Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.
Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.
"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."
Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.
Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Smash yang Tak Terbendung
Lapangan bulutangkis di halaman belakang Wisma Adiwinata pagi itu terasa seperti medan perang yang ringkih di bawah langit Solo yang mendung pekat.
Net terpasang tegang, membelah udara yang kental oleh aroma tanah basah sisa hujan semalam. Di samping bangku kayu usang, dua raket dan tumpukan shuttlecock baru tergeletak—seolah menunggu untuk dihancurkan.
Udara terasa berat, penuh tekanan yang belum meledak, seperti napas yang tertahan tepat sebelum jeritan pecah.
Livia berdiri di satu sisi. Kaus olahraga hitamnya yang ketat menempel basah di kulit, memetakan lekuk tubuhnya yang tegang oleh keringat dingin.
Celana pendeknya memperlihatkan paha jenjang yang selalu selalu Rangga puja.
Ia menggenggam raket begitu kuat hingga buku jarinya memutih, seolah ingin meremukkan gagangnya.
Matanya tidak lagi menunjukkan keramahan; di balik topeng "menantu idaman" yang ia pakai saat sarapan tadi, ada api dendam yang berkobar. Luka dan amarah itu mengukir garis tajam di rahangnya.
Rangga berdiri di seberang, mengenakan kaus timnas lama yang agak longgar—seragam kebanggaan yang dulu Livia sering cium baunya. Ia mencoba melempar senyum kecil—senyum yang ia harap bisa menjadi jembatan untuk kekacauan semalam, untuk kesepakatan pahit yang mengikat mereka.
"Sudah lama kita tidak main bareng," suaranya serak, hampir terdengar seperti memohon. "Pemanasan dulu, Liv?"
Livia hanya mengangguk kaku. Bibirnya membentuk garis tipis yang dingin, seolah mengunci setiap kata busuk yang ingin keluar. "Mulai saja."
Awalnya, mereka bermain dengan rally ringan. Servis pelan, pengembalian standar. Rangga bermain hati-hati, menjaga jarak karena tahu Livia baru pulih dari cedera. Ia ingin momen ini menjadi ruang untuk bicara, untuk meminta maaf, untuk membuktikan bahwa ia benar-benar memilih istrinya—bukan hanya karena kesepakatan bisnis gila yang mereka buat.
Tapi Livia punya rencana lain.
Smash pertamanya menghujam seperti petir. Keras, tajam, membuat udara bersiul saat shuttlecock meluncur.
Rangga terperangah, nyaris terlambat melakukan drop shot. Livia tidak memberi napas. Ia melompat tinggi—sebuah gerakan brutal yang membuat rambutnya berantakan—dan melepaskan smash kedua yang lebih ganas.
Plak!
Suara hantaman ke lantai semen itu bergema seperti tembakan senjata api.
"Smashmu... masih mematikan, Liv," Rangga menghela napas, mencoba tetap tenang meski jantungnya mulai berpacu liar.
Otot-otot di lengannya menegang, siap siaga.
Livia tidak menjawab. Ia justru melakukan servis dengan tenaga penuh. Shuttlecock itu meluncur rendah, nyaris mencium net, lalu menukik tajam.
Saat Rangga mengembalikan bola, Livia sudah menunggu di depan net. Ia menghantam bola itu langsung ke arah betis Rangga.
Pria itu tersentak, "Liv... pelan-pelan. Ini latihan, bukan final kejuaraan dunia!" Rangga tertawa kecil sambil menggosok betisnya yang memerah.
Senyumnya pudar, digantikan kening yang berkerut.
Livia menatapnya dengan pandangan kosong yang mengerikan. Napasnya memburu, dadanya naik-turun dengan cepat.
"Bukankah kamu bilang aku harus latihan lagi? Aku kangen bulutangkis, Rangga. Aku kangen merasakan kekuatan di tanganku. Aku kangen... menghancurkan sesuatu. Terutama yang rapuh dan licik."
"Apa maksudmu?" suara Rangga menajam.
Permainan berubah menjadi pembantaian emosional.
Livia bergerak seperti predator. Setiap gerakannya kacau tapi bertenaga, seolah ia sedang melampiaskan tiap tetes amarah yang selama ini ia telan bulat-bulat.
Beberapa shuttlecock hancur, bulunya rontok tak berbentuk karena hantaman yang terlalu brutal.
Satu smash nyaris mengenai pelipis Rangga; pria itu menunduk tepat waktu sebelum bola itu menghantam pagar kayu hingga berderit keras.
"Liv, stop!" Rangga berteriak, napasnya tersengal. Ia meletakkan raket, tangannya memegang dada yang mulai sesak. "Kita istirahat. Kamu sudah berlebihan."
Livia tidak peduli. Ia menyambar shuttlecock baru. "Main terus. Aku belum selesai denganmu."
Ia memukul lagi, dan kali ini, bola itu menghantam tepat di dada Rangga. Pria itu terhuyung, kehilangan keseimbangan, dan jatuh terduduk di lapangan yang kasar.
Rangga memegangi dadanya, batuk keras, udara seakan direnggut paksa dari paru-parunya.
