Maximilian Hoffmann, CEO raksasa otomotif Jerman yang dingin, memiliki satu tujuan: menghancurkan sisa-sisa keluarga Adler yang ia yakini sebagai penyebab kehancuran ayahnya. Kesempatan itu datang saat Sophie Adler melamar menjadi sekretaris pribadinya dengan identitas tersembunyi demi membiayai pengobatan ayahnya. Max yang sudah mengetahui rahasia Sophie, sengaja menjebaknya dalam lingkungan kerja yang toksik dan penuh tekanan di kantor pusat mereka di Berlin. Namun, di balik dinding kaca yang kaku, ketegangan benci mulai berubah menjadi obsesi posesif. Di tengah sandiwara cinta dan dinginnya musim dingin Eropa, mereka menemukan bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah satu sama lain, melainkan rahasia kelam yang terkubur jauh di masa lalu keluarga mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukti pertama
Pintu ruangan VIP terbuka dengan kasar, memecah suasana intim yang baru saja tercipta.
Richard Hoffmann melangkah masuk dengan wajah tegang, diikuti oleh Beatrice yang tampak sembab. Di belakang mereka, Isabella mengekor dengan tatapan yang langsung menajam saat melihat Sophie berdiri begitu dekat dengan tempat tidur Max.
"Maximilian! Syukurlah kau selamat," seru Beatrice sambil menghampiri putranya.
Richard berdiri di kaki tempat tidur, matanya yang tajam dan dingin menyapu seluruh ruangan sebelum berhenti tepat pada wajah Sophie. Ini adalah pertama kalinya Sophie berhadapan langsung dengan pria yang ia yakini sebagai penghancur hidup ayahnya. Jantung Sophie berdegup kencang, amarah yang membara di dadanya hampir saja meledak, namun ia mengepalkan tangannya di balik blazer, menelan semua emosi itu dalam-dalam.
"Dan siapa wanita ini?" tanya Richard dengan suara berat yang penuh otoritas.
Isabella segera melangkah maju, menyentuh bahu Beatrice dengan gerakan provokatif. "Bibi, ini asisten baru Max yang aku ceritakan. Dia adalah putri dari Hans Adler."
Mendengar nama itu, raut wajah Beatrice berubah seketika. Ia menarik diri dari Max seolah-olah ruangan itu baru saja terkontaminasi. Matanya yang tadi penuh kekhawatiran kini memancarkan rasa jijik yang murni.
"Adler?" Beatrice menoleh ke arah Sophie dengan tatapan meremehkan. "Jadi kau adalah putri dari pria yang mencoba merampok perusahaan kami? Berani-beraninya kau menampakkan wajah di depan putraku setelah apa yang ayahmu lakukan!"
"Ibu, cukup. Dia yang menyelamatkanku di lift tadi," sela Max, suaranya terdengar tegas saat ia mencoba duduk tegak, menahan rasa perih di tubuhnya.
"Menyelamatkanmu atau ini hanya taktik untuk mendekatimu?" sindir Isabella dengan senyum sinis. "Seorang Adler tidak akan melakukan sesuatu tanpa pamrih, Max. Jangan biarkan racun ini tetap berada di ruangan ini."
Beatrice menunjuk pintu keluar dengan telunjuknya yang dihiasi berlian mahal. "Keluar dari sini, Nona Adler. Kehadiranmu hanya mengotori udara rumah sakit ini. Aku tidak ingin melihat keturunan pencuri ada di dekat keluargaku!"
Suasana menjadi sangat tegang. Richard terus menatap Sophie dengan mata menyipit, seolah sedang menilai apakah Sophie adalah ancaman nyata bagi rahasia masa lalunya.
Max mencengkeram sprei tempat tidurnya, rahangnya mengeras. "Ibu! Sophie tetap di sini. Dia asistenku!"
Namun, sebelum Max bisa melanjutkan pembelaannya, Sophie melangkah maju satu langkah. Ia tidak menunduk, tidak menangis, dan tidak terlihat terhina. Ia berdiri dengan punggung tegak dan dagu terangkat, memancarkan aura wanita berkelas yang jauh melampaui sikap kasar Beatrice.
"Saya mengerti, Nyonya Hoffmann," ucap Sophie dengan suara yang tenang dan sangat terkontrol. Ia memberikan anggukan hormat yang sangat sopan kepada Richard dan Beatrice, seolah ia sedang berada di sebuah jamuan teh, bukan sedang diusir. "Kenyamanan keluarga Anda adalah prioritas saya sebagai staf perusahaan. Saya akan segera meninggalkan ruangan ini agar Tuan Maximilian bisa beristirahat dengan tenang."
