NovelToon NovelToon
NAFSU SUAMI IMPOTEN

NAFSU SUAMI IMPOTEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Wanita Karir / CEO / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Ratu Darah

Michelle Valen seorang seniman muda terkenal yang meninggal karena penghianatan sahabat dan tunangannya, ia berpindah jiwa kedalam tubuh Anita Lewis.
Diberikan kesempatan hidup kedua ditubuh orang lain, ia memulai pembalasan dendam dan merebut kembali identitas dirinya yang telah direbut oleh mereka.
Pernikahan dadakan dengan Dion Leach sang CEO gila yang terkena racun aneh, menjadikannya batu loncatan demi bertahan hidup, keduanya sama-sama saling memanfaatkan dan menguntungkan.

Mau tau kelanjutan dan keseruan ceritanya?
Silahkan mampir guys....
Happy reading, semoga cukup menghibur...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Darah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Bab 27 Hanya Sepuluh Vial di Seluruh Dunia

“Kakek, apakah masih ada yang ingin Kakek sampaikan?” tanya Anita Lewis pelan, matanya menatap lurus ke arah Tuan Leach tua.

Pak Tua Leach menatapnya lama. Rasa ragu masih terlihat di sorot matanya, tapi aura tenang yang terpancar dari Anita membuatnya tak bisa tidak percaya. Akhirnya ia menarik napas panjang, menatap Dion Leach yang terbaring lemah di atas ranjang, dan hanya berkata lirih,

“Tidak apa-apa.”

Ia pun berjalan keluar perlahan.

Klik! pintu tertutup lembut, menyisakan Anita dan Dion berdua dalam kamar yang kini sunyi dan dipenuhi aroma darah bercampur obat.

Anita menatap Dion yang tertidur dengan wajah pucat. Lengan kirinya berlumuran darah kering, dan di dada pria itu masih tampak bekas luka sayatan yang baru saja ia obati. Sesuatu di dalam dada Anita serasa mencubit hatinya.

Saat Dion kehilangan kendali, dia bisa saja menyakitinya. Tapi tidak.

Dia justru memilih melukai dirinya sendiri agar tidak mencelakakan wanita yang ada di depannya.

“Oh, Dion…” bisik Anita lirih, jari-jarinya gemetar saat menyentuh pipi dingin pria itu. “Kamu… orang seperti apa, sebenarnya?”

Helaan napasnya terdengar berat. Dugh! jantungnya berdetak kencang tak beraturan.

Ia mulai membersihkan luka-luka Dion dengan hati-hati, menyeka setiap bercak darah dengan handuk hangat. Kulit Dion terasa dingin di ujung jarinya, tapi entah kenapa sentuhan itu justru membuat tubuh Anita bergetar. Duk-duk-duk! degup jantungnya menggema di dadanya sendiri.

Demi bisa lebih leluasa, Anita menanggalkan bajunya, menyisakan pakaian dalam tipis berwarna putih. Udara malam menyapu kulitnya, tapi ia tak peduli. Yang penting sekarang adalah menolong Dion.

Obat penenang yang biasa mereka pakai sudah tidak efektif. Karena itu, Anita menyiapkan jarum perak kecil dari kotak medis. Ia memanaskannya sebentar di atas nyala lilin, lalu menarik napas panjang sebelum menancapkan jarum pertama.

Tik-tik-tik! suara jarum menembus kulit pria itu terdengar halus namun menusuk hati.

Beberapa menit berlalu, Anita menyingkirkan jarum terakhir dan mengelap peluh di dahinya. Tapi sebelum sempat bernapas lega, suara keras dari luar tiba-tiba memecah keheningan.

Brak!

Terdengar suara pertengkaran di koridor.

“Kakek Leach! Teganya kau biarkan Anita sendirian di dalam!” Suara Jaccob menggema, penuh amarah. “Semua ini gara-gara dia! Wanita itu berbahaya!”

“Jangan bicara sembarangan tentang Anita!” sahut Tuan Leach tua tegas. “Kalau bukan karena dia, Dion tidak perlu lagi pakai obat penenang malam ini!”

“Kalau bukan karena dia, aku juga nggak akan kena suntik tanpa alasan!” Jaccob mendengus, langkah kakinya mendekat cepat. “Aku nggak mau berdebat! Aku mau masuk dan lihat keadaan Dion sendiri!”

“Tidak.” Suara Pak Tua Leach terdengar berat dan dingin. “Anita tidak mengizinkan siapa pun masuk. Kita tunggu saja di luar.”

“Kau gila?” bentak Jaccob, suaranya meninggi. “Kau biarkan perempuan itu sendirian dengan Dion? Dia lebih baik mati daripada menikah dengannya! Bagaimana kalau dia kalap dan membunuh Dion, hah?!”

Klik! pintu kamar terbuka tiba-tiba.

