"Maaf Nan, gue enggak bisa."
Devi Zaruna menggeleng dengan pelan yang berhasil membuat Agnan Frendo kehilangan kata-kata yang dari tadi sudah dia siapkan.
Keheningan menyelimuti kedua insan yang saling mencintai itu, ini bukan permasalahan cinta beda agama atau cinta yang tidak direstui.
"Bukankah cinta tidak harus memiliki?"
Devi Zaruna, wanita cantik pekerja keras dengan rahang tegas serta tatapan tajam layaknya wanita pertama dengan beban di pundak yang harus dia pikul. Jatuh cinta merupakan kebahagiaan untuknya tetapi apa yang terjadi jika dia harus berkoban untuk cintanya itu demi ibunya?
"Kebahagiaan ibu paling penting."
Devi dan Agnan sudah menjalin hubungan selama tiga tahun tetapi hubungan itu harus kandas ketika ibunya juga menjalin hubungan dengan ayah Agnan.
Bagaimana kelanjutan kisah cinta Devi serta hubungannya dengan Agnan? apakah ibu Devi akan menikah dengan ayah Agnan atau malah Devi yang menikah dengan Agnan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lujuu Banget, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Vina dan Emosi Agnan
"Enggak ada pelet-pelet ya, pak Herry sendiri yang suka sama gue."
Nanda menatap Yaya dengan curiga sedangkan Devi dan Aldi asik berdiskusi membahas mengenai hal yang dijelaskan oleh Herry barusan.
Nanda dan Yaya masih asik berdebat mengenai cara Yaya mendapatkan Herry, Devi sesekali melirik mereka lalu kembali fokus.
"Gini?" tanya Aldi yang dibalas senyuman serta acungan jempol oleh Devi.
Aldi juga ikut tersenyum, dua orang itu bertepuk tangan karena telah menyelesaikan permasalahan barusan walau untungnya dibantu oleh Herry.
"Tinggal 3% lagi," lirih Devi yang dibalas anggukan oleh Aldi.
Dua orang tadi berhenti bertengkar, Nanda mengambil dokumen tersebut lalu menggeleng sambil bertepuk tangan kagum atas keberhasilan dua orang itu.
"Tinggal menambah dan merevisi beberapa hal lagi habis itu selesai," ucap Aldi.
"Ayo gue traktir," lanjut Aldi membuat tiga orang itu mengangguk.
Mereka melangkah ke arah parkiran, tetapi saat akan masuk ke dalam mobil Aldi, suara klakson terdengar membuat mereka mengalihkan pandangan ke arah asal suara tersebut, kembali Yaya tersenyum sambil berlari ke arah Herry yang keluar dari mobil.
"Kami mau pergi makan ditraktir sama Aldi, bapak mau ikut?" ajak Yaya.
Herry melirik jam tangannya, dia mengelus rambut Yaya dengan penuh kasih sayang membuat Aldi dan Nanda kembali terperangah tidak percaya jika Herry memiliki sisi romantis seperti ini.
"Pergi saja, sebentar lagi saya harus menemui seseorang. Ini, pakai saja," ucap Herry sambil memberikan sebuah kartu.
Nanda dan Aldi saling pandang, setelah Yaya mengucapkan terima kasih, dia berlari ke arah tiga orang tadi. Mobil mereka bergerak meninggalkan parkiran, mobil Herry bergerak ke arah kanan sedangkan mobil Aldi bergerak ke arah kiri.
"Anjir, memang ya pak Herry tu idaman banget," komentar Nanda.
Devi tersenyum tipis dengan Yaya yang memamerkan kartu tersebut, hubungan Yaya memang membuat semua orang iri, Herry bisa menghandle sikap kekanakan Yaya, pria itu selalu sabar dengan Yaya membuat Devi sering teringat akan Agnan. Dia kembali merindukan pria itu.
Sedangkan Agnan sendiri, dia tengah tertidur di apartemennya, semenjak Tomi menikah, Agnan memilih untuk membeli apartemen dan tinggal di sana walau beberapa kali dia pulang sekedar menemui Tomi atau sekedar tidur di sana.
Saat asik memainkan ponsel, bel apartemen tiba-tiba berbunyi membuat Agnan berdiri dengan malas, kaki pria itu melangkah membuka pintu saat melihat jika yang datang adalah kakaknya dan keponakannya.
"Uncle!"
"Raya, makin cantik aja," ucap Agnan sambil mengendong anak itu membuat Raya tertawa bahagia.