Max mencoba meraih tangan Sophie. "Sophie, jangan—"
Sophie melepaskan sentuhan Max dengan halus, menatap pria itu sejenak dengan mata yang dingin namun bermakna dalam. "Istirahatlah, Tuan Hoffmann. Tugas saya hari ini sudah selesai."
Sophie berbalik dan berjalan menuju pintu dengan langkah yang anggun. Ia melewati Isabella tanpa sedikit pun meliriknya, dan saat ia melewati Richard, ia memberikan tatapan tajam yang hanya berlangsung sedetik—sebuah janji bisu bahwa ia akan segera menjatuhkannya.
Begitu pintu VIP tertutup di belakangnya, Sophie bersandar di dinding koridor rumah sakit.
Napasnya tersengal, dadanya terasa sesak oleh hinaan yang baru saja ia terima. Namun, ia tidak menangis. Ia menyeka sudut matanya yang kering dan berbisik pada dirinya sendiri, Hina aku sesuka kalian sekarang. Karena saat bukti itu ada di tanganku, kalianlah yang akan berlutut di depan ayahku.
Lobi rumah sakit yang tenang menjadi saksi bisu kelelahan mental Sophie. Langkah kakinya yang anggun perlahan mulai melambat saat ia mencapai pintu keluar otomatis. Di sanalah, di antara kerumunan orang, ia melihat sosok yang sangat ia kenal sedang berlari kecil dengan napas terengah-engah.
Julian Von Arnim muncul dengan wajah yang memancarkan kecemasan luar biasa. Mantelnya tersampir berantakan, dan rambutnya yang biasanya tertata rapi kini berantakan terkena angin malam.
"Sophie!" seru Julian saat matanya menangkap sosok wanita itu. Ia segera menghampiri Sophie dan memegang kedua bahu wanita itu, matanya dengan cepat memindai setiap inci tubuh Sophie untuk mencari luka. "Ya Tuhan, Sophie... kau baik-baik saja? Kau terluka?"
Sophie menatap Julian. Melihat wajah tulus teman masa kecilnya itu, tembok pertahanan yang tadi ia bangun di depan keluarga Hoffmann sedikit retak. Namun, ia terlalu lelah untuk menangis atau menjelaskan penghinaan yang baru saja ia terima dari Beatrice.
"Aku baik-baik saja, Julian," jawab Sophie pendek. Suaranya terdengar hambar dan tak bertenaga.
Julian menghela napas panjang, sebuah kelegaan yang murni terpancar dari wajahnya. "Syukurlah. Saat aku mendengar kabarnya, aku langsung meninggalkan rapat dan mengemudi ke sini seperti orang gila. Aku takut terjadi sesuatu padamu."
Sophie hanya memberikan senyum tipis yang dipaksakan. Ia melirik kembali ke arah koridor menuju ruangan VIP Max, membayangkan pria itu sedang dikelilingi oleh keluarganya yang angkuh dan Isabella. Perasaan Sophie campur aduk; rasa syukur karena Max selamat bertabrakan dengan kebenciannya pada Richard.
"Julian," panggil Sophie pelan. "Bisakah antarkan aku pulang?”
Julian menyadari ada sesuatu yang salah. Ia melihat mata Sophie yang kemerahan meski tidak ada air mata yang jatuh, serta bagaimana wanita itu menggenggam tasnya dengan sangat erat. Ia tahu pasti ada sesuatu yang terjadi di dalam sana.
"Tentu saja. Ayo," ucap Julian lembut. Ia melingkarkan tangannya di punggung Sophie, memberikan perlindungan fisik yang sangat dibutuhkan wanita itu.
Saat mereka berjalan menuju mobil Julian, Sophie tidak menyadari bahwa dari jendela lantai atas ruangan VIP, sepasang mata gelap milik Maximilian sedang memperhatikan mereka. Max berdiri di balik jendela dengan tangan yang diperban, menahan rasa sakit di tubuhnya hanya untuk melihat Sophie pergi.
Melihat Sophie masuk ke dalam mobil Julian dan bersandar di bahu pria itu, Max mencengkeram tirai rumah sakit hingga sobek. Rasa bersalah karena membiarkan ibunya menghina Sophie bercampur dengan api cemburu yang membakar jiwanya.
"Kau pikir kau bisa lari dariku ke pelukannya, Sophie?" bisik Max dengan nada rendah yang penuh tekad. "Tidak akan pernah."
...****************...
