NovelToon NovelToon
Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Wanita Karir / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:335
Nilai: 5
Nama Author: Icha cicha

Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.

Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.

Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KATA "KABUR" YANG MENGGOYANG DUNIA

Matahari sudah mulai memancarkan sinarnya yang menyengat ke atas atap pabrik makanan ringan, mencerminkan kilauan pada genting besi yang berkarat dan menembus celah-celah jendela yang kusam. Murni baru saja menyelesaikan tugas paginya—mengecek kualitas kemasan biskuit yang akan dikirim ke pasar—ketika seorang satpam datang menghampirinya dengan wajah yang sedikit tegang. "Bu Murni, ada pak bos dari pabrik besi dan baja yang ingin bertemu denganmu. Dia sedang menunggu di ruang satpam."

Murni merasa seperti ada sesuatu yang berat mengendap di dalam perutnya. Kata "bos dari pabrik besi dan baja" membuat hatinya berdebar kencang, seperti burung yang terjebak dalam sangkar dan berusaha keras untuk keluar. Ia mengangguk dengan wajah yang dibuat-buat tenang, lalu mengikuti langkah satpam menuju ruang kecil yang terletak di dekat gerbang masuk pabrik.

Di sana, Bapak Hilmawan sudah berdiri dengan wajah yang serius, jasnya yang hitam terlihat kusam akibat debu pabrik, matanya yang tajam menyimpan rasa kekecewaan yang dalam. Ketika Murni masuk, ia menoleh dengan tatapan yang membuatnya merasa seperti sedang berdiri di bawah badai yang akan datang.

"Kamu adalah Murni, pacar Khem ya?" ujarnya dengan suara yang rendah namun tegas, seperti guntur yang terdengar dari kejauhan.

Murni mengangguk perlahan, tangan nya mulai berkeringat dingin meskipun udara sekitar terasa panas dan menyengat. "Iya, Bapak. Ada apa saja?"

Bapak Hilmawan menghela napas panjang, seolah sedang menahan emosi yang sedang membara di dalam dirinya. "Aku datang bukan untuk hal lain selain memberitahumu kebenaran yang selama ini kamu sembunyikan dari diri sendiri. Ternyata Khem tidak pulang kampung seperti yang dia katakan—dia kabur. Kabur dari pabrik, kabur dari hutang yang dia buat dengan beberapa rekan kerja, bahkan kabur dari seluruh tanggung jawab yang dia miliki di sini."

Kata "kabur" itu keluar dari bibirnya seperti kilat yang menyambar langsung ke dalam hati Murni. Dunia di sekelilingnya seolah berputar dengan cepat, membuatnya merasa pusing dan ingin jatuh. Suara mesin pabrik yang biasanya terdengar seperti latar belakang yang biasa, kini menjadi kebisingan yang menyakitkan telinga, membungkus dirinya dengan deru yang tak berarti.

"Setelah dia menghilang, kami telusuri ke mana saja—ke kostnya, ke rumah kerabatnya yang tinggal di kota ini," lanjut Bapak Hilmawan, matanya penuh dengan rasa kecewa yang mendalam. "Ternyata dia sudah tidak tinggal di kosnya lagi—dia sudah menghapus jejaknya dengan bersih beberapa hari sebelum dia mengajukan cuti. Semua barangnya sudah diangkut pergi, tidak ada satu jejak pun yang bisa kita temukan."

Ia menatap Murni dengan tatapan yang penuh dengan kesedihan. "Pacarmu Khem adalah anak buah kesayanganku selama ini. Aku melihat potensinya yang besar, aku mempercayainya dengan tugas-tugas penting, bahkan aku pernah membantunya ketika dia mengalami kesulitan finansial. Tapi sekarang... mulai sekarang aku tidak respek lagi pada dirinya. Seorang pria yang tidak berani menghadapi kesalahan dan tanggung jawabnya bukanlah pria yang layak untuk dihormati."

