Zavian Hersa mengira jalannya menuju keseriusan cinta dengan Grace akan semulus adiknya. Namun, realitas menghantam keras. Perbedaan status yang mencolok antara putra mahkota Hersa Group dan wakil ketua Gangster Blackrats menciptakan jurang yang lebar. Zavian, yang dihantui ketakutan kehilangan Grace seperti saat ia hampir kehilangan Nalea, berubah menjadi pria yang sangat posesif. Ia mencoba "menjinakkan" Grace dengan kemewahan dan perlindungan ketat, namun bagi Grace, perlindungan itu adalah penjara.
Kekosongan kepemimpinan sementara di Blackrats setelah Nalea fokus pada pendidikannya memicu gejolak di dunia bawah. Musuh-musuh lama dan baru mulai mengincar kekuasaan Blackrats. Teror silih berganti menghantui, mulai dari sabetan senjata tajam, pertumpahan darah, hingga pengorbanan nyawa.
Akankah cinta mereka bertahan di tengah pertumpahan darah dan tuntutan status sosial, ataukah mereka memilih jalan masing-masing dan merelakan cinta sejatinya?
NB: JANGAN SALFOK COVERNYA YAA😂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Tak Sengaja
Kantor Pusat Blue Diamond Corp – 09.30 WIB
Suasana di ruang kerja Andreas terasa sangat berat. Miller baru saja menyerahkan laporan penjualan dari galeri-galeri Blue Diamond yang tersebar di beberapa mal papan atas dan toko mandiri. Andreas membaca dokumen itu dengan kening berkerut, jemarinya mengetuk-ngetuk meja dengan irama yang menunjukkan ketidaksabaran.
"Hanya lima persen?" tanya Andreas, suaranya dingin dan menusuk.
"Itu sudah lebih baik dari bulan kemarin, Tuan Muda. Memang perekonomian global sedang lesu, daya beli untuk barang tersier seperti perhiasan mewah menurun," Miller mencoba menjelaskan dengan nada setenang mungkin.
"Jika hanya segini keuntungannya, ini bahkan hanya cukup untuk biaya operasional kantor dan gaji karyawan. Apa tidak ada gebrakan untuk meningkatkan penjualan? Marketing kita dibayar mahal hanya untuk duduk melihat angka stagnan ini?" Andreas melemparkan map tersebut ke atas meja hingga isinya berantakan. "Membosankan."
Andreas berdiri, merapikan jasnya. "Aku ingin melihat langsung ke galeri. Tapi Miller, dengar... aku tidak ingin kunjungan formal yang mencolok. Ganti seragam semua bodyguard dengan pakaian sipil. Aku ingin bergerak seperti pengunjung biasa."
Mata Andreas kemudian beralih ke pintu, seolah menembus dinding menuju ruang tunggu pengawal. "Terutama gadis itu... siapa namanya..."
"Grace, Tuan Muda," Miller mengingatkan.
"Ah, iya. Grace. Berikan dia baju yang sedikit feminin, tapi tetap fungsional. Pastikan dia menggunakan celana agar mobilitasnya tidak terganggu jika terjadi sesuatu. Dan satu lagi... panggil penata rias. Dandani dia. Aku tidak mau dia terlihat seperti tentara bayaran di sampingku saat di mal nanti."
Grace tengah memeriksa senjatanya ketika seorang karyawan wanita menghampirinya.
"Maaf, apa Anda yang bernama Nona Grace?"
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" jawab Grace, suaranya tetap waspada.
"Mari Nona, ikut kami sebentar," ajak wanita itu.
Grace menatap bingung, namun kemunculan Miller di belakang karyawan itu memberikan jawaban. Miller membawa beberapa kantong pakaian bermerek.
"Tuan Muda ingin inspeksi ke galeri. Semua tim diminta mengganti seragam dengan pakaian sipil agar tidak mencolok," Miller melemparkan salah satu bungkusan ke arah Grace. "Dan ini untukmu, Grace."
"Apa ini?" Grace mengernyit melihat logo butik mewah di kantong tersebut.
"Ikut saja. Kamu tidak akan diapa-apa kan," sahut Miller pendek.
Grace akhirnya menurut. Di dalam ruang ganti, ia menatap pakaian yang dipilihkan untuknya. Sebuah blouse lengan panjang berwarna navy dengan bahan sutra yang jatuh di tubuh, dihiasi pita kecil yang manis di bagian leher. Dipadukan dengan celana kain potongan high-waist yang menonjolkan kaki jenjangnya.
"Pakaian apa ini... Astaga, ini terlihat aneh," gumam Grace saat menatap cermin. Penampilannya kini lebih mirip seorang CEO muda atau sosialita papan atas daripada seorang pimpinan gangster.
Belum sempat ia terbiasa dengan pakaiannya, seorang penata rias sudah menunggunya di luar. "Mari duduk Nona, saya bantu rias sedikit ya. Hanya riasan tipis agar terlihat segar."
"Eh... apa ini? Jangan aneh-aneh ya," protes Grace saat melihat peralatan makeup yang lengkap.
"Maaf Nona, ini permintaan langsung dari Tuan Muda," ucap penata rias itu ramah sambil mulai memoleskan pelembap. Saat tangannya menyentuh wajah Grace, ia berhenti sejenak. "Nona, kulit Anda terasa panas. Sebaiknya Anda minum obat. Anda terlihat sedikit demam, apa tidak sebaiknya izin beristirahat? Bibir Anda juga sangat pucat."
Grace terdiam sejenak. Efek luka baru di punggungnya dan kurang tidur semalam mulai memicu demam di tubuhnya. "Ah, tidak apa-apa. Nanti juga baikan."
"Jangan memaksakan diri Nona. Uang bisa dicari, tapi kesehatan lebih penting," ucap wanita itu lembut.