Agnan lalu menurunkan anak itu, dia menatap Vina dengan tatapan penasaran, pasti ada sesuatu sehingga Vina datang ke apartemennya karena jika tidak wanita itu tidak akan mau datang ke sini.
"Kenapa?" tanya Agnan masih mengacak rambut Raya yang tengah memamerkan hasil gambarnya tadi siang.
Vina mengedarkan pandangan ke segala penjuru, beberapa foto Agnan dan Devi terpajang di sana membuat Vina menghela napas, dia terpaksa untuk mengatakan hal ini.
"Coba kamu pikirkan lagi mengenai ...."
"Pernikahan itu lagi?" Agnan mengalihkan pandangan ke arah Vina.
Agnan menghela napas bahkan Vina malah ikut-ikutan membahas mengenai hal ini.
"Aku heran kenapa kalian tiba-tiba menjodohkanku."
"Demi perusahaan Nan, kamu tau perusahaan berada di ujung tanduk, hanya ini jalan satu-satunya. Aku, Ferdi bahkan hidup Devi juga bergantung pada kamu."
"JANGAN BAWA-BAWA DEVI!" tekan Agnan memberikan lirikan tajam.
Raya sedikit terkejut melihat hal itu sedangkan Vina langsung menutup mulutnya, percuma, pria itu tidak bisa dibujuk.
"Terserah padamu, waktunya hanya tinggal sebentar lagi," ujar Vina lalu membawa Raya pergi dari sana.
Agnan menghela napas kasar, dia mengacak rambut sambil berteriak untuk menuangkan semua emosi yang ada di dalam dirinya. Kenapa? Kenapa tidak ada yang mengerti dirinya? Kenapa mereka memaksa dirinya di saat dia sendiri tidak ingin menikah dengan siapapun selain Devi.
Pertunangan yang gagal bahkan sekarang mustahil baginya untuk hidup bersama Devi, sekarang mereka memaksa dia menikah.
"Semuanya sialan!"
Agnan mengambil kunci motor, melangkah turun ke bawah lalu pergi meninggalkan apartemen, pria itu membutuhkan sesuatu untuk menenangkan pikiran yang terasa semakin rumit.
Masalah Devi, pernikahan, perusahaannya sampai perusahaan Tomi terus beradu di otaknya tanpa ingin berhenti sama sekali, dia pusing dengan semua ini.
"Devi?" lirih Agnan sambil menghentikan motor saat melihat Devi tengah melangkah masuk bersama Nanda.
Agnan memutar motornya, dia turun di depan restoran tempat Devi dan Nanda masuk tadi bahkan tanpa memikirkan apapun saat punggung Devi berada di dekatnya Agnan menarik tangan wanita itu membuat Devi tersentak kaget tidak terkecuali semua orang.
"Agnan!"
"Jangan dekat-dekat dengan Devi sialan!" maki Agnan menunjuk wajah Nanda.
Nanda mengangkat kedua tangannya sebagai pertanda dia tidak mau membuat keributan sedangkan Agnan masih menunjuk Nanda dengan emosi yang tidak bisa dibendung.
"Nan, Lo kenapa? Malu diliatin orang," ujar Devi.
"Apa? Lo mau bela dia? Lo mau pacaran 'kan sama dia? Lo suka sama dia?" tuduh Agnan secara tiba-tiba.
"Iya 'kan? Makanya kalian berdua aja datang ke sini, kalian lagi dinner 'kan?" lanjut Agnan masih berbicara.
Devi terperangah tidak percaya mendengar ucapan Agnan barusan, dia tidak bisa berkata apa-apa apalagi melihat kilat mata Agnan yang terlihat penuh emosi.
"Maaf semuanya," ucap Devi seraya menarik Agnan melangkah masuk ke ruang VIP.
Nanda juga ikut melangkah tetapi dengan jarak yang agak jauh dari dua orang itu, saat membuka pintu terlihat Herry, Aldi bahkan Yaya tengah asik karaoke membuat Agnan terpaku.
"Masuk!" tegas Devi menarik tangan Agnan untuk masuk ke dalam.
Semua orang duduk di sana tidak terkecuali Nanda yang agak menjauh dari dua orang itu.
"Agnan juga di sini?" tanya Yaya.
Agnan hanya diam, dia memijit pelipisnya mencoba menghilangkan emosi yang masih ada di dalam dirinya, semua kacau karena emosinya.
"Lo kenapa?"
...***...