"Ketika kebenaran dibungkam paksa, ketika keadilan dipaksa untuk diam, beberapa orang terpaksa beraksi. "
Cinta rahasia Xiao Fei dengan Yu, aktor papan atas yang dipuja, berakhir dengan tragis. Publik meratapi "kematian karena overdosis" yang menyayat hati, namun duka Fei berubah menjadi teror murni saat sebuah kiriman video anonim tiba. Di dalamnya, Yu bukan hanya dibunuh—ia disiksa, dilecehkan secara keji, dan dikorbankan dalam sebuah ritual mengerikan oleh sekelompok individu bertopeng. Kematian Yu bukanlah akhir, melainkan awal dari neraka yang nyata.
Didorong oleh cinta dan dahaga akan kebenaran, Fei harus meninggalkan identitasnya yang aman dan menyusup ke dalam dunia glamor industri hiburan yang beracun. Akhirnya Xiao Fei dengan beberapa orang yang bertemu secara tak sengaja mengambil peran utama sebagai penegak keadilan. Mampukah aksi mereka menunjukkan keadilan yang kini berubah menjadi Keheningan Keadilan. Silence of Justice akan menuntun kita pada aksi mereka. Berhasilkah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black _Pen2024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Pertarungan Kecerdasan Di Ujung Pedang
Pintu besar itu menutup di belakang Meylie dengan bunyi "klik" yang terasa final, mengisolasi dirinya di dalam sarang iblis. Ruangan pribadi Senator Adrian Thorne adalah perpaduan kemewahan dan kegelapan. Dinding-dindingnya dihiasi permadani tebal dengan motif kuno yang aneh, dan lukisan-lukisan minyak gelap yang menggambarkan adegan-adegan mitologi yang mengerikan. Lilin-lilin besar menyala di setiap sudut, memuntahkan cahaya redup yang membuat bayangan menari-nari, menciptakan suasana yang mencekam. Aroma dupa yang kuat bercampur dengan bau alkohol dan darah yang samar, aroma yang Meylie kenali dari video penyiksaan Yu.
Di tengah ruangan, duduk di singgasana mewah berlapis emas dan beludru merah, adalah Senator Adrian Thorne. Ia mengenakan topeng emas yang rumit, menutupi seluruh wajahnya, namun Meylie bisa merasakan tatapan dingin yang menusuk dari balik celah matanya. Aura kekuasaan yang memancar dari pria itu begitu pekat, begitu menekan, sehingga Meylie nyaris merasakan sesak napas. Di sekelilingnya, berdiri enam orang pengikut setianya, semuanya mengenakan topeng hitam polos dan jubah gelap, ekspresi mereka kosong, mata mereka menatap Meylie dengan kewaspadaan yang mengancam.
Meylie melangkah maju, langkahnya mantap, tanpa gentar. Topeng peraknya terasa dingin di wajahnya, namun di baliknya, matanya menyala dengan api yang membara. Ia telah menempatkan transmitter daruratnya di ambang pintu, di antara celah ukiran kayu, sebuah jaring pengaman terakhir yang siap ia aktifkan.
"Selamat datang, Nona Ling," suara Senator Thorne terdengar, dalam dan halus, namun dengan nada otoritas yang absolut. "Saya sudah menunggu Anda."
"Anda tahu saya akan datang?" Meylie membalas, suaranya tenang, meskipun jantungnya berdebar kencang. Ia mengamati setiap detail, setiap gerakan, setiap ekspresi yang mungkin terlihat di balik topeng mereka.
Senator Thorne tertawa pelan, tawa yang terdengar dingin dan tanpa emosi. "Tentu saja. Seekor semut kecil yang berani mengganggu sarang lebah pasti akan menarik perhatian ratu. Anda telah mengganggu Tuan Chen, Anda telah menyusup ke apartemen Yu, Anda telah mencoba mencari kebenaran di Saint Glory dan gudang kami. Dan Anda... Anda bahkan berani mendekati Fernandez."
Darah Meylie mengering. Dia tahu. Senator Thorne tahu segalanya. Dia telah mengantisipasi setiap langkahnya.
"Anda melacak saya," Meylie berkata, nadanya datar.