Anita berdiri di ambang pintu, tubuhnya masih sedikit basah keringat, wajahnya tenang tapi matanya tajam bagai belati. Ia menatap Jaccob datar dan berkata pelan namun tegas,

“Tenang saja. Aku belum berniat jadi janda. Dan aku juga tidak berniat melanggar hukum.”

Duh! Jaccob terdiam. Wajahnya merah, tapi lidahnya kelu.

Anita menyingkir sedikit dari ambang pintu. “Lagipula, sebaiknya kita tidak menghakimi sebelum tahu kenyataannya. Tuan Harding,” katanya dengan nada halus tapi dingin, “sikap Anda perlu diperbaiki.”

Nada suaranya sopan, tapi seperti tamparan keras yang tak bisa dibalas.

Wajah Jaccob menegang. “Kamu sok sopan. Tapi kamu juga, kamu suka main-main dengan laki-laki! Kamu.......”

Kata-katanya berhenti di tenggorokan. Tatapan Anita menusuknya tajam, mata itu jernih tapi begitu dingin. Seolah menguliti setiap niat buruk di dalam dirinya.

Tanpa berkata lagi, Jaccob akhirnya masuk ke ruangan dengan wajah masam.

Tuan Leach menepuk bahu Anita pelan. “Jaccob memang suka bicara seenaknya. Jangan dimasukkan ke hati. Kalau kamu keberatan, bilang saja ke Dion nanti, biar dia yang menghajarnya.”

Anita terkekeh kecil. “Tidak perlu. Aku sendiri yang akan menghajarnya.”

Tuan Leach tersenyum samar. Ia menyukai wanita seperti Anita yang tegas, jujur, dan tidak berpura-pura. Dalam hati, ia mengerti mengapa cucunya bisa jatuh hati padanya.

Sementara itu, Jaccob yang sudah masuk menghampiri Dion yang terbaring. Ia terpaku sesaat melihat betapa rapi perban di tubuh pria itu, bahkan lebih baik dari kerja perawat profesional.

Tanpa banyak bicara, Jaccob mengambil jarum kecil dari saku jasnya. Tik! jarum itu menusuk jari Dion. Setetes darah segar muncul, lalu ia meneteskan ke alat kecil yang tampak seperti pengukur medis.

Anita memperhatikan dengan dahi berkerut. “Untuk apa itu?” tanyanya pelan.

Jaccob menatap layar kecil di alat itu tanpa menoleh. “Untuk memastikan apakah dia masih stabil,” ujarnya datar, “atau sebaliknya... apakah dia akan kambuh lagi.”

Tit... tit... tit... bunyi alat itu terdengar lirih, seolah menjadi denting waktu yang menggantung di udara.

Dalam keheningan itu, Anita menatap wajah Dion yang tertidur dengan perasaan campur aduk , antara iba, takut, tapi juga sesuatu yang lain... sesuatu yang bahkan ia sendiri tak berani akui.

Jaccob sama sekali tak ingin bicara dengan Anita malam itu. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras, ia jelas sedang marah. Setiap kata yang keluar dari bibir Anita terasa baginya seperti duri.

Pak Tua Leach yang berdiri di dekat mereka mencoba menenangkan suasana. Dengan nada tenang tapi berat, ia menjelaskan sambil memegang lembar hasil tes di tangannya.

“Ini… hasil uji darah milik Dion,” katanya pelan. “Setiap kali dia mengalami serangan, kami pakai nilai ini untuk menilai kondisi fisiknya dan menentukan dosis obatnya.”

Anita mengangguk perlahan, matanya menelusuri tulisan di kertas itu. Ia bisa merasakan betapa dalamnya kecemasan di wajah pria tua itu.

“Alat ini sudah kami kembangkan selama hampir sepuluh tahun,” lanjutnya lirih, “agar bisa membaca kondisi tubuh Dion dengan akurat.”

Klik! Pena di tangannya jatuh ke lantai, membuat Anita tersentak.

“Nilai antara satu sampai lima masih ringan,” lanjut Pak Tua Leach. “Biasanya tak perlu obat, cukup diawasi saja. Tapi kalau mencapai lima hingga tujuh, itu berarti gejalanya sedang. Sementara tujuh sampai sembilan…” ia terdiam sejenak, menelan ludah dengan susah payah, “itu sudah parah.”

Anita memandangi hasil tes yang baru saja keluar. Tinta merah di layar alat itu tampak menyala mencolok.

“Lalu… kalau nilainya lebih dari sembilan, bagaimana?” tanyanya pelan, hampir berbisik.

Wajah Pak Tua Leach langsung berubah pucat. Tangannya yang berkerut gemetar hebat.

“Itu berarti....” suaranya bergetar, “.....perubahan patologis. Atau dengan kata lain, tubuhnya mulai rusak dari dalam. Bisa jadi penyakit berat… atau…”

Klang! Sebuah benda jatuh di sudut ruangan. Suara itu membuat semuanya menoleh serempak.

