Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.
Kecuali Karina.
Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.
Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12 - Pertemuan Terakhir
Jam di dinding kafe itu berdetak pelan, nyaris tidak terdengar.
00.17.
Karina baru menyadarinya ketika Adelia menoleh dan menghela napas kecil.
“Sudah tengah malam,” kata Adelia, seperti baru saja terbangun dari mimpi.
Karina menoleh ke arah jam. Dadanya terasa mengencang, seolah waktu baru saja mengkhianatinya.
“Cepat banget,” gumam Karina.
Mereka berdua terdiam. Tidak ada yang langsung berdiri. Tidak ada yang ingin menjadi orang pertama yang mengakhiri malam itu.
“Kita harus pulang,” ujar Adelia akhirnya, walau nadanya tidak sepenuhnya yakin.
Karina mengangguk… tapi tubuhnya tidak bergerak.
Ia masih ingin duduk di sana. Di momen ini. Di ruang kecil yang terasa aman. Di dunia yang belum menuntut apa pun darinya.
“Del…” suara Karina lebih pelan dari biasanya. “Kita ketemu lagi besok kan?”
Adelia tersenyum. “Tentu. Dunia nggak akan runtuh dalam semalam.”
Karina ikut tersenyum, tapi ada sesuatu yang retak di dadanya.
Mereka berdiri. Membayar. Melangkah keluar ke udara malam yang dingin.
Di parkiran yang hampir kosong, lampu jalan memantulkan bayangan mereka di aspal basah. Tidak ada suara selain langkah kaki dan dengung kota yang mulai tertidur.
Adelia membuka pintu mobilnya, lalu berhenti.
“Kar,” katanya.
Karina menoleh.
Adelia membuka tangan. Tanpa kata.
Karina tidak ragu. Ia melangkah masuk ke pelukan itu.
Awalnya singkat.
Lalu lebih lama.
Dan lebih lama lagi.
Karina menggenggam jaket Adelia, jarinya gemetar. Dadanya naik turun tidak teratur.
Air mata menetes tanpa aba-aba.
“Kar?” Adelia menegang sedikit. “Kenapa nangis?”
Karina menggeleng, wajahnya menempel di bahu sahabatnya.
“Aku…” suaranya pecah. “Aku belum siap melepaskan waktu ini.”
Adelia terdiam.
“Aku capek jadi kuat terus,” lanjut Karina lirih. “Aku pengen… berhenti sebentar. Di sini.”
Adelia mengusap punggung Karina perlahan. “Kamu nggak kehilangan ini,” katanya lembut. “Kita cuma pulang. Besok masih ada.”
Karina mengangguk, walau air matanya belum berhenti.
Mereka berpisah perlahan. Terlalu perlahan.
“Pulang yang aman,” kata Karina.
“Kamu juga,” jawab Adelia. “Jangan lupa kabari kalau sudah sampai.”
Karina melihat Adelia masuk ke mobilnya, melambaikan tangan kecil sebelum kendaraan itu menjauh.
Karina berdiri beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.
Ada perasaan aneh di dadanya.
Seperti baru saja melepas sesuatu yang tidak akan kembali.
...----------------...
Rumah Adelia sunyi.
Lampu ruang tamu menyala redup ketika ia masuk. Sepatunya dilepas sembarang. Jaket digantung asal.
Ia menghela napas panjang, bersandar sejenak di pintu.
Malam ini terasa… berat.
Teleponnya bergetar. Pesan dari Karina.
Sudah sampai?
Adelia tersenyum kecil, baru akan membalas—
Sebuah lengan tiba-tiba melingkar kuat di lehernya dari belakang.
Terlalu cepat.
Terlalu kuat.
Udara terpotong.
Adelia berusaha meronta, tapi genggaman itu presisi. Latihan. Terbiasa.
Pandangan Adelia menggelap sebelum ia sempat berteriak.
...----------------...
Ketika ia sadar, kepalanya terasa berat.
Lantai dingin di bawah pipinya.
Tangannya terikat.
Napasnya pendek-pendek.
Seseorang duduk di depannya.
Tidak terburu-buru.
Tidak panik.
“Kamu polisi,” suara itu tenang. Hampir ramah. “Aku tahu kamu bisa bertahan.”
Adelia menatap siluet di depannya. Gelap menelan wajah itu.
