NovelToon NovelToon
Selayaknya Cinta

Selayaknya Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Keluarga
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏

Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.

Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.

Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.

Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.

Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Resah

Dua hari setelah insiden di rumah orang tuanya, Devan kembali menghubungi Arga. Kali ini bukan untuk membahas bisnis, melainkan untuk menumpahkan kekacauan yang menyesaki kepalanya.

Mereka bertemu di sebuah lounge privat yang sepi. Devan duduk dengan segelas scotch di tangan, matanya menatap kosong pada cairan yang bergoyang di dalam gelas.

Arga datang, duduk di hadapannya tanpa memesan apa-apa. Ia bisa melihat perubahan drastis pada sahabatnya. Devan yang biasanya arogan dan penuh percaya diri, kini terlihat seperti orang yang kalah perang.

"Lo bener, Ga," ucap Devan tiba-tiba, memecah keheningan. Suaranya berat dan serak.

Arga mengangkat alis. "Soal apa?"

Devan tertawa kecil, tawa yang hambar dan penuh ejekan pada dirinya sendiri. "Soal semuanya. Soal Putri... soal mata gue yang buta."

Devan meneguk minumannya sekali tandas, lalu meletakkan gelasnya dengan keras di meja.

"Lo tau, Ga? Selama ini gue pikir gue raja di rumah itu. Gue pikir gue dilayani sama pembantu yang gue bayar mahal. Kopi gue yang pas takarannya, baju gue yang licin dan wangi, makanan gue yang selalu enak..." Devan menarik napas panjang, dadanya terasa sesak saat mengakuinya. "Ternyata, diam-diam dia yang ngerjain semuanya."

Mata Arga sedikit membelalak. "Jadi maksud lo..."

"Iya," potong Devan cepat, "dia, Ga. Perempuan yang gue hina tiap pagi, perempuan yang gue bilang parasit... dia yang ngerjain semuanya. Dia bangun subuh, nyiapin kebutuhan gue, masak buat gue, padahal..."

Suara Devan tercekat, bayangan tangan Putri yang gemetar saat memotong steak kembali menghantuinya.

"Padahal apa?" tanya Arga jadi penasaran.

"Padahal badannya gemeteran, Ga. Tangannya penuh lebam. Mukanya pucat kayak mayat. Dan gue? Gue malah nuduh dia hamil anak orang lain cuma karena dia muntah-muntah." Devan meraup wajahnya kasar dengan kedua tangan. Rasa malunya sebagai laki-laki sedang dihajar habis-habisan.

Arga menghela napas, menatap iba sekaligus lega karena sahabatnya akhirnya sadar.

"Akhirnya lo liat dia sebagai manusia, Van. Bukan sebagai pengganti Tamara." Arga mencondongkan tubuhnya. "Terus sekarang gimana? Lo udah minta maaf? Atau seenggaknya... lo mulai ngerasain sesuatu buat dia? Lo mulai sayang sama dia?"

Mendengar kata 'sayang', punggung Devan menegang. Tembok egonya yang sempat retak, mendadak ia semen kembali dengan cepat. Wajah frustrasinya berubah menjadi dingin dan defensif.

"Jangan ngaco," sangkal Devan ketus. Ia menuang kembali minumannya. "Gue nggak luluh, Ga. Gue cuma... gue cuma merasa bersalah. Itu beda sama cinta."

"Beda tipis, Van," sergah Arga.

"Beda jauh!" bantah Devan keras, "gue akui lo bener soal dia yang menderita. Gue akui gue kasihan liat kondisi fisiknya yang makin aneh itu. Gue ngerasa kayak brengsek karena udah ngebudakin orang sakit. Tapi kalau lo tanya apa hati gue luluh sama kebaikan dia? Jawabannya... enggak!"

Devan menatap Arga tajam, berusaha meyakinkan sahabatnya, dan terutama meyakinkan dirinya sendiri.

"Kebaikan dia itu cuma bikin gue ngerasa berhutang budi, dan gue benci berhutang. Gue benci fakta kalau gue jadi bergantung sama kopi buatan dia. Gue benci fakta kalau gue nggak bisa tidur nyenyak karena kepikiran dia pingsan di kamar mandi. Itu bukan cinta, Arga. Itu rasa terganggu."

"Lo yakin itu cuma rasa terganggu?" tantang Arga, "terus kenapa lo kelihatan sekacau ini? Kalau lo nggak peduli, lo tinggal bayar pembantu baru, dan lupain Putri. Tapi lo nggak bisa, kan?"

Devan terdiam, skakmat.

Kenyataan yang sebenarnya, Devan tidak pernah bisa melupakan segala yang dia tahu tentang Putri, dan tidak bisa melupakan semua kebaikannya.

Devan mendapati dirinya diam-diam mengecek kamar Putri saat pulang kerja, memastikan dada istrinya masih naik-turun bernapas.

"Gue cuma nggak mau dia mati di rumah gue, dan bikin gue repot sama polisi atau keluarga," elak Devan klise. Alasan yang terdengar bodoh bahkan di telinganya sendiri.

"Terserah lo, Van." Arga geleng-geleng kepala, menyerah mendebat tembok batu bernama Devan. "Tapi inget satu hal. Kebaikan yang tulus itu langka. Putri tetep ngelayanin lo meski lo injek-injek harga dirinya. Kalau sampai lo telat sadar kalau itu cinta... lo bakal hancur sehancur-hancurnya saat dia pergi."