"Bukan melacak," Senator Thorne mengoreksi, suaranya mengejek. "Hanya mengamati. Dari awal, Anda adalah sebuah anomali. Seorang investor seni misterius yang terlalu tertarik pada kematian seorang aktor. Itu menarik perhatian kami. Dan ketika Anda mulai menelusuri jejak Yu, kami tahu Anda akan menjadi masalah."
"Jadi, Anda mengawasi saya sejak awal?"
"Sejak Anda menerima kartu memori itu," Senator Thorne membalas, nadanya tenang namun mematikan. "Kami selalu selangkah di depan. Kami tahu Anda akan mencari kebenaran. Kami tahu Anda akan mencari tahu tentang Yu. Dan kami tahu Anda akan mencari kami."
Meylie merasakan amarahnya membara. Mereka telah mempermainkannya. Mereka telah membiarkannya menggali, seolah-olah ia adalah boneka dalam permainan mereka.
"Anda juga menyerang Fernandez," Meylie menuduh, suaranya sedikit bergetar karena emosi. "Dia tidak bersalah. Dia hanya seorang saksi yang trauma."
Senator Thorne mendengus. "Tidak ada yang tidak bersalah di dunia ini, Nona Ling. Terutama mereka yang memilih untuk 'melihat apa yang tidak terlihat'. Fernandez adalah jaring pengaman Anda. Kami harus memotongnya. Sama seperti kami memotong Yu."
"Yu tidak 'dipotong'," Meylie membalas, suaranya kini dipenuhi amarah yang membakar. "Dia disiksa. Dilecehkan. Dibunuh. Dan organnya diambil untuk ritual gila Anda."
Senator Thorne mengangkat tangannya, mengisyaratkan pengikutnya untuk tetap tenang. "Sebuah pengorbanan yang diperlukan, Nona Ling. Untuk keabadian. Untuk keberlangsungan kekuasaan. Yu adalah seorang idealis bodoh yang berpikir dia bisa mengubah dunia dengan 'daftar hitam' omong kosongnya. Dia terlalu banyak tahu. Dan dia mengancam untuk membongkar fondasi yang telah kami bangun selama berpuluh-puluh tahun."
"Fondasi yang dibangun di atas darah dan penderitaan orang tak bersalah?" Meylie bertanya, tatapannya menghina.
"Di atas tatanan, Nona Ling," Senator Thorne membalas, nadanya dingin dan filosofis. "Dunia ini membutuhkan tatanan. Dan tatanan itu dibangun oleh mereka yang kuat. Mereka yang berani mengambil keputusan sulit. Mereka yang memahami bahwa untuk mempertahankan kekuasaan, pengorbanan adalah hal yang mutlak. Yu adalah sebuah pengorbanan kecil demi kebaikan yang lebih besar."
"Kebaikan yang lebih besar? Anda menyebut eksploitasi, korupsi, dan ritual pembunuhan sebagai kebaikan yang lebih besar?"
Senator Thorne tertawa lagi. "Anda terlalu naif, Nona Ling. Atau mungkin, Anda terlalu emosional. Itulah kelemahan Anda. Cinta, duka, keadilan—semua itu adalah emosi yang membuat Anda lemah. Kami telah melampaui itu. Kami telah mencapai pencerahan. Kami telah menemukan jalan menuju keabadian."
Meylie merasakan jijik yang mendalam. Pria ini adalah iblis yang sesungguhnya. Dia tidak hanya melakukan kejahatan, tetapi dia membenarkan kejahatannya dengan filosofi yang busuk.
"Anda tidak akan lolos dengan ini," Meylie berkata, suaranya mantap. "Saya punya bukti. Semua yang Yu kumpulkan. Semua yang Fernandez rekam. Dan pengakuan Tuan Z."
Senator Thorne mengangguk pelan. "Kami tahu. Tuan Z adalah Operator yang efektif, tetapi dia selalu memiliki kelemahan: ketakutan. Kami tahu dia akan pecah di bawah tekanan. Dan kami tahu Anda akan menggunakan dia untuk mencari saya."
"Jadi, Anda membiarkan saya mendapatkan semua itu?"
