Badanya cungkring, tingginya seratus tujuh puluh centi, rambutnya cepak tapi selalu ia tutupi dengan topi pet warna abu abu kesayangannya, gayanya santai dan kalem, tidak suka keributan dan selalu akrab dengan siapa saja bahkan orang yang baru ia kenal sekalipun.
Peno waluyo namanya, pemuda usia dua puluh tahun yang tinggal didesa rengginang kecamatan tumpi kabupaten wajik bersama kedua orang tuanya dan satu adik perempuan, bapaknya bernama Waluyo dan ibu bernama Murni sedangkan adiknya uang berusia sepuluh tahun bernama Peni.
Dia punya tiga sahabat bernama Maman, Dimin dan Eko, mereka satu umuran dan rumah mereka masih satu RT, dari kecil memang sudah terbiasa bersama sampai kini mereka beranjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imam Setianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Keesokan harinya Peno beraktifitas seperti biasa, setelah ia sholat subuh ia akan joging menyusuri jalan desanya dan berakhir finish dirumah mbah Patma, dan sepetti biasa juga dia akan diajak mikir pagi pagi oleh mbahnya, barulah setelah beberapa babak ia bermain catur ia akan pamit pulang, dan setelah sarapan ia akan melakukan kegiatan yang lainnya seperti mencari rumput untuk pakan ikan bawalnya atau membantu sang bapak menggarap sawah.
Seperti hari ini ia akan membantu bapaknya disawah untuk mencangkul lahan yang kemarin ditanami singkong, sekarang setelah singkong dipanen lahan itu perlu digemburkan lagi tanahnya dengan cara dicangkul yang nantinya menurut rencana sang bapak akan ditanami jagung, sebab dua petak sawah milik bapaknya itu jauh dari aliran air, sehingga hanya bisa ditanami tanaman yang tadah hujan.
Peno berangkat sambil membawa bekal untuk makan siang sekalian, ia membawa bekal untuk empat orang, ya bapaknya memang tidak bekerja sendirian, ia dibantu sang adik yaitu Wanto dan juga teman Wanto yaitu Udin.
"darimana saja No, jam segini baru kesawah?" tanya Udin yang melihat Peno baru datang.
"biasa Din, jadwalnya si Peno kalau pagi mikirin kayu sambil ngopi dan dijitak mbah kakungnya, ha ha ha ha.....!" Wanto yang malah menjawab pertanyaan Udin.
"nah tuh, sudah dijawab sama lik Wanto, sudah pada ngopi belum, kalo belum nanti Peno buatkan!?" ucap Peno yang malah menawari kopi.
"belum No, bikin sekalian empat, kebetulan sudah waktunya ngopi!" kata bapak yang memang belum ngopi dari pagi.
"siap pak!" jawab Peno langsung menyeduh kopi digubug sawah mereka.
Kopi jadi semuanya berhenti bekerja untuk istirahat sebentar, kalau diperusahaan atau pabrik pabrik mungkin istilahnya coffee break, tapi Peno bukannya ikut ngopi malah dia bekerja mencangkul tanah meneruskan hasil cangkulan bapaknya.
"yang rata No, jadi nanti kalau ditanami ga susah!" ucap bapak dari gubug tempat mereka berteduh.
"siap pak, apa perlu pake water pas?" tanya Peno sedikit bercanda.
"ha ha ha ha........, kamu pikir mau disemen No!" ucap lik Wanto dan Udin pun ikut tertawa mendengar banyolan Peno.
"dasar bocah, dibilangin pasti ada saja jawabannya!" ucap bapak sambil menyeruput kopinya.
limabelas menit untuk ngrokok dan ngopi sudah cukup, bapak, lik Wanto dan Udin pun kembali melanjutkan pekerjaan mereka, sambil sesekali bercanda dan ngobrol dengan terus mencangkul tak terasa setengah petak sudah diselesaikan oleh empat orang.
Merasa sudah terik bapak meminta semuanya untuk istirahat dan makan siang, insting seorang petani soal waktu memang sangat tajam, hanya dengam melihat letak matahari saja sudah bisa menebak kalau sekarang sudah waktunya istirahat dan makan siang, terbukti setelah bapak menyuruh untuk istirahat tak lama kemudian adzan dhuhur terdengar.
"wih bapak kaya cenayang, bisa tahu kalau sekarang sudah mau jam duabelas, dapat ilmu darimana pak!?"tanya Peno saat mereka sudah sedang duduk melingkar didalam gubug.
"ilmu dari mbahmu itu, bapak itu dari kecil sudah dididik disawah No, jadi sudah hapal soal waktu!" jawab bapak sambil menyendok nasi dalam bakul dan diletakan dipiringnya.
