NovelToon NovelToon
ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

ARTHUR: Warisan Yang Tidak Lengkap

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: DavidTri

Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.

Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.

Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...

baca novelnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29 - Nama yang Tidak Pernah Dihapus

-~- Nama yang Tidak Pernah Dihapus

Dokumen itu tidak tebal.

Hanya beberapa lembar kulit tua yang telah menguning jenis arsip yang tidak pernah ditunjukkan pada publik, tidak pernah disalin, dan tidak pernah diakui keberadaannya.

Arthur membacanya tanpa suara.

Toxen berdiri di sisi kanan. Lucien di sisi kiri. Tidak ada yang bertanya, karena ekspresi Arthur sudah cukup memberi tahu:

ini bukan kabar baik, tapi juga bukan kejutan.

“Variabel Tidak Stabil,” gumam Lucien, membaca judul kecil di bagian atas. “Itu istilah Wilayah Pusat untuk… orang yang tidak bisa mereka kendalikan.”

Arthur mengangguk pelan.

Nama Moren muncul berulang kali. Bukan sebagai pengkhianat. Bukan sebagai pemberontak.

Melainkan sebagai anomali.

> Subjek menolak konsesi politik.

Subjek menyalurkan sumber daya secara non-strategis.

Subjek menunjukkan kecenderungan melindungi kelompok tanpa nilai kekuasaan.

Arthur berhenti di satu kalimat.

> Jika dibiarkan, pola ini akan melemahkan struktur aristokrasi Tirpen.

Ia menutup dokumen itu perlahan.

“Jadi…,” kata Toxen akhirnya, “ayahmu dianggap berbahaya bukan karena kekuatannya.”

Arthur mengangkat pandangan. “Tapi karena arah hidupnya.”

Malam itu, di ruang yang sama, Marquis Florence dipanggil. Ketika ia membaca dokumen itu, wajahnya tidak terkejut hanya berat.

“Aku pernah mendengar rumor ini,” katanya pelan. “Tapi melihatnya tertulis… berbeda rasanya.”

Lucien mengepalkan tangan. “Mereka menghancurkan keluarga Moren karena ayah Arthur memberi makan orang lapar?”

Florence menghela napas. “Tidak sesederhana itu.”

Ia berjalan ke jendela, memandang cahaya obor di luar benteng.

“Yang Moren lakukan,” lanjutnya, “adalah mengajari rakyat bahwa mereka bisa bertahan tanpa bergantung penuh pada bangsawan.”

Arthur menegang.

“Itu ketakutan terbesar Wilayah Pusat,” kata Florence. “Bukan pemberontakan. Tapi kemandirian.”

Sementara itu, jauh di Aurelion Prime, seorang pria berdiri di depan meja batu hitam. Rambutnya memutih di pelipis, tapi matanya tajam.

“Arthur Moren masih hidup,” kata bawahannya.

Pria itu tersenyum tipis. “Tentu saja.”

“Dan dia mulai berpikir seperti ayahnya.”

Senyum itu menghilang.

“Kalau begitu,” katanya, “dia akan sampai pada pertanyaan yang sama.”

“Pertanyaan apa, Tuanku?”

Pria itu berbalik.

“Berapa banyak nyawa yang harus dikorbankan… agar sistem tetap berdiri.”

 

Kembali ke medan perang, Ervin akhirnya muncul di hadapan Arthur bukan sebagai musuh atau pria misterius lagi, bukan sebagai sekutu juga.

Mereka bertemu di dataran berkabut, hanya ditemani dua penjaga masing-masing.

“Kau tidak menyerang,” kata Ervin. “Kau tidak bertahan. Kau membuat semua orang takut bergerak.”

Arthur menatapnya tenang. “Karena mereka semua terlalu terbiasa diperintah.”

Ervin tertawa kecil. “Kau benar-benar anak Moren.”

Ia menjadi serius. “Tapi dengarkan aku. Duke New Gate bukan lagi ancaman utama.”

Arthur mengangkat alis.

“Wilayah Pusat sudah memperhatikanmu,” lanjut Ervin. “Dan saat mereka turun tangan, enam organisasi hanyalah pion.”

Arthur mengingat tanda tangan di dokumen itu.

Nama yang seharusnya mati.

“Kau tahu siapa yang menandatangani arsip itu?” tanya Arthur.

Ervin terdiam sejenak. Lalu mengangguk.

“Dan kau juga tahu… dia masih hidup.”

Kabut bergerak.

“Aku tidak bisa memberimu nama,” kata Ervin. “Tapi aku bisa memberimu peringatan.”

Arthur menatapnya tajam.

“Jika kau terus menang tanpa memerintah… Kekaisaran akan menganggapmu ancaman ideologis.”

Arthur tersenyum samar.

“Berarti aku berada di jalan yang benar.”

Ervin menatapnya lama lalu berbalik pergi.

 

Di malam yang sama, Arthur berdiri sendirian di balkon benteng Florence. Angin membawa bau besi dan tanah basah.

Ia teringat surat ulang tahun dari keluarganya.

Tulisan tangan ibunya.

Nada tenang ayahnya.