"Sebuah permainan, Nona Ling," Senator Thorne membalas, senyum kejamnya masih tersembunyi di balik topeng emas. "Kami ingin melihat seberapa jauh Anda bisa pergi. Seberapa gigih Anda. Seberapa cerdas Anda. Dan saya harus akui, Anda memang mengesankan. Anda berhasil menembus beberapa lapisan. Anda berhasil menemukan Fernandez. Anda bahkan berhasil membuat Tuan Z berbicara."
"Tapi itu tidak akan cukup," Meylie memotong. "Dunia akan tahu."
Senator Thorne menggelengkan kepalanya. "Tidak, Nona Ling. Dunia hanya akan tahu apa yang kami izinkan untuk mereka ketahui. Media dikendalikan. Politik diatur. Hukum ada di tangan kami. Anda pikir satu orang bisa mengubah itu semua? Anda pikir satu 'daftar hitam' bisa menjatuhkan kekaisaran yang telah kami bangun?"
"Jika itu adalah kebenaran, ya," Meylie membalas. "Kebenaran memiliki kekuatan untuk menghancurkan kebohongan, tidak peduli seberapa besar kebohongan itu."
"Kebenaran adalah ilusi, Nona Ling," Senator Thorne berkata, nadanya kini lebih serius. "Kebenaran adalah apa yang kami buat. Dan kebenaran Anda... akan mati bersama Anda di sini."
Pengikutnya sedikit maju, mengelilingi Meylie. Meylie merasakan tekanan yang meningkat.
"Tapi saya harus akui, Anda adalah seorang wanita yang luar biasa," Senator Thorne melanjutkan, sebuah tawaran kejam mulai terbentuk dalam suaranya. "Anda memiliki tekad, kecerdasan, dan keberanian. Kualitas yang kami hargai. Kami bisa menawarkan Anda sebuah tempat di antara kami, Nona Ling. Sebuah kehidupan yang aman, kaya, dan penuh kekuasaan. Anda bisa melupakan Yu. Anda bisa melupakan masa lalu. Anda bisa menjadi bagian dari tatanan baru. Anda bisa menjadi salah satu dari kami. Anda akan menerima pelecehan ritual yang akan disuguhkan, sebagai tanda kesetiaan dan pencerahan Anda. Sebuah ritual yang akan membuat Anda melampaui emosi dan menjadi abadi."
Meylie merasakan darahnya mendidih. Sebuah tawaran yang kejam. Menjadi bagian dari mereka? Menerima pelecehan ritual yang sama dengan yang Yu alami? Menjual jiwanya sendiri demi kekuasaan dan keselamatan?
"Tidak," Meylie berkata, suaranya dingin dan tegas. "Aku tidak akan pernah menjadi bagian dari kalian. Aku tidak akan pernah mengkhianati Yu. Aku tidak akan pernah menjual jiwaku."
Senator Thorne mendengus. "Sayang sekali. Saya pikir Anda lebih pintar dari itu. Anda memilih kehancuran daripada pencerahan."
"Aku memilih keadilan," Meylie membalas, tatapannya menusuk.
"Keadilan adalah sebuah konsep yang fana, Nona Ling," Senator Thorne berkata, lalu mengangkat tangannya. "Tetapi kematian... kematian adalah abadi."
Pengikutnya mulai bergerak mendekat, siap untuk menangkap Meylie.
Meylie tahu ini adalah saatnya. Ini adalah pertarungan terakhirnya. Ia tidak akan membiarkan mereka membungkamnya seperti Yu. Ia akan meledakkan kebenaran ini, bahkan jika itu berarti mengorbankan dirinya sendiri.
Dengan gerakan cepat dan mantap, Meylie mengulurkan tangan kanannya ke jendela besar di belakang Senator Thorne. Di pergelangan tangannya, ia mengaktifkan alat bela diri tersembunyi yang ia pakai sebagai gelang. Sebuah tombol kecil yang ia tekan.
KLIK!