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Bapak Hilmawan berbalik dan pergi, meninggalkan Murni yang masih berdiri seperti patung batu di tengah ruang satpam yang kecil. Kata-katanya bergema di dalam kepalanya dengan keras—kabur... tidak di kosnya lagi... tidak respek lagi—setiap kata seperti batu yang dilempar ke dalam danau yang tenang, menimbulkan riak yang luas dan menghancurkan permukaan yang damai.

Hanya beberapa detik kemudian, fasad keberanian yang telah ia bangun dengan susah payah mulai runtuh. Air mata yang telah menahan lama pun meluap-luap seperti banjir yang melampaui dinding bendungan. Ia tidak bisa berkata apa-apa, hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis dengan lepas—menangis atas kebenaran yang terlalu pahit untuk ditelan, atas cinta yang ternyata hanya sebuah kebohongan yang dirancang dengan cermat.

Tanpa berpikir panjang, ia bergegas berlari meninggalkan ruang satpam, melewati lorong pabrik yang penuh dengan rekan kerja yang menatapnya dengan wajah penuh kekhawatiran. Kakinya bergerak dengan cepat seperti yang bisa ia lakukan, mengejar jalan menuju toilet yang terletak di sudut paling dalam pabrik—tempat yang ia tahu akan sepi dan bisa menjadi tempat perlindungan untuk menangis tanpa harus dilihat oleh siapapun.

Ketika memasuki toilet yang dingin dan berbau obat pembersih, ia langsung masuk ke salah satu kamar kecil dan mengunci pintunya dengan cepat. Ia jatuh bersandar pada pintu yang dingin, tubuhnya bergoyang-goyang karena hembusan tangisan yang menusuk hati. Air matanya mengalir deras, mencuci debu pabrik yang menempel di wajahnya dan membawa bersama nya semua harapan yang telah hancur berkeping-keping.

Ia berpikir tentang semua janji yang pernah diucapkan Khem—janji untuk kembali, janji untuk mengajaknya bertemu orang tuanya, janji untuk membangun masa depan bersama. Semua itu kini terasa seperti omong kosong yang tidak bernilai apa-apa. Bagaimana bisa seseorang yang dicintai dengan tulus bisa melakukan hal seperti ini? Bagaimana bisa dia menghilang begitu saja, tanpa memberikan penjelasan apapun, tanpa memikirkan rasa sakit yang akan dia berikan pada orang yang mencintainya?

Di luar kamar kecil itu, suara mesin pabrik masih terus berdecak keras, seperti dunia yang terus berputar meskipun hatinya telah berhenti berdetak dengan normal. Ia menangis sampai kelelahan menyergap dirinya, sampai tangisannya berubah menjadi desahan lembut yang penuh dengan rasa kelelahan dan keputusasaan. Karena kini dia tahu bahwa kebenaran yang paling pahit bukanlah ditinggalkan—melainkan dikhianati oleh orang yang paling dipercaya, dan harus menerima bahwa orang itu telah memilih untuk kabur dari semua tanggung jawab yang pernah dia miliki.

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Hingga kelelahan akhirnya menyergapnya, Murni duduk pelan di lantai kamar toilet yang dingin dan kasar. Tubuhnya masih bergoyang lembut akibat getaran tangisan yang sudah mulai reda, meninggalkan hanya rasa sakit yang dalam seperti luka yang terbuka. Ia mengeluarkan ponsel dari saku baju yang kusut—layarnya masih menunjukkan beberapa pesan yang belum terbaca, namun hatinya terlalu lelah untuk memikirkannya.

Tiba-tiba, bunyi notifikasi yang tajam membuatnya terkejut. Layar ponsel menyala dengan cahaya yang sedikit menyilaukan, menampilkan pesan dari kontak yang ia sudah lama tidak sentuh—Aksa, seorang pria dari pabrik tekstil di sebelah kantor pos, yang dikenal sebagai cowok playboy yang suka menggoda setiap perempuan yang ditemuinya.

"Hai cantik Murni... denger kabarmu lagi tidak baik ya? Kasihan banget deh kamu, ditinggal sama cowok yang tidak berharga kayak gitu..."