Livia melangkah maju, melewati net, berdiri tegak di atas suaminya yang masih meringis. Matanya berkilat—bukan lagi karena amarah, tapi karena luka yang menganga, memperlihatkan jurang di antara mereka.
"Kamu pikir aku bisa terus berpura-pura?" suaranya rendah, bergetar hebat oleh emosi. "Kamu pikir aku bisa tersenyum di dapur, belajar bahasa Jawa, dan jadi istri penurut sementara aku tahu kamu hampir meninggalkanku malam sebelum pernikahan kita? Kamu mempertimbangkan wanita itu sebagai jalan keluar! Padahal kita di sini—" Livia menunjuk lantai semen di antara mereka dengan ujung raketnya, "—terikat bukan karena cinta, tapi karena kebutuhan!"
Rangga berusaha bangkit, matanya memerah. "Kesepakatan itu pilihan kita berdua, Livia! Jangan memutarbalikkan fakta!"
"Pilihan?" Livia tertawa getir, suara yang lebih menyakitkan daripada tangisan. "Kamu bilang pilihan? Kamu menyetujui pernikahan kontrak ini demi menyelamatkan bisnismu. Aku menyetujuinya demi menyelamatkan nama keluargaku! Mana letak pilihan yang tulus di sana? Kamu biarkan aku percaya bahwa aku adalah satu-satunya, padahal aku hanya pilihan yang tersisa—pilihan terbaik untuk transaksimu!"
"Jangan bicara seolah-olah kamu korban, Livia!" Rangga akhirnya meledak. Ia bangkit berdiri, lebih tinggi dari Livia, bayangannya menutupi istrinya.
Wajahnya merah padam, otot rahangnya menonjol. "Kamu juga butuh aku! Kamu butuh keluarga ini! Jangan berpura-pura bahwa ini semua hanya salahku. Kita sepakat untuk hidup bersama selamanya, bukan hanya untuk kontrak bodoh, tapi demi masa depan yang kita bangun! Kita akan berhasil!"
"Berhasil?" Livia balas membentak, suaranya naik satu oktaf. "Setelah kamu sempat berpikir untuk kabur dengan Nadia? Setelah kamu sembunyikan kenyataan bahwa kamu masih meragukanku bahkan setelah dia pergi? Kamu pikir aku akan melupakan itu semua dan hidup selamanya dengan orang yang tidak pernah benar-benar memilihku?"
"Aku memilihmu! Aku selalu memilihmu!" Rangga meraung, frustrasi meluap dari setiap pori-porinya. Ia meraih bahu Livia dengan kasar, mengguncangnya sedikit. "Apa lagi yang harus kulakukan, Livia? Aku sudah menolaknya! Aku sudah bersumpah kepadamu! Aku sudah mencoba membuatmu percaya!"
"Cukup!" Livia berteriak, air mata yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah, mengalir deras di pipinya.
Ia mendorong Rangga sekuat tenaga. "Jangan sentuh aku! Kamu merusak segalanya! Kamu merusak kepercayaanku! Kamu merusak kesepakatan kita yang seharusnya tanpa drama bodoh seperti ini!"
"Tanpa drama?" Rangga mengejek, tawa pahit keluar dari bibirnya. "Kamu pikir cinta itu tanpa drama, Livia? Kamu pikir hidup itu tanpa drama? Sejak kapan kita berjanji untuk hidup seperti robot? Ini hidup, Livia! Ini pernikahan!"
Ia maju lagi, kali ini lebih cepat, mengabaikan dorongan Livia. Ia menarik lengan istrinya, mendekapnya erat ke tubuhnya yang bergetar. Livia meronta, memukul dada Rangga dengan tinju-tinju kecil yang terasa seperti tamparan di hatinya.
"Lepaskan! Aku benci kamu!"
Rangga tidak melepaskan. Ia memeluk Livia erat, seolah takut jika ia melepaskannya, Livia akan lenyap selamanya, membawa serta janji pernikahan yang mereka coba pertahankan.
"Aku tahu aku salah. Aku tahu aku bodoh. Tapi kamu tetap milikku, Livia. Dan aku milikmu. Kita terikat, ingat? Dengan cara apa pun, kita terikat!" bisiknya, suaranya pecah.
Livia berjuang sejenak, tapi akhirnya tubuhnya lemas dalam pelukan Rangga. Ia terisak keras di dada Rangga, air mata membasahi kaus Rangga yang sudah berkeringat. "Aku benci kamu..." bisiknya parau, suara penuh luka.
Ada sensasi aneh yang merayap di bawah kulit Livia. Bagaimana mungkin ia bisa membenci pria ini sedalam samudera, namun di saat yang sama, gairah itu tetap meledak-ledak di dalam dadanya?
Sebuah perasaan kacau yang belum pernah ia rasakan dengan Mateo atau pria mana pun.
Rangga menciumi kening Livia berulang kali, air matanya jatuh membasahi rambut istrinya. "Aku tahu. Aku tahu. Dan aku akan buktikan, aku akan buktikan setiap hari sampai kamu percaya lagi. Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi. Kita akan membuat ini berhasil, Livia. Aku bersumpah."