NovelToon NovelToon
Sahabat

Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Tamat
Popularitas:500
Nilai: 5
Nama Author: Anang Bws2

cerita kehidupan sehari-hari (slice of life) yang menyentuh hati, tentang bagaimana tiga sahabat dengan karakter berbeda saling mendukung satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema Teriak di Tengah Gulita

Sinar matahari yang biasanya disambut dengan tawa oleh Dewi, pagi ini terasa lebih redup. Kamar kost yang luas itu diselimuti suasana sunyi yang tidak biasa. Dewi, yang biasanya sudah bangun lebih dulu untuk merapikan koleksi kerangnya, masih meringkuk di bawah selimut tebal. Wajahnya yang pucat tampak kemerahan di bagian pipi, dan napasnya terdengar pendek serta panas. Rohita, yang baru saja bangun, segera menyadari ada yang tidak beres. Ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Dewi dan mendesis pelan. Suhu tubuh sahabatnya itu sangat tinggi; Dewi terserang demam.

"Hoi, Devi! Bangun!" Rohita mengguncang bahu Devi dengan kasar. Devi yang masih mengantuk langsung terduduk tegak, matanya mengerjap bingung melihat raut wajah Rohita yang tegang. "Dewi sakit. Kita harus beli obat sekarang. Jangan banyak tanya, cepat cuci mukamu!" Perintah Rohita . Dengan perasaan cemas yang mulai merayap, Devi segera bersiap. Mereka meninggalkan Dewi yang masih setengah sadar di atas kasur, memastikan pintu kamar terkunci rapat sebelum mereka bergegas menuju warung terdekat yang menjual obat-obatan umum.

Perjalanan menuju warung dilakukan dengan langkah seribu. Rohita berjalan di depan dengan langkah lebar dan wajah yang tertekuk masam, . Sesampainya di warung, Rohita sempat berdebat sedikit dengan penjaga warung mengenai dosis obat yang paling ampuh, sementara Devi mencoba menenangkan suasana. Setelah mendapatkan obat penurun panas dan beberapa butir vitamin, mereka kembali ke kost. Devi segera mengambil posisi di samping Dewi, mengompres dahi sahabatnya itu dengan air hangat dan menyuapinya obat dengan penuh kesabaran. Rohita sendiri langsung menuju dapur. Suara denting panci dan pisau yang beradu dengan talenan terdengar hingga ke kamar. Rohita membuat sup ayam ,

Aroma kaldu yang gurih memenuhi seluruh ruangan saat Rohita membawa semangkuk sup panas ke dalam kamar. Meski bicaranya tetap ketus saat menyuruh Dewi makan, tangannya sangat lembut saat membantu Dewi duduk bersandar. Setelah Dewi menghabiskan supnya dan kembali tertidur , kelelahan mulai menghinggapi Rohita dan Devi. Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk ikut beristirahat di sisi kasur yang tersisa. Siang berganti sore, dan sore berganti malam dalam keheningan yang tenang. Mereka tidur berhimpitan di atas satu kasur besar,

Namun, ketenangan itu pecah pada pukul dua dini hari. Devi terbangun dengan perasaan tidak nyaman di perutnya. Ia mencoba menahan diri, namun keinginan untuk ke toilet sudah tidak terbendung. Dengan gerakan sangat hati-hati agar tidak mengusik Rohita yang tidur mendengkur halus atau Dewi yang baru saja nyenyak, ia turun dari kasur. Ia berjalan berjinjit keluar kamar menuju toilet . Saat ia sedang mencuci tangan di wastafel, tiba-tiba terdengar suara jeglek yang sangat keras dari arah meteran listrik. Seketika itu juga, kegelapan total menelan segalanya.

Jantung Devi seolah berhenti berdetak. Ia sangat benci kegelapan, apalagi setelah kejadian-kejadian sebelumnya. Dengan napas yang memburu dan tangan yang gemetar hebat, ia berusaha meraba dinding menuju arah kamar. "Rohita... Dewi..." panggilnya dengan suara parau yang tertahan di tenggorokan. Ia melangkah tertatih-tatih di lorong yang gelap gulita. Saat ia baru saja melewati ambang pintu menuju ruang tengah, sesuatu yang dingin dan berbulu tiba-tiba jatuh dari langit-langit, tepat mendarat di dahinya. Seekor tikus besar berlari di wajahnya sebelum melompat ke lantai.

"AAAAAAKKKKKKKK!"

Teriakan melengking Devi memecah kesunyian malam, bergema di seluruh sudut kost. Rasa jijik, takut, dan syok yang datang bersamaan membuat sistem sarafnya menyerah. Pandangan Devi menggelap, lututnya lemas, dan ia jatuh terkapar tidak sadarkan diri di lantai lorong yang dingin.