Memaafkan dunia bukan berarti menyerah padanya.

Arthur mengepalkan tangan.

Perang ini bukan lagi soal Florence.

Bukan soal New Gate.

Bukan soal enam organisasi.

Ini tentang siapa yang berhak menentukan arah dunia.

Dan jauh di Wilayah Pusat, lonceng berbunyi empat kali.

Tanda bahwa Dewan Kekaisaran mulai bergerak.

 

Sebuah dekret kekaisaran dikirim ke semua wilayah Tirpen:

> Atas nama stabilitas, satu pihak dalam konflik ini akan “diamankan” secara langsung oleh Kekaisaran Valerion.

Dan di bagian bawahnya, tertulis satu nama tujuan:

Wilayah Florence.

-~- Tangan yang Mengaku Netral

Dekret itu tiba saat fajar.

Bukan dibawa utusan biasa, melainkan empat Penjaga Aurelion armor putih berlapis emas, simbol bahwa Kekaisaran tidak datang untuk berdiskusi, melainkan memastikan kepatuhan.

Arthur berdiri di aula benteng Florence ketika segel lilin kekaisaran dipecahkan. Suara retaknya kecil, tapi gema maknanya terasa sampai ke tulang.

Marquis Florence membaca tanpa ekspresi.

Lucien menahan napas.

Toxen menggeser langkah setengah tapak ke belakang Arthur gerakan refleks seorang pelindung, bukan pelayan.

> Demi stabilitas Tirpen, Kekaisaran Amarum akan mengambil alih pengamanan wilayah Florence untuk sementara waktu.

Sementara waktu.

Itu selalu berarti tanpa batas.

> Segala bentuk mobilisasi militer independen harus dihentikan.

Penerus keluarga Moren diminta tetap berada di wilayah Florence demi “keamanan bersama”.

Arthur tersenyum tipis.

“Mereka menyebut ini perlindungan,” katanya pelan. “Padahal ini kandang.”

Florence menutup dekret itu perlahan. “Dan jika kita menolak…”

“Saat itulah mereka berhenti berpura-pura netral,” jawab Arthur.

Penjaga Aurelion yang tertua melangkah maju. Suaranya tenang, hampir sopan.

“Kami hanya memastikan tidak ada pihak yang terlalu… dominan disini.”

Arthur menatapnya langsung.

“Dominan dalam apa?”

Penjaga itu berhenti sejenak terlalu singkat untuk disebut ragu, terlalu lama untuk disebut yakin.

“Dalam pengaruh.”

 

Hari itu, pasukan Kekaisaran mulai memasuki wilayah Florence. Mereka tidak menyerang. Tidak merampas. Tidak menyakiti.

Mereka mengganti.

Menempatkan komandan baru.

Mengubah jalur suplai.

Mengambil alih gerbang.

Dan yang paling berbahaya, mereka berbicara dengan rakyat menggunakan kata-kata yang terdengar masuk akal.

Arthur mengamati dari menara.

“Mereka tidak ingin kita kalah,” kata Lucien. “Mereka ingin kita… bergantung.”

Arthur mengangguk. “Ayahku pernah bilang rantai yang paling kuat adalah yang terasa nyaman.”

 

Malamnya, sebuah laporan rahasia tiba dari Borein.

> Dua dari dua puluh mata-mata berhasil mengidentifikasi pihak ketiga.

Bukan New Gate. Bukan Polein.

Orang-orang Wilayah Pusat sudah lama berada di dalam benteng Florence.

Arthur menutup mata sejenak.

“Berapa lama?” tanya Toxen.

“Lebih lama dari perang ini,” jawab Arthur. “Mungkin lebih lama dari aku lahir.”

Di saat yang sama, jauh di ibu kota Kekaisaran Valerion – Istana Valecarion—Dewan Perwakilan Rakyat Tinggi sedang berkumpul.

Seorang wanita berjubah hitam membuka laporan.

“Subjek Arthur Moren menunjukkan pola pikir yang sama seperti ayahnya.”

Seorang pria tua tertawa pelan. “Itu berarti satu hal.”

Wanita itu mengangguk.

“Dia tidak bisa dibeli.”

Ruangan hening.

“Kalau begitu,” kata suara lain, dingin dan datar,

“dia harus dipatahkan sebelum menjadi simbol.”

 

Kembali di Florence, Arthur berdiri sendirian di ruang arsip lama. Ia membuka laci tersembunyi tempat Hendry dulu menyimpan barang-barang yang tidak boleh diketahui siapa pun.

Di sana, hanya ada satu cincin tua.

Ukirannya hampir pudar.

Lambang keluarga Moren versi lama.

Versi yang tidak pernah tercatat secara resmi.

Arthur menggenggamnya.

Untuk pertama kalinya, ia tidak bertanya apakah ia siap.

Ia hanya bertanya:

“Jika aku melangkah lebih jauh…

siapa yang akan ikut tenggelam bersamaku?”

Dari balik bayangan rak, suara tua menjawab lirih.

“Lebih banyak dari yang kau kira.”

Arthur menegang.

