"tolong....."
"tolong kami..."
"lepaskan rantai inii..."
"toloongg!!!!"
Nadira Slavina, merupakan seorang gadis kota yang baru pindah ke kampung halaman sang nenek dengan ditemani sahabatnya Elsa. ia menempati rumah tua yang sudah turun temurun sejak nenek buyutnya dulu.
Nadira sendiri memiliki keistimewaan dapat melihat makhluk tak kasat mata yang ada di sekitarnya. dan bisakah mereka memecahkan misteri yang ada di rumah itu atau malah semakin terjebak dalam labirin misteri?
yuk, kepoin karya pertamaku dan bantu support ya teman-teman!✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhinaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22. Bunda Liana diculik?
Nadira, Elsa serta Ki Satya dan Pak Yanto sampai di tempat pertarungan Aksara dan Rehan yang tengah melawan dua siluman.
mereka terpana melihat kelincahan dua pemuda itu yang terlihat sangat mahir menggunakan senjata yang baru saja mereka dapatkan.
"wooaahh mereka bisa sekeren itu!" sorak Elsa
"Aksara mengalahkan siluman itu hanya dengan sekali lesatan anak panah?" gumam Nadira
"Rehan berhasil mengalahkan Siluman itu Ki!" seru pak Yanto
"ya, mereka telah menunjukkan jika mereka layak menjadi pelindung darah pilihan" ucap Ki Satya yang menatap bangga pada putranya Rehan.
Tapi ketika ia bertatapan dengan Aksara, seketika Ki Satya merasa merinding, Aksara sendiri heran melihat pria tua itu menunjukkan tatapan aneh ke arahnya
"bagaimana kalian bisa bertemu siluman itu?" Tanya Nadira
"entahlah, tadi kami ketinggalan Kalian yang didepan. Tiba-tiba saja dua siluman tadi muncul dan ingin merampas senjata kami" jelas Aksara
"tapi kalian nggak papa kan?" tanya Elsa
"nggak papa kok, cuma agak ngos-ngosan juga" jawab Rehan
"kalian harus terus melatih kemampuan kalian terlebih lagi senjata kalian sudah ada" pesan Ki Satya
"ayo kita harus segera turun" ucap pak Yanto
mereka meneruskan perjalanan dengan lebih waspada karena takutnya jika nanti ada yang menyerang lagi. percuma jika ada senjata dan keahlian bela diri tapi masih lengah.
Musuh akan lebih mudah menyerang saat kita merasa aman dan lengah akan situasi yang nampak tenang. Bukankah tenang itu belum tentu aman?
setelah lebih kurang dari satu setengah jam, akhirnya mereka berhasil turun dan segera menaiki Jeep pak Yanto untuk kembali kerumah. Mereka tidak ingin berlama-lama disekitar gunung karena merasa ada yang selalu memantau mereka
"Eh kita nggak ada yang bawa ponsel ya?" tanya Nadira menatap ketiga temannya
"aku nggak nih nggak kepikiran" ucap Elsa
"aku juga nggak, tadi ada di atas lemari Tv" ucap Aksara
"punyaku juga" Rehan menimpali
"kenapa Nad?" tanya Aksara
"perasaanku nggak enak banget" ucap Nadira lirih
"udah, jangan mikir yang macem-macem. mungkin kamu kelelahan" ucap Aksara menenangkan
"iya, Nad aku aja rasanya capek banget kayak mau lepas nih kaki" keluh Elsa sambil menepuk-nepuk lututnya
"Apapun yang akan terjadi kalian harus menghadapinya dengan tenang, jika kalian grusah grusuh dan panik maka iblis akan lebih mudah mencari sela untuk mengalahkan kalian" ucap Ki Satya yang duduk di samping pak Yanto yang menyetir
"baik Ki!" ucap mereka berempat serempak
.
Wijaya pulang kerumah dengan kepala yang masih pusing, ia membuka pintu dan mendapati rumah yang sangat sepi. Tidak seperti biasanya. Jika ia mengabari akan pulang, maka sang isteri pasti langsung menyambutnya tapi ini tidak. namun Wijaya berpikir mungkin isterinya di kamar
"assalamu'alaikum bund" Wijaya melangkahkan kakinya ke kamar mereka
"bund, ayah udah pulang" lagi-lagi panggilan Wijaya tidak di sahuti ataupun direspon oleh isterinya
"dimana Liana? biasanya dia selalu menunggu ku di ruang tamu" Wijaya mencari isterinya di semua sudut rumah Bahkan ke taman belakang tempat favorit isterinya
"apa dia sedang pergi? tapi biasanya mengabari dulu kok" gumam Wijaya sambil mencoba menghubungi nomor ponsel isterinya
Dringg dringg
"Loh ini ponselnya, mana orangnya?" Wijaya menemukan ponsel isterinya yang tergeletak di meja makan dengan sebuah gumpalan kertas lusuh di sebelahnya
"apa ini?" Wijaya membuka kertas itu
"Hutan Larangan!"
Degg!
"apa? Apa maksud semua ini?" Wijaya mengusap wajahnya kasar
"apa mungkin ada orang yang menculik Liana dan membawanya ke hutan larangan?"
"tapi siapa yang melakukan ini?" Wijaya menghubungi Zayyan dan meminta pemuda itu menyusulnya ke desa pandan wangi. Ia pun bergegas dengan mengendari mobilnya .