"Dia nggak akan kemana-mana," gumam Devan lirih, "dia enggak punya siapa-siapa selain gue," lanjut Devan, dia hanya sedang berusaha menenangkan dirinya sendiri

***

Malam itu, Devan pulang dengan perasaan yang masih berkecamuk. Antara ego yang menolak kalah, dan hati kecil yang mulai berkhianat.

Saat ia membuka pintu kamar utama, ia melihat pintu kamar tamu yang sedikit terbuka. Lampu di dalamnya menyala, dia penasaran siapa di sana.

Devan melangkah mendekat, berniat ingin tahu.

Di dalam kamar, Putri sedang duduk di tepi ranjang. Ia membelakangi pintu, bajunya tersingkap sedikit di bagian punggung.

Devan mematung di ambang pintu, matanya membelalak ngeri.

Di punggung kurus istrinya yang seputih pualam, terlihat bercak-bercak lebam keunguan yang menyebar tidak wajar. Tulang belakangnya menonjol tajam, memperlihatkan betapa keringnya tubuh itu.

Putri sedang mengoleskan semacam salep ke lebam-lebam itu sambil mendesis pelan menahan perih. Di nakas samping tempat tidurnya, Devan melihat botol-botol obat tanpa label yang berjejer.

Rasa tidak luluh yang tadi ia koar-koarkan di depan Arga, mendadak runtuh tak tersisa. Digantikan oleh rasa ngilu yang menghantam ulu hatinya.

"Putri," panggil Devan tanpa sadar, suaranya tercekat.

Putri tersentak kaget, ia buru-buru menurunkan bajunya dan memutar tubuh dengan panik. Wajahnya pucat pasi, matanya menyiratkan ketakutan seolah ia baru saja tertangkap basah melakukan kejahatan.

"M-mas Devan... Sejak kapan di situ?" tanyanya gugup, tangannya gemetar menyembunyikan botol obat di belakang punggungnya.

Devan tidak menjawab, ia melangkah masuk, tatapannya terkunci pada wajah istrinya.

Egonya berteriak. "Pergi! Jangan peduli!"

Namun kakinya melangkah mendekat.

"Obat apa itu?" tanya Devan, menunjuk tangan Putri yang disembunyikan.

Putri diam, tidak tahu harus jawab apa.

"Obat apa itu?" ulang Devan, nadanya lebih mendesak. Ia melangkah maju, tangannya terulur hendak meraih botol kecil yang disembunyikan Putri.

Putri mundur selangkah, napasnya memburu.

Rasa takut ketahuan, bercampur dengan rasa lelah karena terus-menerus dicurigai membuat emosinya memuncak. Ia tidak mau dikasihani, ia tidak mau Devan tahu bahwa ia sekarat hanya untuk kemudian melihat pria itu merasa terbebani.

"Bukan urusan Mas Devan!" sentak Putri. Suaranya bergetar, namun tajam.

Devan tertegun, ini pertama kalinya Putri meninggikan suara padanya.

"Aku suami kamu, Put. Aku berhak tau apa yang kamu telan!" balas Devan tak mau kalah, egonya kembali tersulut.

"Suami?" Putri tertawa getir, matanya berkaca-kaca menatap nanar pria di hadapannya. "Sejak kapan Mas menganggap diri Mas suami? Bukannya aku cuma parasit? Bukannya aku cuma orang asing di rumah ini? Jadi, tolong biarkan orang asing ini mengurus dirinya sendiri!"

Tanpa menunggu balasan Devan yang masih mematung karena syok, Putri menyambar tas tangannya di nakas, lalu berjalan cepat keluar dari kamar. Ia membanting pintu kamar tamu tepat di depan wajah Devan, lalu masuk ke kamarnya.

Devan berdiri di depan pintu dengan tangan terkepal, ia marah, tapi bukan karena bentakan Putri. Ia marah karena sorot mata istrinya tadi bukan lagi menyiratkan kesabaran, melainkan keputusasaan yang kelam.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
ujian menuju kebahagiaan ada aja
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
gak tau malu banget Reno
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
ditunggu pesta pernikahan kalian arga nindi .
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
karena Devan harapan satu satu nya untuk putri agar hidup nya lebih baik
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
iy kenapa mereka terlalu cepat jatuh cinta
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Apa kali ini keputusan yang putri ambil tepat 🤔
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Penyakit hati memang sulit disembuhkan, apalagi kalo ego nya tinggi
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
sifat putri yang tenang membuat dia semakin elegant
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kadang sikap buruk tidak harus dibalas sama sikap buruk jg kan put?
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tamara kena batu nya juga akhir nya /Facepalm/
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tipu daya wanita emang dahsyat /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
lanjutkan
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
salah satu sifat manusia yang merugikan adalah sifat pendendam dan ambisius.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
awalnya aku bingung judulnya Rumah sakit, apa kaitannya. Aq baca lgi dari atas mksd judulnya kiranya drama Tamara yg ketauan Reno di rumah sakit.
🥑⃟Rɪᴀᷨɴͤᴀͤ: Iya Va...🤣🤣🤣
total 1 replies
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Reno korban nya dimana mana /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kapok mu kapan Tamm?
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
apa Mc nya bakal mati
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Jangan lemah put !
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Cerita nya bikin emosi.
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Ada ya cowok kayak gitu, parah !
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!