Sebuah suar kecil, seperti peluru, melesat dari pergelangan tangannya. Dengan kecepatan kilat, suar itu menembus kaca jendela, menciptakan retakan besar, lalu melesat keluar ke langit malam. Itu adalah kode. Kode yang telah mereka sepakati. Kode untuk pelepasan data. Fernandez pasti akan melihatnya. Atau setidaknya, sistem otomatis Fernandez akan merilis semuanya jika sinyal darurat ini aktif.
Senator Thorne tersentak. Matanya yang dingin membelalak di balik topeng emasnya. Ia tidak mengantisipasi gerakan itu. Ia tidak mengira Meylie akan memiliki alat seperti itu.
"Tangkap dia!" Senator Thorne berteriak, suaranya kini dipenuhi kemarahan yang membara. "Jangan biarkan dia hidup!"
Pengikutnya menerjang Meylie secara bersamaan. Meylie tidak menunggu. Ia tahu ia tidak bisa melawan mereka semua. Ia hanya perlu bertahan cukup lama untuk memastikan sinyalnya sampai.
Ia menghindari pukulan pertama dari salah satu pengikut, lalu menendang lutut pria itu dengan keras. Pria itu terhuyung, dan Meylie segera memutar tubuhnya, meraih sebuah vas bunga besar di atas meja dan melemparkannya ke arah pengikut lain. Vas itu pecah berkeping-keping, menciptakan kekacauan sesaat.
Senator Thorne, dengan amarah yang meluap, bangkit dari singgasananya. "Kau akan menyesalinya, jalang!"
Ia menerjang Meylie, tangannya meraih pergelangan tangan Meylie dengan kekuatan yang brutal. Cengkeramannya terasa seperti besi, mengancam untuk mematahkan tulangnya. Meylie merasakan rasa sakit yang menusuk, namun ia tidak menyerah. Ia mencoba melepaskan diri, menendang, memukul, namun Senator Thorne jauh lebih kuat dari yang ia duga. Pria tua itu, di balik topeng emasnya, memiliki kekuatan fisik yang mengerikan, hasil dari latihan atau ritual yang ia lakukan.
"Kau pikir kau bisa mengalahkan kami?" Senator Thorne mendesis, menarik Meylie mendekat dengan paksa. "Kau hanya seekor semut!"
Pengikutnya yang lain kini mendekat, mengepung Meylie. Meylie berjuang, namun ia tahu ia berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan. Senator Thorne memiliki keuntungan brutal.
Pertarungan fisik telah dimulai. Ini adalah duel hidup dan mati, bukan lagi pertarungan kecerdasan. Meylie tahu ia mungkin tidak akan selamat dari ruangan ini. Tetapi ia telah menembakkan suar. Ia telah mengaktifkan pemicunya. Kebenaran akan terungkap.
Ia merasakan pukulan keras menghantam perutnya. Napasnya tercekat. Ia jatuh berlutut, namun ia masih berusaha melawan, matanya menatap tajam ke Senator Thorne.
"Tidak akan ada yang tahu!" Senator Thorne berteriak, suaranya dipenuhi kemarahan dan kegilaan. "Kau akan mati di sini, seperti Yu! Dan tidak akan ada jejak!"
Meylie tersenyum tipis, senyum yang penuh darah dan tekad. "Dunia akan tahu, Senator. Dunia akan tahu."
Ia merasakan cengkeraman tangan Senator Thorne di lehernya, mencengkeramnya dengan kekuatan yang mengerikan. Pandangannya mulai buram. Namun, di benaknya, ia melihat wajah Yu yang tersenyum. Ia telah memenuhi janjinya.
Pertarungan kecerdasan telah berakhir. Pertarungan fisik baru saja dimulai, dan Meylie tahu ini adalah awal dari akhir. Tetapi akhir ini, ia akan pastikan, akan menjadi sebuah awal yang baru bagi keadilan.
Yang akan berhasil dengan pengorbanan mulianya kembali. 'Cahaya tertutup gelap, saat cahaya bisa menebus gelap maka harus ada awan gelap yang terobek dan terbuka supaya cahaya bisa keluar melalui celah yang telah robek tersebut. Semakin besar celah yang robek, maka semakin besar pengorbanan yang dibayarkan, tapi cahaya itu semakin besar, jelas dan terang menyilaukan'.