Wijaya sengaja tidak mengabari Putrinya karena ia tahu hari ini adalah misi Nadira dan ketiga temannya untuk mencari senjata pusaka mereka.
"maafkan aku Liana, aku terlambat! Maafkan aku!" Wijaya memukul setirnya dengan air mata yang mengalir
"maafkan ayah Nadira, ayah tidak mau kamu merasa terbebani dengan masalah ini. dengan takdirmu yang menjadi darah pilihan itupun sudah sangat membebanimu" sesal ayah Wijaya
.
"Nadiraaa...."
"Nadiraaa...."
Nadira yang mendengar suara-suara menyebut namanya Hanya memutar bola matanya malas. Ia tahu siapa yang iseng ingin mengerjainya itu
"keluar atau ku getok kepala kalian dengan gagang pedangku ini!" ancam Nadira
"ceeileeh yang baru dapet senjata udah main ngancem-ngancem segala" ucap Sosok putih dengan muka gosong di sudut kamar
"iya nih, mentang-mentang kita setan" timpal sosok putih dengan rambut kribo
"ngapain kalian masih disini?" tanya Nadira ketus
"kan kamu mau jadi pengikut kamu" jawab Kunti kribo
"eh siapa juga yang mau jadi tuan kalian!" ketus Nadira
"tolonglah terima kami.. Kami bisa berguna kok buat kamu. kamu punya kekuatan jika kami bisa mendapat penawar untuk membangkitkan kekuatan kami" ucap Kunti muka gosong
"hah? Kekuatan? penawar?" tanya Nadira heran
"iya, dulu kami sempat di kasih kekuatan sama si Tua, tapi karena kami melanggar perintahnya. Jadi kekuatan kami di segel" ucap Kunti kribo
"terus gimana mau bangkitkan kekuatan kalian?" tanya Nadira
"kami harus mandi dengan air kelapa gading yang buahnya cuma satu dipohon. setelah itu bertapa disuatu tempat sesuai dengan kekuatan kami" jelas Kunti kribo
"hah kelapa gading yang hanya ada satu di pohon?" ucap Nadira sambil menggaruk kepalanya
"susah banget itu nyarinya" keluh Nadira
"tolong lah Nadira.. Kami tidak mau lagi dijadikan budak Si Tua" kedua Kunti itu memohon hingga berlutut di bawah kaki Nadira
"tolonglah Nadira!"
"ayolah Nadira, nanti kami janji akan jadi setan baik dan akan menolong kamu disetiap keadaan" ucap dua Kunti itu yang terus memohon
"aduuhh iya iya! Tapi nanti kalo aku udah selesai sama urusan si kolonyowo itu" Ucap Nadira yang akhirnya luluh juga
"yeeyy yeyyy yuhuuu" kedua Kunti itu melompat kegirangan dan terbang sana sini dikamar yang ditempati Nadira
"kalian denger kan Nadira ngomong sama orang lain didalam?" bisik Elsa kepada dua orang pemuda tampan yang tak lain Rehan dan Aksara
"iya, kayaknya bukan cuma satu orang" ucap Rehan
"kita buka aja buat mastiin" ucap Elsa
Ceklek
"Huaaaa Kunti gosong!!!"
"Huaaaa Kunti kribo!!"
Elsa dan kedua pemuda tadi berteriak kaget karena melihat penampakan didalam kamar.
Yang mengejutkannya lagi, kedua Kunti yang asyik terbang kesana kemari itu langsung terjungkal karena ikut kaget mendengar teriakan dari ketiga orang itu
"heh apaan sih kayak nggak pernah liat setan aja" sinis Kunti kribo
"iya padahal kita mah nggak serem serem amat" ucap Kunti gosong
"heh siapa yang nggak kaget coba ngeliat penampakan sore hari gini!" Ucap Nadira
"Nadira...mereka siapaa?" tanya Elsa takut-takut
"mereka temen baruku" ucap Nadira santai yang membuat ketiga temannya berjingkat
"Nad, udah cukup kita aja nggak usah nambah pake Demit" ucap Rehan
"heh Mulutnya tolong dijaga ya mas ganteng" ucap Kunti gosong
"sadar diri ya kalian itu emang demit!" ucap Aksara
"terus kenapa kalo kami demit? Kalian juga nanti kalo mati jadi demit" balas kunti kribo
"Seenggaknya kalo kami jadi demit, bakal jadi demit fashionable " ucap Elsa yang mulai berani
"hah apaan tuh pesiontabel?" tanya Kunti gosong
"fashionable setan! Yaitu demit yang modern gayanya modern nggak dasteran kayak kalian! Terus rambutnya nggak kribo, mukanya glowing" jawab Elsa
"kayaknya di alam ghaib ada salon buat demit nggak Ya?" tanya kunti kribo
"ya mana ku tahu! Yang demit kan kalian kok nanya sama yang masih hidup!" ketus Elsa
Nadira hanya geleng-geleng kepala melihat mereka yang berdebat. Ia sedikit merasa terhibur karena tadi hatinya selalu gelisah dan cemas.
"hmm tumben bunda nggak ngabarin aku dua hari ini?" gumam Nadira
"mungkin lagi sibuk" ucap Rehan
"nggak kayak biasanya" lirih Nadira
"ibu kamu tuh diculik! Dibawa ke hutan larangan" celetuk Kunti kribo
"Apaa!!!"