NovelToon NovelToon
Identitas Tersembunyi Panglima

Identitas Tersembunyi Panglima

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Perperangan / Keluarga / Raja Tentara/Dewa Perang
Popularitas:30.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.

Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.

Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.

Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.

Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Malam Penghakiman

Safe House Orion Group. Pukul 23:45.

Jay memarkirkan mobil SUV yang penuh lubang peluru itu di basement sebuah gedung apartemen mewah yang dijaga ketat oleh orang-orang Leon.

Angeline masih syok, tapi kehadiran Leon yang menyambutnya dengan wajah tenang dan profesional membuatnya sedikit lega.

"Nyonya Angeline, silakan lewat sini. Tim medis kami akan memeriksa Anda," kata Leon sopan. "Kamar Anda di lantai atas sudah disterilkan. Tidak ada yang bisa masuk tanpa izin biometrik saya."

Angeline menoleh ke arah Jay, memegang tangannya erat-erat, enggan melepaskan.

"Kau tidak ikut naik?"

"Aku harus mengurus mobil ini dan... melapor ke kantor polisi pusat untuk memberikan keterangan saksi," dusta Jay, mengelus punggung tangan istrinya. "Prosedurnya panjang. Kau istirahatlah duluan. Aku akan menyusul sebelum matahari terbit."

"Janji?"

"Janji."

Setelah Angeline masuk ke lift bersama Leon, senyum lembut di wajah Jay lenyap seketika. Tatapannya berubah menjadi tatapan predator.

Ia berjalan menuju sebuah van hitam tak bertanda yang terparkir di sudut basement. Pintu van terbuka. Di dalamnya, Ghost sedang duduk di depan layar monitor ganda, sementara Whiskey sedang memoles laras senapan serbu.

"Ganti baju, Komandan," kata Whiskey sambil melempar sebuah tas duffel. "Tuksedo itu terlalu bagus untuk kena cipratan darah."

Jay masuk ke dalam van. Dua menit kemudian, ia keluar mengenakan setelan tempur taktis full-black. Rompi anti-peluru, sarung tangan taktis, dan sebuah masker wajah hitam polos.

Di samping van, sebuah motor sport hitam custom 1000cc sudah menunggu. Mesinnya menderu rendah seperti harimau yang menggeram.

"Di mana target?" tanya Jay sambil memasang earpiece.

"Jalan Pantai Utara KM 40," lapor Ghost. "Konvoi tiga mobil. Kecepatan 120 km/jam. Mereka panik, menuju pelabuhan pribadi untuk kabur lewat laut."

Jay menaiki motor itu, memasang helm hitam full-face.

"Echo?"

"Sudah di posisi. Menunggu perintah tembak," suara Echo terdengar tenang di tengah deru angin pantai.

Jay menarik gas.

"Tidak ada penahanan," perintah Jay dingin. "Musnahkan."

Motor itu melesat keluar dari basement, membelah malam menuju utara.

Jalan Pantai Utara. Pukul 00:30.

Jalanan itu gelap, hanya diterangi lampu jalan yang berkedip sekarat. Di sebelah kiri adalah tebing batu cadas, di sebelah kanan adalah laut lepas yang bergemuruh menghantam karang.

Tiga mobil SUV lapis baja milik Black Sun melaju kencang dalam formasi rapat.

Di dalam mobil tengah, Mr. K duduk dengan wajah pucat, memeluk koper berisi dokumen rahasia dan emas batangan.

"Lebih cepat!" bentak Mr. K pada sopirnya. "Kenapa lambat sekali?!"

"Mesinnya aneh, Bos! Indikator panasnya naik drastis!" keluh sopirnya.

Tentu saja. Ghost baru saja meretas sistem elektronik mobil mereka dari jarak jauh, mematikan sistem pendingin mesin.

Tiba-tiba, lampu jalan di sepanjang satu kilometer ke depan padam serentak.

Gelap gulita.

"Apa itu?! Siapkan senjata!" teriak Mr. K histeris.

DOOOR!

Sebuah peluru kaliber .50 dari senapan anti-materiel milik Echo menghantam blok mesin mobil paling depan. Mesin mobil itu meledak seketika. Mobil SUV seberat dua ton itu terpelanting, berguling-guling di aspal seperti mainan, lalu berhenti dalam kondisi terbalik dan terbakar.

Konvoi berhenti mendadak.

"Mundur! Mundur!" teriak pengawal di mobil belakang.

Namun, sebelum sopir mobil belakang sempat memindah gigi mundur, sebuah bayangan hitam meluncur dari atas tebing.

Whiskey mendarat di atap mobil belakang.

"Paket kilat!" gumam Whiskey sambil menempelkan sebuah lempeng peledak C4 di kaca depan, lalu melompat menjauh.

BLAAAAR!

Ledakan terarah menghancurkan kaca depan dan melumpuhkan pengemudi serta pengawal di dalamnya seketika.

Tinggal satu mobil tersisa. Mobil tengah. Mobil Mr. K.

Mr. K terkunci di dalam. Depan api, belakang api.

"Keluar! Tembak apa saja yang bergerak!" perintah Mr. K pada empat pengawal elitnya yang tersisa.

Pintu mobil terbuka. Para pengawal keluar, membentuk formasi bertahan dengan senapan otomatis, membidik ke kegelapan.