“Apa… yang kamu mau?” suara Adelia serak.
“Jawaban,” balasnya ringan. “Dan mungkin… pengakuan.”
“Kenapa aku?” Adelia menelan ludah. “Apa salah aku?”
Hening sejenak.
“Kamu dekat dengan Karina.”
Nama itu meluncur seperti pisau.
Jantung Adelia berdetak lebih cepat.
“Ada apa dengan Karina?” tanya Adelia, suaranya bergetar. “Kenapa kamu melakukan semua ini?”
Udara berubah.
Sesuatu dalam diri pelaku… bergeser.
Tanpa peringatan, pukulan keras menghantam wajah Adelia.
Dunia berputar.
“Kamu terlalu banyak bertanya,” kata suara itu dingin.
Adelia berusaha tetap sadar. Rasa sakit menjalar, tapi pikirannya masih bekerja.
“Kamu kenal dia,” bisiknya. “Kamu salah satu dari kami.”
Hening.
Lalu tawa pendek. Tidak lucu.
“Aku beri kamu dua pilihan,” kata pelaku akhirnya. “Berteriak… atau diam.”
Adelia tahu.
Pilihan itu tidak pernah nyata.
Pukulan berikutnya datang lebih keras.
Gelap menelan semuanya.
...****************...
Pagi datang tanpa tahu apa yang terjadi semalam.
Adelia Christy ditemukan tak bernyawa.
Tidak ada tanda perlawanan berarti.
Tidak ada sidik jari.
Tidak ada jejak sepatu.
Tidak ada kamera yang menangkap apa pun.
Hanya satu hal.
Di lantai.
Ditulis dengan darah.
A
Satu huruf.
Satu pesan.
Dan permainan itu… dimulai kembali.
...****************...
Karina terbangun seperti pagi-pagi sebelumnya.
Alarm belum berbunyi. Cahaya matahari masuk tipis melalui celah gorden. Dunia tampak… normal.
Terlalu normal.
Ia bangun, duduk di tepi ranjang, mengusap wajah. Malam tadi terasa berat, tapi ia tidak mengingat mimpi apa pun. Hanya ada sisa kelelahan yang menempel di tulang.
Telepon di meja bergetar.
Nama Arga muncul di layar.
Karina mengernyit. Terlalu pagi untuk panggilan biasa.
“Kar,” suara Arga terdengar cepat, tertahan. “Ada kasus.”
Karina langsung berdiri. “Kasus apa?”
“Homicide.”
Tidak ada detail lain. Tidak ada nama. Tidak ada konteks.
“Lokasi?” tanya Karina singkat.
Arga menyebutkan alamat.
Karina terdiam sepersekian detik.
Ada sesuatu yang… tidak enak.
Alamat itu terdengar familiar. Terlalu familiar.
Namun profesionalitasnya bergerak lebih cepat daripada instingnya. Ia mengganti pakaian, meraih jaket, kunci mobil, dan keluar tanpa sempat berpikir lebih jauh.
...----------------...
Semakin dekat mobilnya ke lokasi, dada Karina semakin sesak.
Belokan demi belokan terasa dikenalnya. Pohon di pinggir jalan. Warung kecil di sudut gang. Lampu jalan yang sering mati.
“Kenapa aku hafal jalan ini…?” gumamnya.
Tangannya mencengkeram setir.
Kenangan muncul tanpa izin.
Tawa. Obrolan ringan. Malam-malam tanpa beban.
Rumah Del.
Karina menekan pedal gas sedikit lebih dalam.
Ketika garis polisi mulai terlihat dari kejauhan, dunia seakan melambat.
Dan saat papan alamat itu benar-benar terbaca jelas—
kakinya terasa mati rasa.
Itu rumah Adelia.
Kediaman terakhir Adelia Christy.
Karina turun dari mobil tanpa suara. Langkahnya kaku. Seolah tubuhnya berjalan lebih dulu, sementara pikirannya tertinggal di belakang.
Ia melihat Arga berdiri di dekat garis pembatas. Wajahnya tegang. Matanya langsung mencari Karina.
Namun Karina tidak melihat Arga.
Ia melihat halaman itu.
Rumah itu.
Tempat ia terlalu sering datang tanpa janji.
Tempat ia pernah tertawa paling jujur.
Karina berdiri diam.
Matanya tidak berkedip.
Ia ingin menangis.