Suara teriakan Devi yang begitu kencang bertindak seperti alarm darurat bagi Rohita. Wanita pemarah itu langsung terjaga dan melompat dari tempat tidur dengan sigap. Ia meraba-raba dinding, mencari korek api dan lilin yang selalu ia siapkan. Begitu cahaya remang-remang muncul dari ujung lilin, Rohita segera berlari keluar kamar. Ia menemukan Devi tergeletak pingsan di lorong dengan posisi yang mengenaskan. "Bodoh! Apa yang terjadi?" gerutu Rohita, meski suaranya bergetar karena panik. Ia segera memeriksa denyut nadi Devi. Menyadari sahabatnya hanya pingsan karena syok, Rohita mengerahkan seluruh tenaganya untuk menggendong Devi kembali ke kamar.

Rohita membaringkan Devi di sisi Dewi yang sempat terusik tidurnya namun kembali terlelap . Rohita menggosokkan minyak kayu putih ke hidung Devi hingga gadis ceria itu mulai mengerang dan membuka matanya perlahan. Begitu sadar, Devi langsung memeluk Rohita sambil menangis sesenggukan, menceritakan tentang tikus yang jatuh di wajahnya. Rohita hanya mendengus sambil mengusap kepala Devi dengan kasar. "Hanya tikus, Devi. Kamu hampir membuatku kena serangan jantung," ucapnya, meski ia tetap membiarkan Devi memeluknya hingga mereka berdua kembali tertidur saat lampu akhirnya menyala kembali .

Pagi harinya, suasana jauh lebih cerah. Dewi bangun dengan tubuh yang terasa segar; demamnya telah turun total. Rohita, yang tampaknya ingin merayakan kesembuhan Dewi dan pulihnya mental Devi, memutuskan untuk memasak besar. Ia menyiapkan nasi goreng dengan telur mata sapi dan kerupuk udang yang melimpah. Mereka makan bersama di meja makan kecil dengan penuh semangat. Devi, yang sudah kembali ke sifat aslinya, mulai bercerita tentang "pertarungannya" dengan tikus semalam dengan bumbu-bumbu cerita yang berlebihan, membuat Dewi tertawa kecil meski sesekali menutup mulutnya karena malu.

Setelah merasa tubuh Dewi benar-benar fit, Rohita memutuskan bahwa mereka butuh penyegaran. "Kita ke pantai. Udara laut bagus untuk sisa-sisa sakitmu, Wi. Dan kau, Devi, bersihkan otakmu dari bayangan tikus itu," perintah Rohita. Mereka berangkat menuju pesisir, hari itu dihabiskan dengan sangat menyenangkan. Mereka duduk di tepi air, membiarkan ombak kecil membasuh kaki mereka. Tidak ada ketegangan, tidak ada pria asing yang mengganggu. Mereka hanya bertiga, menikmati angin laut yang membawa aroma garam hingga matahari mulai tergelincir ke ufuk barat,

Perjalanan pulang diisi dengan candaan ringan. Rohita tampak lebih rileks dari biasanya, bahkan ia sempat membelikan es krim untuk kedua sahabatnya itu di jalan. Sesampainya di kost , mereka segera membersihkan diri dari sisa-sisa pasir yang menempel. Rohita kembali memimpin di dapur untuk makan malam sederhana berupa mi rebus dengan irisan cabai yang banyak. Mereka makan dalam satu wadah besar, berbagi tawa dan cerita tentang rencana mereka di hari esok.

Malam semakin larut, dan kelelahan setelah seharian beraktivitas mulai terasa. Mereka masuk ke dalam kamar yang sama. Di bawah sinar lampu kamar yang hangat, mereka merebahkan diri di atas kasur , Rohita berada di tengah, dengan Devi di sisi kanan dan Dewi di sisi kiri. Sebelum mematikan lampu, mereka saling memastikan bahwa semua pintu sudah terkunci. Dalam kegelapan yang kini terasa aman, mereka saling berpelukan dan jatuh ke dalam tidur yang sangat lelap,

1
Wida_Ast Jcy
do re mi donk🤭🤭🤭 tiga sahabat dipanggil do re mi hehheh
Wida_Ast Jcy
Saran ya thor dialog dengan narasi ada baiknya dipisah lho. 🙏🙏🙏
Mingyu gf😘
bahasa formal sama bahasa sehari hari jangan di campur
Mingyu gf😘
Jangan terlalu suka kepo dengan orang yang gak di kenal
Anang Anang
lanjut
Dini
mantap
Dini
sangat mengispirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!