"iya No, bapakmu ini dari kecil sudah disawah, sama seperti aku, dari kecil ya sudah disawah, kalau ga kesawah ya bisa dijitak sama mbahmu itu!" ucap lik Wanto membenarkan ucapan bapak.
"lah pada ga sekolah pak, lik?" tanya Peno sambil mengambil sayur untuk lauk ia makan.
"ya sekolah, pulang sekolah wajib kesawah!" jawab bapak sambil menikmati makan siangnya, sedangkan Udin hanya menyimak sambil tetap fokus makan.
Sehabis makan Peno membereskan piring dan perlengkapan lainnya, dimasukannya kedalam tas keranjang untuk dibawa pulang kecuali termos, gelas, gula dan kopi, ditinggal digubug.
Berempat pun pulang terlebih dahulu untuk sholat dhuhur dan istirahat tentunya, dan nanti akan kesawah lagi jam satu.
Sampai rumah Peno mandi bergantian dengan bapak dan langsung menunaikan sholat dhuhur dikamarnya, setelah sholat ia duduk bersantai di gubug tepi kolam belakang rumah sambil menikmati rokoknya dan melihat ikan yang berenang kesana kemari.
Dalam diamnya Peno berfikir kalau nanti dalam ajang turnamen catur dikabupaten ia harus menang, ia tidak mau teman temannya dan pak Supri kecewa, dalam hati ia punya tekad dan impian agar orang tuanya dan juga orang orang terdekatnya tidak hidup dalam kekurangan.
"No, kesawah lagi ga!?" tanya bapak dari pintu dapur membuyarkan lamunan Peno.
"ah, iya pak!" jawab Peno lalu beranjak masuk untuk ganti baju tempur disawah, berdua dengan bapaknya Peno pun pergi kesawah lagi.
"kamu apa ga niat punya usaha atau kerja yang hasilnya lebih besar dari kita pelihara ikan dan bersawah?" tanya bapak dalam perjalanan kesawah.
"ya pengin pak, tapi mau usaha apa, dan kalau kerja ya kerja apa, dikota kita ini paling pol mentok kerja jadi pelayan toko yang bayarannya malah lebih besar kalau aku panen bawal!" jawab Peno.
Ya, dikota tempat tinggal Peno memang rata rata para buruh bekerja jadi pelayan toko atau pelayan dirumah makan, disana memang tidak ada pabrik atau perusahaan besar, kota dimana Peno tinggal hanyalah kota kecil dimana fasilitas pendidikan pun hanya sampai SMA, dan jika akan meneruskan keperguruan tinggi harus merantau kekota sebelah yang fasilitas pendidikannya lengkap.
Peno bisa bicara seperti itu sebab jika dihitung memang lebih besar penghasilan Peno dalam merawat dan membesarkan ikan bawal, gaji pelayan toko sebulan hanya sebesar dua juta saja sedangkan Peno merawat dan membesarkan ikan bawal selama empat bulan bisa menghasilkan uang sampai sepuluh juta lebih kalau hasil panennya bagus.
Itulah alasan kenapa Peno tidak mau bekerja dikotanya sendiri, dengan berbekal ijazahnya paling paling ia dapat kerja jadi pelayan toko.
"kalau gitu coba kamu pikirkan bagaiman caranya biar usaha budidaya ikan kita itu bisa berkembang, tidak jalan ditempat dengan pendapatan yang segutu saja, kamu itu sudah besar, pastinya sudah mulai tertarik dengan lawan jenis nanti akan menikah, pikirkan mulai sekarang bagaimana nanti kamu menafkahi keluargamu!" ucap bapak menasehati Peno sambil berjalan menuju sawah mereka.
"iya pak, nanti Peno pikirkan, oh ya, bulan depan Peno ikut turnamen catur dikabupaten pak, mohon doanya biar bisa menang!" jawab Peno sekaligus minta doa restu dari bapaknya.
"iya ikut saja, kan kamu pewaris bakat mbah kakungmu itu, berlatih terus dan jangan lupa ijin juga sama mamakmu!" kata bapak, lalu duduk sebentar digubug untuk menunggu lik Wanto dan Udin datang.
Setelah Wanto dan Udin datang mereka pun langsung meneruskan pekerjaan mencangkul sawah agar gembur lagi.
Jam tiga bapak meminta Peno menyeduh kopi, dan semuanya istirahat, waktu istirahat itu digunakan oleh Peno dan lik Wanto untuk mencari rumput yang nantinya buat pakan ikan bawal mereka, sedangkan udin memang sehari hari kerjanya sebagai buruh tani, ia tidak memiliki kolam seperti yang lainnya.