Namun sesuatu yang lebih dingin menahannya: tanggung jawab.
Ketika tubuh polisi forensik bergerak menyingkir, kain putih itu terlihat.
Jantung Karina berhenti berdetak sejenak.
“Bukan dia…” bisiknya nyaris tanpa suara. “Tolong jangan dia.”
Ia melangkah.
Satu langkah.
Dua.
Setiap langkah terasa seperti menembus air kental.
Tangannya gemetar saat menyentuh ujung kain putih itu.
Berat.
Bukan karena kainnya.
Tapi karena maknanya.
Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk mundur.
Untuk berpura-pura tidak melihat.
Namun Karina adalah seseorang yang selalu maju, bahkan ketika itu menghancurkannya.
Ia menarik kain itu perlahan.
Perlahan.
Perlahan sekali.
Dan ketika wajah itu akhirnya terlihat—
dunia runtuh.
Adelia Christy.
Terbaring kaku.
Diam.
Tidak bernapas.
Karina menghela napas panjang, berat—seolah mengangkat batu seberat satu ton sendirian.
Dadanya sakit.
Matanya panas.
Namun air mata tidak jatuh.
Belum.
Langkah kaki mendekat.
“Kar…” suara Arga terdengar ragu.
Dan di saat itulah—
dinding terakhir dalam diri Karina runtuh.
Ia berbalik, wajahnya hancur, napasnya terputus-putus.
“Arga…” suaranya pecah.
Tangisnya meledak.
Bukan isakan rapi.
Tapi tangisan seseorang yang kehilangan tempat pulang.
Arga terkejut. Tangannya refleks memeluk Karina, meski pikirannya belum sepenuhnya memahami apa yang ia lihat.
Karina menangis sejadi-jadinya di dadanya.
Tubuhnya bergetar.
“Jasad yang di sana…” Karina terengah. “Itu sahabat aku, Ga… satu-satunya yang bikin aku bisa jujur sama diri sendiri…”
Arga menelan ludah. Dadanya ikut sesak.
Ia menggiring Karina keluar, membawanya ke mobil. Duduk di kursi penumpang. Pintu tertutup.
“Kenapa nangis?” tanya Arga, meski ia sudah tahu jawabannya.
Karina menutup wajahnya. “Karena aku nggak punya siapa-siapa lagi.”
Tiba-tiba Karina membuka pintu mobil.
“Kar!” Arga mengejar.
Namun Karina sudah berlari kembali ke dalam.
Ia berlutut di samping jasad itu.
Memeluk tubuh yang sudah dingin.
“Maaf…” bisiknya. “Aku janji nggak bakal ninggalin kamu…”
Arga berdiri di kejauhan.
Ia tidak menghentikan Karina.
Ia tahu—ini adalah perpisahan terakhir.
Ketika Karina mencoba berdiri, kakinya goyah.
Tubuhnya ambruk.
“Karina!” Arga menangkapnya tepat waktu.
Gelap menelan Karina.
...****************...
Ketika ia sadar, bau antiseptik menyambutnya.
Langit-langit putih.
Mesin berdetak pelan.
Arga duduk di samping ranjang.
“Kenapa aku di sini…?” suara Karina serak.
“Kamu pingsan,” jawab Arga pelan. “Aku bawa ke rumah sakit.”
Karina terdiam.
Ingatan kembali menghantamnya.
“Del…” suaranya nyaris tak terdengar.
Arga menunduk. “Keluarganya sudah membawa Adelia untuk dimakamkan.”
Karina langsung berusaha bangkit. “Aku harus ke sana.”
Arga menahan bahunya lembut tapi tegas. “Kar. Kamu nggak akan kuat.”
“Dia sahabat aku!” Karina menangis lagi.
“Aku tahu,” suara Arga bergetar. “Tapi kamu juga harus hidup.”
Karina menyerah.
Tangisnya pecah lagi.
Kenangan menyeruak—
Karina muda, duduk di lantai kamar, frustrasi.
Adelia memeluknya.
“Kalau dunia terlalu berat,” kata Adelia saat itu, “aku di sini.”
Karina menutup mata.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya—
ia benar-benar merasa sendirian.
...----------------...
Tidak ada yang berubah di pagi itu.
Matahari tetap terbit. Langit tetap biru pucat. Kota tetap berjalan seperti biasa.