Lampu-lampu jalan Berlin yang temaram melintas di kaca jendela mobil Julian yang melaju tenang menuju Neukölln. Di dalam kabin yang hangat dan beraroma kayu cendana itu, keheningan sempat menyelimuti mereka selama beberapa menit. Sophie menyandarkan kepalanya ke kaca, menatap kosong ke jalanan, sementara Julian sesekali meliriknya dengan penuh perhatian.
Julian tahu, Sophie sedang memproses banyak hal—trauma lift itu, dan tentu saja, pertemuan beracun dengan keluarga Hoffmann.
"Sophie," panggil Julian lembut, memecah kesunyian. "Sebenarnya, kedatanganku ke rumah sakit tadi bukan hanya karena aku khawatir soal kecelakaan itu."
Sophie menoleh perlahan, matanya tampak sedikit lebih fokus. "Maksudmu?"
Julian menepikan mobilnya sejenak di bahu jalan yang sepi, di bawah deretan pohon linden yang mulai meranggas. Ia merogoh tas kulitnya di kursi belakang dan mengeluarkan sebuah map cokelat tua yang tampak sudah berumur.
"Beberapa hari ini aku membongkar arsip lama di firma arsitektur ayahku. Aku mencari dokumen proyek pembangunan Adler Plaza yang tidak pernah selesai sepuluh tahun lalu," Julian menyerahkan map itu kepada Sophie dengan tangan yang sedikit ragu. "Aku menemukan sesuatu yang tidak masuk dalam laporan pers saat kasus ayahmu mencuat."
Sophie menerima map itu dengan jantung yang mulai berdebat kencang. Dengan tangan sedikit gemetar, ia membukanya. Di dalamnya terdapat cetak biru asli bangunan dan beberapa lembar korespondensi internal yang ditandatangani oleh Hans Adler.
"Lihat lembar ketiga, Sophie," instruksi Julian.
Sophie membalik kertas itu. Matanya menyipit saat melihat sebuah nota revisi anggaran yang sangat besar. Di sana tertulis bahwa ada pengalihan dana ke sebuah akun perusahaan cangkang bernama Lutz-Logistics.
"Logistics?" bisik Sophie. "Nama itu... Isabella von Lutz?"
"Tepat," Julian mengangguk serius. "Selama ini publik tahu ayahmu dituduh mengorupsi dana proyek itu. Tapi dokumen ini menunjukkan bahwa dana tersebut sengaja 'dialirkan' keluar atas perintah konsorsium utama. Dan siapa pemimpin konsorsium itu sepuluh tahun lalu?"
"Richard Hoffmann," jawab Sophie dengan suara yang bergetar karena amarah.
"Tapi ada satu detail yang lebih gila, Sophie," Julian menunjuk sebuah tanda tangan kecil di pojok bawah nota pengalihan dana itu. Tanda tangan itu bukan milik Hans Adler, melainkan stempel digital otoritas yang hanya bisa diakses oleh kantor pusat Hoffmann. "Ayahmu tidak menandatangani pengalihan ini. Seseorang memalsukan otoritasnya menggunakan sistem internal mereka."
Sophie merasakan napasnya tertahan. Ini adalah bukti fisik pertama yang ia miliki. Bukan sekadar desas-desus, melainkan dokumen teknis yang menunjukkan adanya permainan sistem.
"Julian... ini luar biasa," Sophie menatap Julian dengan mata yang berkaca-kaca karena harapan. "Kenapa ayahmu tidak menunjukkan ini saat persidangan dulu?"
Julian menunduk, wajahnya tampak menyesal. "Ayahku diancam, Sophie. Richard Hoffmann memastikan bahwa jika dokumen ini keluar, firma kami akan bangkrut dalam semalam. Tapi sekarang... ayahku sudah pensiun, dan aku yang memegang kendali. Aku tidak ingin rahasia ini terkubur bersamaku."
Sophie menggenggam map itu erat-erat ke dadanya. Rasa lelahnya seolah hilang, digantikan oleh kobaran api semangat yang baru. Sekarang ia tahu, Richard Hoffmann bukan hanya menghancurkan ayahnya karena persaingan bisnis, tapi ia menggunakan ayah Sophie sebagai kambing hitam untuk pencucian uang keluarganya sendiri.
"Terima kasih, Julian. Kau tidak tahu betapa berartinya ini bagiku," ucap Sophie tulus.
Julian tersenyum, lalu ia kembali menjalankan mobilnya. "Hati-hati, Sophie. Dokumen itu bisa membuatmu dalam bahaya yang lebih besar daripada lift tadi pagi. Jika Max tahu kau memilikinya..."
"Dia tidak akan tahu," potong Sophie dingin. "Setidaknya sampai aku menemukan cara untuk menjatuhkan ayahnya di depan matanya sendiri."