Pesan itu muncul dengan huruf-huruf yang terang di layar gelap, seperti cermin yang menunjukkan hal yang tidak diinginkan. Murni merasa seperti ada jarum yang menusuk perutnya—bagaimana bisa orang lain tahu tentang kesusahannya? Sepertinya berita tentang kepergian Khem sudah menyebar seperti api di padang rumput kering di tengah musim kemarau.

Ia ingin menutup obrolan itu, ingin menghapus pesan dari layarnya dan kembali menyembunyikan diri dalam kegelapan kamar toilet. Tapi jari-jarinya yang gemetar malah secara tidak sengaja mengetuk tombol balas, dan sebelum ia menyadarinya, pesan berikutnya sudah masuk lagi.

"Kan aku bilang dari dulu, cowok kayak Khem nggak bisa dipercaya deh. Cuma bisa ngomong manis aja, tapi akhirnya sama aja tinggalkan kamu. Padahal kamu cantik dan baik hati banget, seharusnya kamu punya pacar yang lebih baik... kayak aku misalnya "

Gombalan manisnya itu keluar dengan mudah, seperti air yang mengalir di atas batu licin. Tapi bagi Murni yang sedang terluka dalam, kata-kata itu tidak terasa menghibur sama sekali—malah seperti garam yang ditaburkan ke atas luka yang masih terbuka. Ia merasa seperti sedang menjadi bahan ejekan, seperti orang yang sedang dipermainkan oleh takdir dan juga oleh orang-orang di sekelilingnya.

"Daripada kamu nangis-nangis sendiri kaya gitu, mending kita keluar aja ya? Aku ajak kamu makan malam di restoran baru yang ada di jalan Ahmad Yani. Pastinya bikin kamu lupa sama masalah kamu sama cowok itu yang kabur aja gitu..."

Kata "kabur" itu muncul lagi, menusuk hati Murni dengan sangat dalam. Ia merasa darahnya mulai mendidih—tidak karena marah, tapi karena rasa sakit yang sudah mencapai batasnya. Bagaimana bisa Aksa berani mengejeknya dengan begitu saja, menggunakan kesusahan dirinya sebagai alasan untuk menggoda? Bagaimana bisa orang lain tidak melihat bahwa dia sedang terluka dalam, bukan sedang mencari perhatian atau kesempatan untuk bertemu dengan pria baru?

"Kamu kan orangnya baik, tapi terlalu mudah dipermainkan sama cowok kayak Khem. Kalau kamu jadi pacarku, aku pasti bakal selalu menjagamu dan tidak akan pernah meninggalkan kamu kayak dia..."

Pesan itu terus datang satu demi satu, seperti ombak yang terus menerus menghantam dinding pantai yang sudah mulai goyah. Murni merasa makin linlung, makin ingin menyembunyikan diri jauh dari dunia luar yang terasa begitu kejam dan tidak peduli. Ia menutup ponselnya dengan kuat, melemparkannya ke lantai dengan suara yang pelan namun jelas. Perasaan keputusasaan mulai melanda dirinya seperti gelombang besar yang menghanyutkan segala sesuatu yang ada di dalamnya.

Ia menarik kedua lututnya ke dada, menyembunyikan wajahnya di antara kaki yang gemetar. Suara mesin pabrik yang terdengar dari luar seolah semakin keras, seperti mengejek kesusahannya yang tidak ada habisnya. Ia merasa seperti orang yang tersesat di tengah hutan belantara yang luas—sendirian, takut, dan tidak tahu harus kemana lagi.

Di dalam kegelapan kamar toilet itu, Murni mulai merenungkan segala sesuatu yang telah terjadi padanya selama ini. Dari awalnya bertemu Khem yang penuh dengan canda dan tawa, hingga saat ini di mana dia harus menghadapi kebenaran yang terlalu pahit untuk ditelan. Ia berpikir tentang kata-kata Lilu yang pernah mengatakan bahwa mereka senasib, tentang bagaimana kehidupan terkadang memberikan cobaan yang terlalu berat untuk ditanggung sendirian.