Dan justru itulah yang membuat Karina merasa asing.
Ia duduk sendirian di bangku lorong rumah sakit, mengenakan pakaian yang sama sejak semalam. Rambutnya belum disisir. Matanya sembab, tapi kering. Air mata seolah sudah habis lebih dulu.
Perawat berlalu-lalang. Dokter berbincang pelan. Semua terdengar jauh, seperti berasal dari dunia lain.
Nama Adelia Christy belum disebut sekali pun di sekelilingnya.
Dan itu menyakitkan.
Karina menatap kedua tangannya sendiri.
Tangan yang sama yang memeluk jasad sahabatnya.
Tangan yang sama yang selama ini ia gunakan untuk menegakkan hukum.
Tangan yang kini terasa… kosong.
Arga berdiri beberapa langkah darinya, bersandar ke dinding. Ia sengaja memberi jarak. Bukan karena tidak peduli—tapi karena ia tahu, Karina butuh ruang untuk runtuh dengan caranya sendiri.
“Ga,” suara Karina akhirnya terdengar. Datar. Terlalu tenang.
Arga langsung menoleh. “Iya?”
“Aku nggak merasa marah.”
Kalimat itu membuat Arga terdiam.
“Aku juga nggak merasa pengen teriak. Atau balas dendam,” lanjut Karina pelan. “Aku cuma… hampa.”
Ia menoleh, menatap Arga untuk pertama kalinya sejak sadar.
“Dan itu yang paling menakutkan.”
Arga menarik napas panjang. “Kar…”
“Del itu tempat aku berhenti jadi polisi,” Karina memotong. “Sama dia, aku cuma jadi manusia.”
Sunyi menyelimuti mereka.
Karina menunduk lagi. “Sekarang… aku bahkan nggak tahu caranya jadi manusia tanpa dia.”
...****************...
Di ruang lain, Antono berdiri di depan papan kasus.
Foto Adelia sudah terpasang.
Tidak ada ekspresi terkejut. Tidak ada ledakan emosi.
Hanya rahang yang mengeras.
Huruf A yang ditulis dengan darah terpampang di sudut foto TKP.
Antono menatapnya lama.
Terlalu lama.
“Dia memaksa kita melihat,” gumamnya pelan. “Bukan korban… tapi diri kita sendiri.”
Seorang penyidik junior bertanya hati-hati, “Pak… apakah kita umumkan keterkaitan korban dengan Karina?”
Antono tidak langsung menjawab.
“Belum,” katanya akhirnya. “Belum sekarang.”
Karena Antono tahu—
jika Karina jatuh sekarang,
bukan hanya satu orang yang hancur.
...****************...
Sore hari, Karina akhirnya pulang.
Bukan ke rumah.
Tapi ke Rumah Adelia.
Arga tidak menghentikannya.
Kunci cadangan masih ada di tangannya.
Pintu terbuka dengan bunyi yang terlalu biasa.
Aroma ruangan itu masih sama.
Parfum ringan. Kopi. Kehangatan.
Karina berdiri di ambang pintu, tidak berani masuk.
“Del…” bisiknya.
Tidak ada jawaban.
Ia masuk perlahan.
Sofa itu. Meja itu. Cangkir yang belum dicuci.
Segalanya utuh.
Kecuali orangnya.
Karina duduk di lantai, tepat di tempat mereka sering tertawa.
Ia memeluk lututnya.
Dan untuk pertama kalinya sejak kejadian—
ia tidak menangis.
Yang ada hanya satu pikiran, berulang, menusuk:
Pelaku tahu persis ke mana harus memukul.
Bukan ke tubuh.
Tapi ke jiwa.
Karina berdiri.
Menatap pantulan dirinya di kaca jendela.
Wajahnya masih sama.
Namanya masih sama.
Jabatannya masih sama.
Tapi ada sesuatu yang bergeser.
Bukan runtuh.
Bukan hilang.
Melainkan… bergeser satu langkah ke arah yang tidak ia kenal.
“Aku nggak akan berhenti,” katanya pada bayangan dirinya sendiri. “Tapi aku juga nggak akan jadi orang yang sama lagi.”
Di luar, malam turun perlahan.
Dan entah di mana—
seseorang sedang tersenyum,
mengetahui bahwa permainannya berhasil mengubah Karina tanpa menyentuhnya secara langsung.
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y