Jaccob berdiri kaku. Matanya membulat, napasnya memburu.

“Nilainya… sembilan koma lima,” gumamnya lirih. “Dion…”

Pak Tua Leach terhuyung. Seluruh tenaga seolah tersedot keluar dari tubuhnya. Anita buru-buru memegangi lengannya sebelum pria itu jatuh.

“Kakek!” serunya panik.

Wajah Pak Tua Leach membiru. Ia berusaha bicara, tapi lidahnya kaku. Matanya memandang kosong ke arah Dion yang terbaring tak sadarkan diri.

“Kakek Leach!” panggil Jaccob dengan cemas.

Dug! Tubuh sang pria tua jatuh terduduk. Nafasnya tersengal. Jika tak segera ditangani, Anita tahu ia bisa terkena serangan jantung kapan saja.

Dengan sigap, Anita menurunkannya ke lantai. Tangannya bergerak cepat. Ia membuka kancing kerah baju pria tua itu dan mengangkat tangannya ke atas agar sirkulasi darahnya lancar.

Namun Jaccob, yang pikirannya dikuasai emosi, justru meneriakinya.

“Keluar dari sini! Jangan sentuh dia, dasar perempuan sialan!”

Plak! Tangan Anita menghantam dada Jaccob, mendorongnya mundur.

“Diam!” serunya tajam, tak menoleh sedikit pun.

Ia segera menekan beberapa titik di dada dan bahu Pak Tua Leach dengan jari-jarinya yang ramping dan cekatan.

Tap! Tap! Tap!

Beberapa detik kemudian, napas Pak Tua Leach mulai stabil. Tubuhnya yang semula kaku kini perlahan mengendur.

“Haaah…” ia menarik napas panjang, lalu berbisik lemah, “Jaccob… tolong Dion…”

Anita membantu pria tua itu duduk di kursi.

“Tenang, Kakek. Dion akan baik-baik saja,” katanya lembut namun tegas.

Jaccob memandangi pemandangan itu dengan campuran tak percaya dan kebingungan. Bagaimana mungkin wanita itu bisa menolong sang kakek begitu cepat? Tapi pikirannya terhenti pada satu hal, apa maksudnya Dion akan baik-baik saja?

Nilainya sembilan koma lima! Itu sudah di luar batas aman. Itu berarti perubahan patologis total. Dalam kasus seperti itu, pasien biasanya tak akan bertahan lebih dari dua bulan, dan dalam kasus terburuk, tak akan melewati malam.

Pikiran itu menusuk Jaccob seperti pisau. Ia memalingkan wajahnya ke arah Dion, lalu kembali ke Pak Tua Leach.

Pria tua itu tampak terpukul, tapi Anita tahu ia masih menolak kenyataan pahit itu.

Jaccob menghela napas panjang. Dengan suara bergetar, ia mencoba menenangkan kakeknya.

“Kakek Leach… jangan khawatir. Dion akan baik-baik saja. Aku… aku sudah siapkan sesuatu. Ada obat yang mungkin bisa menolongnya.”

Tatapan kosong di mata Pak Tua Leach perlahan berubah menjadi secercah harapan.

“Kalau begitu,” katanya tergesa, “ambil obat itu sekarang juga! Apa pun harganya, kita harus mendapatkannya.”

Jaccob menunduk. Wajahnya menegang, nada suaranya berubah muram.

“Tapi… obat itu milik Sanchez Group,” katanya pelan. “Jumlahnya sangat sedikit. Belum dijual secara umum. Hanya ada sepuluh vial di seluruh dunia. Ini bukan soal uang… atau kekuasaan. Ini soal siapa yang sanggup mendapatkannya lebih dulu.”

Ruangan mendadak sunyi.

Hanya terdengar bunyi tik-tok… tik-tok… jam dinding, dan napas Dion yang berat di ranjang.

Pak Tua Leach menatap kosong ke arah cucunya yang terbaring. Tubuhnya gemetar, bibirnya bergetar tanpa suara.

Anita menunduk, mengepalkan tangan di pangkuannya. Dalam hati ia bersumpah, apa pun yang terjadi, ia tidak akan membiarkan Dion mati begitu saja.

---

Bersambung.....

1
Maycosta
Tetap sehat dan semangat sukses selalu ya
Noona Manis Manja: Terimakasih kk 😍
Salam sukses untukmu juga 🤗
total 1 replies
Binay Aja
tetap semangat nulisnya 💚
Noona Manis Manja: Terimakasih kk , tetap semangat juga untukmu ... salam kenal juga 🙏🏻
total 1 replies
Binay Aja
Hai, kak. Salam kenal cerita nya seru. jika berkenan singgah ke rumah ku yuk, Sentuhan Takdir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!