Di kejauhan, terdengar suara raungan mesin motor yang mendekat dengan kecepatan gila.

Satu titik lampu depan muncul, meliuk-liuk di antara puing-puing mobil yang terbakar.

"Tembak motor itu!"

Para pengawal memberondongkan peluru.

Tapi pengendara motor itu Jay melakukan manuver yang tidak masuk akal. Ia memiringkan motornya hingga nyaris menyentuh aspal, menghindari jalur peluru, lalu menarik rem tangan mendadak.

Motor itu melakukan slide panjang, berputar 360 derajat.

Saat motor masih meluncur, Jay melompat turun, berguling di aspal, dan bangkit dalam posisi menembak dengan dua pistol peredam suara di tangannya.

Phut. Phut. Phut. Phut.

Empat tembakan. Empat kepala tertembus peluru.

Para pengawal elit itu roboh bahkan sebelum selongsong peluru pistol Jay menyentuh tanah.

Jay berdiri tegak di tengah jalan, diapit oleh dua bangkai mobil yang terbakar. Api menjilati aspal, menciptakan siluet iblis di belakang punggungnya.

Pintu mobil tengah terbuka perlahan. Mr. K merangkak keluar, batuk-batuk karena asap, tangannya gemetar memegang pistol emas kecil.

Ia mendongak, melihat sosok berbaju hitam yang berjalan mendekatinya dengan langkah pelan.

"White...?" panggil Mr. K ragu, suaranya parau. "Kau... kau mengkhianatiku?"

Jay berhenti dua meter di depan Mr. K. Ia melepas helmnya, membiarkan masker wajahnya tetap terpasang.

"White tidak pernah ada," kata Jay dingin.

"Siapa kau?!" teriak Mr. K, mengarahkan pistolnya ke dada Jay. "Siapa yang membayarmu?! Saingan bisnisku? Polisi?"

Jay tidak menjawab. Ia hanya berjalan maju, mengabaikan moncong pistol yang mengarah padanya.

Mr. K menarik pelatuk.

Klik.

Kosong.

Jay sudah menghitung jumlah peluru yang ada di pistol itu dari beratnya saat Mr. K mengangkatnya. Pistol pajangan, tidak pernah diisi penuh.

Jay menendang pistol itu dari tangan Mr. K, lalu menginjak dada pria itu hingga ia terbaring sesak napas di aspal.

Jay berjongkok. Tatapan matanya menembus jiwa Mr. K yang ketakutan.

"Kau bertanya siapa aku?" bisik Jay.

Jay mendekatkan wajahnya.

"Kau mencari legenda, bukan? Kau ingin memancing Panglima Zero keluar?"

Mata Mr. K membelalak hingga hampir keluar. Napasnya tercekat.

"Tidak mungkin..." desis Mr. K. "Kau... kau..."

"Kau berhasil," potong Jay. "Kau menemukannya. Dan sekarang, dia menemukanmu."

"Ampun..." Mr. K mulai menangis, air matanya bercampur debu jalanan. "Ampun, Jenderal! Aku tidak tahu! Aku cuma menjalankan perintah! Atasanku... Keluarga Arkady... mereka yang menyuruhku!"

"Terima kasih atas informasinya," kata Jay datar. "Tapi kau menyentuh istriku. Dan untuk dosa itu, tidak ada pengampunan."

Jay berdiri. Ia berbalik badan, membelakangi Mr. K.

"Whiskey," panggil Jay lewat radio. "Bersihkan sampah ini."

"TIDAK! TUNGGU! AKU PUNYA UANG! AKU PUNYA—"

DOR!

Satu tembakan tunggal dari pistol Whiskey mengakhiri teriakan Mr. K.

Suasana kembali hening. Hanya suara ombak dan api yang berderak.

Jay menatap laut lepas yang gelap.

"Echo, Whiskey, Ghost. Kerja bagus," kata Jay. "Lenyapkan semua bukti. Buat ini terlihat seperti perang antar geng narkoba yang gagal transaksi. Jangan tinggalkan jejak DNA kita sedikit pun."

"Siap, Komandan!"

"Kalian kembali ke bayangan. Tunggu panggilanku."

Jay berjalan menuju motornya, menaikinya kembali. Malam ini panjang, tapi fajar sebentar lagi akan menyingsing.

Di balik helmnya, Jay menghela napas lelah. Satu musuh tumbang. Tapi pengakuan Mr. K tadi membuka rahasia baru.

Keluarga Arkady.

Salah satu dari tiga pilar kekuatan politik negara. Ternyata merekalah dalang di balik Black Sun.

Jay menyalakan mesin motor.

"Baiklah, Keluarga Arkady," batin Jay. "Kalian ingin bermain politik? Aku akan ajarkan kalian politik darah."

1
Hendra Yana
lanjut
Mamat Stone
/Bomb//Bomb/💥
Mamat Stone
tok tik tok 👊💥👊
MyOne
Ⓜ️🔜⏩🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🆗🆗🆗Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙄👀🙄Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😡😡😡Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🤬🤬🤬🤬Ⓜ️
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
☮️
Mamat Stone
☯️
Mamat Stone
🐲
Mamat Stone
😈
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
/Gosh/
MyOne
Ⓜ️😵😵‍💫😵Ⓜ️
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
💥☮️💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!