Sosok itu melangkah keluar bukan Hendry, bukan Toxen.

Seorang pria tua dengan mata yang pernah melihat terlalu banyak akhir.

“Asean…?” Arthur berbisik.

Pria itu mengangguk.

“Aku tidak pernah pergi,” katanya. “Aku hanya menunggu saat kau cukup berbahaya untuk diberi tahu sisanya.”

 

Asean menatap Arthur dalam-dalam dan berkata:

“Jika kau ingin melawan Kekaisaran tanpa mengangkat pedang… kau harus siap kehilangan nama Moren.”

Dan di kejauhan, bendera Kekaisaran dikibarkan di atas salah satu menara Florence.

1
MARDONI
Wahhh seru banget nih! 😮💥 Arthur harus pergi jauh sebelum ulang tahun ke-18, tapi malah bertemu Borein dari kelompok yang mengawasi keluarganya! 😱 Borein bilang ada yang mau Arthur mati atau hancur perlahan, bahkan kasih cincin tua dengan lambang keluarga Moren yang retak! 😯 Pas Borein bilang ayah Arthur juga buat keputusan besar di usia 18 tahun, Arthur jadi curiga sama Hendry yang selalu bilang cuma pelayan biasa. Akhirnya Arthur minta Hendry cerita tentang dirinya sendiri di perjalanan besok - beneran penasaran banget sama rahasia Hendry dan apa yang terjadi sama keluarga Arthur dulu! 💖✨
izmie kim
kejujuran biasanya akan terdengar menyakitkan tapi bila kita tau yang sebenarnya rasa sakit itu akan lebih sedikit lega
izmie kim: betul banget kunci dari segala hal di mulai dari kejujuran
total 2 replies
Indira Mr
kapan harus baik kapan harus berhenti??
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: kebaikan datang saat di perlukan aja, buat kebaikan seakan barang berharga butuh biaya yang besar untuk memberi nya.🔥🔥😄
total 1 replies
Indira Mr
mendengarkan angin,air, daun
cimownim
si dunia asli pun banyak orang yang suka memanfaatkan orang lain/Frown/
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: benar tuh😄
total 1 replies
putrijawa
kebetulan yg di sengaja kah?🤔
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: disengaja sama author🤔😂
total 1 replies
evrensya
Quotes yg bagus✊
evrensya
wah tanda2 anak yg cerdas
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: nanti pas udah dewasa bakal cerdas beneran kak🔥
total 1 replies
♡✿⁠Almi_Wahy
waw luar biasa, ceritanya seruu, semangat terus thorr
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: makasih kak🔥
total 1 replies
MARDONI
WOWWW SERU PARAHHH!!! 😱✨ Paman Norvist yang mendengar percakapan Arthur terus ke sana ada kelompoknya Clorfin, Permo, Ervin, Forlen, Vastorci sama Borein tuh kayak siap buat apa aja gitu! 😨 Hendry yang selalu ada buat Arthur bikin hati hangat banget, pas dia bilang gak akan pergi jauh dan siap melindunginya! 🥰 Moren yang merasa bersalah sama Isabel dan Norvist juga bikin emosi banget, padahal dia cuma mau bantu orang aja kan? 😢 Terus pas Hendry punya simbol rahasia tuh bikin penasaran banget!! Semoga Arthur bisa aman dan Hendry bisa selalu ada buat dia deh!
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: semoga aja sih kak😄
total 1 replies
izmie kim
karna gak semua kebaikan akan di balas kebaikan karna , terkadang manusia berhati busuk akan memanfaatkan kebaikan orang lain demi keuntungan dirinya sendiri
putrijawa
orang² yg cuma manfaatin kebaikan orang lain
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel
benar, btw Otra Heos kalau dibaca dari belakang bakal jadi...
Indira Mr
masih bingung artinya kehilangan tanpa membalas dengan kebencian.
Indira Mr
100 persen benar
MARDONI
Merinding waktu ayah Arthur tiba-tiba berkata, “Sialann!? Bagaimana bisa mereka…” sebelum pintunya tertutup 😭🔥 Dari suasana hangat penuh tawa pas Norvist main sama Arthur, tiba-tiba berubah jadi tegang banget dalam hitungan detik. Arthur yang kecil itu cuma bisa berdiri bingung dengan kegelisahan yang belum ia pahami, dan aku ngerasa kayak ada badai besar yang lagi disiapin buat keluarganya 🥺 Hendry yang berusaha nenangin dengan menyebut Raja Arthur juga bikin hati hangat sekaligus was-was, karena rasanya kalimat itu bukan cuma penghiburan… tapi pertanda kalau perjalanan Arthur bakal jauh lebih besar dari yang dia bayangkan sekarang.
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: keren kak udah langsung nangkep gimana alur kedepannya 🗿🔥
total 1 replies
izmie kim
kehadiran anak seperti pelita yang tidak pernah padam
izmie kim
raja ARTUR
♡✿⁠Almi_Wahy
semangat terus thorr, cerita nya bagus....
cimownim
Tuan Muda Artur😍
David ☚⍢⃝☚ Rajin Up Novel: /Drool//Drool/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!