Kalimat itu menghantam dada Grace. Suaranya persis seperti Zavian. Deg. Grace hanya bisa tersenyum getir menanggapinya.
"Sudah selesai, Nona. Ya ampun... Anda cantik sekali! Tidak kalah dengan putri-putri keluarga konglomerat. Jangan-jangan Anda memang keturunan keluarga kaya yang sedang menyamar?" goda si penata rias.
"Jangan bercanda, saya hanya yatim piatu," jawab Grace dingin.
"Ma-maaf Nona, saya tidak bermaksud..."
Miller berdiri menunggu di samping mobil Alphard putih. Semua tim sudah siap dengan pakaian kasual yang rapi. Tiba-tiba, suara langkah pantofel yang beradu dengan lantai marmer terdengar ritmis. Dari arah lift, seorang wanita keluar sambil sibuk membenahi tas kecilnya.
"Maafkan saya Tuan, saya terlambat," ucap wanita itu.
Miller terpaku. Matanya tidak berkedip. Ia seperti melihat sosok yang benar-benar berbeda.
"Miller... Miller! Ayo berangkat," Grace menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Miller yang melamun.
"Excuse me... what is your name?" tanya Miller spontan, otaknya sejenak tidak sinkron.
"Tuan Miller... ini aku, Grace."
"Hah? Grace?!" Miller mengerjapkan mata berkali-kali. Pulasan tipis di wajah Grace, bulu mata yang lentik, dan bibir berwarna peach itu benar-benar mengubah auranya. Gaya rambut kuncir kudanya kini lebih bergaya dengan sedikit aksen keriting di samping telinga.
"Masuklah Grace... Tuan Muda sudah menunggu," Miller berdeham, mencoba menutupi kegugupannya.
Di dalam mobil, Andreas sudah duduk di kursi belakang. Saat Grace masuk ke kursi depan, Andreas sempat tertegun. Matanya mencuri pandang melalui kaca depan beberapa kali. Dia sangat cantik. Mengapa dia menyembunyikannya selama ini? batin Andreas, ada rasa bangga yang aneh di hatinya.
Grand Indonesia – Galeri Blue Diamond
Suasana galeri sangat eksklusif. Saat Andreas berbicara dengan manajer toko, Grace menjalankan tugasnya dengan mata yang terus menyapu area sekitar. Namun, saat melewati sebuah etalase kaca, langkahnya terhenti.
Di sana, sebuah cincin dengan desain minimalis namun memiliki mata berlian round cut yang sangat besar dan jernih terpajang. "Mmm... ini bagus. Mungkin bulan depan saatnya aku menambahkan koleksiku," gumam Grace tanpa sadar.
"Grace, ada yang kamu suka?" Andreas tiba-tiba berdiri di sampingnya.
Grace tersentak. "Ah, tidak Tuan Muda. Hanya melihat-lihat saja."
"Kalau ada yang kamu suka, ambil saja. Anggap ini bonus karena kamu sudah menyelamatkanku dari penipuan desain tempo hari," tawar Andreas tulus.
"Tidak Tuan, terima kasih banyak."
Sebelum pergi, Andreas memberikan kode rahasia pada karyawan toko untuk membungkus cincin tersebut secara diam-diam. Namun, suasana hangat itu seketika hancur saat mereka baru saja keluar dari pintu galeri.
"Andre! Kamu di sini, Nak?"
Seorang wanita paruh baya yang modis, Miranti, ibu Andreas muncul dari arah depan. Namun, perhatian Andreas bukan pada ibunya, melainkan pada sosok wanita muda yang berdiri di belakang Miranti.
Ekspresi Andreas yang tadinya mulai melunak, kini berubah menjadi gelap dan suram. Rahangnya mengeras, dan tangannya mengepal kuat di dalam saku celana.
"Mommy..." desis Andreas. "Kenapa Mommy masih berhubungan dengan wanita binal itu, hah?"
Miranti tampak gugup. "Mmm... anu, Mommy tidak sengaja bertemu Melani di butik tadi. Iya, tidak sengaja."
"Andre... lama tidak berjumpa," ucap wanita bernama Melani itu dengan suara yang dibuat-manis. Melani adalah mantan kekasih Andreas yang mengkhianatinya secara kejam beberapa tahun lalu, yang menyebabkan Andreas menjadi pria dingin dan tertutup seperti sekarang.
"Cih, berisik!" Andreas mengorek telinganya dengan ekspresi jijik yang sangat kentara.
Melani melirik ke arah Grace yang berdiri di samping Andreas. Matanya memicing, penuh rasa iri melihat kecantikan Grace yang natural. "Andre... siapa dia? Kamu sudah punya mainan baru? Seorang pengawal yang dipakaikan baju mahal? Seleramu turun drastis ya."
"Bukan urusanmu!" bentak Andreas. Ia tiba-tiba menarik lengan Grace, mendekatkannya pada tubuhnya sendiri. "Dia jauh lebih berharga daripada sampah sepertimu yang hanya tahu cara menjual diri pada pria kaya."
"Apa kamu bilang?!" Melani berteriak, wajah cantiknya berubah menjadi menyeramkan karena marah.
"Ayo pergi, Grace. Udara di sini tiba-tiba berbau busuk," Andreas berbalik dengan kasar, menyeret Grace bersamanya tanpa memedulikan teriakan ibunya dan makian Melani.
Grace bisa merasakan tangan Andreas yang memegang lengannya gemetar hebat. Bukan karena takut, tapi karena kebencian yang sudah mendarah daging. Di balik kesombongan itu, Grace melihat seorang bocah laki-laki yang terluka parah, dan entah mengapa, rasa iba mulai muncul di hati sang Nona Gangster.