Selamat datang kembali, Pembaca Setia!
Terima kasih karena telah melangkah sejauh ini bersama Aulia. Jika kamu ada di sini, artinya kamu telah menjadi saksi bisu betapa perihnya luka yang ia simpan selama lima tahun, dan betapa kuatnya ia saat mencoba berdiri di atas kakinya sendiri di buku pertama.
Di "Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2", perjalanan ini akan menjadi lebih menantang. Kita akan menyaksikan bagaimana Aulia mengubah rasa sakitnya menjadi kekuatan, bagaimana rahasia kelam masa lalu mulai terkuak satu per satu, dan ke mana arah hatinya akan berlabuh.
Terima kasih telah setia menanti dan mendukung karya ini. Mari kita lanjutkan perjuangan Aulia sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Manis dan Pengkhianatan Melati
Melati merasa dunianya seolah runtuh setiap kali ia melihat sorot mata kagum rekan-rekan kerjanya terhadap Aulia. Rasa takut akan pemecatan dan rasa iri yang membakar membuatnya berada di titik nadir. Alih-alih berusaha memperbaiki kinerjanya yang buruk, Melati justru memilih untuk berpegang pada dahan yang rapuh: hasutan Kenny.
Kenny, yang kini bertindak sebagai tangan kanan rahasia Meli, menggunakan manipulasi emosional tingkat tinggi. Di meja makan yang remang, ia menggenggam tangan Melati dengan erat, memberikan tatapan yang seolah-olah penuh pengabdian.
"Pikirkan masa depan kita, sayang," bisik Kenny lembut. "Jika kita memberikan data produk Aulia kepada Keluarga Laksmana, kita tidak perlu lagi bekerja keras di bawah telunjuknya. Meli sudah menjanjikan gaji lima kali lipat dan rumah impian untuk kita. Ini bukan mencuri, ini adalah mengambil hakmu yang selama ini diklaim oleh Aulia."
Janji akan kekayaan instan dan kehidupan mewah akhirnya melumpuhkan sisa-sisa integritas Melati. Dengan tangan bergetar, ia mengangguk. Ia tidak menyadari bahwa ia baru saja menyerahkan dirinya menjadi tumbal dalam perang besar antara Meli dan Aulia.
Pagi harinya di kantor UME, ketegangan semakin memuncak. Saat Aulia hendak menuju ruang kerjanya, ia memergoki Jane baru saja keluar dari area kantor pribadi Mavin dengan wajah yang tampak puas namun mencurigakan.
Aulia menghentikan langkahnya, menatap Jane dengan tajam. "Apa yang kamu lakukan di sana? Itu bukan area kerjamu."
Bukannya merasa bersalah atau takut, Jane justru melangkah maju dengan angkuh. Ia menyerang Aulia dengan kata-kata kasar yang penuh kebencian. "Jangan sok mengaturku, Scarlett! Kamu pikir karena kamu dekat dengan Mavin, kamu bisa mengendalikan semua orang di sini? Kamu hanyalah wanita yang mengandalkan belas kasihan pria untuk naik jabatan."
Jane masih terjebak dalam delusinya sendiri. Ia merasa lebih unggul karena merasa paling tahu "identitas asli" Aulia sebagai wanita buangan Keluarga Permana. Ia tidak menyadari bahwa kecerdasan teknis Aulia-lah yang sebenarnya sedang menjadi incaran seluruh industri robotika saat ini.
Aulia kini berada di tengah kepungan musuh dalam selimut di kantornya sendiri. Dua ancaman besar sedang bergerak secara sinkron:
Melati, yang telah memegang kunci akses untuk mencuri data teknologi inti (algoritma pembagi zona) demi memenuhi janji Meli melalui Kenny.
Jane, yang bertindak sebagai agen pengacau untuk merusak reputasi Aulia di depan rekan kerja dan terus mengintai setiap langkah Mavin.
Aulia merasakan ada yang tidak beres dengan atmosfer di laboratorium pagi itu. Gerak-gerik Melati yang terus menghindarinya dan sikap Jane yang semakin agresif membuatnya waspada. Namun, beban kerja untuk penyempurnaan akhir presentasi peluncuran produk yang tinggal beberapa hari lagi sangat menyita waktunya.
Aulia belum menyadari bahwa "bom waktu" itu sudah mulai berdetak. Jika Melati berhasil menyalin data tersebut hari ini dan menyerahkannya kepada Kenny, maka Meli akan memiliki senjata untuk menjatuhkan Aulia tepat di saat ia berada di puncak panggung presentasi nanti.
Aulia duduk di meja kerjanya, menatap layar monitor dengan dahi berkerut. Firasatnya mengatakan ada lubang dalam sistem keamanannya, namun ia tidak tahu bahwa pengkhianat itu adalah orang yang baru saja ia buatkan kopi kemarin. Akankah Aulia sempat menyadari pengkhianatan Melati sebelum data berharga itu pindah tangan?
Terima Kasih support dan Dukungan! 💖
emang apa prestasinya Melati, Ken...
kasihan tau Aulia... udah capek capek mikir, mau di sabotase.
weeeesss angel... angel...
Sampek kurang turu lhooo sangking mau menunjukkan keberhasilan dr tantangan Henry.
Ndak usah mikirin hal hal yg bikin kita jatuh.
padahal tadi yang jemput Pamela di rumah Rizki Khan Violetta.