikah.
Menikah dengan pria yang mencintai wanita lain.
Menikah dengan pria yang menatapnya seperti menatap debu.
Menikah dalam kebohongan.
Dan entah kenapa, malam itu Naura merasa seperti dia baru saja menjual bukan hanya dirinya untuk uang.
Tapi juga menjual kesempatan untuk dicintai.
Untuk bahagia.
Untuk punya rumah yang hangat.
Semua itu dijual seharga satu miliar rupiah.
Dan Naura bahkan tidak tahu apakah itu cukup untuk menebus penyesalan yang akan datang.
Air matanya membasahi bantal sampai Naura tertidur dalam tangis.
Malam pertamanya di mansion Erlangga.
Malam yang terasa seperti awal dari mimpi buruk panjang yang tidak akan pernah berakhir.