Namun di tengah rasa sakit dan keputusasaan itu, ada sedikit nyala api yang masih menyala di dalam hatinya. Nyala api yang mengatakan bahwa dia tidak bisa terus seperti ini, bahwa dia tidak bisa membiarkan diri dia dihancurkan oleh kesalahan orang lain dan oleh kata-kata yang menyakitkan dari orang yang tidak memahaminya. Ia tahu bahwa dia harus bangkit kembali, bahwa dia harus menemukan kekuatan di dalam dirinya untuk melanjutkan hidupnya—meskipun jalan yang harus ditempuh terasa begitu gelap dan sulit.

Saat itu pula, pintu toilet terdengar diketuk dengan lembut. Suara Lilu yang tenang terdengar dari luar, "Murni... aku ada di sini. Buka pintunya murn. Kamu tidak sendirian."

Murni merasakan bagaimana air mata yang sudah mulai reda kembali mengalir deras. Kali ini, air mata itu tidak hanya membawa rasa sakit—namun juga sedikit rasa lega karena tahu bahwa ada seseorang yang benar-benar peduli dengannya, seseorang yang tidak akan pernah mengejek atau mempermainkannya seperti orang lain.

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Setelah Lilu membantunya membersihkan wajah dan menenangkan napas yang masih berdebar, Murni mengucapkan terima kasih dengan suara yang masih sedikit menggigil. Lilu mengusap pundaknya dengan lembut sebelum kembali ke tempat kerjaya, menyuruhnya untuk tidak terpaksa masuk kerja jika tubuh dan hati belum siap. Murni hanya mengangguk, mata masih menatap lantai dengan pandangan yang kosong namun mulai sedikit jernih.

Setelah beberapa menit duduk di bangku istirahat pabrik, ia memutuskan untuk mengambil cuti sakit sebentar. Karyawan keamanan yang mengenalnya dengan baik membantu mengantarnya keluar dari gerbang pabrik, bahkan menawarkan untuk mengantarnya pulang dengan motornya, tapi Murni menolak dengan senyum lembut. "Aku ingin jalan-jalan sebentar dulu, Pak," katanya dengan nada yang lebih tenang.

Langkahnya terasa berat ketika pertama kali menjauh dari pabrik. Mata masih terkadang menyipit setiap kali melihat mobil atau sepeda motor yang melewatinya, seperti takut akan melihat wajah yang tidak diinginkan. Tapi perlahan-lahan, ketika udara sore yang segar mulai menyentuh wajahnya, ia merasa sedikit lega. Tanpa sadar, kakinya mengarah ke arah taman kota yang tidak jauh dari kosnya—tempat yang dulu sering ia kunjungi saat ingin mencari kedamaian sendiri.

Ketika sampai di gerbang taman, pagar besi hitam yang sudah agak berkarat tampak seperti menyambutnya dengan hangat. Ia memasuki area taman tanpa mengeluarkan uang tiket—petugas keamanan yang berjaga di pintu masuk hanya mengangguk menyapa, mengenalnya sebagai salah satu pengunjung rutin yang sering datang sendirian.

Murni berjalan pelan menuju jalur jogging yang dikelilingi oleh pepohonan rindang. Daun-daun pohon beringin yang besar bergoyang perlahan tertiup angin, membuat suara yang lembut seperti bisikan. Beberapa orang sudah mulai berkumpul di taman—keluarga yang sedang bermain bola dengan anak-anak mereka, pasangan muda yang duduk berpelukan di bangku taman, dan beberapa lansia yang sedang berjalan santai. Murni merasa sedikit tidak nyaman pada awalnya, merasa seperti semua orang sedang melihatnya dan tahu tentang kesusahannya. Tapi kemudian ia mengingat kata-kata Lilu: "Kamu tidak perlu bersembunyi dari dunia, Murni. Dunia itu tidak selalu kejam seperti yang kamu pikirkan."

Ia mengeluarkan jaket tipis yang dikenakan di atas baju kerja pabrik, melipatnya dengan rapi dan menyimpannya di bawah bangku taman yang berada di sudut paling sunyi. Setelah itu, ia mulai melangkah dengan langkah yang sedikit lebih cepat, perlahan beralih ke kecepatan jogging ringan. Tapak kakinya menyentuh permukaan aspal jalur jogging dengan irama yang teratur, seperti ingin menggeser semua beban yang ada di dalam dirinya melalui setiap langkah yang ditempuh.

Keringat mulai menetes dari dahinya, membasahi leher dan bagian depan bajunya. Tapi Murni tidak berhenti. Ia melihat sekeliling taman dengan mata yang mulai terbuka lebih lebar—mata ranting pohon yang menjulang tinggi ke langit sore yang berwarna jingga dan ungu, semak-semak bunga kamboja yang masih mekar dengan cantik di sisi jalur, hingga kolam kecil di tengah taman yang dipenuhi dengan ikan mas yang berenang riang. Semua keindahan itu seolah berkata padanya bahwa hidup masih terus berjalan, bahwa dunia tidak berhenti hanya karena hatinya terluka.

Setelah sekitar lima putaran jalur jogging, tubuhnya mulai merasa lelah tapi pikirannya semakin jernih. Ia berhenti di dekat kolam kecil, duduk di tepiannya yang ditutupi dengan batu bata bekas. Air kolam yang tenang memantulkan bayangannya sendiri—wajahnya yang masih sedikit pucat, rambut yang kusut karena keringat, tapi mata yang kini sudah tidak lagi penuh dengan keputusasaan. Ia melihat cermin bayangan dirinya di air, lalu menghela napas dalam-dalam.

"Sudah cukup, Murni," bisiknya sendiri, sambil mengusap permukaan air kolam dengan jari telunjuknya. Gelombang kecil muncul dari sentuhan itu, menghancurkan bayangannya sebentar sebelum kembali menyatu dengan tenang. "Kamu sudah kuat untuk menerima semua ini."

Ia berpikir tentang Khem—tentang senyumnya yang dulu membuat hatinya berdebar, tentang janji-janjinya yang akhirnya tidak ditepati, dan tentang kepergiannya yang begitu tiba-tiba. Kali ini, rasa sakit yang muncul tidak lagi seperti luka terbuka yang menusuk, melainkan seperti bekas luka yang sudah mulai mengering. Ia menyadari bahwa semua yang terjadi bukan karena kesalahannya—ia sudah memberikan yang terbaik dalam hubungan itu, dan itu sudah cukup.

Kemudian ia berpikir tentang pesan dari Aksa. Wajahnya sedikit mengerut ketika mengingat kata-kata yang menyakitkan itu, tapi tidak lagi ada rasa marah atau terluka yang mendalam. Ia menyadari bahwa orang seperti Aksa hanya melihat kesusahan orang lain sebagai kesempatan untuk memenuhi keinginannya sendiri, dan itu bukan masalahnya—itu adalah masalah dari orang seperti Aksa yang tidak mampu memahami arti dari rasa sakit yang sesungguhnya.

Murni mengambil air mineral dari tas kecil yang dibawanya, meneguknya dengan pelan. Saat itu, matahari mulai semakin tenggelam di balik gedung-gedung yang ada di luar taman, menyebarkan warna-warni indah di langit sore. Ia melihat sekeliling sekali lagi—anak-anak yang masih bermain riang, orang tua yang sedang mengantar anaknya pulang dengan tangan terbentang, dan bahkan seekor burung merpati yang hinggap di cabang pohon di dekatnya.

Semua itu membuatnya menyadari bahwa hidup adalah perpaduan antara suka dan duka, antara kebahagiaan dan kesusahan. Tidak ada orang yang bisa menghindari cobaan, tapi yang penting adalah bagaimana kita menghadapinya dan bangkit kembali setelahnya. Ia tidak bisa terus menyembunyikan diri di kamar toilet atau di dalam kamar kosnya—ia harus belajar untuk berdamai dengan keadaan, menerima bahwa masa lalu sudah tidak bisa diubah, dan fokus pada apa yang bisa ia ubah di masa depan.

Setelah merasa cukup tenang, Murni berdiri dan mengambil jaketnya dari bawah bangku. Ia menyetrika kembali bajunya yang kusut dengan hati-hati, lalu mulai berjalan keluar dari taman dengan langkah yang lebih mantap dan tegas. Ketika melewati petugas keamanan di gerbang keluar, ia memberikan senyum yang lebih lebar dan tulus. Petugas itu mengembalikan senyumnya dengan ramah, menyapa, "Pulang ya, Bu? Semoga hari esok lebih baik."

Murni mengangguk dengan lembut. Saat berjalan menuju kosnya, ia merasakan bagaimana beban yang selama ini ada di pundaknya mulai terasa lebih ringan. Ia tahu bahwa perjalanan untuk benar-benar sembuh masih panjang, bahwa terkadang rasa sakit akan kembali muncul tanpa diundang. Tapi kali ini, ia tidak lagi takut. Ia sudah siap untuk menghadapi segala sesuatu yang akan datang, karena ia tahu bahwa dirinya tidak sendirian—bahkan ketika berada sendirian di taman sore itu, ia merasa ada kekuatan yang lebih besar yang menguatkannya.

Di jalan menuju kos, ia mengeluarkan ponselnya yang sudah tidak ia sentuh sejak pagi hari. Layarnya masih menunjukkan beberapa pesan yang belum terbaca, termasuk dari Aksa dan juga dari Lilu yang sudah mengirim beberapa pesan khawatir. Murni mengambil napas dalam-dalam, lalu mengetuk tombol untuk membuka obrolan dengan Aksa. Dengan jari yang sudah tidak lagi gemetar, ia mengetik pesan singkat namun tegas: "Terima kasih atas perhatiannya, tapi saya tidak perlu seseorang yang melihat kesusahan saya sebagai kesempatan. Saya sedang dalam proses menyembuhkan diri, dan saya butuh waktu sendiri. Mohon tidak mengirim pesan lagi."

Setelah mengirim pesan itu, ia menghapus nomor Aksa dari daftar kontaknya. Kemudian ia membuka pesan dari Lilu, mengetik balasan dengan senyum di wajahnya: "Aku baik-baik saja, Lu. Aku baru saja dari taman kota. Besok aku akan masuk kerja seperti biasa. Terima kasih sudah ada untukku. Kamu adalah sahabat terbaik yang bisa kumiliki."

Ketika sampai di depan pintu kosnya, ia melihat langit yang sudah mulai gelap dengan bintang-bintang yang mulai muncul satu per satu. Ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara malam yang segar dan penuh dengan harapan. Ia tahu bahwa esok hari mungkin tidak akan mudah, bahwa masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Tapi ia sudah siap—siap untuk berdamai dengan masa lalunya, siap untuk menghadapi masa depannya dengan hati yang lebih kuat, dan siap untuk menemukan kembali kebahagiaan yang selama ini ia pikir sudah hilang selamanya.

Murni membuka pintu kosnya dengan kunci yang ada di tangannya, memasuki kamar yang sederhana namun penuh dengan kenangan. Ia langsung menuju jendela, membukanya lebar-lebar agar udara malam bisa masuk. Di luar jendela, ia bisa melihat taman kota yang sudah mulai diterangi oleh lampu-lampu kecil yang berkilau seperti bintang jatuh ke bumi. Ia menatapnya dengan mata yang penuh harapan, menyampaikan doa yang paling dalam dari hatinya: "Ya Tuhan, berikan aku kekuatan untuk terus melangkah, untuk menerima apa yang tidak bisa kuhapus, dan untuk membangun masa depan yang lebih baik. Amin."

 

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!